KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Jangan bilang


__ADS_3

“Selamat pagi nona ibu.” Sapah mama Airin saat  melihat Leoni dan Airin keluar dari kamarnya.


“Selamat pagi juga.” Balas mereka berdua secara bersamaan.


”Ayo kita minum kopi dulu, bapa sudah menunggu di depan.” Mama Airin menunjuk ke arah teras.


“Iya.” Mereka mengikuti Mama Airin dari belakang. “Wah sejuk sekali yah, udaranya terasa bersih sekali dan segar.” Airin merentangkan tangan menikmati udara pagi hari.


“Iya nona ibu, disini belum terkontaminasi dengan pabrik-pabrik jadi udaranya masih segar.” Kata Mama Airin.


“Kalau sebentar Nona Ibu mau mencoba memetik jagung, nanti sebentar setelah sarapan kita pergi ke kebun.” Kata papa Airin.


“Benar bu, ke kebun memetik jagung pasti akan sangat menyenangkan, sambil bakar jagung muda atau rebus, wah pokoknya seru bu. Aku setiap kali pulang pasti ke kebun.” Kata Airin.


“Boleh akan aku coba.” Leoni tersenyum. “Selama ini aku belum pernah merasakan bagaimana pergi ke kebun.” Lanjut Leoni.


“Apa nona ibu belum mau menghubungi keluarganya? Orang tuanya? Kasihan loh kalau mereka mecari-cari nona ke mana-mana.” tanya papa Airin.


“Heeeemmm….” Nampak Leoni tengah berpikir.


“Sebaiknya nona memberi kabar kepada kedua orang tua nona, ema yakin mereka pasti akan mengerti.” Tambah mama Airin.


“Baiklah aku akan menghubungi mereka.” Leoni menganggukkan kepala tanda setuju.


“Sebentar sebelum ke kebun Airin akan mengantar nona Ibu ke rumah Bapa Desa, karena hanya di sana yang ada jaringan telepon. Nona ingat nomor telepon mereka kan?” Kata papa Airin polos.


“Emangnya di sini tidak ada tempat yang bisa dijangkau jaringan seluler? Kenapa harus ke rumah bapa desa?” Tanya Leoni.


“Iya disini belum terjangkau jaringan HP non, biasanya masyarakat desa kalau mau menghubungi keluarga atau kenalan di luar desa ini selalu ke rumah bapa desa karena hanya di sana ada jaringan telepon khusus dari kecamatan.” Jelas mama Airin.


“Hemmmm…” Leoni mengangguk-nganggukkan kepala.


“Yah sudah kalian siap-siap sana!” Mama Airin menyuruh Airin dan Leoni bersiap-siap.

__ADS_1


Setengah jam kemudian Airin dan Leoni sudah siap, mereka langsung menuju ke rumah bapa Desa untuk bisa menghubungi keluarga Leoni.


Sampai di rumah bapa desa Airin berbicara dengan bahasa daerah pada orang yang ada disitu untuk meminta ijin menggunakan telepon desa, dia sedikit menjelaskan tentang siapa Leoni.


“Baik Airin, silahkan!” Kata Bapa Desa. “Bu Leoni, silahkan menghubungi keluarganya!” Kata Bapa Desa melirik kel arah Leoni dan mempersilahkan sambil menunjuk ke arah telepon yang ada di atas meja.


“Iya terima kasih bapa.” Leoni menganggung pada bapa Desa sambil mengutak-atik hp-nya yang tidak ada jaringan itu namun masih bermanfaat untuk melihat nomor telepon yang hendak dia hubungi.


“Halo…” Suara Leoni ketika panggilan teleponnya tersambung.


“Leoni?” orang di balik telepon mengenali suara Leoni hanya dengan satu kata yang diucapkannya.


“Iya ma ini aku.” Kata Leoni mulai meneteskan air mata.


“Kamu di mana Ny? Kenapa telepon dengan nomor asing? Di mana Hp mu?” cecar mama dengan pertanyaan.


“Aku di daerah Fatuleu kabupaten Kupang ma, bersama siswaku.” Jawab Leoni singkat. “Di tempat ku saat ini tidak ada jaringan Hp ma, jadi aku menelpon dari kantor desa, hanya di sini yang ada telepon.” Jelas Leoni.


“Kenapa kamu ada di sana? bukannya sekarang kamu sudah harus pulang ke sini? Kan tugasmu sudah selesai?” tanya mama lagi.


“Kenapa Ny?” Desak mama.


“Glen ma…” Leoni masih tertahan untuk melanjutkan kata-katanya.


“Glen kenapa lagi? Oh ya baru saja Glen menelpon mama sebelum kamu menelpon, dia menanyakan kamu.” Kata mama.


