
“Jadi kapan rencana kalian akan pindahan?” Lanjut papa bertanya pada anak dan menantunya itu.
“Rencana sih besok pa.” Jawab Glen santai merespon pertanyaan papa.
“Heemmm… apa ti…” Mama belum menyelesaikan pernyataan yang mau dia sampaikan tapi sudah keburu dipotong papa dengan suaranya yang lebih besar dari suara mama.
“Bagus itu. Lebih cepat lebih baik. Iya kan ma?” Papa memotong pembicaraan mama.
Nampak wajah mama ditekuk, sepertinya dia setuju dan memberi ijin kepada Glen dan Leoni untuk mandiri dengan tinggal di rumah pribadi namun sangat terlihat jika dia tidak sepaham dengan papa yang mengijinkan mereka untuk segera pindah besok. Dia masih ingin berlama-lama dengan anak dan menantunya itu, dia berpikir mungkin dalam waktu seminggu atau sebulan dulu baru pindah tapi nyatanya papa mendukung keinginan mereka dan bahkan menyuruh mereka untuk pindah secepatnya.
Walaupun masih meinginkan keberadaan Leoni dan Glen di rumahnya itu namun terpaksa mama harus ikutan setuju dan mendukung keputusan mereka yang mau pindah besok.
“Kalau kalian mau pindahan besok, berarti sore dong yah? Kan harus membereskan barang-barang yang mau kalian bawah ke rumah baru kalian terlebih dahulu.” Kata mama.
“Kayaknya besok siang ma, setelah istirahat makan siang aku akan menjemput Leoni. Lagian kami tidak bawah barang banyak kok.” Kata Glen.
“Iya ma, kami hanya bawah beberapa barang yang penting saja kok. Di sana kan sudah ada semuanya sama seperti di rumah ini, jadi barang-barang di dalam kamar tidak kami pindahkan semua supaya saat kami nginap di sini juga nanti tidak bawah-bawah barang yang banyak.” Jelas Leoni.
“Yah sudah, terserah kalian saja!” Kata mama ngambek.
“Maaa.” Glen dan Leoni bersamaan membujuk mama yang terlihat tidak mendukung rencana mereka besok.
“Besok mama dan papa akan mengantar kalian.” Kata mama yang meninggalkan mereka bertiga menuju ke dapur.
Selesai berdiskusi dengan mama dan papa, Glen dan Leoni menuju ke kamarnya untuk mempersiapkan keperluan mereka yang akan mereka bawah ke rumah barunya.
Besok harinya tepat setelah jam makan siang, Glen menjemput Leoni di rumah kedua orang tuanya untuk mereka pindah ke rumah barunya.
Leoni yang sudah siap sedia, sedang menunggu kedatangan sang suami di dalam kamarnya sambil membereskan barang-barang di dalam kamarnya itu terutama yang akan dibawah ke rumah baru mereka.
__ADS_1
“Tok… tok… tok…. Leoni, mama bisa masuk?” Mama Glen mengetuk pintu kamar Leoni.
“Iya ma, masuk saja!” Leoni menyahut dari dalam kamar.
“Apa kamu sudah siap? Sepertinya Glen sudah di bawah, dia sedang mempersiapkan mobil.” Kata mama menghampiri Leoni di dalam kamarnya.
“Iya ma, sudah.” Jawab Leoni singkat.
“Nanti kalian harus sering-sering main ke sini yah Leoni!” Kata mama yang ternyata wajahnya sudah berubah masam dan menahan air mata.
“Ma?” Leoni menatap wajah mama, dia kaget melihat ekspresi mertuanya itu. “Kami kan hanya tinggal terpisah rumah saja ma, bukan pergi jauh juga. Kalau mama rindu dengan kami kan bisa kapan saja pergi berkunjung ma.” Leoni berdiri menghampiri mama Glen kemudian mengelus pundak sang mama mertua yang sedang bersedih tidak ingin berpisah dengan anak dan menantunya.
