
“Tapi …..” Leoni hendak membantah perkataan Glen karena mengingat dia sebagai presdir yang baru, pekerjaannya di Manado juga banyak yang tertunda sehingga dia tidak bisa berlama-lama di Kupang Bersama
Leoni.
“Tapi apa? Kamu tidak mau aku ada di sini? Atau kamu merasa bebas kalau sendirian di sini?” potong Glen.
“Bukan begitu Glen!” kata Leoni dengan lembut. “Aku hanya ingat kata papa dan mama, pekerjaanmu di sana menunggumu, kamu harus bertanggung jawab dengan banyak orang loh. Masa iya sih presdir selama itu tidak berada di tempat? Kamu harus mengolah perusahaan dan semua yayasan yang nasibnya ada di tangan mu.” Jelas Leoni.
“Di sana masih banyak orang yang bisa di percaya untuk mengolah perusahaan, lagian tidak mungkin papa membiarkan perusahaan begitu saja.” Glen malas tahu.
“Yah sudah, terserah kamu saja.” Leoni pun malas dan tidak mau membantah perkataan Glen lagi karena dia sangat tahu pasti apapun yang dia sampaikan tidak akan mampu mengubah keputusan Glen. “Di mana kamarku?
Aku mau istirahat.” Leoni mengedarkan pandangan ke arah lantai dua yang sepertinya ada beberapa ruangan di sana.
“Ikut aku!” Glen menarik lengan Leoni menuntunnya menaiki tangga menuju lantai dua.
Leoni pasrah mengikuti Langkah Glen.
“Ini kamar kita, ayo masuk!” Perintah Glen ketika pintu salah satu kamar telah terbuka olehnya.
Leoni tampak bingung mencerna perkataan Glen, dia terdiam sesaat seperti orang yang lagi kebingungan.
“Kenapa diam saja? Katanya mau istirahat? Ayo masuk!” Glen sedikit mendorong Leoni agar bisa masuk ke dalam ruangan kamar yang dia maksud.
Leoni tersadar ketika mereka berdua sudah masuk ke dalam kamar yang sama dan Glen menutup pintu.
“Hah??” Leoni masih agak linglung.
“Kenapa?” tanya Glen. “Kamu tidak mau di kamar ini? Ayo kita pindah ke kanar sebelah.” Glen tidak mengerti maksud tingkah Leoni seperti itu.
“Heeemmmm….. tidak, tidak. Aku….” Leoni agak terbata, bingung mau bicara apa.
“Ayo bersihkan tubuhmu dulu, itu kamar mandinya. Setelah itu istirahat. Nanti malam kita keluar cari makan.” Jelas Glen.
“Ya sudah, aku mandi dulu. Kamu tunggu di kamarmu!” Leoni mendorong Glen keluar tapi sampai di depan pintu kamar Glen merentangkan tangannya agar tidak bisa didorong lagi oleh Leoni.
“Ny, kamu ini kenapa sih?” Glen yang berbalik menjadi bingung.
“Masa aku lagi mandi dan kamu nungguin aku di sini sih? Gak sopan banget.” Jawab Leoni jutek.
“Jadi kamu ngusir aku? Ini kamar kita Leoni.” Tekan Glen.
“Kamar kita apa maksudmu? Kita belum menikah loh, mau tidur se kamar? Nggak.. Nggak.” Bantah Leoni yang membuat Glen sadar.
“Benar juga kata Leoni. Heeemmmmm…..” Kata Glen dalam hati.
“Iya.. iya maaf!” bisik sambil melangkah keluar dari kamar itu, Leoni langsung menutup kamarnya dan menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan merasa cukup istirahatnya, Leoni keluar dari kamarnya dan mencari keberadaan Glen di dalam vila yang lumayan besar itu. Leoni mencari di semua ruangan yang berada di lantai dua itu tapi tidak juga menemukan keberadaan Glen, dia memutuskan untuk turun ke ruangan dasar pun demikian.
“Dimana dia??” tanya Leoni sambil terus mencari keberadaan Glen, akhirnya dia sampai di bagian belakang vila itu, ditemukan Glen sedang duduk di pinggir kolam sambil menyibakkan kakinya bermain air, nampak seperti sedang melamun entah apa yang ada di pikirannya. “Sedang apa?” Leoni mengambil posisi duduk di samping Glen dan ikut bermain air dengan kaki jenjangnya itu.
