
“Tuan.” Paula masuk ke ruang kerja Glen. “Katanya tuan akan pergi ke daerah Fatuleuh?” Tanya Paula dengan hati-hati.
“Iya, aku akan pergi mencari Leoni di sana.” Jawab Glen.
“Bukannya di sana lagi ada bencana? Apa tidak sebaiknya tunggu bencana agak redah dulu baru ke sana?” Tanya Paula dengan sangat hati-hati.
“Siapa yang menyuruhmu untuk datang membujukku?” Tanya Glen dengan tatapan tajam.
“Tidak ada tuan, tidak ada yang menyuruhku. Aku dengar dari pengawal yang lainnya tadi, katanya mereka lagi mempersiapkan keberangkatan ke Fatuleuh.” Jawab Paula hati-hati. “Makanya saya langsung ke sini untuk menanyakan.” Lanjut Paula.
“Tidak ada yang dapat menghalangi keinginanku. Tekatku sudah bulat untuk ke sana, aku sangat yakin.” Kata Glen lanjut, entah ada dorongan apa dalam dirinya yang membuat dia untuk bersih keras menuju ke sana.
“Baik tuan, kalau begitu aku bisa ikut mendampingi tuan?” Tanya Paula dengan sangat hati-hati.
“Perempuan tidak bisa ikut.” Jawab Glen tegas.
“Tapi kenapa tuan? Aku juga bisa bermanfaat di sana kok, mungkin sambil kita mencari mba Leoni, aku juga bisa sedikit memberikan bantuan medis pada masyarakat di sana.” Kata Paula dengan sangat yakin. “Aku bisa ikut yah tuan? Selain itu juga aku bisa mempersiapkan segala sesuatu untuk tuan, dari sekian banyak pengawal hanya aku yang paling mengerti keinginan tuan dan bisa diandalkan.” Kata Paula lagi meyakinkan.
“Benar memang dari sekian banyak pengawal, Paula yang paling mengerti aku. Semenjak menjaga Leoni waktu itu, banyak yang Leoni beri tahu dia tentang aku sehingga dia yang paling bisa aku andalkan.” Kata Glen dalam hati. “Yah sudah, kamu boleh ikut.” Kata Glen setelah sekian lama berpikir menimbang-nimbang apakah mengijinkan Paula ikut.
Setelah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan, mereka berangkat ke Fatuleuh menggunakan helikopter perusahaan milik Glen yang dikirim dari Manado. Mereka membawah serta beberapa tenaga medis dan bahan obat-obatan serta bahan logistik lainnya.
“Ingat kalau ditanya, sampaikan saja tujuan kita ke sana adalah membawah bantuan, bukan untuk mencari mba Leoni. Agar masyarakat mereka tidak curga. Kalau mereka tahu maskud kedatangan kita yang sebenarnya, bisa-bisa mereka menolak karena di daerah ini kekuatan adat masih sangat tinggi, jangan sampai mereka tersinggung dan membuat mereka marah. Sambil memberikan bantuan, kita berbaur dengan masyarakat, setelah kita sudah mengambil hati masyarakat, mereka akan dengan cepat mempercayai kita dan akan membagi informasi yang kita butuhkan.” Pesan seorang pengawal yang mengerti daerah Fatuleuh sebelum mereka berangkat ke daerah yang mereka maksud.
“Baik.” Semua menjawab dengan kompak.
__ADS_1
“Maaf tuan, seandainya tuan sudah menemukan mba Leoni di sana, saya minta jangan gegabah, kita harus menghubungi orang yang berpengaruh di tempat itu dan nanti beliau yang mencari orang yang di maksud. Kita hanya menjaga-jaga saja agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada tuan, ini semua demi kebaikan tuan. Dan biasanya orang kalau sudah berada di sana, mereka akan sulit untuk keluar, apalagi kalau terjadi hal yang tidak sesuai dengan aturan adat masyarakat setempat.” Pesannya secara pribadi pada Glen.
“Baik, tolong selalu mengingatkanku.” Glen menerima pesan yang disampaikan pengawalnya itu dengan baik.
