
Glen melirik jam tangan yang terpasang di tangannya, “pantes aja.” Kata Glen.
“Pantes apa?” Tanya Leoni bingung.
“Pantes lapar sayangkuu..” Glen menunjukkan jam di tangannya ke arah Leoni.
“Waduh sudah jam 10 malam??” Leoni kaget. “Ayo pulang..” Leoni mengambil Hp nya dari saku. “Aduh Hp ku mati. Pasti mama sudah menelpon ku berulang-ulang.” Leoni panik.
“Salahmu, tadi kan waktu telpon kamu bilang sebentar lagi pulang. Eh malah sudah berjam-jam tidak ingat pulang.” Ledek Glen.
“Karena kamu tuh...” Leoni ngambek.
“Kok aku sih??” Glen tertawa. “Tidak usa berdebat lagi, ayo!” Glen masuk ke dalam mobil diikuti Leoni.
“Sayang katanya kamu lapar?” Leoni tidak malu-malu lagi memanggil Glen dengan sapaan sayang.
“Hah? Kamu bilang siapa??” Glen mulai usil, dia bahagiah mendengar kata sayang keluar dari mulut Leoni.
“Sayaangg.. ah.. telinga nya gangguan yah?” Leoni emosi.
“Hahahaa... sayang?? Tapi kok mau ditinggal yah??!” Sindir Glen sambil tertawa, dia mengelus Leoni dengan tangan kirinya yang bisa bebas melepas stir kemudi.
“Kamu...” Leoni menghempaskan tangan Glen yang mengelus kepala nya.
“Iya.. iya...” Glen lagi-lagi tertawa dan kembali fokus dibalik kemudinya. “Kita cari tempat jualan makanan dulu baru pulang yah.” Kata Glen lagi.
Kali ini perjalanan mengantar Leoni pulang terasa sangat menyenangkan, mereka berdua saling bercanda, saling cubit-cubitan dan pokoknya bahagiah banget.
“Kamu tunggu di sini saja yah, biar aku yang beli makanannya, makan dirumah aja.” Kata Glen sambil memarkirkan mobilnya didepan warung makan.
“Oke.” Leoni mengangguk. Glen langsung turun dan pergi membeli makanan.
“Ny...” Beberapa menit kemudian Glen sudah sudah kembali, dia mengetuk jendela di samping Leoni.
“Iyaaa...” Leoni menurunkan kaca jendelanya dan mengambil kantong makanan yang diserahkan Glen. “Kok banyak banget?” Tanya Leoni saat Glen sudah duduk di belakang kemudi stir mobil.
“Untuk orang-orang rumah juga. Tidak mungkin kan kita sendiri makan dan mereka tidak.” Jawab Glen santai kemudian melajukan mobilnya ke arah rumah Leoni.
**
Setelah memarkirkan mobil dengan baik di depan rumah Leoni, Glen pun langsung keluar dari mobil duluan yang diikuti Leoni keluar.
__ADS_1
“Ny, ambil makanannya! Aku makan disini.” Perintah Glen dengan cuek.
“Kamu tidak pulang?” Bisik Leoni.
“Ny, waktu aku singkat banget kan sama kamu? Besok kamu udah harus berangkat ke Kupang. Apa kamu mau ngusir aku?? Kamu tidak mau dekat-dekat dengan aku??” Balas Glen dengan berbisik, mendahului Leoni masuk ke dalam rumah tanpa menunggu jawaban atau respon dari Leoni.
“Bukan gitu sayang..” Kata Leoni dengan suaranya yang agak lantang tanpa dia perhatikan kalau disekitar situ ada orang.
“Eheemmm..” Kevin batuk dari bawah pohon tempat dia biasa nongkrong main gitar. “Waduh.. ada yang sayang-sayangan nih??” Ledek Kevin yang membuat Leoni salah tingkah. Ternyata sejak kedatangan Glen dan Leoni, Kevin sudah duduk di bawah pohon itu dan menguping pembicaraan mereka. Dia mengganggu Leoni dengan tertawa girang.
