KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Wedding Invitation


__ADS_3

“Luna, bantu aku!” Panggil Linda yang sedang mengecek semua pakaian yang sudah siap kemudian memindahkan pakaian tersebut dari gantungan ke dalam lemari penyimpanan.


Luna membantu Linda menyimpan semua gaun dan tuksedo tersebut sesuai dengan daftar nama yang ada di gantungannya dengan tulisan di bagian depan lemari. Dia mengambil baju yang baru saja diberikan oleh Linda, dia melewati lemari penyimpanan yang terpampang nama Leoni dan Glen, “Ini pakaian yang akan di pakai oleh mereka?” Kata Luna dalam hati saat membaca nama pemesan dan tanggal pernikahan yang terpampang di depan kaca lemari tersebut. Di perhatikannya beberapa gaun dan tuksedo yang ada di dalam lemari tersebut, emosi kembali berkobar dalam hatinya.


“Sudah? Ayo pindahkan yang lainnya lagi!” Linda mengagetkan Luna yang sedang mengamati lemari penyimpanan di hadapannya, dia menyuruh Luna mengambil beberapa pasang pakaian lagi yang masih berada di gantungan untuk dimasukan ke dalam lemari. Luna pun melakukan apa yang diperintahkan oleh Linda.


Sambil mengerjakan pekerjaannya, terbersit ide jahat di benak Luna, apalagi dia punya keinginan untuk menggagalkan pernikahan Glen dan Leoni.


“Lihat saja nanti.” Luna menyunggingkan bibirnya, dia tersenyum sinis mengingat apa yang akan dia lakukan untuk memenuhi keinginannya yang hendak menggagalkan pernikahan Leoni dan Glen. Entah apa yang ada dalam pikiran Luna saat ini. “Acara kalian tiga hari lagi yah?” Luna masih tersenyum sinis setiap kali melewati lemari yang tersimpan pakaian pernikahan Leoni dan Glen.


Seusai jam kerja, hari itu Luna dan teman-teman kerjanya, mereka ada lima orang, mendapat traktiran makan oleh Linda karena butik mereka mendapat banyak orderan wedding costum.


“Makan di mana nih bos?” Tanya Luna saat mobil yang dikendarai Linda mulai membelah keramaian malam dari butik menuju ke tempat takan.


“Ada deh pokoknya, nanti juga kalian akan tahu.”Jawab Linda. “Aku punya kafe langganan yang best sellernya makanan Chiken Milk Geprek terenak, kalian mau coba kan? Dijamin enak pokoknya” kata Linda lagi.


“Mau dong.” Serempak ketiga teman mereka itu menjawab.


“Kamu Lun?” Tanya Linda.


“Boleh juga deh, aku penasaran jadinya dengan Chiken Milk Geprek yang katanya terenak itu.” Jawab Luna.


Perjalanan menuju ke tempat tujuan memakan waktu sepuluh menitan dari butik.


Memasuki lokasi kafe yang dimaksud oleh Linda membuat Luna merasa tidak asing dengan tempat tersebut, “Ini kan kafe milik Anita?” Kata Luna dalam hati.

__ADS_1


Merasa tidak asing dengan tempat tersebut membuat Luna yang akhirnya menuntut teman-temannya masuk kemudian memesankan tempat makan VVIP dan mengantarkan mereka ke tempat yang dia pesan tersebut.


“Lun, kamu sepertinya tidak asing dengan tempat ini?” Tanya salah seorang temannya.


“Iya ini kafe milik temanku, teman sekolah sih.” Jawab Luna santai. “Dulu sering nongkrong disini tapi sekarang tidak lagi, bahkan aku tidak tahu kalau di sini ada menu Chiken Milk Geprek yang menjadi best seller nya.” Lanjut Luna menjelaskan.


Setelah daftar pesanan sudah mereka tulis, Luna pun mengantarkannya ke tempat pemesanan makanan.


“Luna?” Anita yang keluar dari dalam ruangannya hendak mengambil minuman untuk tamunya, kaget melihat siapa yang membawahkan daftar pesanan makanan ke mejanya.


“Hai Nit.” Luna menyapah Anita dengan santai seolah menjaga jarak diantara mereka.


“Kamu dengan siapa ke sini?” Tanya Anita basah-basih.


“Aku sama bos dan rekan kerjaku.” Jawab Luna santai.


“Ngobrol apa sih? Aku gak enak sama bos ku.” Kata Luna hendak membantah dan tidak mau ikut dengan Anita.


