KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Mengembalikan Leoni


__ADS_3

Besok harinya, mereka kembali ke Manado menggunakan pesawat pribadi milik keluarga Glen yang sudah setia parkir di bandara Kupang menunggu kapan saja dibutuhkan oleh Glen.


“Akhirnya aku kembali ke kotaku tercinta.” Leoni merentangkan kedua tangannya setelah turun dari pesawat dan menginjakan kakinya kembali ke tanah Nyiur Malambai Manado, tempat kelahirannya.


“Ahirnya aku bisa membawahmu kembali ke kota tercinta ini.” Glen memeluk Leoni dari belakang dan menaruh kepalanya di pundak. “Ayo! Keluargamu pasti sudah menunggumu.” Kata Glen lagi.


Leoni tersenyum bahagiah, dia membayangkan bagaimana senangnya kedua orang tua bersama adiknya ketika mereka melihat dia ada dihadapannya, wajahnya nampak berseri-seri, tak sabar sampai di rumah kedua orang tuanya, rumah masa kecilnya yang sangat dia rindukan.


Mereka melanjutkan perjalanan dari bandara menuju ke rumah Leoni, sepanjang perjalanan Leoni menatap ke arah luar jendela mobil, dia menikmati hembusan udara kota Manado dan pemandangan kota yang telah banyak berubah hanya dalam waktu yang singkat.


“Kota ini semakin indah saja.” Kata Leoni menyaksikan keindahan kota sepanjang jalan yang mereka lalui.


Glen menanggapi perkataan Leoni dengan tersenyum manis, “Semoga kisah kita juga akan seindah kota ini yang semakin hari semakin bertambah.” Kata Glen, mereka berdua saling bertatapan dan tersenyum dengan harapan yang sama.


30 menit perjalanan dari bandara ke rumah Leoni, rasanya tidak sabar Leoni ingin segera sampai di rumahnya, sesekali dia bertanya pada Glen “Masih lama kah perjalanannya?” rasanya seperti baru pertama kali datang ke tempat itu sehingga dia tidak tahu atau tidak ingat lagi dimana rumahnya berada.


Ketika mobil yang mengantar mereka sudah terparkir tepat didepan rumah, Leoni menjadi gugup, dia memusatkan perhatiannya pada bangunan rumah yang selama ini dia rindukan, rumah sederhana namun penuh canda tawa dan kehangatan di dalamnya.


“Kamu tidak mau turun?” Glen mengagetkan Leoni yang sedang melamun.


Leoni langsung meloncat keluar dari dalam mobil dan berlari ke arah gerbang rumahnya yang nampak sepih. “Apa ada orang di rumah? Mereka ada tidak? Atau jangan-jangan…” Leoni ragu untuk masuk.


“Ny, ayo!” Ajak Glen menarik lengan Leoni dan menuntunnya masuk ke dalam rumah. Benar saja rumah dalam keadaan tidak terkunci sehingga memudahkan mereka untuk masuk. Langkah kaki Leoni melambat ketika pintu rumah telah terbuka. “Kenapa?” tanya Glen.

__ADS_1


“Entahlah.” Leoni bingung dengan perasaannya saat ini.


“Leoni?” mama Leoni tiba-tiba keluar dari dapur karena mendengar seperti ada yang membuka pintu rumahnya, dia kaget melihat Leoni didepan pintu rumahnya tersebut. “Kau kah itu?” Mama Leoni kurang yakin dengan penglihatannya, dia berpikir bahwa Leoni masih di daerah Fatuleuh yang tidak ada jaringan komunikasi sehingga tidak memungkinkan baginya untuk sekarang ini berada di hadapannya.


“Mama…” Leoni menyambar mama dengan pelukan serta tangisan haru. “Ini aku anakmu ma.” Kata Leoni mencium kedua pipi mamanya.


Mama Leoni tidak menyangka jika anaknya benar-benar telah kembali, rasanya bahagiah sekali bisa kembali bersama anaknya itu. Air mata haru pun menetes dengan sendirinya, mata cantik nan indah itu dibanjiri buliran bening tersebut, dengan semangat dia memanggil suaminya dan anak laki-lakinya. Beberapa saat kemudian papa dan adik Leon pun ikut bergabung dengan mereka, rasa senang mereka luapkan dengan memeluk anaknya itu.


“Ny…” Glen membuyarkan suasana haru diantara mereka.


“Glen.” Leoni tersadar kalau ada Glen di antara mereka, Leoni melepaskan pelukannya dengan kedua orang tuanya dan mendekat pada Glen menyuruhnya duduk.


