KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Akibat dari perbuatan Luna


__ADS_3

Penuh penyesalan yang dalam Glen rasakan setelah mendengar cerita dari Melati dan Wiliam saat itu, dia telah menyakiti wanita yang paling dicintainya, emosi telah menghantarnya pada kehancuran. Menyesali kebodohannya sendiri yang tidak melihat dengan jelas siapa wanita yang dilihatnya malam itu, remang-remang ruang kamar itu membuat dia tidak melihat wajah manita yang ada bersama Wiliam dan diapun tidak memastikan secara langsung siapa orangnya hanya karena menurut info resepsionis bahwa itu kamar Leoni menjadi patokannya bahwa itu Leoni, dia pun tidak menanyakan dan tidak memberi kesempatan pada Leoni untuk berbicara, Leoni pun sempat memintanya untuk menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi namun dia tidak menjawabnya dan malah mengusir Leoni beserta keluarganya dari vila miliknya. Rasa sakit di dadanya menusuk sangat dalam dan berhasil membuat Glen kembali meratapi dirinya sendiri.


“Aaaarrrgggghhhh…” Teriak Glen dengan ekspresi yang tak dapat terbaca.


“Tuan, belum ada kata terlambat. Mari sekarang kita cari mba Leoni untuk bicarakan baik-baik.” Bujuk Paula. “Mungkin mereka sedang menunggu kita di sekolahan.” Tambah Paula.


“Aku tidak mungkin tampil di hadapannya dengan keadaan seperti ini.” Bisik Glen. “Aku harus segar dan berwibawah agar bisa menyelesaikan masalah ini.” Kata Glen menguatkan hatinya.


“Benar tuan. Acara nanti jam 10.00 sekarang baru jam 8.30, masih ada waktu untuk siap-siap, jam 9.00 kita sudah di sana dan semoga ada waktu tuan bicara dengan mba Leoni.” Kata Paula lagi.


Glen langsung menuju ke mobil dan meminta Paula mengantarnya pulang.


“Apa bisa Leoni memaafkan aku?” Bisik Glen pada Paula. “Jangan sampai sudah ada laki-laki lain di hatinya yang telah membuat dia bahagiah.” Kesedihan nampak dari nada bicara Glen.


“Tenanglah tuan, jangan berpikiran negatif dulu. Intinya sekarang tuan harus menyelesaikan kesalah pahaman


dengan mba Leoni dulu.” Kata Paula.


Sesampainya di vila Glen langsung bergegas mempersiapkan dirinya untuk menghadiri acara perpisahan dengan Leoni yang diselenggarakan oleh pihak sekolah.


“Mama dan papa ke mana? Apa mereka sudah siap?” Tanya Glen pada Paula yang juga sudah nampak rapih dan sedang mengantarkan sarapan untuk Glen.


“Mereka semua sudah berangkat, papa tuan minta aku untuk mendampingi tuan ke sana.” Kata Paula. “Tuan sarapan dulu!” Paula menyodorkan makanan ke hadapan Glen.


“Langsung jalan saja.” Desak Glen.


“Kalau gitu minum susu saja tuan.” Paula menyodorkan gelas langsung ke arah mulut Glen dan terpaksa Glen meminumnya.

__ADS_1


“Ah… sudah hampir jam 10.00 ayo cepat.” Glen tiba-tiba melirik ke jam tangannya.


Akhirnya Paula mengendarai mobil dengan sangat cepat, nampak beberapa kali dia mengumpat karena kendaraan


lain menghalangi jalannya.


***


Di dalam aula Yayasan Gonzaga, Papa Glen telah menyampaikan ucapan kata sambutan dan mengucapkan selamat serta memberikan sedikit hadiah kepada para atlit yang sudah mencetak prestasi dan sedikit memberikan penghargaan bagi Leoni. “Untuk menyematkan tanda ucapan terima kasih dari yayasan untuk ibu Leoni, kita tunggu


kedatangan Glen, karena dia sebagai presiden direktur kita.” Papa Glen menunjuk bross emas berbalut mutiara yang entah beratnya berapa gram, sedang bertakhta di tempatnya.


Di luar ruangan aula nampak Luna menunggu kedatangan Glen, dia sengaja menunggu Glen untuk masuk bersama-sama ke dalam karena keluarga Glen tidak ada yang menghiraukannya. “Glen kamu baru datang?” tersenyum sumringah Luna menghampiri Glen yang sedang berjalan tergesah-gesah menuju ke aula. “Glen.” Teriak Luna mengejar Glen dari belakang, Glen pun tidak menghiraukannya dan bahkan tidak melirik sedikitpun padanya.


