
Mama Glen yang kegirangan membayangkan apa yang dilakukan anaknya semalam bersama sang istri, dia mengharapkan agar mereka segera memberikan cucu untuknya. Mama dengan semangat segera menemui papa yang masih beristirahat di dalam kamar mereka.
“Pah, paa.” Mama menggoyang-goyangkan tubuh papa agar bisa bangun.
Menyadari ada pergerakan dari istrinya, papa pun mengerjapkan matanya sampai terbuka dengan sempurna.
“Ada apa sih ma?” Tanya papa bingung karena tidak seperti biasanya mama membangunkannya dengan paksa seperti itu, biasanya mama akan membangunkan papa jika ada hal yang amat sangat penting dan mengharuskan papa untuk turun tangan. “Ada masalah apa?” Tanya papa lagi karena mama belum menjawab pertanyaannya.
“Mama ada kabar baik pa.” Jawab mama dengan penuh semangat, wajahnya terpancar aura kebahagiaan. “Coba papa tebak deh!” kata mama yang tidak mau langsung menyampaikan maksud perkataannya itu.
“Apaan sih ma? Tebak apa? Jangan bikin papa penasaran deh!” Tanya papa kesal karena tidak mendapat jawaban yang memuaskan dari istrinya itu.
“Ah papa kurang asik deh!” Mama kesal karena papa tidak mau meladeninya. “Iya, iya. Papa tahu nggak?” Lagi-lagi mama mengutarakan pertanyaan yang membuat papa tambah bingung.
“Mama, ada apa sih? langsung omong saja deh!” tekan papa.
“Iya papa.” Kata mama dengan sedikit emosi. “Tadi tuh Glen dan Leoni aneh banget.” Mama mulai mengutarakan maksud pembicaraannya walaupun masih membuat papa kesal karena tidak langsung to the poin.
“Aneh gimana sih ma? Lah tadi katanya kabar baik? Kok sekarang bilang aneh sih?” tanya papa semakin menuntut penjelasan.
“Ih papa nih tidak asik banget deh di ajak bicara.” Kesal mama. “Semalam mereka berdua sudah tit tit pa.” Bisik mama ke telinga papa sambil menautkan kedua jari telunjuknya.
“Aduh ma maksudnya apa sih? papa tambah bingung dengan mama deh.” Papa semakin tidak mengerti maksud perkataan mama.
“Ini loh pah!” Mama malakukan gestur tangan pada papa untuk menjelaskan.
__ADS_1
“Maksud mama?” Papa mengerti maksud papa namun dia pingin memperjelas apakah apa yang ada dipikirannya sama dengan yang mama maksud.
“Iya pa.” Mama lagi-lagi melakukan gestur tangan untuk meyakinkan papa.
“Gimana, gimana? Coba mama jelaskan.” Papa sangat bahagiah ketika mengerti maksud perkataan mama. “Mama tahu dari mana?” papa tambah penasaran pingin tahu.
“Gini loh pa, barusa itu mama ketemu dengan mereka berdua.” Mama sedikit memperlambat menjelaskan.
“Lah terus? Apa mereka kasi tahu ke mama apa yang mereka lakukan?” Papa merasa malu sekiranya apa yang dia katakan itu benar namun selain itu papa pun penasaran pingin tahu kebenarannya.
Papa membayangkan kenapa tanpa rasa malu mereka bisa memberi tahu ke mamanya apa yang mereka lakukan semalam dan tanpa menutup-nutupi.
“Gini loh pa, mereka tidak memberi tahu secara langsung sih, tapi mereka berdua itu aneh banget loh, beraninya keluar dari kamar tanpa membereskan tanda cinta mereka itu, coba papa bayangkan dibagian leher mereka berdua terdapat bekas merah yang banyak.” Mama tersenyum menyampaikan apa yang dilihatnya tadi. “Bukan hanya di leher Glen loh pa, di leher Leoni juga. Coba papa bayangkan seganas apa adegan mereka berdua semalam? Berapa ronde mereka bermain? Hahaha.” Mama tertawa sekuat mungkin.