“Kev, ayo sini! Kita makan bareng yuk!” Ajak Glen yang melihat dua orang bersaudara itu ngobrol.
“Wahhh ada bawah makanan yah?? Asyyykkk..” Teriak Kevin tidak menghiraukan Leoni, dia sengaja mau membuat kakaknya itu jengkel.
Leoni memanggil mama dan papa nya kemudian mereka makan bersama makanan yang mereka bawah, sambil ngobrol-ngobrol ringan. Terlihat Glen sangat senang karena keluarga Leoni sangat menerima kedatangannya dan pokoknya sangat welcome dengan keberadaannya di rumah mereka.
Selesai makan, orang tua Leoni kembali ke kamar dan tidur, sedangkan Leoni, Glen dan Kevin nongkrong sepanjang malam di bawah pohon tempat Kevin duduk tadi, Kevin memainkan gitar sedangkan Leoni dan Glen bernyanyi, berjoget, pokoknya mereka happy-happy sampai menjelang matahari terbit.
“Sudah jam 4 pagi Ny.” Kata Kevin yang melirik jam ditangannya. “Kita tidur dulu dikit yuk! Bentar lagi mama bangun buat masak tuh.” Kata Kevin.
“Kalian masuk saja, biar aku tidur di mobil.” Kata Glen karena dia bingung mau tidur di mana, apakah dia pulang jam segini atau? Tapi tidak mungkin juga dia tidur di kamarnya Leoni. (Hahaha)
“Kak Glen tidur bareng di kamarku yuk, nanti aku tidur di sofa. Kak Glen kan tamu yah jadi harus di istimewahkan dan aku harus mengalah.” Kata Kevin dewasa.
“Boleh yankk. Kamu istirahat saja di kamarnya Kevin.” Leoni meng-iya-kan dan dituruti oleh Glen. Kemudian Leoni masuk ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.
**
“Leoni... Leoni.” Mama mengetuk pintu kamar Leoni. “Ny, buka pintu dulu.” Mama penasaran ketiga anak itu ada di mana? Kok mobilnya Glen masih terparkir di depan rumahnya, apa Glen tidak pulang?? Kalau tidak pulang, dia di mana? Wahh pikiran mama Leoni sudah ke hal negatif nih, dia pikirnya Glen tidur dengan Leoni di kamarnya. “Leoni, sudah pagi nih, ayo bangun!” Kata mama lagi.
“Iya maa sabar.” Leoni membuka pintu kamar dan mengucek-ngucek mata nya pertanda dia masih ngantuk. “Jam berapa sih ini mam?” Tanya Leoni setelah membukakan pintu untuk mama nya.
“Jam 9 Leoni, kok tumben belum bangun?” Tanya mama pura-pura sambil mengintip-ngintip di dalam kamar. Leoni langsung paham dengan tingkah mama nya yang tidak seperti biasanya. “Glen tidur bareng Kevin di kamarnya maa, tadi kami bertiga nongkrong nyanyi-nyanyi sampai jam 4, jadi kayaknya belum bangun mereka berdua. Aku juga masih ngantuk maaa.” Kata Leoni jujur.
“Glen tidak ke kantor? tidak ke kampus? Dia tidak pulang nih?? Udah jam segini loh.” Kata mama bertubi-tubi.
“Iya ma, nanti aku bangunin mereka berdua.” Leoni menuju kamar Kevin yang ternyata tidak di kunci. Dilihatnya Kevin tidur di karpet lantai di dalam kamarnya sedangkan Glen di atas tempat tidur. “Sayang, bangun yank, Glen.” Leoni menggoyang-goyangkan lengan Glen hendak membangunkannya. “Glen, bangun! Udah jam 9 pagi nih. Kamu tidak pulang nih? Kamu tidak masuk kerja?” Tanya Leoni yang terus membangunkan kekasihnya itu.
