
Sepanjang hari itu sampai malamnya Leoni menangis, dia sangat bersedih dan bahkan putus asa memikirkan hari pernikahannya besok yang entah akan seperti apa karena semua wedding dress yang dipesan kemungkinan terbaka api bersamaan dengan butik milik Linda. “Seandainya kita sudah mengambilnya kemarin, mungkin saja butik itu tidak terbakar.” Kata Luna sedih. “Apa pernikahannya kita tunda saja?” Bisik Leoni lagi dengan nada pasrah.
Disitu telah berkumpul semua keluarga mereka berdua, tak terkecuali dengan keluarga Leoni dari Fatuleuh pun sudah ada di sana, keluarga Airin dan juga keluarga bapa desa yang sudah dijemput oleh Paula dengan pesawat pribadi milik keluarga Glen. Mereka semua sedang berkumpul di ruang tengah rumah Leoni untuk berdiskusi dan berusaha memecahkan masalah serta mencari jalan keluar. Semua orang menyaksikan betapa menyedihkan Leoni diperhadapkan dengan masalah seperti ini.
“Nona ibu jangan bicara seperti itu! Apapun yang terjadi besok harus terlaksana acara pernikahan kalian. Kalau ditunda lagi, percaya atau tidak, kalian tidak akan pernah menikah.” Kata bapa desa yang saat itu duduk dekat Leoni dan sempat mendengar perkataan Leoni barusan.
“Apa mungkin besok aku menikah hanya menggunakan gaun biasa?” Leoni menangis tersedu-sedu.
“Nona ibu jangan menangis terus, coba tenangkan pikiran dan memikirkan jalan keluarnya, apapun yang dipakai nona ibu dan tuan Glen, tidak akan menjadi masalah intinya pernikahan jangan dibatalkan.” Romi ikut berbicara, dia berdiri di samping Leoni dan Glen saat itu.
“Ny benar apa kata Romi, apapun yang kamu gunakan besok itu tidak akan mempengaruhi sakralnya pernikahan, yang terpenting adalah kita menikah. Aku akan mengusahakan yang terbaik, malam ini aku akan berusaha.” Glen memeluk Leoni erat-erat. “Aku tidak mau pernikahan kita batal.” Bisik Glen lagi ditelinga Leoni dan mendapat tanggapan Leoni dengan menganggukkan kepalanya sambil menghapus air mata yang berjatuhan membasahi baju yang dipakai Glen.
Semua orang berusaha menghibur Leoni dan berusaha membuatnya tenang.
***
Malam saat terjadinya kebakaran.
Luna menerobos masuk ke lokasi kebakaran sampai dibatas yang ditentukan oleh petugas keamanan dan petugas pemadam kebakaran. Dia berusaha masuk menerobos api untuk dapat menyelamatkan beberapa barang yang bisa dia selamatkan namun ketika sampai di depan pintu, api sudah berkobar keluar melalui pintu itu, api sangat cepat
melahap seluruh isi di dalam butik apalagi yang ada di dalam butik tersebut sebagian besar adalah kain yang mudah terbakar.
“Mba.” Salah satu petugas pemadam kebakaran melihat Luna yang terlempar karena hembusan api yang sangat besar. “Mba disini sangat berbahaya, tolong jangan menerobos lagi.” Petugas itu menggiring Luna menjauh namun dia tetap berontak berusaha untuk masuk ke dalam butik.
__ADS_1
“Lepaskan!” Luna memberontak sekuat tenaga berusaha melepaskan diri, matanya menatap ke arah suatu tempat yang masih bisa dia jangkau, dia secepat mungkin merogoh kunci serep dari saku celananya yang kebetulan ada ditangannya karena dia yang bertugas mengontrol tempat tersebut kemudian menuju ke tempat itu walaupun petugas mengejarnya. “Jangan menghalangiku, masi ada yang bisa aku selamatkan dari butik ini.” Kata Luna dengan kasar kepada beberapa petugas.
