
“Sudah hampir dua minggu nih masih tidak ada kabar keberadaan Leoni? Kalian ini kerjanya bagaimana? Kenapa bisa sampai kehilangan jejaknya? Periksa kembali semua jalur transportasi waktu itu!” Perintah Glen sambil marah-marah pada orang-orang suruhannya.
“Baik tuan, akan kami periksa kembali.” Kata salah satu orang suruhannya.
Semenjak saat itu, Glen lebih memilih tinggal dan bekerja dari Kupang, dia sangat berharap suatu hari nanti akan bertemu dengan Leoni di sana, dan diapun menyuruh anak buahnya untuk terus mencari Leoni sampai ke daerah-daerah.
***
Sekembalinya Airin ke sekolahan, seminggu berlajan, Leoni disibukkan dengan aktivitas baru yaitu membantu orang tua Airin di kebun. Sedikit banyak dia telah belajar bagaimana cara menjadi seorang petani walaupun hanya sekedar memetik jagung, menggali ubi, dan menyirami tanaman. Selain itu Romi juga sering mengajaknya mengunjungi lokasi proyek pembangunan desa di kecamatan Fatuleuh yang menjadi proyek dibawah pengawasan Romi. Leoni mulai membuka diri untuk bergaul dengan mayarakat desa dan pelan-pelan mulai menjadi dekat dengan Romi sebagai teman.
“Non…” Romi sedikit mengagetkan Leoni yang sedang menghayal sambil duduk di depan mobil.
“Eh… kamu sudah selesai nih?” Leoni kaget melihat Romi sudah berada di depannya.
“Sudah. Ayo kita pulang!” Ajak Romi menunjuk ke arah mobil pertanda dia meminta Leoni masuk ke
dalam mobil.
“Baik.” Leoni melangkah massuk ke dalam mobil.
“Kamu sebenarnya lagi mikir apa sih? Aku perhatikan sejak tadi sepertinya kamu kebanyakan menghayal deh.” Romi memberanikan diri bertanya.
“Ahhh….” Leoni bingung mau bicara apa, dalam hati benar dia lagi menghayal, tapi tidak tahu apakah dia bisa menceritakan apa yang dia pikirkan atau tidak.
“Kalau butuh teman cerita, kamu boleh cerita padaku, aku siap mendengarakan dan membantu mu sebisaku. Kalau tidak mau cerita juga tidak apa-apa, tapi pesanku hanya satu.” Romi menjedah perkataannya.
__ADS_1
“Apa?” Lanjut Leoni.
“Jangan kebanyakan menghayal! Itu saja. Mubasir dong aku sebagai teman kalau tidak bisa berbagi beban denganmu.” Rayu Romi. “Mau cerita tidak?” Romi menghentikan mobilnya dan memarkirkan di ujung jembatan singai Siumate. “Yah sudah kalau tidak mau cerita, aku tidak paksa kok.” Romi menyalakan kembali mesin mobilnya.
“”Aku…” Leoni mulai meneteskan airmata.
“Jangan nangis dong, aku tidak mengerti kalau kamu sudah nangis duluan.” Romi mematikan kembali mesin mobilnya, mengambil selembar tisu dan menyerahkan ke Leoni.
Akhirnya Loeni berhasil menceritakan masalah hidupnya pada Romi, dimulai dari Glen tiba-tiba meninggalkannya tanpa sebab padahal mereka sudah merencanakan acara pertunangannya waktu itu, kemudian tiga bulan kemudian Glen kembali ke sekolahan dengan membawah Luna ke acara perpisahannya hanya untuk membuat dia marah, padalah seharusnya waktu itu dia datang menjemput Leoni untuk menikah.
“Sungguh sakit sekali hati ini Rom, apalagi wanita yang akan menikah dengannya adalah sahabatku sejak kecil.” Loeni kembali menangis.
“Menurutku sepertinya mereka tidak akan menikah, mungkin Glen hanya membawahnya sekedar untuk mencari gara-gara denganmu.” Romi menanggapi cerita Leoni. “Menurutku mungkin ada masalah serius yang terjadi diantara kalian sehingga membuat dia tiba-tiba meninggalkanmu walaupun kamu sendiri tidak tahu itu masalahnya apa dan diapun sebenarnya masih berat untuk melepasmu, tapi ego nya yang paling tinggi sebagai laki-laki sehingga dia tidak mau memberi kesempatan bagi kalian untuk saling membicarakannya. Selain itu dia juga sengaja membawah perempuan itu di depanmu agar kamu cemburu atau apalah itu, apalagi dia tahu kalian sahabat sejak kecil.” Jelas Romi lagi. “Apa perempuan itu juga suka pada Glen?” Tebak Romi.
