KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Tidur di samping aku!


__ADS_3

“Gimana dok?” Tanya Mama Serly yang saat itu menemani Leoni pergi memeriksakan diri di dokter obgyn sesuai saran dari dokter keluarga mereka.


“Baik bu.” Kata Dokter obgyn sambil tersenyum menanggapi perkataan mama Serly, sang dokter membantu Leoni merapihkan kembali pakaiannya kemudian menuntunnya duduk di samping mama Serly tepat berhadapan dengan dokter tersebut.


“Nyonya Leoni, istrinya tuan Glen yah?” Tanya sang dokter sambil menuliskan resep untuk Leoni dan hanya mendapatkan anggukan dari orang yang ditanyai itu. “Kenapa tidak ditemani sama tuan Glen ke sini?” Tanya dokter basa-basi dengan senyum yang terus berkembang dibibirnya.


“Dia lagi keluar kota, ada urusan perusahaan.” Jelas Leoni tertunduk.


“Oh, iya. Sayang sekali yah tuan Glen tidak ada, tapi tidak apa-apa yah, tidak mengurangi rasa bahagiahnya kan?” Senyum dokter menatap Leoni. “Selamat yah, Nyonya Leoni sedang mengandung, usia kandungannya baru memasuki bulan pertama, mohon dijaga dengan baik yah, usahakan jangan melakukan aktivitas yang berat-berat dulu karena pada trimester pertama ini sangat rentan bagi ibu hamil. Ini saya berikan obat agar menguatkan kandungan dan membuat dedenya sehat juga ibunya.” Dokter menjelaskan panjang lebar sambil menuliskan resep dan menyodorkannya pada Leoni.


“Makasi dok.” Leoni menerima resep yang diberikan dokter beserta hasil pemeriksaan dan USG.


“Silahkan ditebus dulu obatnya di apotik rumah sakit yah. Nanti satu bulan lagi bisa kembali ke sini untuk pemeriksaan rutin, jika terjadi sesuatu atau mau konsultasi kapan saja bisa kontak saja ke nomor yang ada di hasil pemeriksaan itu.” Tambah dokter sebelum Leoni keluar dari ruangannya.


Sebelum kembali ke rumahnya, Mama Serly dan Leoni menunggu di mobil sambil Paula mengurus administrasi


dan menebus resep obat yang diberikan oleh dokter.


“Ny, selamat yah atas kehamilanmu, mama sangat senang, akhirnya akan punya cucu. Papa dan Glen juga orang tuanya pasti akan senang mendengar berita ini.” Kata Mama Serly dalam perjalanan pulang mereka.


“Iya mba, aku juga senang banget.” Kata Paula yang sedang menyetir mobil.


“Makasi yah!” Leoni menanggapi perkataan mama Serly dan Paula.

__ADS_1


“Kamu tidak langsung kasi tahu Glen?” Tanya mama Serly.


“Aku sudah coba hubungi dia tapi nomornya tidak aktif ma, sepertinya mereka sedang dalam perjalanan balik ke sini. Soalnya semalam dia sempat nelpon dan katanya urusannya di Larantuka sudah selesai, jadi hari ini balik.” Jelas Leoni menjawab pertanyaan mama.


“Ohh gitu.” Kata Mama Serly menanggapi seadanya.


“Tapi kok yah, dari tadi dia tidak menghubungiku? Tadi pagi sih sempat nelpon, katanya mau ketemuan sama rekan bisnis dulu sebelum berangkat, dan dia janji akan nelpon lagi.” Bisik Leoni.


“Mungkin dia lupa saking sibuknya.” Kata Mama Serly menenangkan Leoni.


“Iya juga sih, ini kayaknya sudah di pesawat deh makanya nomornya tidak aktif.” Kata Leoni menengkan dirinya sendiri. “Paula, kamu sempan hubungi kembaranmu tidak?” Tanya Leoni penasaran setelah terdiam sesaat.


“Tadi sih sempat ada panggilan masuk di handphone ku tapi tidak sempat aku angkat. Nanti sampai rumah aku coba telpon Paulo lagi.” Jawab Paula.


Tanpa menunggu tanggapan dari mamanya, Leoni langsung masuk ke dalam kamar disusul oleh Paula dari belakangnya.


