KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Setuju


__ADS_3

“Aku juga tidak mau mengecewakan orang tuaku. Mereka tahu bahwa aku datang ke sini untuk bekerja. Tidak mungkin secepat ini aku kembali. Kasihan mereka juga kan.” Lanjut Leoni. “Aku tahu, walaupun aku tidak bekerja, jika menikah denganmu aku bukan hanya berkecukupan, tapi segalanya dapat aku miliki dengan mudah.” Leoni terdiam sejanak. “Tapi tolong beri aku waktu sedikit untuk menyenangkan keluargaku dengan jerih payah ku sendiri. Biar mereka boleh menikmati jerih keringatku dengan bekerja. Biar mereka boleh bangga denganku sebagai anak tertua yang bisa bekerja dan menghasilkan upah. Itu pun tidak lama, Glen. Hanya tiga bulan saja.” Kata Leoni lagi.


Nampak Glen tengah berpikir mempertimbangkan semua perkataan Leoni, sementara Leoni mulai meneteskan air mata dalam keheningan.


“Baiklah.” Kata Glen singkat namun memiliki arti yang dalam.


“Terima kasih.” Leoni membalas perkataan Glen.


“Sudah larut malam, ayo kita pulang!” Glen meilhat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. “Jangan menangis. Aku sedih kalau melihatmu menangis.” Glen menghapus air mata yang masih menempel di pipi Leoni. “Ayo!” Glen menuntun Leoni masuk ke dalam mobil.


“Pulang tuan? Atau masih ada tempat yang mau di datangi?” Tanya pengawal ketika Leoni dan Glen sudah berada di dalam mobil.


“Pulang saja. Glen harus istirahat. Besok mau melakukan perjalanan jauh.” Jawab Leoni.


“Iya pulang saja.” Tambah Glen.


“Silahkan tuan!” Pengawal membukakan pintu saat mobil sudah terparkir di depan vila.


Melihat Leoni yang tertidur nyenyak, Glen jadi kasihan dan tidak tega untuk membangunkannya. Dia memilih menggendong Leoni dan membawahnya masuk daripada membangunkannya. Glen membaringkan Leoni di tempat tidur dan ikut berbaring di sampingnya.


Terik matahari hangat mulai menyengat mereka dari sela jendela yang akhirnya membangunkan mereka dari tidurnya.


“Ah.. di mana ini?” Leoni mengerjapkan matanya, menyapu seisi ruangan dengan tatapannya, ia berusaha mengenali tempat di mana dia berada sekarang. “Kenapa aku ada di sini? Bukannya semalam kami ada di taman?” Leoni sedikit linglung.


“Sudah bangun?” Glen tersenyum keluar dari dalam kamar mandi dan mendapati Leoni sedang duduk di tempat tidur seperti orang bingung.


“Sekarang sudah jam berapa?” Leoni kaget melihat Glen sudah berpakaian rapih, dia sadar kalau sebentar lagi Glen akan menuju ke bandara. “Kamu sudah siap?” Tanya Leoni lagi.

__ADS_1


“Iya, kamu mandi gih… itu air liur sudah belepotan di pipimu.” Glen tertawa iseng.


“Ah masa sih?” Leoni langsung mengelap wajahnya dengan kedua tangannya.


“Hahaha…. Kamu lucu sekali deh. Ayo mandi sana! Sebentar lagi kamu harus mengantarku ke bandara.” Kata


Glen lagi masih dengan senyum yang sama.


“Iya.” Dengan langkah malu-malu Leoni menuju kamar mandi. “Di mana dia?” Leoni keluar dari dalam kamar mandi mencari keberadaan Glen di dalam kamar namun tidak ada keberadaannya di situ. Leoni memilih turun ke lantai satu hendak menuju ke dapur. “Ternyata dia sudah di sini.” Melihat Glen yang sedang menyesap kopi di ruang tamu.


“Ny, sudah siap?” tanya Glen saat Leoni menuruni tangga. “Ayo sarapan dulu!” Menunjuk ke meja yang sudah tersaji beberapa menu sarapan.


“Nanti saja sarapannya, ini sudah jam 9, takut kamu terlambat.” Leoni melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Leoni, sarapan dulu. Nanti lambung kamu kumat lagi, aku tidak akan terlambat. Pesawat pasti akan menungguku.” Glen tersenyum ke arah Leoni.


