KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Hari Bahagiah


__ADS_3

Glen dan Leoni berjalan beriringan menuju ke gereja didampingi oleh Paula dan Romi sebagai bridesmaid. Mereka mengiringi Leoni dan Glen menuju ke altar sambil mama Glen dan Leoni menyalakan lilin di altar.


Leoni dan Glen melangkahkan kaki menuju altar, mereka terlihat tegang dan gugup memasuki altar suci itu walaupun dengan langkah pasti mereka terus melangkahkan kakinya seirama.


Lagu-lagu pengiring pernikahan pun dikumandangkan oleh choir sambil semua keluarga mengikuti langkah Glen dan Leoni memasuki gereja.


“Dasar Pernikahan : Pada awal dunia, Allah menjadikan mereka laki-laki dan perempuan, sebab itu laki-laki harus meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Demikianlah mereka bukan lagi dua melainkan satu. Karena itu, apa yang dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Pendeta membacakan dasar pernikahan yang harus dijalankan dalam berumah tangga. “Baiklah sekarang saya mengajak kedua mempelai berdiri dan sambil berjabat tangan menjawab pertanyaan berikut ini.” Kata pendeta mengajak mereka berdua berdiri dan saling berpegangan tangan untuk menjawab pertanyaan sekaligus mengucapkan janji pernikahan. “Glen adakah saudara dengan sadar, penuh ketulusan hati berjanji menerima Leoni yang tangannya kau genggam sebagai istrimu yang sah serta bersedia melakukan kewajiban-kewajibanmu selaku seorang suami?” Tanya sang pendeta pada Glen.


“Ya saya Glen berjanji, bersedia menerima Leoni sebagai istriku yang sah dan tetap mengasihi serta mencintainya seumur hidupku dan menjalankan kewajiban-kewajibanku sebagai suami dengan penuh ketulusan hati, baik dalam suka maupun duka, baik dalam kebahagiaan maupun penderitaan.” Jawab Glen dengan rasa percaya diri, lantang dan tegas dalam satu kali tarikan nafas, tidak ada rasa gugup sedikitpun ketika dia mengucapkannya.


“Ya saya Leoni berjanji, bersedia menerima Glen sebagai suamiku yang sah dan tetap mengasihi serta mencintainya seumur hidupku dan menjalankan kewajiban-kewajibanku sebagai istri dengan penuh ketulusan hati baik dalam suka maupun duka, baik dalam kebahagiaan maupun penderitaan.” Jawab Leoni ketika sang Pendeta menanyakan pertanyaan yang sama dengan yang diutarakannya pada Glen.


Selanjutnya Paula dan Romi sebagai bridesmaid berdiri membawahkan kotak perhiasan kepada Glen dan Leoni kemudian mereka berdua saling memasangkan cincin ke jari manis masing-masing sebagai tanda ikatan pernikahan diantara mereka berdua, Glen memasangkan cincin ke jari Leoni dan begitu pun sebaliknya. Semua orang yang hadir di gereja saat itu menyambutnya dengan tepukan tangan yang meriah, diakhiri dengan ciuman cinta yang disematkan Glen ke bibir manis Leoni. Setelah itu pendeta memberkati pernikahan mereka serta mendoakan kebahagiaan pernikahan mereka.


Kedua mata Leoni berderai air mata bahagiah begitu juga dengan Glen dan semua orang yang ada disitu, Leoni dan Glen berlutut dihadapan kedua orang tua mereka seraya meminta maaf atas semua perbuatan mereka yang menyakitkan pada kedua orang tuanya dan meminta restu mereka untuk rumah tangga yang baru mereka jalani itu. Deraian air mata dari kedua orang tua Leoni dan Glen membasahi pipi mereka, bukan karena kesedihan dan sakit hati melainkan karena kebahagiaan dan kerelaan mereka melepas anaknya menjadi istri dan suami orang. Suasana haru dan sakral itu berakhir dan mereka menuju ke hotel tempat resepsi dilaksanakan.

