
Glen sengaja menyuruh pengawalnya untuk menjemputnya menggunakan mobil kemudian keluar berkeliling sedikit di luar kantor dan bergabung dengan rombongan agar tiidak terkesan buruk dan agar tidak ada yang tahu kalau dia sebenarnya tidur serta sudah berada di dalam lingkungan kantor, bahkan nginap di situ. Yang tahu keberadaanya saat itu hanya pengawal kepercayaan yang menjemputnya itu.
Di dalam ruang guru, kepala sekolah sementara memperkenalkan Leoni kepada pihak dewan guru sebagai guru baru di sekolah itu. Tidak lama kemudian Wiliam datang berbisik ke telinga kepala sekolah, memberi tahu kalau direkturnya sudah dalam perjalanan dan mereka diminta untuk segera menuju ke aula.
“Baik bapak/ibu semua, info dari Pak Lukas bahwa presdir sudah dalam perjalanan ke sini, maka kita harus segera bersiap-siap dan menuju ke aula sebelum beliau ada. Kita harus sudah terlebih dahulu berada di sana.” Kepala Sekolah memberi tahu.
Semua guru dan pegawai sekolah meninggalkan tugas masing-masing dan menuju ke aula kantor.
“Ini perdana bagi presdir yang baru untuk bertemu dengan kita di sini. Beliau baru saja dilantik karena papa nya meminta untuk anaknya melanjutkan perusahaan.” Bisik-bisik rekan guru Leoni dalam perjalanan ke aula.
“Katanya presdir yang baru ini masih muda loh, saya sempat mendengar pembicaraan pak Lukas dan Pak George tadi di lobi.” Kata bu guru Melati ke telinga Leoni.
“Ah bu Melati bisa aja.” Kata Leoni santai.
“Hehehe…. Pasti ganteng deh.” Pikir bu Melati.
“Mba Leoni.” Panggil Wiliam ketika Melati dan Leoni sudah berada di depan pintu aula hendak masuk ke dalam.
“Wiliam.” Sapah Leoni menghampiri Wiliam yang sedang berdiri di depan pintu. “Kamu ngapain di sini? Tidak masuk ke dalam?” tanya Leoni.
“Aku ditugaskan Pak George untuk menunggu mba Leoni di sini.” Jawab Wiliam singkat. “Mari mba, bu.” Wiliam mempersilahkan Leoni dan Melati Bersama guru yang lain untuk masuk.
Beberapa menit mereka menunggu kedatangan sang presdir yang dimaksud. Sambil menunggu, Wiliam menceritakan berbagai informasi yang dia peroleh dari kepala personalianya yaitu Pak George mengenai presdir yang saat ini sementara mereka tunggu. “Pasti presdir kita ganteng yah? Iya kan bu Leoni?” kata bu Melati sambal menyenggol tangan Leoni yang sejak tadi diam saja.
“Iya pasti, Namanya orang kaya, pasti ganteng dan juga sudah perawatan.” Wiliam menanggapi dengan tersenyum. “Saya juga pingin seperti dia, masih mudah, ganteng, berprestasi dan sudah bisa menerima tanggung jawab yang besar.” Wiliam menunjuk-nunjuk dagunya dengan jari telunjukknya seolah berpikir dengan keras. “Tapi aku tidak mau jadi cowok yang pengecut seperti dia, pasti banyak cewek yang sudah disakitinya.” Lanjut Wiliam yang masih dengan pemikirannya.
“Pak Wil ngomong jangan sembarangan dong! Emangnya pak sudah kenal dengan orangnya?” Bu Melati mengagetkan Wiliam.
“Tidak kenal juga sih, tap ikan rata-rata orang kaya gitu. Suka menghambur-hamburkan uang.” Kata Wiliam lagi.
Sementara Wiliam dan Melati sibuk dengan perbincangan mereka mengenai presdir yang baru, Leoni sendiri sibuk dengan pemikirannya. “Kok Glen tidak membaca pesan ku yah? Padahal sudah terkirim. Dia kok berpakaian rapih banget kayak mau pergi kerja? Tapi ke mana? Di telpon juga tidak di angkat, lagi apa sih?” Leoni bertanya-tanya dan penasaran dengan Glen yang tadi dia tinggalkan di rumah.
“Bapak/Ibu semua, tuan presdir sudah berada di ruang kerjanya. Sedikit lagi akan datang menjumpai kita di sini untuk itu harap semua tenang.” Pengumuman dari orang yang dipercaya untuk menjadi MC dan mengarahkan para pegawai, guru dan semua pihak yang hadir di tempat itu.
*
Di dalam kantor ruang kerja pak Lukas telah berkumpul para pimpinan Yayasan, mereka menunggu kedatangan Glen untuk membicarakan beberapa hal dan melaporkan keadaan yayasan sebelum melakukan pertemuan dengan semua pihak.
