
Glen terdiam ditempat memandang Leoni, Paula terus melangkah mendekat ke arah Leoni seperti tidak ada yang terjadi, Leoni pun sama dengan Glen terpaku ditempat melihat siapa yang ada di hadapannya, dia tidak terpikirkan sebelumnya kalau Glen akan bertemu disini dengannya, dia hanya berpikir bahwa setelah membawah sumbangan maka Glen dan rombongan akan segera kembali.
“Ny…” Kata Glen pelan namun masih bisa di dengar oleh Romi, Paula, Leoni serta anak-anak yang ada di situ. Perasaan Glen antara senang dan bingung harus berbuat apa, rasa takut pun hinggap pada dirinya, dia takut Leoni akan menolak walau hanya untuk mendengarkan kata maaf darinya. “Leoni?” Kata Glen lagi dengan suara yang masih agak tenang. “Leoni….” Teriak Glen setelah Leoni lari menghindar darinya. “Leoni, tunggu!” Teriak Glen lagi. Sungguh hatinya remuk, apa yang dia pikirkan pun benar terjadi, Leoni menghindarinya.
“Tuan sabar, jangan gegabah!” Paula mendekati Glen dan mengingatkan. “Kita temui bapa desa, mungkin dia bisa memfasilitasi kita untuk berbicara dengan mba Leoni.” Kata Paula.
Glen berbalik badan menuju tempat yang dia tahu dapat menjumpai bapa desa. Dia teringat dengan pesan pengawalnya sebelum mereka datang, kalau sekarang mereka mengejar Leoni, bisa saja akan sia-sia. Dia yakin kalau berbicara baik-baik dengan bapa desa maka kemungkinan besar dia akan difasilitasi untuk bertemu dengan Leoni.
“Apa maksud semua ini?” Romi bingung menyaksikan apa yang terjadi di depan matanya.
“Tuan?” Romi memanggul Glen. “Nona ibu?” Romi melihat ke arah perginya Leoni. “Anak-anak kalian kembali ke tenda dulu yah, kak Romi panggil nona ibu dulu.” Romi panik melihat tingkah Leoni yang berlari secepatnya.
Leoni terus berlari menuju ke rumah milik keluarga Airin, dia berpikir untuk mengemasi barang-barangnya dan lari bersembunyi ke mana saja asalkan saat ini tidak bertemu dengan Glen.
“Non, nona ibu? Kamu ada di dalam?” Teriak Romi masih dengan sopan santun, dia tidak mau main serobot masuk ke dalam rumah. Leoni yang mendengar suara Romi di luar pun diam saja dalam tangis tanpa menyahut sedikitpun.
“Nona ibu, aku masuk yah?” Tanya Romi yang lagi-lagi tidak mendapat tanggapan dari Leoni, dia sibuk mengemasi barangnya. “Non..” Romi yang merasa jengkel tidak mendapat tanggapan dari Leoni langsung masuk bertepatan dengan Leoni keluar dari dalam kamar membawah serta semua barang-barangnya. “Kamu mau ke mana?” Romi bingung melihat keadaan Leoni. “Kamu kenapa menangis? Ada apa?” Romi mengusap pipi Leoni dengan sangat hati-hati. “Duduk dulu, cerita padaku!” Romi menarik Leoni untuk duduk. Bukannya duduk malah Leoni menarik Romi dan memeluknya erat-erat dan menangis.
“Makasi selama ini sudah bersedia menjadi sahabatku, makasi selama ini sudah menghibur wanita cengeng seperti diriku ini, makasi sudah selalu membantuku walau hanya sekedar mendengar ceritaku, makasi Romi. Saat ini hanya kamu yang paling mengerti aku, dan selalu ada untukku. Seumur hidup tidak pernah ada teman yang baik sebaik kamu.” Kata Leoni sambil menangis dipelukan Romi.
Sakit hati Romi mendengar perkataan Leoni, bukan karena kisahnya yang menyedihkan tapi Romi sedih karena melalui pernyataan yang Leoni ungkapkan barusan dia tahu kalau Leoni tidak memiliki perasaan apapun padanya. Leoni hanya menganggapnya sebagai sahabat baik. Romi tahu dan sadar kalau Leoni menaruh dan menyimpan cintanya hanya untuk orang yang telah menyakitinya itu.