__ADS_1


***


Diatas pelaminan Leoni dan Glen terlihat memakai baju pengantinnya yang berbeda dengan baju yang dipakai saat pemberkatan nikah di gereja tadi. Acara pernikahan mereka dilanjutkan dengan resepsi yang mewah dan sangat berkesan bagi semua orang yang hadir saat itu.


Selesai menjamu semua tamu mereka, Glen dan Leoni nampak sibuk menyalami para tamu yang naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat dan ada juga yang berpamitan pulang bahkan ada teman-teman mereka yang datang memberikan kado pernikahan, termasuk Luna.


“Selamat yah atas pernikahan kalian, semoga bahagiah selamanya.” Luna bersalaman dengan Glen dan Leoni serta memberikan kado pada Leoni. Leoni menerima pemberian Luna itu kemudian menyerahkan pada Paula untuk diletakkan di tampat yang sudah disiapkan bersama dengan tumpukan kado lainnya yang telah diberikan oleh beberapa orang sebelumnya.


“Makasi Lun. Semoga kamu juga segera mendapatkan pasangan yang baik untukmu.” Kata Leoni dengan tulus sebelum Luna berlalu dari hadapannya.


“Satu, dua, tiga…” Semua peserta menghitung bersama-sama sebelum Leoni dan Glen melemparkan bunga pada hitungan ke tiga.


Buket bunga yang dilempar oleh Glen dan Leoni tersebut jatuh ke tangan Paula dan Romi yang tanpa sadar menangkap bunga tersebut bersamaan.


Saat bunga dilemparkan, Romi berlari ke arah bunga tersebut dilemparkan sedangkan Paula terpaku ditempat dimana bunga itu jatuh sehingga bersamaan mereka menangkap bunga itu. Mereka berdua berdebat dan memperebutkan bunga itu, keduanya mengklaim bahwa bunga tersebut menjadi miliknya, seketika lampu ruangan tersebut dimatikan tersisa sorotan lampu menyinari mereka berdualah yang menyala. Terdengar suara MC memanggil mereka berdua yang sedang memegang buket bunga itu.

__ADS_1


“Yah, inilah kedua orang yang sudah menangkap buket bunga dari mempelai kita.” MC menunjuk ke arah sorotan lampu. “Siapakah mereka?” tanya MC membuat orang-orang penasaran. “Semoga saja mereka merupakan sepasang kekasih, agar mereka bisa segera menyusul menjadi pasangan pengantin.” Kata sang MC sambil melangkah mendekat pada Paula dan Romi. “Ayo ikut aku ke atas pelaminan.” MC menarik mereka berdua untuk mengikutinya.


Paula dan Romi tidak berkata apa-apalagi, semua mata sudah tertuju pada mereka berdua.


“Paula? Romi?” Dari atas pelaminan Leoni menyaksikan kedua orang tersebut berebutan buket bunga yang baru saja dilemparnya. Leoni memberikan gerak tubuh pada Glen untuk melihat siapa yang memegang buket bunga itu, setelah itu mereka berdua tersenyum entah apa maksud dari senyuman mereka.


“Apa kalian semua setuju kalau mereka berdua akan segera menyusul mengikuti langkah Glen dan Leoni?” Sang MC mengajukan pertanyaan pada para undangan dan mendapatkan jawaban mendukung mereka berdua untuk menikah.


Setelah menanyakan nama, MC itu pun mewawancarai mereka berdua, nampak yang ada bukan keromantisan melainkan permusuhan.


“Baiklah kalau kalian bukan sepasang kekasih.” Sang MC kecewa mendengar jawaban mereka yang mengatakan mereka bukan pasangan. “Tapi sepertinya kalian berdua sangat cocok deh untuk menjadi suami istri, heemmm saya yakin setelah acara ini berakhir kalian akan memulai tapak baru dalam kehidupan kalian, dimulai dari permusuhan akan muncul benih-benih cinta.” Kata MC pada Romi dan Paula.


***


Jangan lupa berikan dukungannya untuk Glen dan Leoni dengan cara like, komen, vote dan giftnya, semakin banyak dukungannya semakin semangat author melanjutkan ceritanya.

__ADS_1


__ADS_2