
Selesai pembicaraan malam itu, semua tamu dipersilahkan untuk pulang sedangkan Leoni dan Glen masih diajak papa dan mama untuk berdiskusi di ruang keluarga. Mereka membahas hubungan Leoni dan Glen ke tahap yang lebih serius walaupun papa sudah mempublikasikan di hadapan rekan-rekan kerjanya, tetapi tentunya semua itu harus mereka bahas lagi secara internal.
“Sayang, tunggu semua pulang dulu baru aku antar kamu pulang yah.” Kata Glen saat mau mengantar tamu-tamu di depan rumah. “Tidak sopan kalau masih ada tamu terus aku langsung menghilang kan?” Bisik Glen lagi.
“Iya, tidak apa-apa.” Jawab Leoni kemudian mereka berdua bersama papa Glen mengantarkan para tamu sampai di depan rumahnya.
Hanya dalam waktu beberapa menit rumah Glen kembali sepih, para tamu sudah pulang. Papa, Glen dan Leoni yang mengantar mereka di depan rumah pun kembali masuk ke dalam rumah.
“Pa... makasi yah papa mau menerima Leoni.” Kata Glen kepada papanya setelah semua tamu sudah kembali, dan mereka semnatar masuk ke dalam rumah, tiba-tiba berdiri di depan pintu rumahnya karena mendengar perkataan Glen barusan.
“Ada yang mau papa bicarakan dengan kalian berdua. Ayo masuk!” Ajak papa Glen yang kemudian langsung melangkah masuk ke dalam rumah.
“Semua sudah pulang?” Tanya mama Glen yang keluar dari dapur, tadi membersekan meja makan.
“Sudah ma.” Jawab Glen.
“Leoni?” Tanya mama. “Sedikit lagi baru pulang kan? Kita ngobrol sebentar yah?!” Sambung mama Glen ketika mereka sudah duduk kembali di ruang tengah. "Mungkin ada yang mau papa sampaikan kepada kalian berdua."
__ADS_1
“Iya tan.” Kata Leoni mengiyakan perkataan mama Glen.
“Papa.” Glen memanggil papa nya yang kelihatan seperti sibuk sendiri dengan Hp nya tanpa mempedulikan mereka yang ada ditempat itu. “Katanya ada yang mau papa bicarakan?” Tanya Glen lagi.
“Ohh itu, papa hanya mau menanyakan tentang hubungan kalian berdua. Itu saja.” Jawab papa sambil menunjuk ke arah Glen dan Leoni. “Kalian serius kan dengan hubungan kalian?” Tanya papa yang terlihat tidak yakin dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua. “Glen, ini bukan hanya sekedar memenuhi tuntutan papa dan mama kan?” Desak papa.
“Papa kok bicara seperti itu?” Tanya mama yang tersentak mendengar pertanyaan papa. “Mama yakin Glen pasti tidak main-main dengan hubungan seperti ini pa. Iya kan Glen?” Mama menatap Leoni dan Glen secara bergantian.
Leoni menjadi malu ketika mendengar pembicaraan mama dan papa Glen seperti itu. Dia pun rasanya seperti masih diragukan oleh kedua orang tua Glen, secara khusus papa nya. Dia berpikiran negatif, dia menarik kesimpulan sendiri bahwa sejak awal masuk ke rumah Glen tadi sepertinya orang tua Glen tidak menerimanya. Dia takut kalau Glen akan ditentang oleh kedua orang tua nya dan tidak merestui hubungan mereka, apalagi menerimanya sebagai menantu di keluarga ini, dan pokoknya masih banyak pikiran negatif lainnya yang mampir di kepala Leoni.
“Papa, Glen sudah kasih tahu tadi kan? Glen yang memilih Leoni paa, dan Glen yakin dengan pilihan ini, Glen sangat menyayangi dan mencintai Leoni pa. Kenapa papa masih bertanya seperti itu lagi?” Kata Glen panjang lebar.
“Atau kamu sengaja bayar Leoni agar mau ....” Papa belum sempat menyelesaikan perkataannya.
