
“Tidak perlu ngomong gitu.” Bisik Leoni namun tidak dihiraukan oleh Glen.
“Terima kasih Glen. Om akan menjaga Leoni dan memperlakukannya dengan baik selama di sini.” Om Lukas menjabat tangan Glen.
Setelah puas dengan pesan-pesan yang dia sampaikan untuk semua karyawannya dan dengan selesai pertemuan itu, Glen dan Leoni kembali ke vila untuk mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dan akan di bawah oleh Glen untuk kembali ke Manado.
Sesampainya di vila, mereka langsung menuju ke kamar Glen. “Istirahat dulu, jangan terburu-buru!” Perintah Glen ketika Leoni langsung mengambil langkah menuju samping lemari hendak mengambil koper Glen untuk mempersiapkan baju-baju Glen. “Lagian aku tidak akan bawah semua, sebagian akan aku tinggalkan di sini.” Glen menarik lengan Leoni, meletakkan kembali koper yang ada di tangan Leoni dan menuntunnya menuju ke ranjang.
“Aku bersihkan diri dulu, supaya enak untuk istirahat.” Kata Leoni polos, ia langsung menuju ke kamar mandi yang ada di kamar itu. “Ayo bersihkan diri dulu!” Leoni keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang segar mengenakan pakaian rumah yang dia ambil dari walkin closed yang tersambung antara kamarnya dan kamar Glen.
“Iya. Kamu silahkan istirahat duluan.” Glen menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Beberapa menit kemudia Glen keluar sudah dengan setelan santai yang biasa dia pakai di rumah, ia menyusul Leoni yang sedang berbaring di tempat tidur, ia ikut berbaring di samping Leoni yang masi ada tempat kosong, dia memeluk tubuh Leoni dari belakang, mereka berdua tertidur dengan tenang.
Saat terjaga dari tidur Leoni terkaget melihat wajah Glen yang sedang tidur dengan wajah yang sangat tentram. “Saat tidur seperti ini, kau seperti bayi.” Leoni mengelus wajah Glen dengan lembut.
Merasa ada sentuhan di wajahnya, Glen jadi terbangun. “Ny?” Glen kaget melihat wajah Leoni yang sangat dekat dengan wajahnya. “Kamu lagi ngapain?” tanya Glen lagi.
“Ah tidak.” Leoni salting mendengar pertanyaan Glen barusan. Dengan pergerakan cepat dia mengubah posisinya yang sebelumnya berbaring di samping Glen, duduk di pinggiran tempat tidur.
Glen merasa selimut yang digunakannya tertarik oleh Leoni yang mengambil posisi duduk. “Dia tidur di sini?” bisik Glen yang masih linglung antara sadar dan mimpi.
“Aku siapkan makan malam.” Leoni turun dari tempat tidur kemudian langsung menuju ke dapur, Glen yang sedang mengumpulkan kesadarannya berlari ke kamar mandi membasuh wajahnya kemudian menyusul Leoni ke dapur.
Sementara Leoni memasak di dapur, Glen menunggu dengan setia duduk di meja makan sambil menopang wajahnya dengan kedua tangan. “Ny, seandainya sekarang kita sudah menikah, sungguh bahagiahnya diriku ada seorang istri yang mendampingi, memasak, ah….. pokoknya aku harus secepatnya menikahimu.” Khayalan Glen melihat pergerakan cepat Leoni saat memasak.
Tok.. tok… tok… (ada yang mengetuk pintu dapur)
“Masuk!” Glen tersadar dari lamunannya langsung memerintahkan orang yang tadinya mengetuk di depan pintu dapur untuk masuk.
“Permisi tuan, ada Pak Lukas di ruang tamu, tadi sudah saya persilahkan duduk.” Kata pengawal melaporkan.
“Suruh pak Lukas ke sini saja, biar sekalian makan malam bersama.” Potong Leoni.
Pengawal menatap Glen seraya meminta persetujuan.
“Boleh. Tolong kasi tahu om Lukas untuk bergabung di sini saja.” Glen mengiyakan.
Tak lama kemudian om Lukas sudah berada di dapur (ruang makan) bersama dengan Leoni dan Glen.
“Kamu kembali kapan?” Om Lukas memecah keheningan di antara mereka bertiga yang sementara menikmati makanan buatan Leoni.
“Jam 10 besok.” Jawab Glen singkat. “Oh iya ada apa om datang ke sini?” Tanya Glen basa basi.