Leoni melangkah ke samping Glen dan duduk di kursi kosong yang ada di situ, dia memilih makanan yang bisa dia makan sebagai sarapannya, menyuapkan beberapa sendok makanan ke mulutnya dengan santai. Dia sadar kalau Glen akan berangkat menggunakan pesawat yang mereka tumpangi seperti saat mereka datang ke Kupang.


“Minggu depan aku akan kembali ke sini bersama dengan mama, papa dan orang tua mu.” Glen mencium kening Leoni.


“Hah?” Leoni kaget mendengar perkataan Glen yang sepertinya tidak pernah mereka bahas.


“Semalam aku sudah ngomong ke papa, dan karena kamu di sini tugasnya berat serta tidak bisa di tinggal maka papa memutuskan untuk mereka yang datang ke sini. Kita laksanakan acara pertunangan di sini.” Jelas Glen sebelum Leoni bertanya.


“Tapi aku belum ngomong apa-apa kepada orang tuaku.” Kata Leoni.


“Kamu cukup telpon mereka saja kan?! Nanti aku juga ke rumahmu bersama mama dan papa untuk berbicara dengan mereka. Kamu tenang saja.” Kata Glen lagi.

__ADS_1


“Ya sudah. Terserah kamu saja!” kata Leoni.


“Kamu setuju kan? Dengan hal ini??” Tanya Glen meminta persetujuan dari Leoni.


“Iya aku setuju.” Jawab Leoni dengan percaya diri.


“Baik.” Glen mengecup kening Leoni sekali lagi. “Kamu hati-hati di sini yah! Ingat istirahat dan makan tepat waktu!” pesan Glen.


“Iya bawel.” Leoni memeluk Glen dengan erat.


“Hemmm… jangan kuat-kuat dong peluknya!” Kata Glen bercanda. “Kamu masih punya waktu untuk menahanku di sini, aku masi bisa membatalkan keberangkatan kok.” Lanjut Glen, dia pun masih belum sudih berpisah dengan Leoni. Dia melihat wajah Leoni yang terlihat sedih dan tidak rela melepas kepergian Glen untuk kembali ke Manado.


“Tidak apa-apa.” Leoni menghapus bulir air mata yang hampir terjatuh di pipinya. “Kamu harus pergi. Aku tunggu kamu minggu depan.” Sekali lagi Leoni memeluk Glen dan dia pun membalas pelukan itu di tambah dengan kecupan singkat di bibir mungil Leoni yang membuat Leoni merasa seperti ada aliran listrik di tubuhnya.


“Tuan, pesawat sudah siap. Waktunya kita berangkat.” Seorang petugas memberi tahu Glen.


“Baik.” Glen mengiyakan. “Aku sayang kamu.” Glen melepas pelukan mereka dan menuju ke pesawat.


Setelah pesawat lepas landas, Leoni kembali ke vila bersama seorang pengawal perempuan yang sudah ditugaskan Glen untuk menemani Leoni.


“Silahkan mba!” Paula membukakan pintu mobil.


“Makasi.” Leoni turun dari mobil dan masuk ke dalam vila. “Belum menikah saja, aku sudah jadi seperti seorang ratu, di kawal ke mana-mana.” Leoni menyunggingkan sedikit senyuman di bibir mungilnya, melihat vila yang begitu besar lengkap dengan pelayan yang memiliki tugas masing-masing serta seorang pengawal pribadi yang mengantar dan menemaninya ke mana saja. Tapi itu adalah persyaratan dari Glen agar dia bisa kembali ke Manado dan dia dapat bekerja dengan tenang.


Glen mempersiapkan segala sesuatu yang dibuthkan oleh Leoni sebelum dia kembali ke Manado.


Sesampainya di kamar, Leoni tertidur dan bangun pada keesokan harinya. Dia mencari keberadaan Glen di seluruh sudut kamar namun tidak dijumpainya orang yang sedang dia cari. “Upppssss…. Bodoh, bodoh, bodoh!” Leoni memarahi dirinya sendiri. “Kenapa harus mencarinya? Dasar!” Leoni memukul jidatnya sendiri.

__ADS_1


***


Jangan lupa Like dan komentarnya yah!


__ADS_2