
Semua orang yang ada disitu terdiam setelah mendengar perkataan dari Bapa Desa, mereka menunggu respon dari Romi ataupun Leoni yang saat itu diam saja mendengar perkataan Bapa Desa. Sementara Glen emosi di dadanya mulai tumbuh kembali, tapi dia masih berusaha mengontrolnya, dia juga harus bersikap profesional dalam urusan cinta. Kalau memang Leoni tidak memilihnya maka dia harus merelakan karena dia sadar apa yang telah
diperbuatnya waktu itu telah menyakiti hati wanita pujaannya itu dan kemungkinan besar luka itu masih membekas di dalam hatinya, luka itu pasti membuatnya sulit untuk kembali.
“Ny, gimana? Apa kamu akan ikut denganku?” Tanya Glen dengan hati-hati. “Keputusan ditanganmu Ny, aku tidak akan memaksamu kalau memang kamu ingin tinggal di sini.” Kata Glen pasrah. “Ayo kita pulang Ny!” setelah beberapa menit diam dan tidak ada respon apapun dari Leoni, akhirnya Glen bermohon sambil berlutut di hadapan Leoni. “Apa benar-benar kamu tidak mau ikut denganku?” Glen menengadahkan kepalanya ke atas menatap manik mata Leoni dengan penuh permohonan. “Leoni lihat aku!” Glen menengkup wajah Leoni dengan kedua tangannya, diarahkan ke wajahnya. “Apa kamu sudah memaafkanku?” Glen kembali meneteskan buliran bening di matanya, Leoni mentapat mata Glen sambil menganggukan kepalanya pertanda mengiyakan pertanyaan Glen barusan. “Kamu mau pulang bersamaku?” Tanya Glen lagi yang masih mendapat tanggapan Leoni dengan menganggukkan kepalanya. “Ayo kita pulang, kedua orang tua kita sudah menunggu kita pulang.” Glen sangat bahagiah karena Leoni telah benar memaafkannya dan bersedia pulang bersamanya, dia menghapus air mata yang juga sudah mulai menetes lagi di wajah Leoni. “Jangan menangis lagi!” Glen berdiri dan mengajak Leoni pun berdiri dengan tujuan untuk berpamitan pada semua orang yang ada di situ, dia sudah yakin Leoni akan ikut dengannya..
“Nona ibu, bisa kita bicara sebentar?” Romi memanggil Leoni dengan wajah penuh pengasihan, nampak Romi pun tengah bersedih, rasanya tidak rela melepaskan Leoni kembali pada Glen.
“Jangan mendekat!” Paula dengan sendirinya menghadang Romi mendekat pada Leoni.
“Ada yang ingin aku sampaikan padamu. Aku mohon beri aku kesempatan untuk bicara sebentar saja.” Romi memohon.
“Romi?” bisik Leoni lagi, dia berusaha mencerna apa yang tadi di katakan oleh Bapa Desa dan dikaitkan dengan sikap Romi saat ini. Sementara Romi bingung harus memulai dari mana untuk bicara, dia tidak percaya papa nya telah mendahuluinya mengungkapkan perasaannya pada Leoni, tapi diapun harus tetap mengungkapkan secara pribadi dengan Leoni agar diapun merasa legah. Apapun keputusan Leoni, diapun akan menerimanya.
“Ijinkan aku bicara berdua dengan nona ibu.” Romi berdiri dan tiba-tiba menarik Leoni.
“Kamu!” Glen tidak dapat menahan emosinya, diapun berdiri dan menahan sebelah tangan Leoni agar tidak mengikuti Romi. Dalam benaknya langsung terlintas pemikiran, jangan sampai Romi membawah Leoni pergi dan menyembunyikannya.
“Tuan, Romi, lepaskan tangan Nona Ibu!” Bapa Desa melihat situasi saat ini yang bisa saja menyebabkan perkelahian antara Romi dan Glen, dia menghampiri mereka bertiga dan menarik tangan Romi dan Glen yang masing-masing memegang sebelah lengan Leoni. “Biarkan Nona Ibu bicara, apa yang dia inginkan.” Lanjut Bapa Desa.
“Glen.” Leoni mendorong Glen kembali duduk ditempatnya. “Biarkan aku berbicara sebentar saja dengan Romi. Kamu tunggu di sini, sebentar saja. Aku akan segera kembali” Pintah Leoni.
__ADS_1
“Tapi Ny.” Glen masih berat mengijinkan Leoni ikut dengan Romi walau hanya sekedar berbicara. “Paula.” Panggil Glen.
