
“Sportif Wil, kamu harus profesional dalam bekerja!” Perintah Wiliam pada dirinya sendiri.
“Bagaimana Wil?” Tanya Melati dengan senyum sumringah mekar tak henti di bibir mungilnya.
Semua orang yang ada di situ menatap Wiliam dalam-dalam menunggu jawaban darinya.
“Baiklah. Aku bersedia.” Jawab Wiliam singkat.
“Sekarang silahkan kalian berdua bersiskusi untuk mempersiapkan segala sesuatunya, nanti siang aku tunggu rancangan acaranya dalam bentuk tertulis.” Kata Pak Lukas sebelum menutup pertemuan. “Pak George tolong dampingi mereka!” tambah pak Lukas lagi.
“Siap pak.” Tambah pak George.
Pak Lukas menutup pertemuan itu setelah mereka sepakat Melati dan Wiliam yang bertugas untuk mempersiapkan acara inagurasi yang mereka maksud. Semua kembali ke aktivitasnya masing-masing, Wiliam dan Melati tetap berada di ruang rapat untuk membicarakan konsep acara secara tertulis.
Saat itu Melati seperti terhipnotis oleh wajah tampan Wiliam yang telah menjadi idolanya sejak lama, dia jadi lupa dengan tujuan mereka berada di ruangan itu, dia menatap wajah cool Wiliam yang sedang memainkan Hp.
“Mel, Mel…” Wiliam mengayunkan tangannya di depan wajah Melati.
“Ah iya. Maaf!” Melati menjadi salah tingkah pada Wiliam yang mendapatinya sedang melamun.
“Cepat selesaikan konsep acaranya sekarang!” perintah Wiliam.
“Iya baik.” Melati mengaktifkan laptop kemudian mengetikkan setiap kata yang disampaikan oleh Wiliam.
“Fokus Mel, aku tidak mau kena mara pak Lukas atau pak George gara-gara kamu.” Wiliam berusaha menekan emosinya saat berada bersama wanita yang mengejar-ngejar dia dan bahkan kemarin membuat dia jengkel.
“Iya.” Melati lebih banyak mengalah, dia berusaha profesional walaupun pikirannya terganggu dengan obsesinya untuk memiliki Wiliam.
__ADS_1
Dalam waktu 30 menit mereka telah selesai membuat konsep acara inagurasi yang di maksud.
“Aku print dulu, supaya kita baca lagi sama-sama. Taktnya ada sedikit kesalahan.” Kata Melati mengulur-ngulur waktu agar dia bisa lebih lama berada bersama Wiliam.
“Baik. Cepat!” perintah Wiliam. “Ngapain kamu duduk di sini? Mana print out nya?” Tanya Wiliam setelah Melati kembali duduk di sampingnya tanpa membawah print out konsep yang tadi mereka buat.
“Masih di print. Aku tinggal. Capek menunggu dengan posisi berdiri.” Jawab Melati polos menunjuk ke arah meja print yang berada tidak jauh dari mereka.
Wiliam tidak lagi mengeluarkan suara, dia lanjut memainkan Hp nya entah apa yang dia lakukan dengan Hp tersebut.
“Ini silahkan di baca dulu!” Melati menyerahkan print out di hadapan Wiliam, tanpa bersuara Wiliam menerimanya kemudian membaca sejenak kertas yang disodorkan oleh Melati tersebut. Setelah selesai membacanya, tanpa bersuara Wiliam berdiri dari tempat duduknya kemudian melangkah keluar. “Wil bagaimana? Apa ada yang perlu di perbaiki? Kamu mau ke mana?” Melati mengejar Wiliam yang tiba-tiba saja keluar.
“Tidak ada, kita ke pak George.” Jawab Wiliam singkat sambil membuka pintu ruangan personalia dan menuju ke arah meja kerja pak George dimana saat itu dia terlihat sedang mengerjakan sesuatu.
“Sudah selesai?” Pak George langsung paham maksud kedatangan Melati dan Wiliam karena melihat lembaran kertas yang dipegang oleh Wiliam.
“Ini pak.” Wiliam menyerahkan pada Pak George.
“Baik.” Wiliam menerima kembali lembaran kertas tersebut lalu melangkah keluar. Melati tidak berkata apa-apa lagi, dia hanya mengikuti kemana arah Wiliam pergi.
