
“Iya makasi. Aku pasti akan jaga diri dengan baik.” Romi mengusap kepala Leoni dengan mesrah.
“Hati-hati, ini pakai mantel hujannya!” Leoni menarik tangan Glen di kepalanya dan menyerahkan mantel hujan
“Makasi.” Kata Romi lagi.
Sepanjang malam para laki-laki berusaha mengevakuasi korban dipinggir sungai sementara para perempuan memasak di dapur umum yang dibuat di halaman rumah bapa desa dan mengatur obat-obatan serta hal-hal yang dibutuhkan warga.
“Nona ibu bisa ikut ema ke tempat pengungsian? Kita bantu anak-anak di sana.” Kata Mama Romi yang datang menghampiri Leoni setelah matahari sudah terbit dan memancarkan cahayanya.
“Bisa ema. Apa yang harus aku lakukan?” Tanya Leoni.
“Ada anak-anak yang sakit kehujanan, dan membutuhkan pengobatan, sambil menunggu dokter datang, mungkin kita bisa kasi sedikit tindakan bantuan pada mereka.” Jawab mama Romi.
“Ayo!” Ajak Leoni. “Aku akan melakukan apa yang bisa aku lakukan.” Leoni langsung melangkah menuju ke lokasi pengungsian warga.
Setibanya di lokasi pengungsian, Leoni mengambil beberapa obat yang dia paham manfaatnya selain itu jenis minyak-minyak yang sekiranya dibutuhkan kemudian mulai memeriksa keadaan warga dan memberikan sedikit pengobatan pada warga yang membutuhkan, bahkan membantu para orang tua yang lemah untuk sekedar makan.
“Hufffttt…” Leoni menyeka keringat di keningnya.
“Capek yah?” tiba-tiba Romi sudah berada di sampingnya.
“Ah kamu…” Leoni kaget melihat Romi di sampingnya dan mengambil posisi duduk di kursi kosong di samping Leoni. “Kamu tidak apa-apa kan?” Leoni memeriksa tubuh Romi dengan teliti.
“Iya aku tidak apa-apa kok. Hanya sedikit capek.” Kata Romi. “Dan sekarang aku membutuhkan secangkir kopi panas.” Kata Romi lagi. “Apa bisa kamu buatkan?” Tanya Romi.
“Kamu tunggu di sini sebentar.” Jawab Leoni dan langsung menuju ke dapur untuk membuatkan kopi.
“Apa air sungai biasa meluap?” Tanya Leoni penasaran sambil menyerahkan secangkir kopi ke tangan Romi..
“Beberapa tahun yang lalu sih pernah.” Jawab Romi sambil menyesap sedikit kopi yang diberikan oleh Leoni. “Semenjak itu, yaahhh baru sekarang lagi airnya meluap, dan baru sekarang hujan sederas itu seperti semalam.” Jawab Romi.
“Terus kenapa warga masih saja membangun rumah di tepi sungai?” Tanya Leoni lagi.
__ADS_1
“Yahhh mau bagaimana lagi? Sudah disarankan untuk pindah dan bahkan sudah disediakan lahan untuk mereka membangun rumah, ada juga yang sudah dibangunkan rumah oleh pemerintah desa tapi namanya juga orang kampung non, mereka akan tetap kembali ke tanah leluhur mereka.” Jelas Romi.
“Heeemmm…” Leoni menarik nafas dalam-dalam mendengar penjelasan Romi.
“Tolong, tolong… itu ada anak kecil yang terapung di sungai, lihat sana, dia tertahan oleh batang kayu!” Ada orang yang tiba-tiba teriak melihat anak yang mengayunkan tangan ditengah arus air sungai.
Semua orang kebingungan, karena semua sudah pada kelelahan dan tidak ada orang yang berani menyusuri arus air sungai tanpa kemampuan berenang yang baik.
“Apa?” Leoni memperjelas apa yang barusan didengar.
“Ada anak yang terbawah air sungai.” Teriak orang yang lain lagi.
“Rom gimana nih?” Mama Romi panik.
“Aku juga tidak bisa berenang ke arus yang deras seperti itu.” Romi pun ikut panik. “Nona.. nona ibu.” Romi berteriak melihat Leoni yang tiba-tiba berlari ke arah sungai. “Leoni…” Teriak Romi sekuat-kuatnya, dia mengkhawatirkan Leoni yang tiba-tiba melompat ke sungai takut terjadi apa-apa pada Leoni.