“Ini ada Leoni sama Glen loh.” Kata Anita ketika pintu ruangannya sudah terbuka dan memperlihatkan siapa yang ada di dalam ruangannya.


Luna kaget melihat siapa yang ada di dalam ruangan Anita, ingin rasanya meninggalkan tempat itu tapi apa daya tangannya sedang dipegang oleh Anita. Lagian kalau dia pergi begitu saja, terkesan bahwa dia mau menghindari mereka.


“Hai.” Luna pura-pura menyapah kedua sahabatnya itu.


“Mereka lagi nyebarin wedding invitation Lun.” Kata Anita tersenyum lebar sambil menuntun Luna bergabung dengan Leoni dan Glen.

__ADS_1


“Oh yah, bagus dong.” Luna sedikit terbata mendengarkan apa yang baru saja Anita ucapkan.


“Ini untuk mu.” Anita mengambil selembar kertas undangan yang bertuliskan nama Luna dan menyerahkannya. “Baru saja kami tulis, tadi rencananya nanti sore mereka antar ke rumahmu tapi kebetulan sudah ketemu di sini, ya sekalian saja kan?!” Kata Anita lagi.


Suasana hati Luna menjadi tidak baik namun dia masih bisa menyembunyikannya di depan mereka. “Oke makasi.” Luna mengambil lembar undangan tersebut dari tangan Anita.


Ting…


Ting…


(Hp di tangan Luna berbunyi)


“Kamu di mana Lun?” isi pesan singkat dikirimkan oleh Linda yang langsung dibaca Luna.


“Ini bos ku nyariin aku, aku harus gabung dengan mereka.” Kata Luna menunjukkan Hp ke arah Anita dan langsung berlalu meninggalkan mereka. “Syukurlah, pesan singkat Linda menyelamatkanku, kalau tidak akut tidak tahu harus bagaimana di dalam sana.” Kata Luna setelah keluar dari dalam ruangan Anita.


Luna kembali bergabung dengan Linda dan kawan-kawannya, sedikit berderai air mata dipipinya, memikirkan pria yang dicintainya akan segera menikah, hati Luna hancur.


Linda dan ketiga temannya memperhatikan tingkah Luna yang nampak aneh setelah kembali bergabung dengan mereka, beberapa kali nampak tatapannya kosong dan sesekali pun air mata jatuh di pipinya. Mereka saling senggol tangan untuk memberitahu apa yang mereka lihat, walaupun tidak ada satupun diantara mereka yang berinisiatif untuk menanyakan pada Luna apa yang terjadi padanya, tiba-tiba tingkahnya menjadi aneh seperti itu. Setelah makanan datang, mereka pun langsung menyantapnya tanpa mempedulikan Luna lagi kebetulan saat itu juga mereka sudah sangat lapar, mereka makan sambil bercerita masalah mereka masing-masing sampai makanan di piring mereka habis, saking serunya pembicaraan mereka saat itu, mereka pun tidak memperhatikan Luna ternyata hampir satu jam piring di hadapan Luna isinya masih utuh dan tidak tersentuh sama sekali.


“Luna?” Linda memberanikan diri menyentu pundak Luna yang duduk disampingnya itu. “Kamu kenapa?” Tanya Linda. “Kamu tidak lapar? Lihat makanan kami sudah habis, sedangkan kamu minuman saja tidak disentuh sama sekali.” Linda menunjuk ke arah meja.


“Ah? Kalian sudah selesai makan?” Luna bingung melihat makan dihadapan teman-temannya telah disantap habis sedangkan miliknya sendiri yang masih utuh. “Kok tidak kasih tahu aku kalau makanannya sudah ada sih?” Luna mau mengalihkan kesalahannya namun tanpa dia sadar perkataannya itu membuat teman-temannya tambah bingung.


“Yah sudah kamu makan dulu!” Kata Linda dengan lembut.

__ADS_1


“Aku makan di rumah saja, biar nanti makanannya dibungkus saja.” kata Luna kebetulan ada pelayan yang masuk ke dalam ruangan mereka mengantarkan makanan penutup, sehingga dia menyuruh untuk membungkus makanannya.


Malam itu mereka kembali ke rumah masing-masing dengan senang karena sudah kenyang, sedangkan Luna hatinya bersedih apalagi melihat surat undangan Leoni dan Glen yang ada ditangannya.


__ADS_2