“Mba.” Teriak salah satu petugas mengikuti Luna dari belakang.
“Orang itu nekat sekali.” Kata petugas lainnya yang menyaksikan perbuatan Luna saat itu.
Luna berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan apapun yang bisa dia selamatkan dari kobaran api.
***
Glen pun merasa frustasi melihat keadaan Leoni yang memprihatinkan, diapun bingung mau melakukan apa. Besok seharusnya hari H pernikahan mereka dan seharusnya saat ini mereka tengah berbagahiah mempersiapkan segala sesuatu tapi cobaan datang didepan mata, air mata bahagiah diganti dengan air mata kesedihan, dan rasa putus asa menanti hari esok.
Seharian itu Glen berusaha menghubungi beberapa kenalan desainer namun tak ada satupun yang punya cadangan wedding costum, semua yang ready di butik mereka sudah merupakan pesanan orang yang tidak memungkinkan untuk diberikan pada Glen dan Leoni.
***
“Kalau memang tidak ada lagi yang cocok dan pas untuk kita berdua, aku pakai yang ini saja.” dengan wajah muram dan sedih Leoni mengutak atik isi dalam lemari pakaiannya, beberapa saat kemudian dia mengeluarkan dari lemarinya dress lama berwarna putih gading yang sangat sederhana. “Kamu pakai tuksedo mu yang ada saja.” Kata Leoni pasrah.
“Iya Ny, itu pun cantik.” Kata Glen menghibur Leoni. “Yang terpenting adalah kita tetap menikah.” Kata Glen lagi.
***
Disuatu tempat.
__ADS_1
“Dimana ini?” Luna tersadar dari tidurnya. Dia mengedarkan pandangan ke seisi ruangan dimana dia berada, pikirannya belum terkumpul seutuhnya dia beerusaha mengingat apa yang terjadi dan kenapa dia ada ditempat itu. “Linda?” Luna kaget melihat Linda yang duduk disamping tempat dia tidur. “Kenapa aku ada di sini? Ini di mana” Tanya Luna pada Linda ketika dia berhasil mengamati dimana dia berada sekarang.
“Tadi kamu pingsan disaat menerobos api, jadi aku bawah ke sini bersama petugas.” Jawab Linda.
Mereka saat itu ada di klinik kesehatan dekat butik milik Linda yang terbakar.
Feedback.
“Luna…..” Teriak Linda saat sampai di lokasi kebakaran saat itu, dia melihat seperti bayangan orang yang dia kenal tengah dibopong oleh beberapa petugas karena hampir pingsan, ya itu adalah Luna. “Aku pemilik butik itu, aku Linda dan dia karyawanku.” Jelas Linda pada petugas yang sedang membawah Luna. “Dia kenapa?” Tanya Linda pada petugas itu.
“Dia kekurangan oksigen karena terlalu banyak menghirup asap dan terkurung di dalam mobil dengan kobaran api mengelilinginya.” Jelas petugas pada Linda. “Itu mobilnya berhasil diselamatkan tapi mba ini butuh penanganan medis.” Petugas menunjuk ke arah mobil yang sudah terparkir di tempat yang aman.
“Kita bawah dia ke klinik depan sana saja!” Linda menunjuk ke arah klinik yang tidak jauh dari lokasi itu namun masih dalam posisi aman tidak terjangkau oleh kobaran api.
Petugas medis di klinik tersebut pun sudah siap menyambut sekiranya ada korban akibat kebakaran di butik itu, mereka sedang memantau dan siap siaga jika dibutuhkan bantuannya. Mereka langsung menangani Luna, dan malam itu berhasil sadarkan diri.
***
“Terus mobilnya di mana?” Tanya Luna setelah mendengarkan penjelasan Linda kenapa sampai dia berada di klinik tersebut.
***
Like
__ADS_1
Komen
Vote