
Pesawat pribadi milik keluarga Glen mengantarkannya dari Manado ke Makassar selama satu jam empat puluh menit dan singgah selama dua jam untuk mengisi kembali bahan bakar, setelah itu melanjutkan ke Maumere dan akhirnya mendarat di Bandara Frans Seda Maumere yang ditempuh dengan satu jam tiga puluh menit. Selanjutnya menempuh perjalanan darat sampai ke Larantuka selama kurang lebih empat jam lamanya.
“Uhhh akhirnya, sampai juga.” Kata Paulo kakaknya Paula yang kali ini menemani Glen, dia sebagai asisten Glen yang baru, di depan penginapan yang akan menjadi rumah mereka untuk beberapa hari kedepan selama berada di Larantuka. “Ayo tuan!” Kata Paulo lagi ketika tidak mendapatkan respon dari Glen yang sedang melamun entah memikirkan istrinya atau karena apa.
“Ah yah.” Glen menanggapi Paulo, dia langsung turun dari mobil yang telah membawah mereka selama berjam-jam itu, kemudian masuk ke dalam kamar penginapan yang telah mereka booking terlebih dahulu.
“Tuan. Kenapa kita tidak tingaal di villa saja?” Tanya Paulo setibanya di depan pintu kamar.
Glen menarik nafas dalam-dalam, dia merogoh kunci kamar penginapannya dari saku celananya dan menatap Paulo dengan tatapan yang tidak terbaca. “Nanti baru dipikirkan lagi. Saat ini biar disini saja dului.” Glen meninggalkan Paulo yang masih termenung di depan pintu kamarnya yang saat itu bersebelahan dengan kamar Glen.
“Hufft terserah tuan saja lah!” Kata Paulo setelah Glen sudah masuk ke dalam kamarnya, diapun ikutan masuk ke kamarnya untuk mengistirahatkan dirinya yang cukup lelah karena menempuh perjalanan yang cukup jauh.
Besok harinya Glen dan Paulo segera menuju ke lokasi dimana perusahaannya berada untuk bertemu dengan manager cabangnya di sana dan para karyawannya untuk menyelidiki masalah yang terjadi di perusahaannya itu.
***
Besok harinya pagi-pagi sekali, Glen dan Paulo sudah siap menuju ke lokasi perusahaan namun sebelumnya mereka menyempatkan diri untuk sarapan di ruang makan hotel tempat mereka menginap.
“Tuan Glen datang.” Sang Manager meneriaki para karyawannya yang sedang berada di lokasi bersamanya agar menyambut kedatangan sang presiden direktur. Sesegera mungkin mereka berkumpul dan membuat dua barisan yang membuka bagian tengah untuk menjadi jalan masuk bagi Glen dan sang asistennya. Para karyawan segera menunduk memberi hormat. “Silahkan tuan.” Sang Manager memberikan gestur tangan mengarahkan Glen dan Paulo menuju ke salah satu ruangan setelah dia menyambut mereka dan bersalaman dengan keduanya.
__ADS_1
Glen dan Paulo mengikuti sang manager dari belakang, mereka menuju ke salah satu ruangan yang telah dipersiapkan sebagai ruang kerja Glen di sana.
“Silahkan duduk!” Perintah Glen pada semua orang yang ikut masuk ke dalam ruangan itu, mereka adalah para petinggi perusahaan di tempat mereka berada saat itu.
“Terima kasih.” Semua orang secara bersamaan merespon perkataan Glen sambil duduk di tempat yang telah dipersiapkan.
Beberapa saat setelah mereka semua sudah duduk di hadapan Glen, Paulo dan sang manager, Glen menarik sebelah tangan Paulo dan membisikan sesuatu kepada sang asisten itu.
“Baik.” Paulo merespon perkataan Glen dengan memberikan sedikit anggukan kepala, setelahnya dia berdiri untuk membuka pertemuan mereka saat itu tanpa membuang-buang waktu lagi.
“Baik tuan, menurut saya para petani mente di Flores Timur ini sebenarnya di ancam oleh pihak asing yang juga sama-sama pengelolah mente, mereka mencari mente sebanyak-banyaknya untuk mereka kirim ke negaranya tapi mereka menghargai hasil panen dari para petani dengan harga yang sangat murah.” Jelas sang manager membuka pembicaraan mereka setelah diberi kesempatan oleh Paulo.