“Tuan, apa tuan yakin mba Leoni ada di sana?” Tanya Paula kurang yakin.
“Saya yakin kalau dia masih di daerah Kupang, pasti dia ada di sana karena daerah Timor sudah semua kita datangi, dan tinggal satu daerah ini yang belum kita datangi.” Jawab Glen dengan yakin. “Kalau dia tidak ada di sana, berarti ada dua kemungkinan : pertama dia disembunyikan secara adat atau kedua dia sudah keluar dari daerah ini dan kalian yang lalai mencarinya, pasti kalian melakukan kesalahan saat mencarinya pada waktu itu.” Kata Glen dengan sedikit emosi.
“Baik, semoga saja benar mba Leoni ada di sana.” Kata Paula.
“Ayo berangkat!” perintah Glen.
Dalam beberapa menit helikopter yang mereka tumpangi sudah mendekati daerah yang mereka tuju, sudah terlihat tenda yang diyakini sebagai tempat pengungsian warga dan lokasinya tidak jauh dari pinggiran sungai Siumate.
“Ayo kita lihat!” Bapa desa mengajak beberapa warga untuk keluar dari tenda dan mereka menunggu helikopter itu mendarat.
***
“Sepertinya ada bantuan yang datang, entah mungkin bantuan logistik dan obat-obatan. Di sana ada beberapa helikopter yang mendarat.” Kata Romi pada Leoni.
“Biar bapa desa saja yang mengurusnya, biar kita bantu masyarakat di sini saja.” Leoni sambil memeriksa beberapa orang yang masih lemah.
“Nona ibu, setelah sudah tidak ada kerjaan kita main sama-sama yuk!” Ajak salah seorang anak kecil yang mulai menyukai Leoni.
“Kak Romi juga bisa ikut?” Kata Romi menyamaratakan tinggi dengan anak itu, dia berlutut sambil memeluk anak tersebut.
__ADS_1
“Wah bisa dong kak, kami akan sangat senang kalau kak Romi dan nona ibu mengajak kami bermain bersama.” Kata anak itu dengan girang. “Nanti aku ajak teman-teman yang lain yah.” Kata anak itu lagi.
“Kalian tunggu kak Romi dengan nona ibu di bawah pohon itu yah! Setelah membantu di sini, kami akan pergi menemui kalian di sana. Oke?” Romi menunjuk pohon beringin yang tidak jauh dari tempat mereka berada.
“Assiiiikkk….” Beberapa anak berteriak gembira. “Cepat yah kak!” Pesan anak-anak sebelum mereka meninggalkan Romi dan Leoni.
“Dasar anak-anak!” Romi tertawa.
“Kamu senang yah main dengan anak-anak?” Tanya Leoni sambil mengganti perban luka seorang pasien.
“Iya senang sih, habis mereka itu menyenangkan sekali.” Jawab Romi dengan wajah gembira.
“Kalau gitu cepat nikah biar punya anak sednri!” Kata Leoni spontan.
“Pingin sih nikah, tapi belum ada wanita yang mau menikahiku.” Kata Romi dengan wajah sedih dan berhasil membuat Leoni terhentak, sepertinya dia salah bicara.
“Sepertinya Nak Romi dan Nona ibu sangat cocok deh, kenapa tidak kalian saja yang menikah?” Kata pasien yang sedang disuapi makan oleh Romi.
“Hah?” Romi dan Leoni secara spontan saling menatap satu sama lain. “Ahhh… nona ibu sudah punya calon suami, kalau aku rebut nanti bahaya.” Kata Romi bercanda.
Perkataan Romi itu membuat Leoni kembali mengingat Glen, namun tetap dia berusaha melupakannya, dia tidak mau menunjukkan kelemahannya di depan para pasien yang seharusnya dia hibur.
“Kak Romi masih lama? Itu teman-teman sudah menunggu di sana!” Seorang anak datang mengganggu pembicaraan mereka karena tak sabar menunggu Leoni dan Romi untuk bermain.
“Ah ya, kami akan segera ke sana.” Romi meletakkan peralatan medis yang sedang dipegangnya begitupun dengan Leoni.
__ADS_1