
Paula menurut saja dengan perkataan Leoni, mereka berdua duduk di tempat yang kosong samping Wiliam dan Melati.
“Sudah lama menunggu?” Tanya Leoni basa-basi.
“Belum lama juga kok.” Jawab Melati spontan. “Mba mau pesan apa? Kayaknya pesan makanan dulu deh baru kita ngobrol-ngobrol.” Lanjut Melati polos.
“Pelayan…….” Teriak Wiliam memanggil pelayan restoran, pelayan itu langsung menghampiri mereka.
“Baik. Di tunggu yah!” Pesan pelayan sebelum meninggalkan meja mereka.
Malam itu mereka menikmati makan malam dengan penuh keceriaan, empat orang itu mengawali pertemanan mereka dengan baik, saling berbagi cerita dan saling menguatkan.
“Mba, kita pulang yuk! Ini sudah larut malam. Ingat mba harus simpan energi karena besok harus mulai melatih atlit.” Bisik Paula di telinga Leoni sekedar mengingatkan.
“Oh iya.” Leoni mengiyakan perkataan Paula. “Wiliam, Melati, tidak apa kan kalau aku dan Paula pulang duluan? Aku harus istirahat karena besok harus sudah melatih atlet.” Kata Leoni hendak pamitan.
“Oh iya benar mba. Kalau gitu kita semua pulang yuk! Besok harus bekerja.” Kata Melati polos.
“Aku antar kamu pulang? Atau?” Tanya Leoni pada Melati.
“Tadi aku dijemput Wiliam, jadi nanti pulang dia yang nganterin juga.” Jawab Melati spontan.
“Oh yah sudah. Kalau gitu kami duluan yah, sampai jumpa besok di sekolah.” Pamit Leoni pada Melati. “Wiliam?” Sapah Leoni pada Wiliam yang malam itu lebih banyak diam.
“Ah iya. Silahkan! Sampai jumpa besok.” Kata Wiliam singkat.
Pertemuan malam itu membuat Leoni sedikit melupakan kegundahan hatinya, dia merasa senang mendapat teman baru yang perhatian dan bisa membuatnya sedikit melupakan beban hidupnya.
“Ah capek juga.” Kata Leoni pada dirinya sendiri setelah sampai di kamarnya dan merebahkan diri di tempat tidurnya yang empuk. “Gimana keadaan Glen sekarang?” Lagi-lagi dalam kesendirian dia teringat dengan Glen, dia mengambil Hp dari dalam tas yang dibawahnya tadi hendak mengecek kalau ada panggilan atau pesan singkat dari Glen. “Ah bodohnya aku, tadi Glen telpon ternyata tapi aku tidak tahu kalau ada panggilan darinya.” Leoni merasa
bersalah, dia baru sadar kalau nada panggilan di Hp nya dia silent. Tanpa pikir panjang lagi dia langsung mencoba melakukan panggilan lagi ke Glen, namun sayang panggilan sedang sibuk. Mungkin Glen sedang melakukan panggilan dengan orang lain. “Sedang telpon dengan siapa dia?” Bisik Leoni penasaran.
“Kring… Kring…. Kring….” Beberapa menit kemudian Hp Leoni berbunyi.
__ADS_1
“My Hubby?” Leoni membaca nama pemanggil di layar ponselnya. Serasa tidak percaya kalau Glen menelponnya saat ini.
“Halo!” Leoni mulai meneteskan air mata walaupun Glen tidak dapat melihat buliran bening itu menetes di pipi mungil Leoni. “Kamu dari mana saja?” Lenjut Leoni.
Glen masih belum bersuara dari seberang telepon, entah apa yang sedang ia pikirkan.
“Glen? Ini kamu kan?” Tanya Leoni lagi.
“Kamu dari mana saja? Kenapa tidak menghubungiku? Baru berpisah saja sudah tidak menjawab telponku. Secepat itu kah kamu?” Kata-kata Glen terhenti sejenak. “Semalam kamu ngapain? Kenapa tidak menjawab telponku dan bahkan tidak membaca pesan dariku?” Glen mencecar Leoni dengan banyak pertanyaan.
“Semalam aku ketiduran, Hp silent jadi aku tidak tahu kalau ada panggilan.” Jawab Leoni sedih. “Kamu sendiri? Ngapain saja seharian ini?” Leoni mulai terbata-bata tidak mampu mengeluarkan kata-kata.
“Aku bekerja.” Jawab Glen singkat.
