KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Apa yang harus aku lakukan?


__ADS_3

“Sejak kapan mama dan papa tahu?” Lanjut Glen bertanya.


“Iya mama dan papa sudah tahu kejadian yang sebenarnya jauh sebelum hari ini.” Jawab papa.


“Kebetulan Om Lukas menghubungi papa dua hari yang lalu melaporkan dan meminta ijin untuk melaksanakan acara khusus atas keberhasilan Leoni dan tim renangnya, maka muncul ide mama untuk mempertemukan kalian lagi, dan mama meminta  papa untuk memaksamu ikut ke sini. Mama sengaja merancang acaranya dan semua itu atas dukungan dari papa, namun sempat berjalan tidak sesuai dengan rencana karena kamu mengak Luna ikut ke sini. Mama sempat kecewa dan kehilangan akal apalagi semalam kamu menghilang namun diam-diam mama menghubungi Paula yang akhirnya dia bersedia membagi informasi dimana keberadaan kalian. Sebelumnya mama meminta papa untuk menghubungi om Lukas dan sedikit berdiskusi dengannya, dia memberi pendapat untuk menghubungi Melati dan Wiliam dan membujuk mereka agar membantu, om Lukas memberi nomor kontak mereka ke mama dan merekapun bersedia membantu. Tadi pagi mama mendapat laporan dari Paula kalau Wiliam dan Melati berhasil menceritakan apa yang mereka alami waktu itu. Mama sangat senang mengetahuinya dan Mama sengaja melarang Luna ikut ke dalam aula karena mama tahu dia pasti akan merusak rencana mama, yah benar saja apa yang mama takutkan pun terjadi.” Mama menangis histeris menjelaskan sampai sesegukan.


“Maafkan aku ma.” Glen tiba-tiba bangun dari duduknya kemudian menghambur dipelukan mama, diapun tak hentinya menangis.


“Maafkan mama juga Glen.” Mama membalas pelukan Glen sambil mengelus pucuk kepalanya. “Mama menyesal, mama terlambat bertindak. Seandainya sejak dulu mama memberitahumu, mungkin kejadian ini tidak terjadi dan mungkin saja kalian sudah bersatu kembali.” Kata mama dalam tangisnya.


“Sudahlah sekarang bukan waktunya untuk mencari siap yang salah diantara kita. Sebaiknya sekarang kita berpikir apa yang harus kita lakukan agar masalah ini cepat selesai.” Kata papa.


“Jadi sekarang bagaimana? Menurut papa apa yang harus aku lakukan?” Tanya Glen menanggapi pernyataan papa.


“Untuk saat ini kita tunggu orang yang papa suru untuk melacak keberadaannya. Sejauh ini mereka menyampaikan bahwa Leoni tidak keluar dari kota ini, jadi kemungkinan besar masi bisa menemukannya dalam waktu dekat.” Jelas papa.


“Baiklah.” Glen pasrah.


***


Keluarga Glen berkumpul di vila nya yang megah membahas masalah Glen dan Leoni, sementara Leoni yang keluar dari aula yayasan Gonzaga menggunakan taxi dengan cepat menghilang dan tidak dapat dikejar. Leoni turun dari taxi tepat di depan pelabuhan laut penyebrangan ke pulau-pulau kecil yang ada di NTT, secara kebetulan bertemu dengan orang tua siswa atlit yang pernah dia bantu.


“Bu Leoni..” Panggil sang siswa saat melihat Leoni.


“Airin?” Leoni kaget, dia memastikan kalau benar orang yang dilihatnya adalah siswa yang dia maksud. “Kamu dengan siapa?” Tanya Leoni setelah orang itu sudah berada didekatnya.


“Aku dengan orang tuaku. Mereka menjemputku dari sekolah tadi. Papa dengan mama ada di sana!” Airin menunjuk di mana kedua orang tuanya berada.


“Halo om tante.” Leoni menghampiri mereka dan menyalami mereka.

__ADS_1


“Ma, pa, ini bu Leoni guru renangku, yang aku ceritakan waktu itu.” Jelas Airin.


“Oh… halo bu Leoni.” Kedua orang tua Airin menyalami Leoni juga.


“Ibu mau ke mana? Kok ada di sini? Mau nyebrang juga?” tanya mama Airin.


“Aku sebenarnya bingung mau ke mana.” Jawab Leoni jujur.


“Nah loh, kok gitu bu?” sambung Airin bingung mendengar jawaban sang gurunya.


“Anak kecil tidak harus tahu urusan orang dewasa.” Kata papa Airin membantu Leoni menjawab.


“Nanti ibu cerita yah.” Kata Leoni mengurangi kecemasan dan rasa penasaran Airin.


“Jadi bu Leoni tidak punya tujuan mau kemana nih? Emang keluarga mba ada di mana?” Tanya mama Airin.


“Sepertinya ibu lagi ada masalah yah?” Mama Airin  berusaha membaca pikiran Leoni.