“Mereka menyiksa dan bahkan sering menghukum para petani apabila ditemukan menjual hasil mereka kepada kita.” Jelas seorang karyawan yang lain lagi menyambung pembicaraan yang dikatakan oleh pembicara sebelumnya.
“Mereka memaksa para petani untuk menjual hasil kepada mereka sedangkan para petani tidak mau menjual mente kepada pihak asing tersebut karena mereka dibayar dengan harga yang sangat kecil dan tidak sesuai dengan yang diharapkan.” Sambung seorang karyawan berikutnya.
Para karyawan yang lebih tepatnya lagi petinggi perusahaan itu bersahut-sahutan memberikan informasi secara menggebu-gebu pada Glen yang dengan tenang dan seksama mendengar setiap cerita dari para karyawannya itu.
“Yang dilakukan oleh perusahaan asing itu membawah kerugian yang sangat besar bagi kita karena selama beberapa minggu ini hanya sedikit mente yang dapat diproduksi, bisa dikatakan hal ini membuat kita tidak bisa
__ADS_1
mengirim mente ke perusahaan pusat sehingga pendapatan kami di sini sangat tidak memadai sedangkan kita harus membayar sekian banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya pada perusahaan kita ini.” Tambah sang manager.
“Para petani juga tidak sejahtera karena penghasilan mereka dari hasil menjual mente tidak mampu membiayai kebutuhan keluarga mereka, selain itu penyiksaan yang mereka alami menyebabkan sekian banyak petani yang cedera sehingga tidak bisa lagi mengurus kebunnya.” Jelas seorang karyawan lagi.
“Bagaimana ini tuan?” Tanya Paulo yang sedari tadi termenung mendengarkan ungkapan hati dari beberapa orang yang mengemukakan pendapatnya saat itu. Telinganya semakin panas mendengarkan keluh kesah mereka saat itu, tidak sabar rasanya ingin memberi pelajaran pada perusahaan asing yang menjadi saingan mereka saat itu.
Nampak sejenak Glen berpikir, wajahnya tertunduk dengan mata tertutup dengan jari telunjuk tangan kanan menepuk-nepuk jidatnya layaknya para ilmuwan yang sedang memikirkan penemuan apa yang akan dia lakukan, sementara dirinya sedang memikirkan nasib para petani dan karyawan yang bergantung pada perusahaannya.
“Terima kasih atas informasi dari kalian semua, saya minta untuk saat ini kalian tenang dan bersikap seperti biasanya, jangan menghiraukan mereka, tetap menjalankan tugas kalian dengan baik, saya akan berusaha menyelesaikan masalah ini secepatnya.” Jelas Glen setelah berpikir sejenak. “Selidiki perusahaan asing tersebut!” Glen berbisik pada Paulo dan memberikan perintah pada asistennya itu.
“Siap tuan.” Kata Paulo dengan tegas.
Sesaat setelah Glen memberi perintah padanya, Paulo langsung merogoh handphone dari saku celananya dan mulai menghubungi beberapa orang kepercayaannya dan beberapa temannya yang dipercaya bisa membantunya melalui pesan singkat. Beberapa kali terlihat Paulo menerima panggilan di smartphonenya itu, dia mendengarkan apa yang disampaikan oleh orang yang ada di seberang teleponnya itu.
“Halo.” Paulo berdiri dari tempat duduknya dan melangkah agak jauh dari orang-orang itu berada agar mereka tidak mendengarkan pembicaraannya melalui sambungan telepon itu.
“Saudara-saudara, saya persilahkan kalian semua untuk keluar dari ruangan ini dan kembali bekerja, saya dan tuan Glen akan berusaha menyelesaikan masalah ini.” Perintah Paulo tanpa meminta izin terlebih dahulu pada sang atasan.
Glen menatap bingung pada Paulo yang mengusir semua orang untuk keluar dari ruangan itu, dia mengernyitkan keningnya pertanda meminta penjelasan atas tindakan tersebut.
__ADS_1