KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Honeymoon yang sebenarnya


__ADS_3

“Sayang, kamu kenapa?” Leoni memberanikan diri bertanya pa Glen karena melihat kondisinya yang sangat memprihatinkan seperti sedang menahan sakit yang sangat menyiksa, mata nya memerah dan nampak sayu, wajahnya pun seperti orang yang sedang kesakitan, dia duduk terdiam di sofa dengan kedua tangan menahan blezer yang dia pakai menutupi bagian intinya itu. Hal itu membuat Leoni sangat panik karena Glen tidak bersuara sedikitpun.


“Ada apa?” Leoni duduk di samping Glen kemudian menarik wajahnya dengan kedua tangannya agar bisa saling berhadapan. Leoni berusaha mencari sesuatu dari tatapan mata suaminya.


Glen bukannya menjawab pertanyaan Leoni melainkan dia pun melakukan hal yang sama dengan yang Leoni lakukan yaitu mendekap wajah istrinya itu dengan kedua tangannya dan langsung melahap bibir istrinya dengan gerakan cepat. Hap, hap, hap, pangutan diantara keduanya semakin intens, pergerakan keduanyapun semakin memanas dan akhirnya lagi-lagi Glen berhasil mencetak gol.


Malam itu mereka melakukan aktifitas malam sampai beberapa babak dan mencetak gol sebanyak mungkin.


“Makasi sayang.” Glen mengangkat tubuh Leoni yang terlihat sangat kelelahan dan membaringkannya di atas ranjang.


“Makasi untuk apa?” Tanya Leoni berusaha mengeluarkan suara.


“Makasi karena telah menjadi istriku.” Kecupan manis mendarat di kening Leoni. “Tidurlah!” Glen ikut berbaring di samping Leoni.


“Tapi sayang, tadi kamu kenapa? Apa yang terjadi? Kenapa kamu?” Leoni tidak dapat menyelesaikan perkataannya karena lagi-lagi Glen telah mengecup bibirnya.


Glen nampak malu-malu menjawab pertanyaan istrinya yang tidak pekah dengan ekspresinya tadi namun dia tetap berusaha menjawabnya.


“Sebenarnya…. Aku menahan hasratku untuk melahapmu.” Jawab Glen dengan jujur.


“Hah?” Leoni kaget mendengar jawaban Glen.

__ADS_1


“Sudahlah, ayo kita tidur!” Kata Glen lagi. “Ayo tidur, supaya besok bisa bangun cepat dan kita jalan-jalan menikmati honeymoon kita yang sebenarnya.” Kata Glen membuyarkan lamunan Leoni yang sedang membayangkan ekspresi Glen tadi.


Besok harinya mereka mengeksplor semua tempat wisata di daerah Bedugul dimulai dengan menyaksikan sunrise di pesisir danau Bratan sekaligus menikmati sarapan paginya, selanjutnya mengunjungi Pura Ulun Danu Bratan, kemudian mengelilingi Kebun Raya Bedugul sambil menikmati permainan outbond di sana yang sangat seru. Sore nya mereka mengunjungi fresh stroberry yaitu tempat wisata petik storberry. Menjelang malam mereka kembali ke villa dengan perasaan bahagiah, khususnya Leoni yang baru kali ini menginjakkan kakinya di daerah itu. Mereka kembali ke villa untuk beristirahat.


Selanjutnya, besok harinya menjelang pagi mereka melanjutkan perjalanan liburan mereka ke arah utara Bali yaitu kabupaten Buleleng, mereka mengunjungi pantai Lovina untuk menyaksikan kawanan lumba-lumba yang berloncatan di alam bebas kemudian singgah di kolam alami air sani sekedar untuk bermain air dan Leoni sedikit berenang karena sudah lama dia tidak bermain air di kolam lagi semenjak menuntaskan pekerjaannya sebagai pelatih renang. Selain itu mereka mengunjungi beberapa destinasi di daerah Buleleng seperti air terjun Sekumpul, permandian air panas Banjar, Candi Budha Kalibukbuk, pelabuhan Buleleng yang merupakan peninggalan masa penjajahan Belanda sebagai pusat lalu lintas laut baik dari dalam maupun luar negeri dan hari itu berakhir di pesisir pantai Penimbangan untuk menikmati makan malam.