“Iya tuan.” Paula berdiri mendekat ke arah Glen.
“Temani mba mu itu!” Perintah Glen tanpa menatap ke arah Paula.
“Tuan.” Paula merasa sungkan untuk mengikuti Leoni dan Romi.
“Tuan, tuan Glen tidak perlu mengutus Paula untuk menjaga Nona Ibu. Romi hanya mau berbicara dengannya sebentar saja. Dia tidak akan membawah Nona ibu kabur.” Bapa Desa seperti bisa membaca pemikiran Glen saat itu dan berusaha menengahi agar situasi tidak memanas.
“Aku tidak bermaksud seberti itu.” Glen mengelak.
“Romi, Nona Ibu, kalian bisa berbicara di teras belakang.” Kata Mama Airin mendekat ke arah mereka dan mendorong mereka berdua menuju ke teras belakang.
“Romi apa yang mau kamu bicarakan?” Leoni memecah keheningan di antara mereka berdua yang sedari tadi diam saja.
“Non.” Romi bingung mau mulai dari mana.
Leoni mengerutkan kening menunggu kelanjutan kata-kata yang akan Romi katakan.
“Minta maaf kalau aku telah lancang dan berani mencintaimu.” Kata Romi to the poin.
__ADS_1
“Romi.” Leoni tidak menyangka perkataan Romi barusan.
“Aku tidak bisa memaksamu untuk membalas cintaku karena aku tahu kamu begitu mencintai tuan Glen. Tapi menurutku tidak ada salahnya bagiku juga untuk mencoba mengutarakan perasaanku padamu, dan tidak ada salahnya juga kalau aku mengharapkan balasan cinta darimu.” Lanjut Romi mengutarakan isi hatinya.
“Makasi kamu telah mencintaiku, makasi juga selama aku berada di desa ini, kamu telah memperlakukan aku dengan sangat baik begitu juga dengan semua wargamu disini.” Kata Leoni.
“Nona maukah kamu menjadi pendamping hidupku? Maukah kamu menua bersamaku?” Tanya Romi penuh harap.
“Maaf.” Hanya kata itu yang dapat keluar dari mulut mungil Leoni.
“Ah yahh…” Romi menengadahkan kepalanya ke arah atas dan menghapus air matanya, dia melakukan itu seperti menolak air matanya untuk jatuh. “Yah…” Romi mengangguk-anggukkan kepalanya. “Aku tahu, kamu menolakku.” Kata Romi lagi, dia bersikap tenang dan menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.
“Maaf.” Kata Leoni lagi, tak tahu dia harus berkata apa, hanya kata itu yang terus keluar dari mulutnya.
“Ya, aku tahu kamu masih mencintai orang itu dan kamu tidak mencintaiku. Aku tahu sedari awal kamu hanya menganggapku sebagai sahabatmu.” Suara Romi melemah.
“Maafkan aku.” Leoni berusaha mengeluarkan suaranya yang sejak tadi seperti tertahan ditenggorokannya. “Makasi telah mencintaiku, makasi telah menerimaku dengan baik selama berada di tempat ini, makasi untuk segala yang telah kamu dan wargamu berikan padaku selama ini, aku tidak akan pernah melupakan kalian. Tapi maaf aku tidak bisa bersamamu.” Kata Leoni dengan hati-hati. “Romi, maaf!” Leoni mengusap punggung Romi yang tertunduk penuh kesedihan.
“Yah, aku mengerti. Aku merelakanmu. Semoga kalian bahagiah selamanya.” Romi mengambil tangan Leoni dan mencium punggung tangan mungil itu. “Ijinkan aku memelukmu tuk yang terakhir kalinya.” Pintah Romi yang dibalas oleh Leoni dengan merentangkan kedua tangannya di hadapan Romi. Mereka berpelukan sejenak.
“Jangan menangis lagi!” Kata Leoni melepas pelukannya. “Kamu laki-laki yang baik, aku yakin diluar sana ada wanita cantik dan baik yang sedang menantimu, cepat atau lambat kamu akan menjumpai malaikatmu itu.” Hibur Leoni.
__ADS_1
“Semoga perkataanmu benar.” Kata Romi. “Sudah. Aku tidak menangis lagi.” Romi tersenyum dan menghapus sisa air mata dipipinya. “Makasi telah pernah mengisi hari-hariku.” Kata Romi lagi. “Ayo kita kembali!” Romi menunjuk ke arah dalam rumah. “Mereka pasti tidak sabar menunggumu di sana.” Romi menunjuk lagi ke arah dalam rumah.