
Setelah puas bercerita dengan keluarga Leoni, Glen pamitan untuk pelang ke rumahnya untuk menjumpai kedua orang tuanya.
“Leoni, apa kamu tidak ikut dengan Glen menemui orang tuanya?” Tanya mama Leoni. “Pasti mereka juga sedang menunggumu.” Kata mama dengan bijaksana.
Leoni tidak dapat menjawab pertanyaan mama, dia melirik ke arah Glen memberikan tatapan mata meminta pendapatnya berkaitan dengan perkataan mama barusan.
“Kalau Leoni masih capek, biar aku pulang sendiri saja ma.” Kata Glen mengerti maksud tatapan Leoni. “Aku tidak akan memaksamu ikut, kan masih ada hari esok.” Kata Glen sambil membalas tatapan Leoni.
“Sebaiknya Leoni juga ikut denganmu, mereka pasti sedang menunggu kalian.” Kata papa.
Akhirnya Leoni ikut dengan Glen ke rumahnya, mereka berdua berjalan kaki ke rumah Glen karena mereka masih tinggal di komples yang sama. Menikmati suasana kompleks perumahan mereka, sesekali tetangga memanggil mereka dan keduanya dengan bahagiah menjawab setiap orang yang menegur sapah dengan mereka.
Sesampainya di rumah Glen, kedua orang tuanya tengah duduk bercerita di ruangan tengah, mereka berdua masuk dan menyalami ke orang yang tengah duduk bercengkaram tersebut.
“Leoni.” Mama Glen sangat senang melihat Leoni, dia berdiri menghampirinya kemudian memeluk pacar anaknya
itu dengan erat dan mesrah.
“Ma, aku tidak di sambut nih? Calon mantu nya saja yang dipeluk nih anaknya tidak?” Tanya Glen. “Dasar pilih kasih.” Sindir Glen sengaja pura-pura cemburu terhadap perlakuan mamanya pada Leoni.
“Dasar kamu, sama istri sendri cemburu?” Mama menjewer telinga Glen.
“Ah sakit maaa..” Teriak Glen. “Tuh kan anaknya bukan dipeluk malah dijewer.” Lanjut Glen, mama bukannya mengakhiri tindakan itu malah pindah menjewer ke telinga sebelahnya.
Leoni tersenyum menyaksikan adegan mama dan anak yang menggemeskan itu, sementara papa nya mengangguk-angguk tanpa berniat untuk ikut ambil bagian dalam adegan yang mereka lakukan saat ini.
“Ampun ma, ampun.” Glen memeluk mamanya dengan kedua tangannya walaupun mamanya masih menjewernya,
__ADS_1
dia tahu kalau terus melawan mamanya, bukan dilepaskan tapi malah akan ditambah dengan penyiksaan yang lainnya.
“Makanya jangan cemburu sama istri sendiri.” Kata mama dengan semangat.
“Apa ma? Istri? Aku kan belum nikah.” Kata Glen membantah. “Itu mah masih calon mantu mama.” Glen menunjuk ke arah Leoni.
“Iya kan sama saja, nanti juga bakalan nikah.” Mama membela diri.
“Iya makanya cepat nikahkan aku sama Leoni biar mama punya mantu.” Kata Glen spontan tanpa dia sadari perkataanya itu sudah mewakili perasaannya saat itu.
“Ayo duduk dulu. Kita bicarakan sama-sama!” Kata papa menengahi.
Leoni dan Glen duduk saling berhadapan dengan kedua orang tua Glen.
“Sekarang kalian cerita dulu ke papa, bagaimana sehingga kalian bisa berada di sini sekarang!” Kata papa.
“Emangnya mama tidak cerita ke papa?” Tanya Glen menatap mama nya menuntut jawaban.
Glen menceritakan kembali apa yang dia ceritakan pada mamanya dan kepada kedua orang tua Leoni tanpa ada yang di tambah-tambah atau dikurangi.
“Itulah namanya ujian dalam cinta, tidak selamanya mulus-mulus saja, masing-masing punya cerita tersendiri. Syukur kalian bisa melalui ujian itu dan sekarang boleh kembali bersama. Jadikan itu sebagai pelajaran hidup kalian dan kedepannya harus lebih bijak lagi dalam menjalani kehidupan.” Nasihat papa panjang lebar.
“Iya pa.” Jawab Leoni dan Glen secara bersamaan.
“Sekarang apa rencana kalian kedepan?” Tanya papa lagi.