Hari ke empat mereka melanjutkan perjalanan ke Kintamani untuk menikmati pemandangan Gunung Batur sebagai tempat beristirahat di tengah perjalanan jauh kemudian mampir ke desa Trunyan yang menampilkan keunikannya yaitu tradisi pemakaman jenazah yang tidak dikubur atau dikremasi melainkan diletakkan dibawah pohon trunyan. Selanjutnya mereka menuju ke kabupaten Karangasem untuk mengunjungi tempat bersejarah yaitu Taman Sukasada atau yang lebih dikenal dengan Istana Air Taman Ujung yang merupakan peninggalan Kerajaan Karangasem kemudian menuju ke Denpasar.


Di Denpasar, lagi-lagi mereka nginap di villa milik Glen yang tidak kalah mewahnya dengan villa miliknya yang pernah mereka datangi sebelumnya.


“Welcome home.” Kata Glen sesampainya di villa mereka yang letaknya di wilayah Nusadua.


“Ini?” Leoni hendak bertanya.


Malam itu kembali mereka beristirahat namun juga tidak lupa melakukan tugas pokok mereka untuk mencetak gol sebelum tidur.


Hari ke lima, mereka menikmati destinasi di seputaran Denpasar yaitu Pantai Pandawa, Pantai Kuta, Pantai Melasti, Pantai Jimbaran, monumen Bom Bali, taman wisata budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK), dan terakhir mengunjungi Tanah Lot untuk menikmati sunset sebelum mereka menikmati makan malam di daerah Nusadua dan kembali ke villa.


Hari terakhir mereka menuju ke daerah Gianyar untuk mengunjungi Goa Gajah, istana Tampak Siring, kebun binatang Bali atau disebut Bali Zoo, taman nusa yang merupakan taman wisata budaya yang memberikan pengetahuan menyeluruh tentang budaya dari berbagai etnis di Indonesia, dan terakhir mereka manfaatkan waktu yang tersisa untuk berbelanja oleh-oleh bertema Bali di Pasar Sukowati, kemudian kembali ke villa.


“Kamu kenapa, kok senyum-senyum sendiri?” Tanya Glen setelah mereka sampai di villa malam itu.

__ADS_1


“Aku senang sekali, ternyata liburan ini adalah honeymoon yang sebenarnya. Sungguh menyenangkan.” Senyum merekah Leoni belum surut dari pipinya.


“Next semoga kita bisa liburan babymoon secepatnya yah.” Glen tersenyum usil dengan menaikan turunkan alisnya.


“Hah?” Leoni kaget mendengar perkataan Glen, rasa geli mendengar perkataan suaminya yang walaupun mungkin benar dia akan segera hamil namun tidak akan bisa secepat itu mereka bisa babymoon apalagi pada tiga bulan pertama kehamilan yang mengharuskan dia untuk berhati-hati.


“Kenapa? Tidak mau?” Tanya Glen.


“Mau kok. Tapi apa benar secepat ini aku akan bisa hamil? Kan kita nikahnya baru beberapa hari saja, belum juga dapat sebulan.” Jawab Leoni sensitif.


“Semoga dong sayang, aku kan setiap malam udah coba mencetak gol? Semoga ada yang berhasil.” Glen masih tersenyum menampakkan kebahagiaannya.


“Kalaupun sudah berhasil, tidak mungkin kita bisa secepatnya babymoon sayang, minimalnya tiga bulan pertama itu aku harus menjaga kehamilan, karena beberapa kali aku lihat di tv kalau pada tiga bulan pertama itu sangat sentsitif dan rentan beresiko.” Jelas Leoni menanggapi perkataan Glen.


“Semoga tiga bulan depan kita bisa segera melakukan babymoon, aku sangat yakin kalau gol yang aku cetak setiap malam berhasil.” Kata Glen lagi dengan sangat tegas dan bersemangat.


Setelah diskusi yang lumayan a lot diantara keduanya akhirnya mereka masuk ke dalam kamar. Leoni langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri bergantian dengan Glen, setelah itu dia membereskan barang-barang yang akan mereka bawah pulang ke Manado.


Besok paginya mereka masih sempatkan diri untuk menikmati sunrise dari pantai Kuta kemudian singga belanja di Krisna dan Joger, setelah itu baru mereka kembali ke villa untuk siap-siap ke Bandara.


“Kamu sudah siap?” Tanya Glen sambil menunggu Leoni yang masih berdandan di depan cermin.

__ADS_1


“Iya.” Leoni berdiri dari tempat duduknya yang berada di depan meja riasnya kemudian melangkah ke arah Glen. Mereka berdua bersama-sama turun ke lantai bawah dan menuju ke mobil yang akan membawah mereka ke bandara, namun sebelumnya Glen memerintahkan pelayan untuk mengambil barang-barang yang akan mereka bawah dan memasukkannya ke dalam mobil.


__ADS_2