
Didalam rumah, tepatnya di ruang tengah, Leoni menangis mengenang semua yang telah Glen lakukan padanya. Rasa sakit itu kembali terngiang-ngiang dibenaknya, walaupun dia tidak tahu apa penyebab Glen membatalkan pertunangan mereka waktu itu, namun rasa sakit dia dan keluarga rasakan akibat pembatalan tersebut. Bukan hanya itu saja, Glen tidak mengindahkan permintaannya untuk mengatakan apa yang menjadi penyebabnya, malah mengusir dia bersama keluarganya walaupun dia sudah berlutut memohon di kaki Glen. Sungguh kejam, Glen memaksanya untuk melepaskan pelukan di kakinya kemudian pergi. Semua itu seperti baru saja terjadi, masih sangat jelas ingatannya akan kejadian itu, ditambah lagi dengan perlakuan Luna padanya di depan umum yang memamerkan hubungannya dengan Glen. Hal itu tambah mencabik-cabik hatinya, Glen tega menambah luka dengan menjadikan sahabatnya sebagai calon istri.
Hal itu menjadi dasar bagi Leoni untuk tidak mau bertemu lagi dengan Glen meski dalam lubuk hatinya yang paling dalam dia masih sangat mencintai Glen.
“Nona, maaf kalau aku bicara. Menurutku sebaiknya nona kasih kesempatan dia untuk bicara, biarkan dia mengatakan apa yang ingin dia ungkapkan pada nona, dengarkan saja dulu apa yang dia sampaikan, jangan nanti nona menyesal kedepannya.” Kata Romi bijaksana.
“Aku masih belum siap untuk bertemu dengannya, terlalu sakit hati ini. Aku tidak mau melihat wajahnya saat ini.” Leoni membantah.
“Menurutku kenapa dia sampai datang jauh-jauh ke sini dan bersih keras untuk menemuimu, pasti ada penyesalan dalam dirinya dan seharusnya ada sesuatu yang mau dia jelaskan padamu.
“Ya disaat aku sudah siap, aku akan pergi menemuinya.” Kata Leoni.
“Non jangan berkeras kepala seperti ini. Aku mohon, demi aku. Kamu melakukannya!” Bujuk Romi, entah dari mana keberanian Romi mengatakan kata itu. Sejenak Leoni menatap Romi dalam-dalam. Leoni pun kaget mendengar kata-kata Romi.
“Aku mohon jangan paksa aku Rom.” Bisik Leoni.
***
“Aku mohon, tolong bapa desa, aku harus bertemu Leoni dan berbicara dengannya.” Glen merengek bermohon. “Mungkin pria yang ada di dalam bersamanya itu adalah anak anda, aku tidak tahu hubungan mereka berdua seperti apa, aku tidak bertujuan untuk mengganggu apapun hubungan di antara mereka, tapi aku mohon beri aku kesempatan untuk berbicara dengan Leoni.” Glen memohon. “Setelah berbicara dengannya, aku akan segera pergi dari tempat ini dan tidak akan mengganggu kalian lagi.” Tambah Glen.
Paula yang menyaksikan apa yang dilakukan tuannya, sungguh hatinya pun sakit melihatnya, sungguh tuannya itu sudah merendahkan diri dihadapan semua orang saat itu, tapi itu semua dia lakukan demi memperjuangkan hatinya yang sudah remuk.
__ADS_1
Bapa desa terhentak mendengar perkataan Glen. “Aku akan coba untuk membujuknya lagi, tapi ini tuk yang terakhir kalinya. Jika dia masih tidak mau berbicara denganmu, aku mohon tolong jangan di paska lagi.” Kata bapa desa walaupun tidak mendapat tanggapan Glen, dia melangkah kembali ke dalam rumah dan menemui Leoni dan Romi.
“Romi.” Sapah bapa desa.
“Aku sudah membujuknya namun dia tidak mau.” Kata Romi, sepertinya dia tahu maksud kedatangan bapa desa menemui mereka.
“Nona ibu.” Bapa desa mendekat pada Leoni. “Apa bisa bapa bicara sekali lagi?” Tanya bapa desa.
“Silahkan, apa yang mau bapa desa bicarakan? Kalau mau membujukku untuk bertemu dengannya, bapa sudah tahu jawabannya apa.” Kata Leoni.