“Leoni apa kamu ingin menikah dengan Glen? Apa kalian ingin menata kembali rencana kalian yang sempat tertunda?” Tanya mama tiba-tiba tanpa menunggu jawaban dari mereka berdua atas pertanyaan papa, rasanya mama tidak sabar menjadikan Leoni sebagai mantu nya.
__ADS_1
“Iya ma, aku rencana akan kembali melamar Leoni secepatnya dan akan segera menikahinya, tanpa menunda-nunda lagi.” Tanpa ragu-ragu Glen langsung menjawab secara spontan sebelum Leoni menjawab. “Tapi semuanya tergantung dari Leoni. Gimana Ny?” Glen menatap Leoni dalam-dalam berharap Leoni akan memberikan jawaban yang sesuai dengan keinginannya walaupun dia tahu saat ini terlalu cepat untuk kembali merencanakan pernikahan mereka.
“Menurut papa, kalau kalian berdua merencanakan untuk kembali membangun komitmen bersama dan berkeinginan untuk segera menikah, jika Leoni setuju, besok kita berkunjung ke rumahnya dan bicarakan bersama-sama dengan orang tuanya. Gimana?” Tanya papa lagi.
“Ny?” Glen menggenggam tangan Leoni dengan mesrah berharap Leoni segera memberikan jawaban dan tidak mengecewakan dirinya dan kedua orang tuanya.
“Iya. Aku bersama kedua orang tuaku menunggu kalian besok dirmuah.” Jawab Leoni singkat.
Jawaban yang dinanti Glen akhirnya meluncur dari mulut Leoni, Glen segera memeluk Leoni erat-erat setelah mendengar jawaban dari wanita yang sangat dia cintai, rasa senangmun tak dapat ditahannya lagi, dilampiaskannya pada Leoni dengan memeluk dan menghujani Leoni dengan ciuman di seluruh wajah Leoni. Kedua orang tuanya hanya bisa tersenyum bahagiah melihat tingkah anaknya itu.
Besok harinya Leoni bersama keluarganya tengah mempersiapkan makan malam sepsial di rumahnya untuk menanti kedatangan calon besan dan mantunya itu bertandang ke rumah mereka. Kesibukan pun terlihat sejak pagi sampai malam, entah apa saja yang dipersiapkan oleh mama Leoni. Rasa dug dag pun dirasakan oleh Leoni menanti kedatangan Glen dan keluarganya untuk membicarakan kehidupan mereka berdua kedepannya.
Leoni berbalutkan dress sederhana berwarna hijau sage tengah mempersiapkan dirinya di depan cermin, nampak kegugupan tengah dirasakan wanita cantik ini, tubuhnya yang atletis nampak sexy menggunakan dress yang senada dengan kemeja yang dipakai oleh Glen.
“Ny, Glen bersama rombongannya sudah ada.” Kata Kevin yang tengah mengamati pintu masuk ke pekarangan rumahnya dari balik jendela kamar Leoni. “Ayo siap-siap kita turun!” Perintah Kevin. Setelah Leoni sudah siap, Kevin menggandeng tangan kakaknya itu keluar dari kamar dan turun ke ruang tengah menyambut kedatangan Glen dan keluarganya.
“Selamat datang.” Mama dan Papa menyambut tamu spesialnya itu didepan pintu rumahnya.
“Leoni?!” Glen terpesona melihat kecantikan Leoni saat ini yang nampak berbeda dari biasanya.
“Ayo masuk! Silahkan duduk!” Papa Leoni menuntun tamunya itu ke ruang tengah.
“Kamu cantik sekali.” Bisik Glen setelah duduk di samping Leoni dan hanya mendapatkan balasan senyuman dari wanitanya itu.
“Terima kasih sudah menyambut kedatangan kami malam ini, tidak perlu basa basi, langsung saja kita memulai pembicaraan kita malam ini. Tujuan kedatangan kami ke sini adalah ingin membicarakan tentang hubungan kedua anak kita yaitu Glen dan Leoni. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa mereka tengah menjalin cinta dan saat ini hubungannya sebatas pacaran, mereka hendak melangkah ke jenjang yang lebih tinggi dari hubungan mereka itu.” Kata Papa Glen memulai pembicaraan.
“Jadi?” Papa Leoni tidak dapat berkata-kata.
__ADS_1
“Bagaimana kalau kita merencanakan pernikahan diantara keduanya? Lebih tepatnya kita langsung mempersiapkan pernikahan mereka.” Kata papa Glen lagi secara to the poin.
“Selaku orang tua dari Glen, kami serahkan keputusannya kepada mama dan papa Leoni.” Kata mama Glen menambah apa yang baru saja dikatakan oleh suaminya.