“Ny, maaf yah. Tadi itu aku tidak punya maksud apa-apa. Aku hanya pikir bahwa kita bakalan menikah, jadi tidak masalah kalau tidur di satu kamar yang sama. Dan aku juga nggak berpikiran untuk melakukan sesuatu di
luar batas.” Kata Glen sedih.
__ADS_1
“Iya aku tahu.” Leoni cuek seolah bukan itu yang di jadikannya masalah. “Tapi sebaiknya kita tidur terpisah yah?!” Leoni melirik ke arah Glen seolah meminta persetujuannya atas pernyataan yang di ungkapkan.
Tanpa berkata apa-apa lagi Glen langsung melompat ke dalam kolam renang, tiba-tiba dia menarik kaki Leoni dan akhirnya diapun ikut bergabung di dalam kolam berenang.
“Aku jadi teringat kejadian waktu kecil dulu.” Glen melompat keluar dari dalam kolam kemudian duduk di tempat duduk yang ada di samping kolam, diikuti oleh Leoni.
“Kejadian apa?” Leoni pun mengikuti apa yang dilakukan Glen.
“Waktu kamu belum bisa berenang dan masih takut dengan air.” Jelas Glen kemudian mereka berdua tertawa secara bersamaan. “Tapi sekarang kamu sudah lebih jago berenang bahkan sudah jadi pelatih.” Kata Glen lagi.
“Kamu bisa aja.” Leoni malu-malu.
2 jam berlalu mereka berdua habiskan di tepi kolam sambal bercerita ringan sekaligus bernostalgia tentang masa lalu mereka yang lebih banyak waktu itu membuat Leoni sedih, namun akibat dari masa lalu itu membuat Leoni menjadi seorang atlit renang yang luar biasa prestasinya.
“Semua itu salahku.” Glen menyesali semua yang terjadi di masa lalu mereka.
“Itu bukan salah mu, tapi itu sudah menjadi takdir kita.” Kata Leoni santai.
“Ya, di balik itu semua, bisa dikatakan kamu sudah menjadi orang sukses, bisa keluar dari rasa trauma yang hebat bahkan sebaliknya, menjadi orang yang hebat di balik trauma itu.” Jelas Glen. “Tapi…” Glen terpotong seperti sedang berpikir. Sementara Leoni melotot ke arah Glen seolah meminta kelanjutan dari kata-katanya itu. “Tapi, di balik sukses mu itu. Aku yang terluka, aku tersiksa menunggumu selama 4 tahun, aku yang sakit ketika melihat banyak cowok yang mendekatimu, aku yang tidak bisa menyusulmu karena tanggung jawa terhadap papa dan perusahaan, aku yang menahan rasa ini dengan dug dag, aku tak tahu apakah kamu juga menjaga hati untuk ku, atau kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku. Memang semua itu kesalahanku, seandainya dulu aku tidak iseng, seandainya dulu aku menjagamu dengan baik, seandainya dulu aku mengungkapkan perasaanku padamu, mungkin kamu ….” Penyesalan Glen yang terlalu banyak.
“Sudah dong sayang, itu semua masa lalu yang telah membuat kita sekarang berada pada titik ini. Aku tidak pernah menyalahkanmu atas semua ini. Malah aku bersyukur karena semua masa lalu ini bisa membawah ku menjadi orang yang berani dan tidak tenggelam ke dalam trauma dan rasa takut itu lagi.” Terang Leoni. “Dan karena masa lalu inilah yang membuat akhirnya kita berdua bisa bersama.” Kata Leoni malu-malu.
“Iya, masa lalu itu membuat kamu berhasil dan juga membuat kita bersama. Tapi keberhasilanmu itu jujur saja membuat aku takut Ny. Sekarang saja harus berjauhan denganmu, jarak Manado – Kupang memang mudah saja untukku jangkau bisa kapan saja aku bisa datang mengunjungi mu, tapi Ny itu jaraknya jauh Ny, butuh waktu berjam-jam. Dan aku tidak bisa selalu ada didekatmu, kamu memang di sini bekerja di perusahaan sendiri tapi di daerah ini tidak ada satupun keluarga kita, semua yang bekerja di dekatmu adalah karyawanku tapi… ahhhh sudahlah.” Glen rasa frustasi memikirkan.