“Nona, bapa sangat paham perasaan nona seperti apa.” Kata bapa desa dengan sangat lembut. “Sebaiknya kita menyikapi hal ini dengan dewasa, agar tidak ada kata penyesalan kedepannya.” Jelas bapa desa.
“Aku mohon bapa, tolong jangan memaksaku.” Pintah Leoni.
“Tolong sampaikan padanya, suruh dia pulang saja. Saat ini aku tidak akan menemuinya apalagi berbicara padanya. Silahkan dia menikah saja dengan Luna!” Kata Leoni lagi, nampak dirinya pun sedang bersedih dan perasaannya bertolak belakang dengan apa yang dikatakannya.
“Baik kalau itu keinginanmu, tapi dengarkan bapa sekali ini saja, bapa yakin diantara kalian berdua ada terjadi kesalah pahaman, kalaupun memang sudah tidak ada lagi cintamu untuknya, paling tidak kalian harus saling meluruskan kesalah pahaman itu agar tidak ada yang tersakiti lebih dalam dan kedepannya tidak ada saling menyalahkan satu dengan yang lainnya.” Kata bapa desa lagi.
“Benar apa kata bapa.” Romi mendukung perkataan bapa desa.
“Terima kasih bapa. Tapi saat ini aku belum siap.” Leoni menuju ke kamarnya.
__ADS_1
Bapa desa keluar dengan wajah penyesalan karena tidak berhasil membujuk Leoni untuk bertemu dengan Glen.
“Maafkan bapa, tuan. Bapa tidak berhasil membujuknya, dia itu terlalu keras kepala dan tidak mudah dibujuk.” Kata Bapa Desa.
“Sebaiknya tuan pulang saja dulu, biarkan nona tenang dulu. Kami akan berusaha membujuknya agar dia mau pergi menemui tuan. Kami percaya nona ibu pasti akan melakukannya.” Kata Mama Airin.
“Tuan.” Paula sedih melihat wajah sedih tuannya itu dan berusaha untuk membujuknya.
“Leoni, Ny….” Tiba-tiba Glen berdiri dari tempat duduknya dan hendak menerobos masuk ke dalam rumah, walaupun dia tahu hal itu salah. “Aku mohon Ny, dengarkan aku dulu. Aku hanya mau minta maaf padamu.” Glen berusaha masuk ke dalam rumah namun masih di tahan oleh bapa desa dan Paula.
“Tuan jangan gegabah!” Paula mengingatkan. “Mungkin tuan harus beri kesempatan mba Leoni untuk berpikir dulu. Tuan tidak boleh memaksakan kehendak tuan padanya, tuan harus mengalah!” Paula berani menegur Glen, walaupun dia tahu Glen juga sakit hati. “Tuan jangan terbawah emosi, ingat waktu itu juga karena tuan emosi sehingga membuat kesalahan fatal dalam hidup tuan.” Paula menasihati.
“Ny tolong, aku mohon beri aku kesempatan sekali ini saja untuk aku berbicara denganmu.” Glen masih bersih keras untuk berusaha masuk menemui Leoni namun ditahan oleh banyak orang. “Ny, aku tahu kamu sudah punya pilihan, mungkin laki-laki itu lebih baik dariku, dia selalu membuatmu bahagiah.” Glen menangis berlutut di depan pintu. “Aku tidak memaksamu untuk kembali padaku. Aku hanya ingin maaf darimu.” Glen menangis meratap. “Leoni aku mohon!” Glen berteriak sekuat tenaganya, berlutut dan memohon di depan pintu, dia bersujud dengan kepala tertunduk menghadap lantai. Sungguh sangat menyedihkan menyaksikan apa yang dilakukannya itu. Tapi tidak ada satu orang pun yang berani mendekat padanya lagi.
“Non, apa nona tidak kasihan padanya? Coba nona lihat apa yang dia lakukan!” Romi menunjuk ke arah Glen. “Memang karena cinta, orang bisa jadi gila. Seandainya terjadi padaku, aku pun mungkin akan seperti itu.” Kata Romi. Perkataan Romi itu berhasil membuat hati Leoni sedikit tergerak untuk menemui Glen.
“Aku mohon kamu pergi dari sini!” Tiba-tiba Leoni berdiri di hadapannya.
***
Minta like dan komentarnya dong!
__ADS_1
Dukungan kalian sangat aku butuhkan.