KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Menjadi guru renang


__ADS_3

Leoni menjadi malu mendengar perkataan Glen, wajahnya memerah.


“Sayang, kok wajahmu merah sih?” Tanya Glen meledek Leoni. Glen dibuat gemes melihat perubahan pada Leoni yang nampak memerah menahan malu mendapat perlakuan seperti itu oleh Glen.


“Tidaaakkk.” Jawab Leoni salah tingkah, dia berusaha menyembunyikan rasa malu nyawalaupun sangat nampak


terlihat oleh Glen dari perubahan pada wajahnya.


“Yahh sudah, heheheeee.” Glen tersenyum kembali memancarkan suasana hati yang bahagiah.


Mereka berdua duduk menikmati sunset dengan penuh rasa bahagiah, khususnya Glen yang sangat merasa bersyukur karena Leoni menerimanya. Glen merangkul Leoni dan bersandar dipundaknya, mereka meinkmati senja yang indah.


“Ny, sayang, sebenarnya kamu mau pindah ke mana sih?” Bisik Glen pelan, dia teringat map yang tadi dia bawah dari kampus.


Pertanyaan Glen membuat hati Leoni menjadi gundah mengingat apa yang harus mereka hadapi di dari esok. Leoni


takut membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka besok, rasanya dia tidak mau hari ini berganti besok. “Aku mau ke Kupang.” Leoni berkata pelan, dia memalingkan wajahnya tidak mau melihat ekspresi Glen karena dia tahu pasti laki-laki itu akan sangat kecewa dan tidak akan mengijinkannya untuk pergi, pasti dia tidak ingin mereka berpisah lagi.


“Kenapa ke Kupang sih? Jauh banget tahu, apa kamu tidak ingin berada dekat denganku?” Tanya Glen penasaran, hal itu kembali membuat dia sedih karena pada kenyataannya harus terpisah jarak lagi dengan Leoni. Dalam benaknya, apa yang akan terjadi dengan dirinya kalau jauh dengan Leoni. “Apa kamu mau berjauhan denganku? Kamu tidak mau dekat denganku? Apa kamu sanggup hidup jauh dariku setelah hubungan kita ini mulai terjalin? Ny, jujur kalau aku, aku sungguh tidak akan sanggup.” Glen mengungkapkan rintihan hatinya.


“Sayangg, Glen, mau kah kamu mendengarkan penjelasan dariku dulu?” Leoni bermohon, dia mengusap punggung tangan Glen perlahan dan sangat hati-hati.


Glen tidak menanggapi perkataan Leoni, dia termenung dan memikirkan segala sesuatu yang mungkin terjadi.

__ADS_1


“Sewaktu masih di Jakarta, aku sempat memasukkan lamaran pekerjaan di beberapa yayasan persekolahan yang membuka lowongan pekerjaan atau membutuhkan pelatih renang.” Leoni mulai bercerita. “Dan beberapa hari yang lalu aku menerima email dari salah satu yayasan yang menerima surat lamaranku itu yang berisi pengumuman dari kalau aku diteruma dan surat panggilan untuk segera masuk kerja serta surat kontrak dari yayasan tersebut.” Leoni menjelaskan.


Entah kenapa dada Glen terasa sesak dan mulutnya tak mampu mengeluarkan kata-kata lagi, sungguh semua ini diluar ekspektasinya.


“Sebelum memasukkan lamaran tersebut, aku sudah minta persetujuan dari kedua orang tua ku, mengingat saat itu yang bisa membantu perekonomian keluargaku hanyalah dengan mencari pekerjaan, apa lagi papa sudah tidak bekerja. Dan salah satu kemampuanku hanyalah menjadi pelatih renang atau menjadi guru renang, apalagi aku sudah mengantongi sertifikat pelatih dan ijin mengajar atau melatih renang. Jadi aku mencoba-coba dengan mengirimkan  lamaran ke beberapa yayasan yang pada waktu itu membuka lowongan untuk pekerjaan tersebut.” Tambah Leoni menjelaskan. “Selain itu menjadi cita-citaku, aku melakukan itu juga untuk membantu kedua orang tua ku.” Kata Leonilagi.


“Dan sekarang apa yang akan kamu lakukan untukku?” Tanya Glen, ekspresi wajahnya yang tadi penuh senyuman yang merekah kini surut berganti ketegangan dan menjadi dingin.