Sementara itu, Kevin adik Leoni menahan amarahnya melihat keberadaan Glen disitu, dia masih berpikiran negatif pada Glen karena perbuatan Glen yang dulu mengusir mereka saat ada di Kupang, keadaan itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.


“Mama, papa.” Glen mulai membuka suara.


“Beraninya dia memanggil mama dan papa pada kedua orang tua ku?” Kevin jengkel dalam hatinya mendengar perkataan Glen.


Glen tidak pantang menyerah, dia mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menghadapi kedua orang tua Glen saat itu. Dia mulai berbicara dan menjelaskan semua yang terjadi diantara dia dan Leoni, dimulai dengan kejadian yang menyebabkan dia mengusir mereka dari Kupang saat itu.


“Jadi waktu itu kamu sendiri tidak tahu kalau Leoni yang kamu lihat atau bukan?” Kevin menanggapi perkataan Glen dengan marah dan dibalas dengan anggukan Glen menyetujui perkataan Kevin tersebut. “Dan kamu tanpa mencari tahu kebenarannya langsung marah?” tanya Kevin lagi.


“Kev, biar dia menyelesaikan ceritanya dulu!” Kata Papa.

__ADS_1


Glen kembali melanjutkan ceritanya, semua orang mendengar setiap perkataan yang Glen keluarkan dari mulutnya.


“Oh jadi yang kamu lihat itu Melati dengan Wiliam?” Papa kaget mengetahui kebenarannya dan lagi-lagi mendapatkan anggukan dari Glen.


Lanjut Glen menceritakan penyebab dia mengusir mereka, karena alasan emosi meluap dikepalanya sehingga dia tidak dapat berpikir dengan jernih, langsung mempercayai begitu saja apa yang dia lihat dan tidak mempertanyakan pada Leoni terlebih dahulu.


“Kedepannya, kalau ada masalah apapun harus diselesaikan dengan kepala dingin dan dibicarakan berdua terlebih dahulu, jangan sampai emosi yang lebih menguasai diri kalian.” Pesan papa setelah mendengarkan cerita Glen.


Selanjutnya Glen menceritakan kejadian yang menyebabkan Leoni pergi ke daerah Fatuleh dan bagaimana usaha yang dia lakukan sehingga berhasil membawah Leoni bersamanya kembali ke Manado dan saat ini bisa pulang ke rumah orang tuanya.


“Di sana Leoni sempat dekat dengan seorang pria, hati ini sempat kecewa dan berpikir kalau Leoni akan lebih memilihnya. Wajar saja karena aku tahu kesalahan yang aku buat sungguh telah menyakitkan hatinya sehingga melihatku saja Leoni tidak mau apalagi sekedar bercerita denganku, aku berusaha ikhlas jika memang Leoni tidak mau kembali padaku. Namun dengan usaha yang tidak mudah, aku berusaha menceritakan kejadian yang sebenarnya dan akhirnya berhasil.”Jelas Glen. “Ternyata mereka berdua hanya sebagai teman.” Lanjut Glen lagi sambil tersenyum menatap Leoni.


“Aku minta maaf atas kesalahan yang telah aku buat, maaf telah menyakiti kalian. Mama, papa, aku mohon!” Glen memohon dihadapan kedua orang tua Leoni, dia berlutut dihadapan mereka.


“Berdiri, kamu tidak harus melakukan hal ini.” Papa menarik Glen berdiri.


“Aku rasa ini sangat pantas untuk aku lakukan, tidak sebanding dengan luka yang aku torehkan ke dalam hati kalian, aku tidak akan berdiri sebelum mendengarkan kata maaf dari kalian. Sekali lagi maafkan aku.” Glen tidak mau berdiri malah kembali bermohon kepada calon mertuanya itu.


“Kami sudah memaafkanmu.” Air mata mengalir di pipi mama Leoni, dia memeluk Glen dan menuntunya berdiri. Rasa haru kembali terasa diantara mereka semua. “Terima kasih sudah membawah Leoni kembali.” Kata mama lagi.


“Makasi ma, pa, Kev.” Glen berusaha merangkul mereka bertiga dalam satu dekapannya.


Kevin yang awalnya tidak bersedia, akhinrya luluh juga. “Aku yang telah membawah Leoni ke Kupang, dan aku juga yang harus mengembalikannya. Sekarang aku membawah Leoni kembali ke sini.” Kata Glen.

__ADS_1


__ADS_2