“Mba, kalau butuh apa-apa panggil aku saja yah.” Kata Paula.


“Iya, kamu istirahat aja dulu.” Perintah Leoni. “Jangan lupa telpon kembaranmu!” Kata Leoni lagi sebelum menutup pintu kamarnya.


Sampai jam sebelas malam Leoni terbangun dan menunggu kabar dari Glen tapi tak kunjung ada, seharusnya saat itu Glen sudah sampai di rumah.


“Paulaaaa.” Leoni membuka pintu kamarnya dan berteriak memanggil sang asistennya itu.

__ADS_1


“Iya mba.” Paula dari dapur mendengar teriakan Leoni itu secara spontan langsung menjawab dan berlari menuju ke arah sumber suara yang memanggilnya. “Mba belum tidur?” Tanya Paula sesampainya di hadapan Leoni yang sedari tadi menungguinya di depan pintu kamar. “Ada apa mba memanggil saya?” Tanya Paula lagi karena tidak mendapat jawaban dari Leoni.


“Kamu sudah ada info dari Paulo?” Tanya Leoni. “Ini kok belum ada yah mereka? Di telpon juga tidak aktif nomor mereka berdua.” Leoni berjalan masuk ke dalam kamar diikuti Paula.


“Mba mendingan sekarang tidur saja dulu, semoga saja besok pagi pas bangun mereka sudah ada di sini. Tadi aku sempat nelpon Paulo, katanya ada sedikit urusan makanya agak terlambat pulangnya, jadi kemungkinan besok pagi baru sampai.” Paula menenangkan sambil menuntun Leoni berbaring di ranjangnya. Memang benar adanya apa yang disampaikan Paula bahwa besok pagi pastinya Glen dan Paulo sudah kembali ke Manado. “Apa mba mau aku temani di sini?” Tanya Paula yang duduk di sofa samping ranjang Leoni.


“Kamu baring di samping aku aja yah, aku rasanya kayak gelisah banget malam ini, apa mungkin karena bawaan hamil yah?” Bisik Leoni.


“Yah sudah aku baring di samping mba yah.” Paula berbaring di samping Leoni kemudian tangan kanannya langusng spontan mengelus-ngelus kepala bosnya itu dengan perlahan. “Mungkin juga sih mba, sepertinya bawaan hamil masing-masing orang itu beda-beda yah.” Kata Paula lagi.


“Nanti kamu bangunin aku kalau suamiku sudah pulang yah!” Pesan Leoni.


“Iya, aku pasti bangunin, lagian tidak mungkin juga kan aku jadi penengah di antara mba dan tuan?” Paula berusaha bercanda secara natural agar tidak membuat Leoni curiga.


“Kamu tetap tidur di samping aku sampai pagi yah, ingat jangan ninggalin aku, awas yah kalau bohong!” Pesan Leoni lagi sebelum memejamkan mata.


“Iya. Aku janji.” Kata Paula lagi, Leoni memang bosnya namun mereka berdua tidak ada kesenjangan sama sekali, mereka sudah bersahabat dan bahkan sudah seperti saudara sendiri sehingga tidak ada rasa canggung sama sekali ketika memperlakukan satu sama lain.


Setelah merasa tenang dengan keberadaan Paula di sampingnya, akhirnya Leoni bisa kembali terlelap dalam tidurnya walaupun pikirannya saat itu tidak tenang, sepertinya ada sesuatu yang sedang dipikirkannya.


Nampak Paula menahan sesak di dadanya namun dia tahan, dia tidak mau Leoni curiga dan berpikiran yang aneh-aneh apalagi melakukan tindakan di luar kendalinya terlebih sudah larut malam seperti itu. “Maafkan aku yah mba, aku belum bisa mengatakannya sekarang.” Kata Paula dalam hati sambil terus mengusap kepala Leoni dengan pelan sampai nafas Leoni sudah teratur pertanda sudah nyenyak. Paula yang sudah mendapat perintah dari mama Dona dan Papa Albert untuk menjaga menantunya itu pun menuruti apa yang diperintahkan. Dia setia menemani dan menjaga Leoni sepanjang malam dengan terus berada di samping Leoni.


***

__ADS_1


Jangan lupa mampir di novel baruku juga yah "Melatinya Wiliam"


__ADS_2