Apa yang dilakukan oleh Glen dan Leoni membawah mereka kembali ke masa muda mereka dimana awal mereka menikah dulu dan mejadi pasangan suami istri, hal yang sama pun pernah mereka alami sehingga mereka bisa menghasilkan Glen yang mungil.
“Hahaha… benar juga ma.” Papa juga ikut tertawa bahagiah.
“Anak-anak itu lucu juga yah pa.” Mama membayangkan sikap Glen dan Leoni tadi.
Setelah Leoni dan Glen selesai mandi, mereka melakukan diskusi untuk mengatasi mama sekiranya mama membahas kejadian tadi pagi. Setelah itu mereka turun ke bawah untuk sarapan. Demikian juga mama dan papa, setelah selesai membahas tentang kejadian yang terjadi pada Glen dan Leoni saat itu serta kejadian yang terjadi pada mereka di masa lalu, akhirnya mereka juga turun ke ruang makan untuk sarapan.
Di ruang makan mereka duduk melingkar di meja makan, nampak Leoni dan Glen diam saja saat itu terutama Leoni yang terus-terusan menundukkan kepalanya karena malu mengingat kejadian tadi pagi. Sedangkan mama dan papa terus-terusan tersenyum nampak wajah mereka sedang berbahagiah.
Mereka menikmati sarapan dengan suasana hening walaupun sesekali mama terkekeh membayangkan apa yang sudah dilakukan oleh anak dan menantunya pada malam pertama mereka sebagai pengantin baru.
__ADS_1
Tiga puluh menit mereka habiskan untuk sarapan pagi itu. Selesai sarapan mereka menuju ke ruang tengah untuk menikmati pagi dengan berbincang-bincang, bertepatan hari itu Glen masi ijin tidak masuk kantor jadi ada waktu baginya untuk bersama dengan keluarganya apalagi saat itu masih ada banyak hal di rumah yang belum dibereskan setelah acara pernikahan mereka kemarin.
“Mama apaan sih? kok dari tadi tertawa seperti itu?” bisik Glen pada mamanya itu.
“Ah tidak. Tidak ada apa-apa kok.” Mama mengelak dengan penyebab kenapa sikapnya seperti itu.
“Sepertinya mama menertawakan kami deh.” Leoni mengangkat kepalanya dan menatap mama mertuanya itu sambil berkata dalam hatinya.
“Mama pasti bohong.” Desak Glen.
“Ehm.” Mama nampak ragu untuk menjawab pertanyaan Glen apalagi dia mendapat tatapan mematikan dari anaknya itu. “Itu salep yang mama kasih tadi sudah dipakai?” Tanya mama basa-basi walaupun sebenarnya itu merupakan pertanyaan yang tepat bagi Leoni dan Glen karena bekas merah di leher mereka telah memudar.
Glen dan Leoni merutuki diri mereka sendiri kenapa tadi sebelum keluar dari kamar tidak melihat kondisi lehernya terlebih dahulu sebelum keluar. Bahkan mereka merasa aneh kenapa keduanya tidak saling memperhatikannya tadi padahal sebelum Leoni keluar dari kamar Glen sempat berbicara dengannya terlebih dahulu. Walaupun merasa demikian tapi mereka tidak menyalahkan satu sama lain justru mereka senang karena tidak ada yang berniat menutupi apa yang mereka lakukan semalam, perlahan-lahan rasa malu pun surut dari keduanya.
“Makasi ma.” Jawab Glen dan Leoni singkat.
“Iya sama-sama.” Mama masih tertawa membayangkan anaknya di atas tempat tidur bersama sang istri.
“Glen, papa dan mama sangat berharap kamu bisa mencetak gol secepatnya.” Kata papa menyambung pembicaraan mereka saat itu.
“Hah?” Glen dan Leoni kaget mendengar perkataan papa.
***
Jangan lupa mampir juga di novel yang baru aku yah!
__ADS_1
Melatinya Wiliam