__ADS_1
“Sudah, jangan menangis lagi. Tenangkan dirimu!” Dalam keadaan memeluk Leoni, dia membawah Leoni duduk. “Jangan menangis, ceritakan apa yang terjadi! Kenapa kamu tiba-tiba lari seperti tadi?” Kata Romi.
Setelah merasa tenang dan cukup bertenaga, Leoni menceritakan apa penyebab dia seperti ini.
***
Di lokasi pengungsian.
“Ada apa tuan?” Kata bapa desa melihat Glen yang tengah tergesah-gesah menuju tempatnya. “Duduk dulu tuan!” Bapa desa mempersilahkan Glen duduk.
Tanpa basa-basi Glen langsung menceritakan maksud dan tujuan kedatangannya ke tempat itu yang sebenarnya.
“Yah ada sedikit kesalah pahaman diantara kami yang membuat dia melarikan diri dan mungkin saja tidak mau bertmeu denganku.” Jawab Glen.
“Jadi apa yang bisa kami lakukan untuk tuan?” Tanya bapa desa lagi, dalam hati bapa desa tidak ingin Leoni kembali dengan Glen karena dia menginginkan Leoni menjadi istri dari anaknya, namun dia tahu bahwa kalau Leoni lebih memilih Glen maka diapun tidak bisa memaksakan. Langkah terbaik yang bisa dia lakukan adalah menyerahkan semuanya pada Leoni, dia yang pantas menentukan pilihan.
“Aku hanya minta bapa desa memfasilitasi pertemuanku dengannya, aku hanya ingin meminta maaf padanya. Selebihnya terserah padanya mau seperti apa, yang terpenting bagiku adalah sudah menjelaskan permasalahan di antara kami dan sudah menyampaikan maaf secara langsung padanya.” Jawab Glen.
“Baik. Akan aku coba mengajaknya untuk bertemu denganmu, tapi semuanya tergantung dari keputusannya. Kalau dia tidak mau bertemu denganmu maka aku tidak bisa memaksanya.” Jelas bapa desa. “Kalian tunggu disini, aku suruh orang panggil orang tuanya dulu, supaya kamu bisa berbicara dengan mereka terlebih dahulu siapa tahu mereka bisa menengahi kalian.” Kata Bapa Desa.
“Apa? Orang tua nya? Apa papa dan mama juga ada di sini?” Glen jadi penasaran.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian kedua orang tua Airin bergabung dengan Bapa Desa dan Glen.
“Ini orang tua Leoni? Ah yang benar saja?” bisik Glen yang masih dapat didengar oleh mereka.
“Iya ini kedua orang tua Nona Ibu di sini, mereka mengangkat nona ibu sebagai anak.” Jelas bapa desa.
Bapa desa langsung menyampaikan maksud memanggil mereka.
“Saya rasa Nona Ibu ada di rumah, bagaimana kalau kita langsung menghampirinya di rumah?” kata Mama Airin.
“Apa tidak sebaiknya kalian menyampaikan pada mba Leoni terlebih dahulu sebelum tuan Glen ke sana? takutnya saat melihat kedatangan kami ke sana hanya akan membuat dia kabur seperti tadi saat melihat tuan.” Kata Paula yang sejak tadi hanya mengamati tuannya bicara.
“Tidak mungkin nona ibu kabur, apalagi ada bapa desa bersama kami.” Kata Mama Airin dengan sangat yakin.
“Benar. Nona ibu tidak mungkin kabur.” Sambung bapa desa. “Tapi ingat kita juga harus menghargai nona ibu, kita tidak bisa memaksanya untuk bertemu tuan jika memang dia tidak mau.” Kata Bapa Desa dengan bijaksana.
“Baik.” Paula menjawab mewakili tuannya yang sejak tadi terpaku sibuk dengan pikirannya sendiri.
Mereka berjalan kaki menuju ke rumah dimana Leoni tinggal, tepatnya rumah milik keluarga Airin. Keheningan terjadi di antara mereka yang tengah sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
Pintu rumah terbuka, dari teras nampak terlihat kondisi di dalam rumah. Sungguh memiluhkan bagi Glen ketika menyaksikan adegan di depan matanya. Leoni tengah menangis dipelukan Romi. Peristiwa ini pun membuat kaget semua orang yang melihat apa yang dilakukan oleh Romi dan Glen, sesekali Romi menghapus air mata dipipi Leoni.
__ADS_1