“Jangan berpikiran yang tidak-tidak.” Leoni memegang lengan Glen dengan mesrah untuk menenangkannya sekaligus meyakinkan bahwa tidak akan terjadi apa-apa padanya.
“Dulu kita memang belum ada hubungan yang jelas seperti ini, tapi itu pun berjauhan dengan mu sudah berhasil membuatku sangat tersiksa. Sekarang kamu sudah menjadi calon istriku, tapi itu semakin membuatku tersiksa, aku semakin takut dan tidak ingin berjauhan denganmu, Ny jangan siksa aku lagi! Ku mohon! Biarkan aku berada di sini bersamamu.” Glen menarik kepala Leoni bersandar di pundaknya kemudian tangannya melingkar di pinggang ramping nan atletis milik Leoni.
“Aku juga tidak ingin jauh darimu.” Leoni memeluk sebelah tangan Glen yang bebas. “Kalau kamu mau tinggal di sini bersamaku, aku juga tidak melarang dan tidak akan mengusirmu. Ini tempat juga milikmu.” Kata Leoni spontan. “Tapi bagaimana dengan papa? Bagaimana dengan perusahaan?” Leoni berbalik menghadap ke arah Glen dan menatap mata Glen dengan tatapan tajam penuh arti.
Setelah percakapan mereka yang cukup panjang dan mengandung makna beserta curahan isi hati mereka berdua, akhirnya waktu makan malam pun tiba, Glen membatalkan rencana untuk makan di luar, dia memilih memesankan makanan online melalui pengawalnya yang kemudian diantarkan di vila mereka. Mereka menikmati makan malam di tepi kolam sambal terus bercakap-cakap.
Satu malam mereka lewati dengan bercerita berbagi suka dan duka, berbagi cerita tentang masa lalu yang pernah masing-masing mereka lalui.
Besok harinya Leoni mulai bekerja menjalankan tugasnya sebagai guru renang dan sekaligus menjadi pelatih renang para atlit di sekolah SMA Gonzaga Kupang untuk persiapan sport tourism. Sedangkan Glen menjalankan tugasnya sebagai presdir dan melakukan pemerinksaan untuk semua bidang terhadap perusahaan dan yayasan persekolahan milik keluarganya di kota itu.
“Mba Leoni mau pulang yah?” Wiliam menghampiri Leoni yang sedang melakukan absensi sidik jari di ruang personalia.
“Eh Pak Wiliam. Iya nih, sudah selasai mengajar, jadi aku mau pulang.” Jawab leoni singkat.
“Ehem, jangan panggil pak dong, Wiliam aja. Kan masih seumuran?!” Wiliam malu-malu sambal menunjuk ke arah dirinya dan Leoni.
“Ah iya juga sih. Tapi kan tidak sopan yah, lagian kita di kantor, jadi tidak seharusnya memanggil dengan nama saja.” Kata Leoni ketus dan tegas.
“Iya juga sih. Terserah aja deh!” kata Wiliam lagi.
“Aku pamit dulu yah!” Leoni menunjuk ke arah pintu keluar.
“Mba Leoni tidak tinggal lagi di mess sekolah?” Tanya Wiliam basa-basi.
“Maaf, bukan urusan anda.” Jawab Leoni agak sungkan.
“Oh iya maaf, tidak bermaksud apa-apa mba. Silahkan!” Wiliam menunjuk ke arah pintu keluar.
Ternyata di depan pintu Glen sedang menyaksikan percakapan diantara WIliam dan Leoni yang penuh basa-basi.
__ADS_1
“Beraninya dia mendekati leoni, padahal sudah tahu kalau Leoni itu calon istriku.” Kata Glen dalam hati.
“Selamat siang Tuan.” Wiliam menegur Glen kemudian langsung berlalu dari hadapan Glen dan Leoni.
“Ngomong apa saja dengan tuh orang?” Glen mulai menginterogasi Leoni.
“Tidak ada pembahasan yang bermakna, hanya sekedar tegur sapah saja kok.” Jawab Leoni singkat.
“Ya sudah.. ayo pulang!” Ajak Glen.
*
Hari ke enam berada di Kupang.