“Om datang hanya sekedar mengunjungimu sebelum kembali ke Manado.” Jawab Om Lukas.
“Makasi om sudah mengunjungi.” Balas Glen. “Oh iya, nanti Leoni tinggal di vila ini, jadi dia tidak menggunakan mess guru lagi. Mess bisa digunakan oleh guru yang lain.” Tambah Glen lagi.
__ADS_1
“Baik.” Om Lukas mengiyakan apa yang disampaikan oleh Glen.
“Aku akan sering datang ke sini untuk mengunjungi Leoni sekaligus mengontrol perusahaan dan yayasan.” Lanjut Glen.
“Iya, sebaiknya memang harus seperti itu. Kamu harus sering mengunjungi Leoni, kasihan dia di sini sendirian tanpa keluarga, memang ada om di sini tapi lebih baik lagi kalau kamu ada di sampingnya, kalau masalah perusahaan kamu tenang saja itu sudah menjadi tugas om.” Kata Om Lukas lagi.
Setelah percakapan ringan di antara mereka, om Lukas pamit pulang sedangkan Glen dan Leoni kembali ke kamar Glen untuk mempersiapkan barang-barang yang Glen butuhkan..
“Apa saja yang mau di bawah?” Dengan cekatan Leoni mengambil barang-barang yang dibutuhkan Glen untuk di bawah pulang.
“Yang sudah kamu atur, yah itu saja.” Jawab Glen santai sambil memperhatikan gerak-gerik Leoni yang cekatan mempersiapkan isi koper yang akan di bawah Glen.
“Itu saja?” Leoni melangkah ke arah Glen dan duduk di sampingnya kemudian menunjuk ke arah koper yang sudah
tertata rapih.
“Aku sangat yakin kalau calon istriku ini pasti tahu apa saja yang aku butuhkan dan apa saja yang harus aku bawah.” Glen menggenggam tangan Leoni dengan lembut.
“Kamu bisa aja!” Leoni tersipu malu. “Terus dokumen-dokumen kantor? Kalau itu aku sama sekali tidak mengerti.” Leoni menunjuk ke arah dokumen yang berada di atas meja samping tempat tidur.
“Semua dokumen itu tidak dibutuhkan lagi. Suda aku backup ke laptop. Aku hanya bawah laptop saja.” Glen mencium tangan Leoni yang ada di genggamannya.
“Baiklah, kalau gitu ayo istirahat! Supaya besok bisa melakukan perjalanan dengan tubuh yang fit.” Kata Leoni.
“Aku masih belum bisa tidur. Gimana kalau kita jalan-jalan sebentar?” Tanya Glen.
Glen langsung mengambil Hp nya dan melakukan panggilan telpon dengan seseorang. “Ayo!” Glen berdiri dari tempat mereka duduk dan tanpa melepaskan genggaman tangannya, dia menuntun Leoni sampai ke parkiran mobil. Leoni menurut saja, bahkan tidak membantah sedikitpun ajakan Glen saat itu.
“Mau jalan sekarang tuan?” Tanya pengawal yang telah berdiri di samping mobil dan siap membukakan pintu mobil untuk tuannya itu.
“Ny?” Glen hendak meminta persetujuan Leoni.
“Bisa. Tapi…..” Leoni memegang kaos yang dipakainya, dia sadar kalau saat ini mereka mengenakan pakaian bukan untuk bepergian.
Pengawal yang mengerti maksud Leoni pun tersenyum. “Tidak apa-apa mba. Di sini orang-orang tidak berpenampilan seperti mba mereka di Manado. Pakaian yang mba dan tuan pakai itu sudah sangat layak.” Kata pengawal itu.
“Yah sudah kalau begitu. Ayo!” Leoni pun tidak merasa tanggung lagi dengan pakaiannya itu.
“Silahkan tuan, mba!” Pengawal membukakan pintu dan mempersilahkan tuannya masuk. Leoni dan Glen duduk di kursi penumpang, mereka menikmati perjalanan malam mengelilingi kota Kupang.
“Tuan, mau mampir di sini?” Tanya pengawal menunjuk ke arah luar mobil. Di luar tampak ramai sekali muda-mudi yang menikmati malam di kota ini, berjejeran juga makanan jajanan favorit di tempat tersebut.
“Ini tempat apa?” Leoni penasaran dengan tempat yang ditunjuk.