“Bekerja? Sampai tidak bisa menelponku? Kerja apa saja? Kamu ingkar janji! Katanya dalam sela-sela kesibukan pasti akan mengabariku, sekarang apa buktinya? Kenapa tidak mengabariku sama sekali? Atau jangan-jangan di sana kamu kembali main-main dengan cewek-cewek yang megejar-ngejar kamu? Hah? Glen!” Leoni tidak memberi kesempatan Glen untuk berbicara.
“Tadi aku menelponmu tapi kenapa tidak diangkat? Kenapa harus silent? Apa kamu takut aku memngganggu kesibukanmu? Atau mengganggu kesenanganmu bersama teman barumu? Atau jangan sampai kamu mulai pendekatan dengan cowok lain?” Balas Glen.
“Tadi kamu jalan dengan Wiliam sialan itu kan?” Glen keceplosan.
“Iya aku memang makan malam bersama Wiliam, tapi tidak hanya berdua saja. Ada Paula dan juga Melati. Tapi aku lupa mengaktifkan nada dering Hp, sejak tadi pagi waktu mengajar.” Jawab Leoni spontan. “Kamu tahu dari mana kalau aku keluar dengan mereka? Apa Paula yang melaporkan?” Selidik Leoni.
“Tidak.” Jawab Glen tegas. “Paula tidak melaporkan apa-apa padaku. Aku hanya menebak saja.” Lanjut Glen dengan santai.
Leoni tiba-tiba menutup telpon dan mengalihkan pada panggilan video. “Maaf.” Kata-kata tidak dapat keluar dari mulut Leoni lagi, ketika melihat wajah Glen tangisan langsung pecah, air mata mengalir dengan deras membasahi mata indah itu.
Tangisan Leoni membuat hati Glen tersentuh, jujur saja dia pun mereasakan kerinduan yang sama dengan Leoni walaupun dia berusaha menutupi.
“Aku kangen.” Bisik Leoni.
“Jangan cengeng! Minggu depan aku ke sana lagi.” Jawab Glen santai.
“Siapa yang cengeng?” Leoni marah. “Emangnya kamu tidak kangen padaku?” Leoni balik bertanya.
__ADS_1
“Kangen, tapi aku harus gimana? Jangan bilang kamu minta aku jemput kamu sekarang juga? Ini kan baru sehari Leoni.” Kata Glen dengan nada agak sedikit menyinggung.
“Kamu jahat!” Leoni kembali terisak.
“Hei siapa yang jahat? Bukannya kamu sendiri yang mau kerja di sana? kan sudah ku ajak pulang, tapi kamu yang tidak mau.” Glen santai. “Sudah, jangan menangis! Kalau tindu kan bisa telpon.” Kata Glen lagi.
Leoni mulai meredahkan tangisnya, dia tahu walaupun menangis tetap saja tidak mungkin dalam sekejap mata Glen sudah berada kembali di situ. “Iya. Tapi janji harus selalu mengabariku. Jangan ingkar lagi.” Pintah Leoni.
“Ya, setelah bekerja aku akan menghubungimu.” Kata Glen dengan tenang.
Diskusi mereka malam itu cukup membuat Leoni tenang, dan tidak lagi cengeng. Memang mungkin hari pertama tanpa orang terdekat membuat Leoni manja. Selama ini Leoni jauh dari Glen namun masih ada keluarga yang menemaninya, berbeda dengan sekarang tidak ada siapapun disampingnya, semua orang baru walaupun mereka semua adalah bawahan atau karyawan Glen.
“Ingat, jangan terlalu dekat dengan Wiliam. Aku tidak suka kamu dekat dengan dia.” Kata Glen sebelum mengakhiri pembicaraan mereka malam itu.
“Kenapa emangnya? Dia juga kan termasuk pegawai andalan di yayasan. Kenapa aku tidak bisa dekat dengannya?” Tanya Leoni polos.
“Ny kamu itu bodoh atau apa sih?” Glen emosi.
“Glen…” Kata Leoni manja ingin membujuk Glen.
“Pokoknya aku tidak suka kamu dekat dengannya. Kamu itu milikku, jadi tidak boleh dekat dengan cowok manapun!” perintah Glen.
“Iya, iya. Aku tidak mungkin suka dengan cowok lain selain kamu.” Leoni sedikit mengerti maksud dari Glen.
“Sekarang kamu istirahat! Besok aku akan menghubungimu lagi.” Perintah Glen.
“Iya, sekarang aku mau istirahat. Oh ya besok aku mulai mengajar ekskul renang dan nanti sorehnya aku mulai kegiatan seleksi atlit untuk persiapan lomba nanti.” Jelas Leoni.
“Oke semangat! Selamat istirahat.” Glen mengakhiri panggilan mereka.
***
Mohon selalu dukungannya yah!
__ADS_1