“Iya sepertinya.” Leoni mengangguk enggan untuk menjelaskan.
“Tapi gimana caranya? Sejak saat itu, melihatku saja dia sudah tidak mau, apalagi berbicara denganku. Kalau sekarang aku mencarinya dan menemuinya, apa dia akan berbicara padaku? Aku tidak yakin.” Kata Leoni.
“Yah sudah, kamu tenangkan diri dulu. Kalau sudah siap, kamu mau tidak mau harus menyelesaikan masalah kalian agar dirimu juga bebas dan tidak terbeban memikirkan dia, kasihan loh mungkin ada orang yang pingin mendapatkan hatimu tapi masih kamu ikat hatimu pada orang yang salah.” Tambah Romi.
Sejenak Leoni menatap Romi penuh arti. “Kamu?” kata Leoni.
“Bukan aku, tapi mungkin ada orang maksudku.” Romi sepertinya mengerti perkataan Leoni.
“Ya… ya…. Yaaa….” Leoni menganggukkan kepala. “Aku mungkin belum bisa membuka diri secepat itu, tapi aku memang harus tahu apa penyebabnya.” Jelas Leoni.
__ADS_1
“Secepatnya kamu harus coba mendatangi Glen dan meminta dia berbicara. Aku yakin semarah atau sebesar apapun masalah kalian, dia pasti akan punya titik untuk merindukanmu dan pasti dia pun ingin menyelesaikan masalah diantara kalian.” Kata Romi.
“Iya, setelah sudah siap nanti, aku pasti akan mencarinya. Sekarang ini aku masih pingin menenagnkan diri dulu. Makasi atas masukanmu.” Kata Leoni.
“Dan ingat, kapanpun kamu membutuhkan teman, aku akan selalu siap untukmu. Jangan sungkan untuk berbagi denganku.” Romi menguatkan.
“Oh ya sekarang sudah sore, ayo kita pulang! Takutnya Airin sudah menelpon ke rumahmu, tapi aku tidak ada di sana. Aku pingin bercerita dengannya.” Kata Leoni setelah melirik jam tangannya dan tersadar kalau hari ini adalah hari sabtu, dimana sore hari Airin akan menelpon.
“Baiklah ayo, jadi kita langsung ke rumahku saja?” Tanya Romi.
“Iya sebaiknya langsung ke rumahmu saja.” Leoni sependapat dengan Romi.
Beberapa menit saja perjalanan ke rumah Romi, di sana telah berkumpul orang tua Airin yang sedang menunggu telepon dari anaknya yang sedang mengenyam pendidikan di kota.
“Kring… kringg…kringgg…” Bunyi telpon berdering.
“Itu pasti telpon dari Airin.” Semua orang antusias menanti telpon Airin.
“Dari Airin.” Bapa Desa mengayunkan gagang telpon. “Katanya mau bicara dengan Nona Ibu duluan.” Kata Bapa Desa menyodorkan gagang telpon ke arah Leoni dan memberi isyarat agar Leoni berdiri dan mendekat ke arah gagang telpon.
“Bapa, ema, aku ngobrol duluan yah?” Leoni meminta persetujuan pada kedua orang tua Airin.
“Iya non, silahkan!” Mereka mempersilahkan.
“Non, aku ada kabar untuk nona.” Kata Airin yang sengaja tidak menyebutkan nama Leoni karena mereka diawasi oleh penjaga asrama saat menelpon.
__ADS_1
“Kabar apa? Ayo katakan! Jangan bikin aku penasaran Rin.” Kata Leoni penuh semangat menunggu kabar dari Airin.
“Laporan pertama, si dia ada di sini non, dia tidak pernah pulang, dan laporan ke dua aku dengar dia menyuruh orang mencari nona sampai ke desa-desa, disini heboh dibicarakan oleh guru-guru.” Bisik Airin melaporkan.