Kring…. Kring… kringg…. (hp Glen berbunyi)
“Halo…” Glen menekan gambar berwarna hijau pada layer hp.
“Kamu kapan pulang Glen?” Tanya orang dari balik telepon.
“Kan aku sudah bilang, aku akan menunggu Leoni di sini sambil bekerja di sini.” Glen menjawab pertanyaan orang dibalik telepon.
“Papa sangat membutuhkan kamu di sini Glen.” Jawab papa dari balik telepon. “Mama sakit, dia terus-terusan bersedih memikirkanmu di sana. Apa kamu tidak kasihan?” tanya papa lagi.
“Mama sakit apa pa? kok sakitnya tiba-tiba?” Glen balik bertanya.
“Papa bingung harus berbuat apa. Di kantor sangat membutuhkan papa, mama juga di rumah tidak mau papa tinggal.” Jelas papa tanpa menjawab pertanyaan yang Glen lontarkan.
“Paaa….” Glen hendak bicara namun terputus karena Leoni memegang tangannya ibaratkan lagi bertanya apa yang terjadi.
“Mama sakit karena terus-terusan memikirkan kalian berdua di sana. Waktu kalian untuk berpikir tentang pernikahan kalian itu sudah habis hari ini namun belum juga ada kepastian dan kabar dari kalian. Sedangkan di sana kalian berdua tinggal bersama tanpa ada ikatan pernikahan. Mama merasa berat memikirkan itu Glen. Mama malu seandainya orang-orang tahu.” Jelas papa.
“Glen akan menikah dengan Leoni tiga bulan lagi pa.” Kata Glen enteng.
“Terlalu lama.” Kata papa singkat.
Papa langsung menutup telepon karena dia tahu jika itu tidak akan membuat Glen goyah dengan pendiriannya.
“Kenapa?” Tanya Leoni yang sementara mengunyah kripik pisang sambil menikmati tontonan FTV di layar TV ruang tamu vila milik Glen.
“Intinya papa meminta aku pulang dan kita menikah.” Jawab Glen singkat. “Semoga ini bisa membuat Leoni mau ikut aku pulang.” Kata Glen dalam hati.
“Tuh kan apa kataku. Papa pasti memintamu pulang, kasihan juga papa di tinggal mengurus perusahaan pusat sendirian. Memang banyak orang yang membantu di sana, tapi tidak akan sama dengan kehadiranmu sayang.” Kata Leoni.
“Kalau begitu kamu ijin seminggu, kita pulang untuk nikah. Mau?” tanya Glen. “Supaya aku bisa ….” Glen tidak dapat melanjutkan perkataannya.
“Kamu ragu denganku? Kamu takut aku macem-macem di sini? Kamu tidak yakin denganku? Kamu tidak percaya kalau aku akan setia di sini?? Itu kan yang membuat kamu tidak mau pulang??” Leoni menghujani begitu banyak pertanyaan yang jelas jawabannya tidak mungkin di jawab secara terang-terangan oleh Glen.
“Aku yang tidak percaya dengan diriku sendiri, aku tidak percaya bisa melalui hari-hariku di Manado tanpa dirimu.” Glen menundukan wajahnya dan bersedih.
“Glen, tiga bulan depan, selesai sport tourism nanti, kita menikah. Itu waktu yang singkat, tidak akan terasa.” Leoni mengenggam tangan Glen dengan sedikit dug-dag. “Selama itu kamu menjalankan tugas yang kamu emban sekarang dan sambil mempersiapkan segala sesuatu untuk persiapan acara kita nanti. Yang penting kamu harus percaya padaku.” Leoni meyakinkan Glen. “Kasihan papa.” Kata Leoni singkat.
“Aku merasa berat sayang.” Glen lunglai dengan perkataannya itu. “Tapi aku akan berusaha.” Tambahnya lagi.
“Hari ini adalah hari terakhir yang papa berikan untuk kita berpikir kan? Dan jawabannya adalah tiga bulan depan, tinggal memilih tanggal yang tepat saja.” Kata Leoni santai.
__ADS_1
“Baiklah, aku akan berusaha. Tapi setaip apapun aktivitas yang kita lakukan harus selalu memberi tahu dan harus meluangkan waktu melakukan panggilan video.” Glen merasa berat harus meninggalkan Leoni di tanah orang walaupun bekerja di perusahaannya sendiri.