“Heee... iyaa.” Glen membuka mata. “Aduh senangnya bangun pagi-pagi langsung memandangi istri cantikku ini.” Bisik Glen gombal.
“Masih pasgi sudah gombal, bangun ah!” Wajah Leoni memerah.
__ADS_1
“Iya.. iya.. kamu ke luar aja dulu, aku cuci muka dulu trus suruh Kevin pindah tidurnya.” Kata Glen.
“Oke aku tunggu di luar.” Kata Leoni yang kemudian keluar dari kamar Kevin.
**
“Ny, kapan kamu berangkat? Kok kayak belum ada persiapan sama sekali sih??” Tanya mama saat mereka berdua mempersiapkan sarapan di dapur.
“Besok aku berangkat, ini sudah dapat kiriman tiket untuk besok.” Jawab Leoni. “Nanti siang baru aku beres-beres barang yang aku mau bawah ke sana, gak banyak kok ma.” Kata Leoni lagi.
“Kalau butuh bantuan mama, ngomong yah Ny.” Kata mama.
“Iya maaa, pasti dong.” Kata Leoni dengan senyum ke mama. “Makasi yah maa.” Leoni mengecup pipi mamanya.
Beberapa menit kemudian mereka mendengar ada langkah orang masuk ke dapur dan itu ternyata Glen.
“Selamat pagi.” Sapah Glen melihat mama dan Leoni sibuk di dapur.
“Mari nak Glen, sarapan dulu.” Kata mama menyambut calon anak mantunya itu dengan senyum.
“Duduk yuk!” Leoni menunjuk ke arah meja makan yang sudah tersaji sarapan dan jus. “Kamu kasih tahu orang tua mu kalau semalam nginap di sini kan?” Bisik Leoni.
“Iya sayangg, semalam mama telpon aku waktu kamu masuk ambilkan air, aku kasih tahu kalau ada dirumahmu.” Glen tidak malu-malu memanggil Leoni dengan sapaan sayang walaupun ada mama Leoni disitu. (makin berani yah... hahaha).
“Oke. Sarapan dulu!” Perintah Leoni sambil mengambilkan sarapan untuk Glen. “Terus hanya aku nih yang sarapan? Mama papa??” Tanya Glen lantang supaya mama Leoni dengar.
“Sudah. Kami sudah sarapan tadi. Kalian saja yang belum.” Jawab mama yang dengar pertanyaan Glen. “Kalian sarapan saja, mama pergi bantu-bantu di rumah tetangga sebelah yah, soalnya mereka ada acara nanti malam.” Mama langsung pergi tanpa menunggu tanggapan dari Leoni ataupun Glen.
“Mama papa biasanya sarapan jam 7 pagi.” Kata Leoni.
“Ohhhh...” Kata Glen
“Glen." Panggil Leoni ragu-ragu. "Aku udah dapat kiriman tiket dari tempat aku kerja nanti, jadwal keberangkatan besok jam 8.00. jadi besok pagi-pagi udah harus berangkat ke bandara.” Leoni memberi tahu dengan hati-hati.
“Heeeemmmm.” Glen menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskan dengan kasar, serasa berat sekali mendengar perkataan Leoni barusan. “Berarti hari ini harus siap-siap?” Tanya Glen berusaha menerima dengan tenang.
“Iya sih, tapi tidak banyak yang akan aku bawah kok. Nanti siang baru aku persiapkan.” Jawab Leoni santai. “Tidak apa-apa kan?” Tanya Leoni.
“Tidak apa-apa gimana?” Tanya Glen.
“Kamu tidak apa-apa kan kalau aku berangkatnya besok?” Leoni balik nanya.
__ADS_1
“Mau bagaimana lagi, kalau memang sudah harus berangkat? Aku harus mendukung kamu kan? Seperti katamu kemarin??!” Glen berusaha tegar.