KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Ijin dari Glen


__ADS_3

“Kapan kamu berangkat?” Tanya Glen masih dengan ekspresi tidak menerima.


“Tolong jangan seperti itu, ku mohon!” Rengek Leoni yang tahu kalau Glen marah. “Gleenn..” Leoni menatap Glen dengan tatapan penuh pengasihan dan Glen membalas tatapan Leoni tanpa berkedip sedikitpun.


“Kamu tidak merasa kasihan sedikitpun denganku?” Tanya Glen sedih.


“Kasihan?” Tanya Leoni bingung.


“Iyaa, mungkin saja orang-orang nanti ngomongin aku, ih sih Glen cowok ganteng tapi lagi-lagi ditinggal pacarnya atau lebih tepatnya calon istri.” Glen terhenti sejenak. “Heemmm.... atau mungkin istri.” kata Glen melanjutkan. “Sih


Glen orang kaya raya, CEO lagi tapi istrinya masih harus bekerja sebagai guru renang, di luar daerah lagi. Apa belum cukup? Atau dia tidak menafkahi istrinya?” Kata Glen mengandai-ngandai.


“Sayaaaaanggggg... berlebihan deh.” Leoni tersenyummendengar perkataan Glen.


“Itu tidak berlebihan, melainkan kenyataan yang nanti akan terjadi padaku kalau kamu pergi.” Kata Glen datar.


“Oke baik. Mungkin apa yang kamu katakan itu benar nantinya akan terjadi seperti itu. Orang-orang akan omongin kita seperti itu. Tapi semua tergantung dari tanggapan kita dan cara kita menjalaninya. Kita tidak perlu mempedulikan apa kata orang karena bukan mereka yang akan menjalaninya, semua tergantung pada kita sendiri.” Kata Leoni.


Sejenak Glen berpikir tentang kata-kata Leoni itu dan menimbang-nimbang bagaimana harus mengambil keputusan agar tidak ada yang tersakiti. Dia benar harus berbesar hati dan mensuport Leonidan tidak egois pada dirinya sendiri.


“Oke.” Kata Glen spontansetelah sejenak berpikir.


“Hah?” Leoni kaget.


“Baiklah, kita coba jalani dulu.” Kata Glen singkat.


“Maksudnya? Coba apa?” Tanya Leoni mencoba menebak-nebak apa maskud Glen. “Kamu?” Leoni tersenyum, dia mengerti apa artinya perkataan Glen itu namun rasanya tidak percaya, dia ingin Glen mengungkapkannya dengan jelas.


“Iya, kamu bisa pergi.” Kata Glen singkat. Setelah menimbang-nimbang dan berpikir keras sejenak, akhirnya dia mengambil keputusandan memberanikan diri menyatakannya melalui perkataan.


“Yang benar?” Leoni memastikan.


“Iya.” Jawab Glen singkat.


“Makasi...” Leoni secara spontan mencium pipi Glen dan memeluknya. “Jadi kamu memberiku ijin untuk pergi ke Kupang?” Tanya Leoni lagi, rasanya tidak percaya mendapatkan persetujuan dari kekasih hatinya itu.


“Tapi ada syaratnya.” Kata Glen.


“Syarat apa?” Tanya Leonimengertukan kening.

__ADS_1


“Kalau kamu melakukan hal-hal yang aneh, aku akan langsung menjemputmu pulang saat itu juga.” Jawab Glen dengan tegas. “Aku mengijinkanmu tapi bukan berarti kamu bisa bebas di sana dan ingat perkataanmu tadi!” Kata Glen.


“Perkataanku? Apa itu?” Leoni balik tanya.


“Akan selalu pulang di saat ada waktu libur.” Bisik Glen.


“Iyaa....” Leoni tersenyum.


“Dan jangan menolak kalau aku pergi mengunjungimu di sana.” Glen menunjukkan wajah serius


“Aku akan sangat senang kalau kamu pergi mengunjungiku, tapi ingat!” Balas Leoni


“Ingat apa?” Tanya Glen.


“Ingat tanggung jawabmu di perusahaan! Jangan mau liburan melulu.” Leoni tersenyum mengingatkan.


“Iya..” Kata Glen pasrah. “Kapan kamu pergi?” Tanya Glen ingin tahutapi dengan nada bicara yang sudah berubah dari sebelumnya, kali ini terdengar tulus.


“Kalau kamu udah tanda-tangan surat permohonanku, mungkin besok malam aku berangkat, karena dua hari lagi aku sudah harus menjumpai siswa-siswaku.” Jawab Leoni.


“Hah?? Secepat itu?” Glen kaget. “Aku pikirnya masi beberapa hari, beberapa minggu atau beberapa bulan lagi.” Kata Glen lagi. “Kalau gitu aku belum mau tanda-tangan.” Kata Glen usil.


“Hah??” Glen tambah bingung.