“Terus dia bilang apa saja ma?” Leoni penasaran, kenapa Glen mencarinya ke sana.


“Dia hanya menanyakan apa kamu ada di sini atau kami tahu informasi keberadaanmu di mana.” Jawab mama.


“Terus mama bilang apa?” lanjut Leoni.


“Yah mama balik marah ke dia, mama bilang bukannya kamu ada di Kupang di sekolahannya, kenapa tanya mama, itu saja sih. Terus dia tanya apa semalam kamu menghubungi kami? Yah mama jawab jujur saja karena memang kamu juga sejak kemarin tidak menghubungi kami kan?!” Lanjut mama.

__ADS_1


“Iya ma, tolong jangan bilang ke siapa-siapa dulu kalau aku ada di sini yah. Aku mau menenangkan diri dulu. Setelah agak baikan baru aku pulang.” Kata Leoni.


“Tapi kamu tidak apa-apa kan? Mama khawatir Ny.” Tanya mama.


“Aku baik-baik saja ma.” Jawab Leoni.


“Tapi kenapa kamu sampai ada di tempat terpencil seperti itu? Kenapa tidak pulang saja?” tanya mama.


“Aku tidak sengaja ketemu dengan siswaku namanya Airin saat aku lagi buntuh kemarin, terus mereka ngajakin aku kerumahnya, eh tidak tahunya rumahnya jauh seperti ini. Tapi tidak apa ma, di sini aku bisa menenangkan diri.” Jawab Leoni. “Kemarin acara perpisahan yang diadakan oleh pihak sekolah dihadiri oleh Glen dan keluarganya.” Lanjut Leoni.


“Terus apa hubungannya dengan ini semua?” Tanya mama penasaran.


“Glen membawah Luna ke acara itu, dia menggandeng mesrah Glen dan bahkan bilang bahwa mereka akan segera menikah. Mereka sengaja pamer hubungan mereka dihadapanku. Kenapa coba ma? Kalau memang dia memilih Luna daripada aku, tidak seharusnya dia pamer padaku. Hati ini terasa sakit sekali ma, rasanya aku tidak sanggup bertahan hidup lagi, sahabat sendiri merebut calon suamiku.” Leoni semakin menangis sejadinya.


“Kamu kan sudah tahu Luna yang selalu mengejar-ngejar Glen, jangan sampai itu hanya ulah Luna saja?” kata mama.


“Kalau itu hanya ulah Luna saja, kenapa Luna sampai ada di Kupang? Glen tidak akan mungkin membawahnya ke Kupang apalagi ke acara penting seperti itu. Terus kenapa Luna sampai ada di Kupang? Pasti Glen yang mengajaknya.” Lanjut Leoni yang semakin terisak dalam tangisnya.


“Sudah Ny, jangan menangis lagi! Mama sangat sedih mendengarmu menangis, mama tidak bisa berbuat apa-apa Ny, apa lagi kamu jauh dari mama. Mama tunggu kamu pulang yah!” Pinta mama.


“Iya ma, aku janji akan segera pulang. Tapi ma tolong jangan kasi tahu siapapun kalau aku ada di sini, aku masih belum siap ketemu dengan siapapun, apalagi Glen dan keluarganya.” Kata Leoni sebelum mengakhiri pembicaraan


mereka.


“Iya, tapi kamu juga harus janji untuk jaga dirimu baik-baik, dan ingat untuk selalu menghubungi mama sebisanya. Kami semua merindukanmu.” Kata mama.


“Iya ma, aku akan selalu menghubungi mama.” Leoni mengakhiri panggilan telepon dengan mama. “Bapa desa terima kasih sudah mengijinkan aku menggunakan teleponnya.” Kata Leoni setelah menutup telepon dan kembali ke teras rumah bapa desa.


“Iya non sama-sama, hanya ini yang bisa kami berikan untuk semua warga desa. Kami senang sudah membantu. Semoga nona ibu betah tinggal di desa ini.” Kata bapa Desa.


Dari sudut ruangan ada seorang pria muda seumuran Leoni yang mengintip pembicaraan Leoni dengan bapa desa, dia memperhatikan dari jauh namun tidak berani mendekat karena bapa desa pasti akan memarahinya, yah itu anak bujangnya bapa desa yang bernama Romi.


Setelah itu Leoni dan Airin langsung menuju ke kebun seperti rencana mereka tadi, papa dan mama Airin sudah ke kebun lebih dahulu.

__ADS_1


“Ibu mau makan ini?” Tanya Airin yang menemukan buah bidara berjatuhan di bawah pohon yang mereka lewati.


__ADS_2