Tok… tok… tok (suara pintu di ketuk dari luar).
“Itu pasti presdir sudah ada.” Bisik pak Lukas sambal berdiri hendak menyambut kedatangan petinggi yayasan mereka tersebut kemudian diikuti oleh semua orang yang ada di situ.
Glen memasuki ruangan kerja tersebut dengan gagah dan tampan menggunakan setelan kemeja kerja berwarna biru muda senada dengan baju yang tadi Leoni kenakan.
“Hah???” Pak George bingung ketika melihat orang yang masuk ke dalam ruangan. “Bukannya itu temannya mba Leoni yang kemarin?” Kebingungan pak George melihat wajah pria tampan yang semakin dekat dengan dirinya.
__ADS_1
“Om Lukas, senang bertemu Kembali.” Glen menyalami om Lukas sambal duduk di sampingnya yang merupakan kursi kosong.
“Glen… om juga senang bertemu denganmu. Selamat datang di Kupang. Mohon maaf om tidak tahu kedatanganmu. Untung saja papamu telpon.” Kata om Lukas panjang lebar.
“Tidak apa-apa om. Glen memang sengaja kasi surprise.” Glen tersenyum ramah menanggapi om Lukas.
“Hai…” tak lupa juga Glen menyalami Pak George yang ada di samping kirinya. Glen berada di antara Om Lukas dan Pak George.
“Mas?” pak George menerima tangan Glen yang terulur sejak tadi.
“Pak, tidak usa sungkan. Saya tahu apa yang akan anda sampaikan.” Balas Glen dengan senyuman.
“Maaf, kemarin saya sudah punya feeling. Tapi entah kenapa tidak benar-benar mengenali anda, tuan.” Pak George sungkan.
“Sudah pak. Saya tidak permasalahkan lagi.” Kata Glen menenangkan. “Om Lukas, gimana? Apa persiapannya sudah beres?” Tanya Glen mengalihkan.
Pak Lukas sebagai wakil direktur cabang Kupang melaporkan kondisi yayasan saat ini secara detail kepada Glen sebelum bertemu tatap muka dengan semua karyawannya.
Setelah itu mereka menuju aula untuk menjumpai semua orang yang sudah menunggu mereka.
*
Di ruangan sebelah Leoni, Wiliam, Melati dan teman-temannya asik berbincang-bincang. Wiliam selalu memberikan perhatian kepada Leoni. Entah apa yang dirasakannya sampai bisa berlaku seperti itu pada Leoni, padahal mereka baru saja kenal. Sementara Leoni menanggapi Wiliam hanya karena menghargainya sebagai teman.
*
“Bruuukkkk….” Glen meubruk seseorang karena berjalan menunduk sambal merapihkan bajunya.
“Hei kalau jalan tuh lihat-lihat sedikit yah!” Bentak orang yang ada di hadapan Glen.
“Maaf.” Kata Glen spontan.
“Kamu? Ngapain kamu di sini?” bentak orang itu lagi. “Mba Leoni masih ada pertemuan dengan pimpinan, jadi sebaiknya kamu pulang dulu dan tunggu saja di rumah. Kalau di sini yang ada malah kamu mengganggunya.” Marah Wiliam. Yah Wiliam adalah orang yang ditabrak oleh Glen saat keluar dari toilet sedangkan Wiliam mau masuk ke dalam toilet dengan Langkah yang buru-buru.
“Kamu! Berani-beraninya…..” Marah Glen memuncak namun tidak dapat dilanjutkan karena sudah langsung didorong oleh Wiliam menuju ke arah pintu keluar tanpa mendengarkan kata-katanya.
“Sebaiknya mas tunggu di rumah!” Perintah Wiliam dengan tegas tanpa berpikir panjang. Dia hanya tahu bahwa Glen datang ke sini untuk menemui Leoni bukan sebagai siapa-siapa di kantornya, sehingga dia sangat berani mengusir Glen. “Pak, jangan ijinkan mas ini masuk dan mengganggu pertemuan!” Perintah Wiliam kepada satpam yang sedang berdiri termangu melihat adegan di hadapannya.
“Pak Wiliam nih kenapa sih? Kok dia bisa mengusir pak presdir??” Pak satpam termenung memikirkan tingkah Wiliam barusan.
“Pak….” Glen mengayunkan tanganya di wajah pak satpam yang terpaku.
“Eh… tuan, maaf.” Pak satpam tersadar. “Ada apa tuan?” Pak satpam ketakutan karena dia tahu siapa yang ada dihadapannya ini, karena tadi waktu masuk ke dalam kantor, sempat dikenalkan oleh Pak Lukas kepada para
satpam yang berbaris di depan pintu menyambut kedatangan mereka. “Tuan…..???” Pak satpam ragu-ragu untuk bertanya kepada orang yang ada dihadapannya saat ini.