Seperti halnya pak George, Pak Lukas juga membaca konsep acara yang mereka buat dan langsung menyetujuinya. “Persiapkan sekarang juga!” Pak Lukas mengembalikan kertas yang mereka sodorkan padanya tadi. “Saya serahkan semua pada kalian. Melati kamu sebagai penanggung jawab, silahkan membawah nota kwitansi ini ke bagian keuangan! Saat ini juga harus dana cair, dan persiapan harus rampung, besok sore kegiatan di mulai.” Tambah Pak Lukas lagi.
Setelah keluar dari ruangan pak Lukas, Wiliam dan Melati harus segera mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk acara puncak ingaurasi tersebut, beberapa kali terlihat kekompakan mereka dalam menjalankan pekerjaan walaupun seringkali Melati menggunakan perasaannya dalam bekerja.
Mereka mengundang seluruh siswa SMA Gonzaga untuk menyaksikan pemilihan dan inagurasi atlit yang akan mewakili sekolah mereka dalam ajang internasional tersebut agar mereka semua juga merasa bangga dan sedikit disuguhkan dengan acara meriah yang membuat mereka lupa sejenak dengan tugas-tugas dan pelajaran yang membuat kepala mereka berat. Dalam acara itu juga mereka mempersiapkan para guru dan atlit yang terpilih untuk menginap satu malam di hotel berbintang di wilayah Kupang, selain itu juga ada giveaway bagi siswa dengan berbagai hadiah. Para siswa dan guru sangat antusias menanti acara tersebut, dan bahkan mereka mendukung sepenuhnya teman-teman mereka yang sedang mempersiapkan diri untuk nantinya diseleksi. Besok sorenya anak-anak mulai berdatangan dengan penuh keceriaan di wajah mereka.
***
__ADS_1
“Aku dengar dari om Lukas katanya nanti malam di sekolahan ada acara yah?” tanya Glen ditengah percakapannya dengan Leoni di Hp melalui panggilan video.
“Iya, mereka mempersiapkan acara inagurasi untuk anak-anak yang terpilih nantinya.” Jawab Leoni.
“Terpilih apa?” tanya Glen.
“Iya maksudnya yang terpilih dalam seleksi atlit nanti, mereka yang akan mewakili sekolah dalam sport tourism.” Jawab Leoni lagi.
“Oh gitu?! Terus apa saja acaranya? Buat di mana?” Tanya Glen lagi.
Leoni menjelaskan konsep acara yang disampaikan oleh Melati dan Wiliam sebagai penyelenggara acara.
“Semoga acaranya berjalan lancar, dan ingat jaga kepercayaan dariku!” Perintah Glen.
“Siap bos.” Leoni menirukan gerakan siap gerak dengan posisi tangan memberi hormat. “Aku siap-siap dulu yah? Aku harus lebih dahulu ada di sekolah, takutnya anak-anak sudah di sana dan mereka membutuhkan apa-apa, mereka bingung mencariku di mana.” Lanjut Leoni.
“Oke. Love you Leoni.” Tiba-tiba kata mesra meluncur di bibir Glen mungkin karena saking rindunya pada kekasih hatinya itu.
“Love you too.” Leoni pun membalas dengan malu-malu.
“Ih kok jadi kayak ABG gitu yah?” kata Glen usil.
“Kamu sih yang duluan.” Leoni masih dengan senyum malu-malu.
“Aku kangen banget sama kamu Ny, pingin secepatnya meluk tubuh kamu yang indah itu, nyium pipi kamu, ah rindu banget.” Tunjuk Glen ke arah Leoni masih dengan senyum usilnya.
“Aku juga merindukanmu.” Leoni masih tersipu malu mendengar kata-kata kekasih hatinya itu walaupun agak sedikit gombal namun keduanya senang.
__ADS_1
“Ny, kamu pasti lupa kalau nanti malam aku akan datang ke sana bersama orang tua kita. Heeemmmm.” Kata Glen dalam hati. “Besok pagi kamu bangun pasti kami sudah di sana. nantikan surprise dariku.” Lanjut Glen dalam hati.
Sengaja Glen meminta keluarga Leoni untuk tidak memberi tahunya tentang kedatangan mereka ke sana, Glen tahu Leoni pasti lupa karena dia sibuk di sekolah yang padat dengan seleksi dan latihan atlit.