“Ma, pa, dulu memang Glen sempat terpikirkan seperti apa yang ada dalam bayangan mama itu, tapi waktu itu Leoni belum jadi pacar Glen ma. Aku mau buat mama dan papa senang, makanya Glen berusaha untuk cari cewek yang pas dan bisa di ajak kerja sama berpura-pura di hadapan mama dan papa. Tapi ma, itu dulu, sekali lagi sebelum Leoni kembali, sebelum Leoni ada di samping Glen.” Glen mencurahkan isi hatinya. “Benar ma, aku pernah berpikir mencari cewek hanya sekedar untuk memenuhi permintaan mama dan papa. Waktu itu aku putus asa menunggu Leoni yang pergi ke Jakarta dan entah kapan kembalinya.” Glen mulai meneteskan air mata. “Sejak dulu Glen sudah suka sama Leoni ma, pa, namun belum sempat aku ungkapkan perasaan ke Leoni, dia sudah ke Jakarta dan aku tidak tahu apakah dia akan kembali atau tidak, itu membuat aku stres ma. Aku pernah berjanji dalam diriku untuk tidak akan pernah jatuh cinta dengan cewek lain, hanya Leoni yang akan selalu ada dalam hatiku. Walaupun mungkin ada cewek yang aku nikahi hanya sekedar memenuhi permintaan mama dan papa, jadinya semua cewek yang dekat denganku hanya ku anggap sebagai teman, termasuk Luna, sempat aku berpikir untuk meminta salah satu dari para cewek itu menikah yang pasti akan dengan senang hati mereka menerimanya meski aku tidak mencintai mereka. Bersyukur hal itu belum sempat terjadi.” Glen menjelaskan. “Ketika Leoni sudah kembali, aku pun tidak langsung menodong dia untuk mau pacaran apalagi menikah. Aku masih menguji diriku sendiri apakah benar aku mencintai dia, aku malah jahat banget pada Leoni, mama tahu kan? Apa yang aku lakukan??” Glen melontarkan pertanyaan kepada mamanya.
“Iya.” Mama mengangguk.
__ADS_1
“Ketika tahu bahwa Leoni akan lagi-lagi pergi jauh dariku, hati ini terasa begitu sakit dan menyiksa, tapi rasa sakit itu yang berhasil membuat semakin jelas perasaanku ini dan membuatku berani untuk mengungkapkannya kepada Leoni” kata Glen lagi.
“Dan Leoni? Gimana tanggapannya?” Tanya papa sinis.
“Syukur banget ternyata Leoni juga punya perasaan yang sama pa. Iya kan Ny?” Kata Glen mau meyakinkan papa dan dibalas dengan anggukkan Leoni yang tak mampu berkata apa-apa lagi.
“Pa... papa ragu? Papa tidak percaya dengan Glen?” Tanya Glen.
“Papa sangat yakin denganmu nak, tapi papa takut kamu menyakiti anak orang. Papa tidak mau kamu menyakiti Leoni seandainya kamu mengajaknya pacaran atau menikah hanya karena untuk memenuhi permintaan kami.” Papa tersenyum.
“Papa?” Tanya Glen kurang paham dengan maksud perkataan papa nya. “Glen janji tidak akan pernah menyakiti Leoni.” Kata Glen spontan.
“Leoni?” Papa melirik ke arah Leoni.
“Leoni juga mencintai Glen, om.” Kata Leoni tertunduk. Hanya itu yang dapat dia ungkapkan seolah ia mengerti maksud papa Glen.
“Pa...” Glen tiba-tiba berlutut di hadapan papa. “Papa merestui hubungan Glen dengan Leoni kan? Glen berjanji bahwa ini bukan main-main. Glen sungguh mencintai Leoni pa.” Glen bermohon.
__ADS_1
“Baik. Papa dan mama merestui kalian.” Kata papa dengan senyuman.
“Mama memang sejak dulu mau Leoni jadi menantu mama.” Tambah mama yang sedari tadi diam saja.