__ADS_1
“Tidak apa-apa pak. Lanjut saja bekerja!” Perintah Glen kemudian melangkah masuk Kembali, tapi pas sampai di depan pintu Glen tidak dapat membuka pintunya, seketika itu juga dia mengedarkan pandangan mencari pak satpam yang tadi namun orangnya sudah menghilang. “Isshhh… apa-apaan ini? Di kantor sendiri kok aku tidak bisa masuk?” Glen emosi. Dia berusaha menelpon om Lukas, tapi tidak bisa tersambung, dia menelpon Leoni pun juga
sama. “Semua kok tidak bisa di hubungi?? Aaarrrrgggghhhhh……..” Glen tambah marah. “Lihat saja nanti, kamu akan mendapat hukuman Wiliam. Sombong sekali, kamu tidak tahu siapa aku?” Kata Glen arogan.
Kriiinnggg….. kriiiinnggg…. (bunyi hp menyadarkan Glen dari emosi nya).
“Haloo…. Kamu di mana sih? Di tungguin dari tadi, katanya ke toilet, tapi kok lama sekali? Semua orang sudah pada nungguin loh. Ayo cepat kesini!” Kata om Lukas dari balik telpon.
“Aku di depan kantor om, tolong bukakan pintu. Sekarang!” Perintah Glen yang membuat om Lukas bertanya-tanya.
“Siapa yang menutup pintu masuk? Apa yang terjadi?” tanya om Lukas dalam hati. “Baik.” Jawab om Lukas singkat. Tidak menunggu lama, pintu langsung terbuka secara otomatis.
Glen tidak membuang-buang waktu, dia langsung masuk ketika pintu terbuka dan segera menuju aula, tak lupa juga dia Kembali merapihkan pakaian.
Di dalam aula, semua pada rebut berbincang-bincang dan menanti dalam tanda-tanya, kapan presdirnya akan datang.
Beberapa saat kemudian, orang yang mereka tunggu-tunggu akhirnya muncul juga.
Wiliam kagetnya ketika melihat orang yang baru saja masuk di ruangan mereka itu, orang yang sudah dia usir tadi. “Kamu ngapain di sini? Bukannya tadi sudah aku katakana untuk menunggu mba Leoni di rumah? Siapa yang membukakan pintu untukmu?” sontak Wiliam menghampiri Glen yang masih berdiri di depan pintu dan spontan berbisik ke telinga Glen dengan aba-aba hendak menarik Glen keluar.
Glen tidak menanggapi perkataan Wiliam, dia hanya menunjukkan aura emosi pertanda tidak senang dengan perlakuan Wiliam.
Wiliam pun membalas tatapan Glen dengan melebarkan mata menantang.
Sementara Leoni tidak dapat berbuat apa-apa, dia terpaku di tempat melihat adegan di depan matanya itu, dia langsung memiliki firasat kalau mungkin orang yang sementara mereka tunggu itu adalah Glen, apalagi melihat tingkah Pak Lukas yang langsung kaget dan berdiri menghampiri kedua pria yang terlihat sedang emosi seperti berebut kue.
“Heemmmm…. Bodohnya aku. Kenapa sejak awal tidak menyadarinya.” Leoni menyadari apa yang ada dalam pemikirannya, secara spontan dia langsung berdiri hendak melangkahkan kaki menghampiri mereka yang jaraknya
lumayan jauh dari tempat dia duduk.
“Bu mau kemana? Duduk saja. Nanti kita kena marah loh.” Bu Melati menarik lengan Leoni yang sudah berdiri dari tempat duduknya dan hendak melangkah.
“Ayo!” Pak Lukas menghampiri mereka kemudian menarik lengan Glen dan menuntunnya melangkah ke bagian depan dimana tempat duduk para petinggi yang ada saat itu.
“Pak Lukas nih apa-apaan sih?” Wiliam masih tersulut dengan emosinya. “Pak….” Dia masih hendak menghalangi Glen, dia mengejar Langkah pak Lukas dan Glen.
“Bapak/Ibu kenalkan ini Tuan Glen, beliau ini adalah pimpinan kita yang baru.” Pak Lukas memperkenalkan Glen di hadapan semua orang sambal melangkah menuju ke podium tempat para pimpinan duduk.
Glen menundkukan kepala dihadapan semua orang pertanda memberikan hormat.
"Presdir Glen. Silahkan duduk." Pak Lukas mempersilahkan Glen duduk di tempat yang sudah dipersiapkan.
Mohon maaf yah, sekian purnama baru update lagi.
aku usahakan akan selalu update setiap hari, dan nantikan cerita baru dari ku.....
__ADS_1
salam.