“Mereka sangat senang mendengar berita itu, dan aku juga senang karena mendapat pekerjaan. Jujur saja aku sangat senang karena akhirnya aku bisa mendapatkan pekerjaan, dengan demikian aku bisa membantu kebutuhan hidup keluargaku dengan keringatku sendiri.” Jelas Leoni lagi tanpa menjawab pertanyaan dari Glen.


“Dan aku?” Tanya Glen lagi.


“Sayaang..” Leoni dengan merengek. “Maaf, ini semua terjadi sebelum kita berdua punya hubungan seperti ini.” Kata Leoni lagi.


“Aku mohon jangan tinggalkan aku!” Kata Glen bermohon dan merengek seperti seorang bayi.


“Iya, kamu tidak akan pernah meninggalkan aku, hanya kamu akan pergi jauh dariku? Itu maksudmu?” Kata Glen


sinis, dia mengacak-acak rambutnya secara kasar sampai tatanan rambutnya menjadi sangat berantakan layaknya orang yang lagi menanggung beban berat dalam hidupnya dan tak mendapatkan penyelesaiannya. Sesekali dia menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya secara kasar.


“Glen!” Leoni berusaha membujuknya.


“Heemmm...” Glen membuang nafasnya dengan kasar.

__ADS_1


“Aku pingin banget jadi guru renang. Itu cita-citaku sejak SMA dan sejak aku membuka diri dengan dunia renang, apakah salah jika aku sedikit saja merasakan bagaimana menjadi seorang guru renang?” Rengek Leoni.


“Apa sedalam itukah cintamu terhadap cita-citamu itu?” Tanya Glen dengan sedih. “Dan bagaimana dengan cintamu padaku? Apa kamu pernah memikirkan aku? Apa kamu tidak mau sedikit saja merasakan bagaimana berada dekat denganku dan merasakan bagaimana menjadi kekasihku?” Tambah Glen dengan sangat sedih tapi tidak sampai mengeluarkah air mata seperti tadi, dia membalikan kata-kata yang tadi Leoni ucapkan padanya. “Aku


bisa memberimu segalahnya. Leoni, aku mohon.” Glen memohon kepada Leoni.


Brruuukkkk…


Kaki Glen berlutut dihadapan Leoni, nampak terpancar aura menyedihkan dari wajah Glen.


“Aku tahu, kamu bisa memberikan segalahnya padaku, tapi aku menyayangi dan mencintaimu bukan karena apa yang kamu miliki itu. Tidak pernah terlintas dalam benakku untuk menginginkan semua harta yang kamu miliki, aku sungguh mencintaimu dengan tulus.” Bantah Leoni. “Dan jika kamu benar-benar mencintaiku, berarti kamu pun akan mendukung dan mensuport apa yang aku lakukan dan apa yang menjadi keputusanku.” Bisik Leoni dengan


hati-hati.


Glen merasa tidak sanggup mengambil keputusan kali ini, dia memilih diam dari pada merespon ucapan Leoni. Jika dia mengijinkan Leoni pergi ke Kupang untuk menjadi guru renang, hal ini akan berlangsung sampai kapan? Jika dia tidak mengijinkan Leoni, apa Leoni akan tetap pergi dan tidak mengindahkan permohonannya? Atau Leoni akan tetap tinggal demi dia? Senang rasanya, namun disisi lain dia tidak mau kedua orang tua Leoni menyalahkannya.


Glen terdiam mendengar kata-kata Leoni, sejenak dia berpikir. “Benar, aku tidak bisa egois terhadap Luna.” Kata Glen dalam hati tapi dia juga tidak mau langsung mengungkapkannya, dia menunggu puas dengan penjelasan dari mulut Leoni.


“Kita harus terus saling berkomunikasi, komunikasi itu sangat penting dalam menjalin sebuah hubungan, entah hubungan apapun itu. Walaupun kita ada bersama tapi tidak saling berkomunikasi itu sama saja kan??” Kata Leoni yang entah apa maksud dia menyampaikan hal itu. “Aku berjanji akan sering pulang ke sini untuk datang menjumpaimu ataupun sebaliknya, kamu bisa menemuiku di sana nanti.” Kata Leoni penuh harap. “Glen aku mohon..” Leoni menggantung di lengan Glen. “Ijinkan aku bekerja ku mohon...” Leoni kembali memohon.


**


Bantu like, comment, vote, hadiah yah....

__ADS_1


Supaya penulis semangat dalam melanjutkan penulisannya...


Makacieee


__ADS_2