“Surat yang akan kamu tanda-tangani itu adalah surah pindah kuliah agar aku bisa melanjutkan kuliah di sana dengan jurusan yang sama walaupun kampus yang berbeda. Gituuu.” Jelas Leoni. “Jadi kalau kamu tidak menanda-tanganinya berarti aku tidak akan kuliah lagi dong.” kata Leoni


“Ohh jadi...??” Glen mau menebak sesuatu tapi langsung dipotong pembicaraannya oleh Leoni.


“Walaupun aku sudah bekerja, aku tetap mau menyelesaikan kuliahku, jadi sambal kerja yah kuliah juga.” Kata


Leoni. “Biar orang-orang tidak pada ngomongin kamu, si Glen orang kaya raya tapi pacarnya, eh tidak, istrinya, kok tidak sarjana yah? Apa dia tidak mau membiayai kuliah istrinya itu?” Sindir Leoni yang membuat mereka berdua tertawa.


“Oke…. oke aku tanda-tangan.” Glen mengambil map yang berisi dokumen yang harus dia tanda-tangani dan mulai menorehkan tinta di atas dokumen tersebut, namun dia pura-pura menunjukkan ekspresi ngambek.


“Ikhlas tidak nih? Kok ekspresinya tidak enak gitu kelihatannya?” Tanya Leoni.


“Tapi Ny, aku mau kita bicara serius, kapan kita nikahnya? Kalau kita terpisah oleh jarak seperti ini nanti?” Glen tidak menanggapi perkataan Leoni, sepintas terlintas pikiran menikah dipikiran Glen dan langsung dia utarakan.


“Haruskah kita bahas itu sekarang?” Tanya Leoni.

__ADS_1


“Heemmm.. ya sudah. Nanti baru kita bahas.” Glen jadi ngambek. “Aku harus ngomongin masalah ini dengan mama, pasti mama punya punya solusi.” Kata Glen dalam hati, sejenak dia ingin mengikat Leoni dengan sebuah


hubungan yang jelas mengingat mereka akan terpisah oleh jarak.


“Aku kontrak kerja tiga tahun di sana. Tapi dalam perjalanan, bisa kita rencanakan itu kan?” Kata Leoni


“Apa tiga tahun?” Glen shok mendengar perkataan Leoni. “Aku mungkin bisa menunggu Ny, tapi orang tua ku? Heeemmm... aku harus minta bantuan mama untuk menyelesaikan hal ini.” Kata Glen dalam hati dengan penuh keyakinan, pasti orang tua nya bisa membantu.


“Tiga tahun itu cepat kok, bisa kan?” Rengek Leoni. “Kamu masih memberiku ijin kan? Kamu bersedia aku pergi kan?? Glen.. aku ....” Rengek Leoni yang kemudian memeluk Glenbermohon.


“Iya aku mengijinkanmu.” Glen mengelus rambut Leoni yang tergerai indah.


Glen melirik jam tangan yang terpasang di tangannya, “Pantes saja.” Kata Glen.


“Pantes kenapa?” Leoni bingung.


“Pantes lapar sayangkuu.” Glen menunjukkan jam di tangannya ke arah Leoni, dia berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas masalah diantara mereka itu dulu dan kebetulan waktu sudah larut serta perutnya keroncongan pertanda lapar.


“Waduh, sudah jam 10 malam?” Leoni kaget. “Ayo pulang!” Leoni mengambil Hp nya dari saku. “Aduh Hp ku mati, pasti mama sudah menelpon ku berulang-ulang.” Leoni panik.


“Salahmu, tadi kan waktu telpon kamu bilang sebentar lagi pulang. Eh malah sudah berjam-jam tidak ingat pulang.” ledek Glen.


“Karena kamu tuh...” Leoni ngambek.


“Kok aku sih?” Glen tertawa. “Tidak usa berdebat lagi, ayo!” Glen masuk ke dalam mobil diikuti Leoni.


“Sayang,katanya kamu lapar?” Leoni tidak malu-malu memanggil Glen dengan sapaan sayang.


“Hah? Kamu bilang apa??” Glen usilpura-pura tidak mendengarkan perkataan Leoni.


“Sayaangg.. ah…. telinga nya gangguan yah?” Leoni emosi.


“Hahahaa... sayang? Heemmm…. Kalau sayang, kenapa dong kamu masih mau ninggalin aku yah? Kamu tidak


takut aku direbut orang lain gitu?!” Sindir Glen sambil tertawa, dia mengelus Leoni dengan tangan kirinya yang bisa bebas melepas stir kemudi.


“Kamu...” Leoni menghempaskan tangan Glen yang mengelus kepala nya.


“Iya.. iya...” Glen lagi-lagi tertawa dan kembali fokus dibalik kemudianya.  “Kita cari tempat jualan makanan dulu baru pulang yah..” kata Glen lagi

__ADS_1


Kali ini perjalanan pulang menyenangkan, mereka berdua saling bercanda, saling cubit-cubitan dan pokoknya bahagiah banget.


__ADS_2