“Mama? Leoni? Ada apa?” Tiba-tiba Glen masuk ke dalam kamar dan mendapati mama dan istrinya dengan drama yang terjadi diantara mereka.
“Tidak ada apa-apa.” Mama berkata dengan nada sedih sambil menyeka air mata yang masih tersisah di pipinya.
“Iya, iya.” Mama berusaha tersenyum. “Yah sudah, ayo mama bantu. Mana saja yang mau kalian bawah?” Tanya mama menghibur dirinya sendiri dan berusaha menerima keadaan saat ini dimana anak dan menantunya akan mandiri dengan tinggal di rumah pribadi mereka.
Kedua orang tua Glen mengantarkan anak dan menantunya menuju ke rumah baru mereka, walaupun mama Glen merasa berat hati namun dia pun berusaha menerima dengan lapang dada serta berusaha memberikan kepercayaan kepada mereka berdua bahwa mereka bisa mandiri dan membina rumah tangga mereka berdua.
Glen dan Leoni menempati rumah barunya dan merasakan kebahagiaan yang selama ini mereka idamkan, Leoni menjalankan peranannya sebagai seorang istri dengan baik begitupun dengan Glen yang walaupun sibuk dengan pekerjaannya namun tetap selalu memperhatikan dan meluangkan waktu khusus untuk sang istri yang setia menunggunya di rumah.
Satu minggu kemudian.
Glen melebarkan sayap perusahaannya dengan membuka cabang di beberapa daerah, selain di bidang pendidikan dia juga mengembangkan bisnis pengolahan kacang mente di daerah Flores tepatnya di kabupaten Flores Timur NTT.
Saat itu dia mendapat telpon dari manager perusahaannya yang baru di pulau Flores tepatnya di kecamatan Larantuka.
“Apa?” Glen kaget setelah mendengarkan semua informasi yang disampaikan oleh sang manager.
__ADS_1
Glen panik dan belum langsung mengambil tindakan atas informasi yang baru saja di dengarnya, dia masih menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya saat itu.
“Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu?” Leoni mendapati suaminya di ruang kerja rumahnya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
Leoni menghampiri suaminya perlahan-lahan, takut membuat suaminya terganggu dengan kedatangannya.
“Sayang, ada apa?” Leoni mengelus lengan kanan Glen setelah dia berada di samping suaminya itu.
“Heemmm?” Glen berdengung menandakan dia menanyakan apa maksud dari istrinya itu.
“Kamu kenapa? Sepertinya sedang memikirkan sesuatu?!” Tanya Leoni dengan lembut.
“Sepertinya aku harus ke Larantuka besok, pabrik mente di sana sedang bermasalah dengan para petani, aku harus pergi menyelesaikan masalah di sana.” Jelas Glen apa yang ada dalam pemikirannya saat ini.
“Hah?” Leoni kaget mendengar informasi dari sang suami.
“Iya, aku sepertinya harus pergi menyelesaikan masalah di sana.” Jelas Glen lagi. “Kamu mengijinkan aku untuk pergi kan?” Tanya Glen.
“Apa tidak ada cara lain?” Tanya Leoni balik pada suaminya, rasanya berat sekali untuknya mengijinkan sang suami untuk pergi karena ini kali pertama bagi Glen untuk melakukan tugas luar semenjak mereka menikah.
“Sayang, cara apa lagi? Mau tidak mau, sebagai presiden direktur aku harus bertanggung jawab pergi menyelesaikan masalah di setiap cabang perusahaan yang ada.” Jelas Glen.
“Baik, kalau memang begitu, aku mengijinkanmu.” Kata Leoni dengan ikhlas.
“Aku janji tidak akan lama berada di sana.” Kata Glen menenangkan Leoni.
***
Maaf aku update lagi novelnya karena banyak yang minta perpanjang cerita Glen dan Leoni,.
__ADS_1