“Luna??” Leoni kaget melihat Luna yang mengekor dari belakang Glen. Pikiran negatif mulai hinggap di kepala Leoni, rasa sakit hati mulai mekar di dada nya, namun dia hanya bisa terpaku ditempat menahan air mata agar tidak jatuh.


“Leoni? Kau kah itu?” Kata Luna setelah dia dan Glen berada di panggung pas berhadapan dengan Leoni. Luna bergeliat maja di lengan Glen.


“Leoni? Oh ternyata kamu guru pelatih yang berbakat itu?? Banyak selamat yah!” Luna menyodorkan tangannya mau menyalami Leoni.


“Terima kasih.” Kata Leoni tanpa meladeni tangan Luna yang terulur itu.


“Ah baiklah.” Luna menarik kembali tangannya yang tergantung bebas di hadapan Leoni. “Oh ya Leoni, kamu tidak mau beri selamat pada kami?” Luna menunjuk ke arah dirinya dan Glen. “Heemmm… selamat atas hubungan kami.” Tambah Luna dengan sombong. “Mungkin dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan sih.” Lanjut Luna.


Semua orang yang berada di dalam aula itu kaget mendengar perkataan Luna, mama dan papa Glen menjadi sangat marah. “Pa, apa maksudnya ini?” Tanya mama Glen yang tidak dapat menahan emosi.


“Glen!” Bentak papa Glen tanpa menjawab pertanyaan mama.

__ADS_1


Glen menjadi serba salah, dia berusaha melepaskan diri dari Luna namun tidak bisa, Luna pun mempererat pergerakan menahan Glen.


“Prrraaaaaakkkkk….” Tiba-tiba Leoni menampar pipi Glen sekuat tenaganya, darah segar keluar dari sudut bibirnya.


“Arrrggghhhh…” Glen memegang pipinya yang tadi di tampar Leoni.


“Aku tidak butuh semua ini.” Leoni menyodrokan semua penghargaan dan hadiah yang diberikan kepadanya saat itu ke arah Glen dan Luna.


Leoni menangis berlari keluar dari aula tersebut dengan langkah cepat.


“Leoni.” Panggil Glen hendak mengejar Leoni namun masih ditahan-tahan oleh Luna.


Leoni keluar di depan aula, bertepatan dengan ada taxi yang ditumpangi beberapa siswa yang baru sampai, dia langsung masuk ke dalam taxi dan memerintah kan sang supir menuju ke suatu tempat yang tidak diketahui oleh siapapun.


“Paula.” Teriak Glen marah karena dia tidak dapat mengejar Leoni. “Perintahkan untuk menutup penerbangan dan semua jalur transportasi yang akan keluar dari daerah ini! Sekarang!” Perintah Glen. Baru sekarang dia memanfaatkan kekuasaan yang dia miliki di daerah tersebut.


“Huuuffttt…” Glen menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya dengan kasar. “Kemana perginya dia?” Glen mengejar beberapa taxi yang diyakininya adalah mobil yang ditumpangi Leoni namun zonk.


“Kita kembali ke vila, tunggu informasi dari orang-orang yang suruhan.” Kata mama yang ada bersama-sama di dalam mobil yang dikendarai oleh Glen. “Ayo! Mungkin saja papa sudah mendapatkan informasi.” Bujuk mama. “Hp mama sudah kehabisan daya, Hp mu juga sudah rusak kamu lempar tadi, jadi gimana kita dapat informasi? Jadi sebaiknya kita pulng saja. Kalau berjalan tanpa arah seperti ini, gimana kita bisa menemukan Leoni?” Jelas mama.


“Baik.” Glen memutar kemudi dan menginjak gas mengarah ke vila miliknya.


“Kalian sudah kembali?” Tanya papa saat Glen dan mama masuki dan bergabung dengan mereka di ruang tengah.


“Pa, sudah ada infomrasi dari orang-orang papa?” Mama langsung mengutarakan pertanyaan pada papa.


“Leoni pasti masih ada di kota ini karena jalur transportasi darat laut dan udara sudah diblokir dengan penjagaan ketat. Kita tunggu saja informasi dari mereka. Sabar!” Jawab papa menenangkan.

__ADS_1


“Glen kamu sudah kembali?” Luna masih dengan wajah polos serasa tidak berbeban sama sekali, dia duduk disamping Glen. “Untuk apa kamu mencari dia lagi? Dia itu tidak pantas dicari.” Luna bergeliat manja di lengan Glen. “Iya kan tan? Om?” Luna berusaha meminta dukungan atas pernyataannya.


“Pa ini semua akibat dari perbuatan Luna, dia yang membuat Leoni pergi. Dasar wanita si*lan!” kata mama dengan emosi.


__ADS_2