
“Kita ke security!” Ajak Wiliam
Paula dan Wiliam panik mencari keberadaan Leoni dan Melati di restoran tersebut. “Mati sudah aku, bisa-bisa aku dipecat.” Kata Paula dalam kepanikannya sambil berlari menuju ke tempat security. “Apa yang akan aku sampaikan pada tuan nanti?” kata-kata Paula untuk dirinya sendiri dalam keadaan takut karena lalai menjaga calon istri tuannya itu, hanya dalam beberapa hari saja dia sudah gagal menjalankan tugasnya.
“Kita cari sama-sama, kamu jangan berpikir yang tidak-tidak dulu.” Kata Wiliam menenangkan Paula.
“Iya tapi kita cari mereka di mana? tempat di sini juga masih asing bagi Mba Leoni, dia belum menguasai kota Kupang, aku takut terjadi apa-apa padanya.” Paula masi dalam kepanikan. “Aduh tuan pasti marah besar padaku.” Paula semakin takut.
“Paula, diam!” Bentak Wiliam. “Kita omong dengan security dulu.” Kata Wiliam.
Sesampainya di depan security Paula langsung menyampaikan maksud dan tujuan mereka, dia juga menjelaskan kronologi secara singkat, dia tidak membiarkan Wiliam mengeluarkan satu kata pun pada security.
Paula memang salah satu pengawal perempuan yang menjadi andalan dari keluarga Glen, dia memiliki kemampuan menginterogasi orang dan bahkan dapat mengenali psikologis seseorang, selain itu juga mempunyai
kemampuan bela diri yang sangat baik.
“Tadi saya lihat ada dua nona yang menaiki lift, sepertinya mereka menuju ke hotel. Salah satu di antara mereka sepertinya mabuk. Tuan dan nona silahkan ke meja resepsionis untuk menanyakan.” Jawab security setelah Paula menyampaikan beberapa pertanyaan padanya.
“Baik. Makasi.” Paula menanggapi perkataan security itu kemudian berlari menuju ke meja resepsionis.
Sesampainya di meja resepsionis, Paula juga menggunakan kemampuannya untuk bertanya pada petugas yang ada di situ, dengan cepat petugas menjawab dan memberi tahu keberadaan mereka.
“Kamar 305.” Jawab resepsionis dengan polos dan cepat.
Tanpa aba-aba Paula langsung bergegas menuju ke kamar yang dimaksud. Terlihat Wiliam beberapa kali merogoh Hp nya dan entah melakukan panggilan kepada siapa namun tidak pernah ada yang berbicara dengannya.
Dalam waktu singkat mereka sudah berada di depan pintu kamar yang di maksud.
“Tok.. tok… tok…” Paula mengetuk pintu kamar namun tidak ada suara dari dalam kamar. “Benar kan ini kamarnya?” Tanya Paula pada Wiliam, namun Wiliam tidak menanggapi perkataan Paula barusan. Dia terlihat cuek saja dan malah terlihat sibuk dengan Hp di tangannya entah apa yang dia lakukan. “Pak Wil…” Teriak Paula. “Pak Wiliam ini kenapa sih? Sepertinya cuek saja mba Leoni dan bu Melati hilang.” Teriak Paula di depan wajah Wiliam. “Kak bisa tolong bukakan pintu kamar ini?” tanya Paula pada petugas OB yang lewat.
“Maaf bu, apa ibu penghuni kamar ini?” tanya OB pada Paula.
“Saya lagi mencari teman saya, katanya di kamar ini.” Jawab Paula polos.
“Kalau begitu ibu bisa minta temannya untuk membuka pintu dari dalam karena kami tidak punya wewenang untuk mengganggu privasi tamu.” Kata OB dengan sopan.
“Sekali lagi aku mohon, buka pintunya sekarang juga!” Teriak Paula pada OB tersebut.
__ADS_1
“Maaf bu, saya tidak punya wewenang. Kalau saya melakukannya tanpa seijin penghuni kamar atau atasan saya, maka saya bisa dipecat. Maaf saya tidak bisa membantu.” OB itu hendak pergi.
“Kalau kamu pergi, maka saya yakin kamu akan segara dipecat.” Paula mulai memanfaatkan pengaruh yang dia miliki.
“Maaf bu.” Kata OB itu sekali lagi.
“Paula, kamu tidak boleh marah seperti itu. Mereka bekerja juga punya aturan, jangan seenaknya saja kamu memerintahnya.” Kata Wiliam tiba-tiba setelah memasukkan Hp ke saku celananya.
“Diam!” Bentak Paula pada Wiliam.
“Ada apa ini?” seorang manager tiba-tiba datang karena mendengar keributan.
“Ibu ini memintaku untuk membuka pintu kamar ini.” Kata sang OB menunjuk kamar yang dimaksud.
“Kamu boleh pergi, biar aku yang selesaikan masalah di sini!” kata sang manager pada OB. “Bagaimana bu?” tanya manager pada Paula.
Paula menceritakan maksud kedatangannya di depan kamar tersebut.
“Maaf bu, kami sangat menjaga privasi dari pengunjung di hotel kami. Untuk itu kami tidak bisa membuka paksa pintu kamar apalagi ada penghuni di dalamnya. Kalau memang teman ibu ada di dalam, mari kita coba tekan bel saja bu.” Sang manager memberi solusi sambil menekan bel di depan pintu kamar. Namun sayang apa yang dilakukan tidak membuahkan hasil, pintu tetap tertutup rapat.