“Iya benar saat ini aku lagi ada sedikit masalah.” Jawab Leoni polos.


“Apa ibu mau ikut dengan kami? Siapa tahu kami bisa membantu ibu paling tidak sekedar untuk membuat ibu tenang.” Tanya mama Airin.


“Boleh juga.” Leoni sekedar menjawab.


“Ayo oto kol nya sudah mau jalan.” Mama Airin menunjuk mobil truk bak terbuka dengan atap di bagian atasnya, mobil ini digunakan sebagai angkutan umum di NTT khususnya menuju ke desa-desa terdalam di daerah tersebut.


“Bu Leoni yakin mau ikut?” Airin meragukan Leoni untuk ikut bersama mereka.


“Saya ikut.” Jawab Leoni.

__ADS_1


Menurut Leoni munngkin ini adalah pilihan yang tepat baginya, dia harus mencari tempat dan suasana yang baru untuk menenangkan diri. Dia yakin kalau kembali ke Manado sebelum pikirannya tenang pasti akan sangat merepotkan bagi keluarganya, bahkan bisa membuat orang tuanya kecewa, atau mungkin mereka akan membawahnya pergi jauh seperti beberapa tahun yang lalu. Jadi sebaiknya dia menenangkan diri terlebih dahulu baru pulang pada keluarganya.


Leoni pun ikut dengan keluarga Airin ke kampung tepatnya di daerah Fatuleu kabupaten Kupang, kampung ini sangat sulit dijangkau, sarana komunikasi pun masih sangat minim, orang-orang untuk dapat berkomunikasi dengan dunia luar harus ke ibu kota kecamatan dulu, sarana transportasi dan pasar pun punya jadwal pada hari-hari tertentu, jadi untuk keluar masuk ke daerah tersebut harus tunggu jadwal oto kol masuk ke daerah tersebut.


“Maaf nona ibu, di sini jaringan selulernya belum masuk.” Mama Airin memberi tahu Leoni karena dia lihat Leoni sibuk mengotak-atik Hp di tangannya. Nona Ibu adalah panggilan orang NTT pada guru perempuan yang belum menikah.


“Oh yah ampun. Pantas saja.” Leoni tersipu malu. “Aku pikir Hp ku yang rusak.” Leoni berusaha membela diri.


“Kita makan malam dulu, bapa sudah menunggu di meja makan.” Kata Mama Airin lagi. Bapa adalah panggilan untuk papa bagi orang NTT. “Tapi kita makan seadanya yah, makanan yang ada di sini tidak seperti di kota.” Lanjut mama Airin lagi.


“Tidak apa-apa ema, aku juga sangat senang dengan makanan desa. Dikasih makan saja aku sudah sangat bersyukur.” Kata Leoni polos. Ema adalah panggilan seorang mama.


“Minta maaf Nona ibu Leoni, jika bapa bisa tahu sebenarnya nona ibu ada masalah apa? Sepertinya sedang masalah besar yah?” Papa Airin memberanikan diri bertanya pada Leoni setelah mereka selesai makan malam namun masih duduk bersama mengelilingi meja makan sederhana itu sambil bercerita.


Leoni pun mulai menceritakan semua kejadian yang dia alami dan membuat dia sakit hati dan terpuruk seperti ini.


“Kok bisa yah tuan Glen tiba-tiba saja berbuat kasar dan menyakitkan ibu seperti itu tanpa ibu ketahui apa penyebabnya?” Airin bertanya-tanya setelah mendengar cerita Leoni tentang kejadian tiga bulan yang lalu dimana Glen mengusir Leoni dari vila nya tanpa tahu apa penyebab dia berbuat seperti itu.


“Anak kecil diam dulu yah, jangan asal bicara seperti itu.” Papa Airin menasehati.


“Teman bu Leoni itu terlalu kurang@jar banget yah, dasar!” Kata Airin setelah mendengar kelanjutan cerita Leoni namun dia tiba-tiba diam karena melihat ekspresi papanya yang menunjukan sikap tidak senang pada anaknya yang asal bicara seperti itu.


“Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku bingung. Rasa sakit di hati ini terlalu dalam, luka nya mungkin tidak akan pernah sembuh.” Lanjut Leoni.


“Sebaiknya Nona Ibu menenangkan diri dulu, setelah sudah merasa agak baikan baru kita cari solusinya, dan nona ibu juga harus tetap meberitahu kabar pada keluarganya agar mereka juga bisa tenang.” Kata Mama Airin.


“Nanti kalau ibu sudah merasa tenang, akan aku antar nona ibu ke bapa desa agar dapat menghubungi keluarga.” Potong Airin.


“Iya benar sekali, nona ibu harus menghubungi keluarga.” Kata papa Airin. “Sekarang sebaiknya istirahat dulu, siapa tahu besok sudah tenang, kita bisa bahas kembali.” Sambung papa Airin yang langsung bangun menuju ke kamar tidurnya tanpa menunggu tanggapan dari mereka yang ada di situ.

__ADS_1


__ADS_2