“Aduh, Romi.. gimana ini?” Mama Airin ketakutan melihat Leoni yang sudah melompat ke sungai. “Nonaa…” Mama Airin teriak menangis.
“Aduh nona.. nona buat ema takut non.” Mama Airin memeluk Leoni ketika dia berhasil menyelamatkan anak yang hanyut dan masih ada dalam gendongan Leoni.
“Tidak apa-apa ema, jangan khawatir! Aku baik-baik saja. Ayo kita obati anak ini, sepertinya dia sekarat karena terminum air sungai terlalu banyak, perutnya sudah kembung.” Jelas Leoni.
“Non…” Romi datang dan mengambil alih anak di tangan Leoni.
“Hati-hati, letakkan dia pelan-pelan.” Perintah Leoni menyiapkan tempat tidur untuk sang anak.
“Semoga tenaga medis cepat datang.” Kata Romi.
Leoni teringat dengan peristiwa sewaktu dia kecil di rumah Glen, dia tenggelam di kolam renang milik Glen ssampai tidak sadarkan diri. Dia melakukan tindakan yang sama dengan apa yang dilakukan oleh mama Glen dan Glen padanya waktu itu. “”Ah akhirnya sadar juga.” Leoni menangis terharu melihat anak itu telah sadarkan diri.
“Nona ibu memang hebat, nona ibu memang pahlawan kami.” Kata para ibu-ibu yang menyaksikan aksi berani Leoni menyelamatkan warga dan membuat anak yang tenggelam tadi bisa sadarkan diri dengan cepat.
“Aku laki-laki tidak ada gunanya.” Kata Romi memaki dirinya sendiri seketika semua warga kembali sibuk dengan urusannya dan tersisa dia dan Leoni di ruang perawatan.
__ADS_1
“Kamu jangan ngomong seperti itu!” Kata Leoni.
“Aku tidak bisa menyelamatkan wargaku.” Lanjut Romi.
“Rom… hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukan hal seperti tadi. Bukannya aku sombong yah, tapi seandainya kamu nyebur ke sungai tadi tanpa teknik yang baik maka pasti kamu juga ikut hanyut terbawah air sungai.” Leoni menghibur Romi.
“Terus kamu?” Romi bingung mau bicara apa, memang benar yang Leoni katakan.
“Aku pernah berlatih renang untuk menyelamatkan orang dalam keadaan darurat seperti itu. Waktu aku SMA dulu.” Jelas Leoni yang membuat Romi sedikit tenang.
“Baiklah, ayo kita lihat keadaan diluar, siapa tahu ada orang yang membutuhkan kita lagi.” Kata Romi.
***
Di Kota Kupang.
“Tuan, kita rencana hari in akan ke kecammatan Fatuleuh, tapi dengar-dengar di sana ada bencana.” Seseorang datang melapor pada Glen di vila nya.
“Bencana?” Glen mempertegas pernyataan yang disampaikan.
“Iya, semalam hujan lebat didaerag itu dan air sungai Siumate yang ada didaerah itu meluap membuat banyak rumah warga yang hanyut, dan ada beberapa korban yang membutuhkan bantuan medis pengaruh hujan deras.” Jelas orang yang melapor tadi.
“Terus gimana keadaan di sana sekarang?” Tanya Glen lagi penasaran seperti ada rasa yang aneh dia rasakan.
“Hujan sudah redah, tapi masih banyak warga yang mengungsi di tenda pengungsian, dan sepertinya belum ada bantuan pemerintah yang masuk ke sana karena daerahnya terlalu jauh dan sulit dijangkau.” Jelas pengawal itu.
“Sarana transportasi di sana?” Tanya Glen lagi.
“Jalur darat sulit dijangkau, kecuali kita menggunakan helikopter.” Jelas pengawal lagi.
“Siapkan helikopter dan bantuan yang bisa dibawah. Sekarang juga! Kita harus ke sana sesuai rencana, tidak ada yang bisa menghalangi rencanaku.” Perintah Glen.
“Baik. Aku pergi siapkan semua yang dibutuhkan. Tuan tunggu informasi dariku secepatnya.” Kata pengawalnya
__ADS_1