KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Feedback


__ADS_3

“Glen.” Tegur mama sebelum menaiki tangga menuju ke pesawat.


“Luna ikut dengan kita.” Kata Glen tegas sebelum mama berkata apa-apa, sepertinya dia telah membaca pikiran mama terlebih dahulu.


“Untuk apa dia ikut?” Tanya mama dengan santai.


“Biarkan saja ma!” Papa menarik mama menaiki tangga dan masuk ke dalam pesawat terlebih dahulu. “Kan mama yang bilang, kita jangan ikut campur urusan Glen, kita harus memberikan kebebasan padanya dalam menjalankan hidupnya.” Tambah papa lagi.


“Baiklah, terserah papa saja.” Mama menerima perkataan papa walaupun dia sedikit tdk senang. “Ishhh kecentilan.” Mama emosi melihat tingkah Luna yang cengingisan genit pada Glen.


“Ma, udah yah!” Papa menenangkan.


Memang sejak dulu mama Glen tidak terlalu suka dengan Luna walaupun mereka teman baik sejak kecil. Sejak mereka masih kecil dulu dan sering bermain bersama-sama, Mama Glen lebih senang dengan Leoni, makanya dia sangat menginginkan Leoni menjadi istri dari anaknya itu.


Kejadian tiga bulan yang lalu membuat Glen kembali terpuruk, ketika mendengar perkataan Glen waktu itu dia sempat kecewa dengan Leoni namun setelah berdiskusi dengan suaminya, mereka lebih memilih tidak percaya dengan apa yang Glen lihat pada saat itu sehingga papa menyuruh anak buahnya untuk menyelidiki, dan benar saja dugaan mereka ternyata yang Glen lihat saat itu bukanlah Leoni, namun berdasarkan komitmen mereka untuk tidak ikut campur urusan anaknya apalagi dalam masalah percintaan makanya diam saja dan tidak memberi tahu Glen tentang itu, mereka tahu bahwa suatu saat nanti Glen pasti akan tahu dan dia akan bisa menyelesaikan masalahnya itu. Mereka yakin bahwa anaknya itu tidak akan mudah mencintai wanita lain, jadi mereka perlahan-lahan memberikan pengertian dan membuat supaya Glen bisa kembali bertemu dengan Leoni untuk dapat menyelesaikan masalah mereka agar keduanya tidak terpendam dalam luka yang terlalu lama.


“Pa gimana Glen bisa menyelesaikan masalah dengan Leoni kalau Luna juga ikut?” Bisik mama.


“Tenang saja, sampai di sana kita cari cara agar Glen bisa berbicara dengan Leoni.”  Kata Papa lagi.


***


“Wah vilamu besar sekali.” Luna senang sekali saat masuk ke dalam vila keluarga Glen tersebut. “Di mana kamarku?” Tanya Luna dengan sumringah.


“Paula, antarkan Luna ke kamar tamu!” Perintah Glen.


“Baik.” Paula buru-buru datang. “Mari mba!” Ajak Paula.

__ADS_1


“Ini pasti kamarnya Glen yah?” Tanya Luna saat melewati koridor depan kamar yang dia yakini sebagai kamar Glen.


“Iya benar, itu kamar tuan.” Jawab Paula.


“Ini pasti kamarku?” Tanya Luna kegirangan menunjuk kamar yang tepat ada di samping kamar Glen dan hendak membuka pintu kamar tersebut.


“Mari ikut aku mba, kamar tamu ada di sana!” Paula menunjuk sebuah kamar yang ada di seberang ruangan.


“Bukannya itu kamarku? Kamu tidak salah kan membawahku ke sini?” Tanya Luna lagi dan hendak menarik koper dari tangan Paula untuk kembali ke kamar tadi.


“Maaf mba, kamar yang itu tidak bisa di huni karena membutuhkan sedikit renofasi.” Paula sedikit berbohong. Selama Leoni tidak tinggal di vila itu, Glen tidak mengijinkan siapapun untuk masuk apalagi menginap di dalamnya kecuali Paula untuk membersihkan kamar itu tanpa mengubah sedikitpun isi di dalam kamar itu.


“Oh ya sudahlah.” Luna masuk ke kamar yang ditunjuk Paula kemudian beristirahat.


Malam harinya Glen meminta Paula untuk mengantarnya ke tamnos untuk menikmati jajanan salome ditempat itu, selain itu dia mau bernostalgia mengenang waktu pertama kali dia dan Leoni datang ke Kupang.


Sebelum berangkat Paula melapor pada papa Glen bahwa akan membawah Glen ke tamnos.


“Tuan ini jajannya.” Paula membawahkan salome pesanan Glen ke tempat Glen duduk, tempat dimana dulu sering dia dan Leoni tempati saat pergi ke tamnos. “Tuan kenapa?” Paula prihatin melihat kondisi Glen saat itu.


“Tidak apa-apa.” Jawab Glen.


“Silahkan dinikmati tuan!” Paula tidak mau bertanya lebih lanjut, dia tahu bahwa tuannya itu sedang memikirkan Leoni.


Sepanjang malam Glen duduk di tamnos sendirian merenungi semua yang telah terjadi padanya, terutama tentang Leoni. Sesekali terlihat dia menyeka air mata di pipinya, Paula hanya mengawasinya dari dalam mobil yang diparkir tidak jauh dari tempat Glen duduk. Beberapa kali Paula menghubungi papa Glen dan menyampaikan apa yang terjadi pada Glen.