“Ini disebut oleh orang Kupang dengan nama tamnos atau taman nostalgia tempat para muda-mudi bernostalgia sambil menikmati makanan salome, selain itu di sini ada gong perdamaian yang didirikan oleh PBB karena kota Kupang terpilih sebagai kota perdamaian menjadi pemersatu bangsa. Yaa bisa dikatakan sebagai tempat bersantai lah.” Jelas sang pengawal. “Mungkin tuan dan mba mau menikmati makanan salome khas tamnos?” tanya pengawal lagi.
“Boleh juga. Ayo!” tambah Leoni.
__ADS_1
“Baik mba. Tuan dan mba bisa turun disini sambil berkeliling, nanti kalau sudah selesai tinggal telpon saya di parkiran.” Kata pengawal.
“Kami tidak mengerti tempat ini, kamu juga ikut.” Kata Glen yang sejak tadi diam saja.
“Baik.” Jawab pengawal. “Kalau begitu tuan…”
Perkataan pengawal belum terucap dengan baik tapi sudah dipotong oleh Glen. “Cari parkiran dulu, nanti kita jalan sama-sama. Kamu yang menunjukkan sambil memperkenalkan tempat ini.” Glen seolah mengerti maksud dari sang pengawal.
“Silahkan tuan, mba!” pengawal membukakan pintu mobil dan mempersilahkan mereka untuk keluar. “Mari!” pengawal memberi pergerakan tangan mempersilahkan tuannya berjalan mengikutinya.
Mereka berfoto-foto ditamnos sampai larut malam, sang pengawal setia menemani sang tuan menikmati malam yang indah. Setelah merasa puas dan lelah berfoto-foto di tempat itu, mereka mencoba makanan salome di salah satu warung yang ada di dekat tempat mereka parkir.
“Tuan dan nona silahkan duduk di sana sambil menikmati makanan!” pengawal menunjukkan tempat duduk taman yang berada tidak jauh dari tempat parkiran mereka.
“Terus kamu?” tanya Leoni yang sadar kalau tempat duduk itu hanya bisa untuk dua orang, sedangkan mereka ada bertiga.
“Aku tunggu di mobil saja.” Kata pengawal dan Leoni memberi anggukan kepala pertanda menyetujui.
Beberapa menit mereka menikmati makanan salome sambil duduk di kursi taman yang tadi ditunjuk oleh sang pengawal. Sambil menikmati angin malam yang sejuk dengan suasana romatis, mereka berdua melupakan keberadaan sang pengawal yang sejak tadi menunggu mereka di dalam mobil.
“Pelan-pelan dong makannya yang!” Glen memecah keheningan diantara mereka yang asik menikmati jajanan salome.
“Ah…” Leoni kaget tersedak makanan dimulutnya.
“Nah tuh kan, belepotan tuh.” Glen memberikan sebotol air mineral dan mengelap bekas sambal salome yang berantakan di bibir Leoni.
“Makasi.” Balas Leoni menanggapi perlakuan Glen barusan.
Setelah itu mereka kembali hening.
“Sayang, aku masih merasa berat harus meninggalkanmu di sini sendirian.” Kembali Glen memecah keheningan di antara mereka.
Leoni menatap tajam ke arah Glen. “Kamu tidak percaya padaku?” tanya Leoni.
“Aku sangat percaya padamu sayang. Jangan salah paham! Aku hanya tidak ingin berjauhan denganmu.” Bela Glen. “Aku yang tidak sanggup untuk berada jauh darimu. Aku tidak dapat melakukan apapun tanpamu di sisiku.” Sambung Glen.
“Tidak bole manja! Kita harus coba.” Leoni menguatkan. “Kamu tidak kasihan dengan papa?” tanya Leoni.
“Ny, kamu tidak kasihan dengan papa?” Glen kembali melontarkan pertanyaan yang sama pada Leoni. “Kalau kamu ingat papa, ayo kita pulang! Kita Nikah, supaya papa juga tenang.” Ajak Glen.
“Kamu pikir cari pelatih renang itu gampang?” tanya Leoni. “Aku memilih bertahan di sini, itu juga termasuk bertanggung jawab pada papa.” Jawab Leoni dengan sedih.
“Aku bisa bayar pelatih renang nasional Michael Piper.” Kata Glen lagi.
“Ah… aku malas berdebat denganmu.” Bantah Leoni. “Kita coba satu minggu. Yah???!” Leoni menatap Glen meyakinkan. “Kalau tidak bisa, maka dalam satu minggu itu kamu bisa jemput aku disini, atau aku pulang sendiri.” Leoni lagi meyakinkan.
***
__ADS_1
Mohon like dan komentarnya yah!!!