Merasa jengkel dengan manager yang tidak mau membukakan pintu kamar, dia kehilangan akal. “Berlama-lama tanpa hasil apapun, waktu semakin larut. Aku harus melakukan sesuatu.” Kata Paula dalam hati. “Ibu manager yang terhormat, tolong segera bukakan pintu kamar ini sekarang juga.” Paula dengan emosi menyodorkan kartu ajaib berwarna gold ke arah sang manager yang membuat dia mau tidak mau harus menuruti kemauan dari Paula. Sesaat manager dan Wiliam saling bertatap muka, namun dengan terpaksa dia akhirnya membuka pintu kamar itu.
“Kenapa kalian bisa berada di sini? Bukannya tadi kalian ke toilet?” tanya Paula pada Melati.
Terlihat Melati ketakutan. “Akkk…. Akkkuuuuu…” Melati gugup dan bingung harus menjawab apa. “Ttttaaadddiii mba Leoni mabuk.” Alasan Melati.
“Mabuk apa maksudmu?” interogasi Paula. “Bukannya tadi hanya minum beer sedikit? Kok bisa mabuk? Kamu jangan bohong!” kata Paula lagi.
“Katanya mba Leoni tidak biasa minum beer jadi walaupun minum sedikit langsung mabuk.” Jawab Melati asal.
“Awas kalau kamu bohong!” Paula mengancam Melati setelah itu tidak mempedulikan dia lagi, Paula berusaha membangunkan Leoni yang tertidur tak sadarkan diri. “Mba, kok mabuk sampai tidak sadarkan diri sih?” Paula memukul-mukul pipi Leoni. “Mba ayo kita pulang!” kata Paula lagi. Tanpa aba-aba Paula langsung membopong Leoni dan mereka berdua keluar dari kamar tersebut menuju ke parkiran dan pulang.
Sementara Wiliam dan Melati menuju ke ruang kerja sang manager.
“Panggilkan security dan resepsionis yang tadi! Sekarang!” teriak Wiliam.
“Baik.” Manager segera melakukan panggilan telpon dan meminta orang-orang yang dimaksud untuk datang ke ruangannya.
__ADS_1
“Ada apa bu?” mereka masuk bersamaan ke ruangan manager.
“Kenapa kalian membocorkan keberadaan mereka? Hah? Dasar bodoh!” teriak Wiliam.
“Maaf, kami hanya menyampaikan yang sebenarnya.” Kata security yang berbadan besar dan tegap namun sedikit takut saat menjawab.
“Sebenarnya apa? Dasar bodoh!” bentak Wiliam.
“Maaf.” Kata security itu lagi. “Maaf bu, apa maksudnya ini bu?” sang security memberanikan diri bertanya.
“Kamu juga, beraninya memberi tahu nomor kamarnya. Dasar tidak berguna!” Wiliam menunjuk ke arah resepsionis yang tadi memberitahu nomor kamar yang dituju oleh Leoni dan Melati.
“Maaf pak!” kata manager yang tiba-tiba mengerti kenapa semua itu bisa terjadi. “Maaf pak. tadi terjadi pergantian sift karyawaan jadi karyawan yang sebelumnya sudah pulang dan diganti oleh karyawan yang baru.” Kata manager menjelaskan pada Wiliam dengan hati-hati.
“Dasar begok! Kenapa kerjamu tidak beres?” bentak Wiliam pada manager yang duduk di balik meja kerjanya. “Kenapa kamu berani membukakan pintu kamar tanpa ijin? Kamu mau di pecat?” teriak Wiliam lagi.
Manager dengan hati-hati menjelaskan kenapa dia bisa membukakan pintu saat diperintah oleh Paula. Kartu ajaib yang dibawah oleh Paula merupakan kartu VIP yang hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu, dan menandakan bahwa perintah orang tersebut di 777 resto and hotel harus dituruti dalam keadaan apapun.
“Ahhhh…. Dasar bodoh!” teriak Wiliam marah. Dia langsung keluar dari ruangan manager itu menuju ke parkiran mobilnya.
“Wiliam!” panggil Melati yang mengikuti Wiliam dari belakang.
“Sialan!” Wiliam masuk ke dalam mobil dan membanting pintu mobilnya dengan sekuat tenaga.
“Wil tenang dong!” Melati mengelus pundak Wiliam dengan hati-hati.
“Kamu juga, bodoh! Kenapa kerjamu tidak becus?” bentak Wiliam pada Melati.
“Iya bentak terus, marah terus!” balas Melati dengan membentak. “Maksud kamu apa? Kenapa kamu mau berbuat jahat pada mba Leoni? Emangnya dia salah apa sama kamu?” Melati mulai menangis tapi masih berusaha melawan kata-kata Wiliam. “Kamu tahu kan dia calon istri tuan Glen? Kamu tidak takut kalau ketahuan kah?” teriak Melati lagi.
“Kamu jangan banyak bicara! Kalau Glen tahu kejadian hari ini itu berarti kamu yang memberi tahunya. Awas saja!” bentak Wiliam lagi.
Selama setengah jam lamanya Wiliam dan Melati bertengkar di parkiran tanpa ada penyelesaian.
“Jangan-jangan kamu mau merebut mba Leoni dari tuan Glen?” Bisik Melati memecah keheningan diantara mereka berdua setelah saling teriak marah-marah.
Tanpa menjawab pertanyaan Melati, Wiliam melajukan mobil membelah keramaian kota di tengah weekend yang ramai dengan muda-mudi yang bepergian. Keheningan kembali terjadi di antara mereka berdua sampai mobil berhenti di depan rumah kontrakan Melati.
__ADS_1
Melati langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan apapun lagi pada Wiliam.