“Tuan, ayo pulang! Matahari sudah mulai terlihat.” Paula dengan hati-hati menghampiri Glen yang masih termenung. “Tuan juga harus bersiap-siap menghadiri acara di sekolahan.” Tambah Paula.

__ADS_1


“Ayo!” Glen berdiri hendak menuju ke mobil.


“Tuan.” Panggil seseorang dari belakang Glen., sesaat Glen langsung menoleh ke arah suara tersebut.


Tepat dihadapannya berdiri Wiliam dan Melati saling bergandengan tangan dengan mesrah, juga Melati yang perutnya nampak terlihat agak berisi. Glen tidak bersuara sama sekali, dia hanya menatap kedua manusia itu dalam diam.


“Maaf, ada urusan apa kalian mencari tuan?” Paula sok menghalangi mereka untuk mendekat pada Glen.


“Kami tidak punya maksud jahat.” Kata Melati dengan agak hati-hati.


“Ada yang mau kami bicarakan dengan tuan.” Sambung Wiliam yang masih belum mendapatkan tanggapan dari Glen.


Sepertinya Glen tengah berpikir dan emosi mulai hinggap di kepalanya. “Tiga bulan yang lalu kamu dengan calon istriku dan sekarang kau menggandeng Melati di hadapanku? Dasar bej*t!” Kata Glen dalam hati. “Ada apa mereka mencariku?” Glen penasaran dalam hatinya. “Biarkan mereka bicara!” Glen menyingkirkan Paula yang tengah berdiri menghadang mereka di hadapannya.


“Kita duduk disana!” Wiliam menunjuk kursi taman yang kosong saat itu. “Kasihan kalau berdiri.” Wiliam menunjuk Melati berharap pengasihan dan pengertian dari Glen walaupun mungkin Glen tidak tahu maksudnya.


“Aku beri kalian waktu sepuluh menit untuk bicara.” Glen melangkah menuju ke kursi yang di maksud Wiliam tadi.


Sampai di kursi yang dimaksud, mereka mulai berbicara menceritakan kejadian sebenarnya yang terjadi pada tiga bulan yang lalu.


***


Feedback ke peristiwa tiga bulan yang lalu.


“Selesai acara inagurasi, semua guru dan staf diberi kesempatan menginap di hotel dan memanfaatkan fasilitas yang ada. Kami semua begitu menikmati kesempatan ini. Para wanita sudah menuju ke kamarnya masing-masing sedangkan kami para laki-laki masih nongkrong disamping kolam menikmati hard drink yang kami pesan setelah pak Lukas dan pak George pulang. Karena terlalu banyak minum akhirnya aku mabuk parah sampai tidak sadarkan diri. Pak Doni sempat mengingatkanku dan menyuruhku istirahat namun aku tetap saja minum sampai semua minuman habis, bahkan sampai tidak dapat mengontrol pikiranku lagi. Dia sempat menawarkan untuk mengantarku ke kamar namun aku menolak. Saat itu aku memang sangat terobsesi dengan mba Leoni sejak pertama kali ketemu dengannya, walaupun aku sangat tahu kalau dia adalah calon istrimu namun entah kenapa otak ini tidak dapat dikompromi, harus mengikuti keinginanku. Sebelumnya karena aku dan Melati yang mereservasi hotel maka dengan mudah aku mendapatkan kunci serep semua kamar termasuk kamar Leoni. Jadi saat itu aku bukan menuju ke kamarku melainkan menuju ke kamar 145 Presiden sweet yang seharusnya adalah kamar Leoni. Aku membuka pintu kamar tersebut dengan sangat muda, ku lihat ada seorang wanita yang tengah berbaring dengan tampilan yang sangat menggoda, akupun melakukan hal yang sama dan langsung tidur di sampingnya. Sebelumnya aku tidak memperhatikan siapa wanita yang ada di atas ranjang tersebut, intinya aku tahu kalau itu adalah kamar mba Leoni. Sesaat aku melihat ada bayangan orang yang masuk ke dalam kamar dan aku mengenalinya yaitu tuan, otak ini langsung bekerja dan menuntunku untuk bermain-main, aku tersadar kalau tadi saat masuk tidak mengunci pintu, setelah tuan keluar barulah aku mengunci pintu kamarnya, kemudian melancarkan aksiku, sekuat tenaga wanita itu menolak dan berusaha lari dariku tapi tidak bisa. Selesai bermain-main aku ketiduran dan wanita itu menangis sejadi-jadinya, bangun pagi aku melihat wanita yang sedang menangis disudut ruangan tanpa sehelai benangpun, dia menangis dan bercerita padaku. Saat itu aku baru tahu kalau ternyata yang bermain denganku semalaman itu bukan Leoni melainkan Melati.” Wiliam menjelaskan kejadian pada waktu itu. “Oh ya, aku tidak percaya apa yang Melati ceritakan, untuk mebuktikannya aku menariknya menuju ke kamarnya, benar saja Leoni dan Paula sedang tidur nyenyak di sana.” Lanjut Wiliam.


***

__ADS_1


Nantikan cerita tentang Wiliam dan Melati pada novel berikutnya yah!!


Akan segera hadir judul terbaruku.


__ADS_2