KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA

KRIKIL TAJAM SETAJAM CINTA
Weekend


__ADS_3

Besok harinya Leoni mulai full dengan aktivitasnya ditemani oleh beberapa guru dan staf di yayasan tersebut. Hari itu mereka melaksanakan seleksi tahap awal pada semua siswa di sekolah itu.


Beberapa hari berjalan, Leoni dan Glen menjalin hubungan dengan baik, di selah aktivitas mereka selalu menyempatkan diri untuk menghubungi satu sama lain. Leoni selalu memberi tahu Glen apa saja yang dia lakukan, begitupun sebaliknya.


“Mba besok kan weekend nih, mba ada kegiatan tidak?” Melati menghampiri Leoni yang saat itu sedang bersiap-siap untuk pulang.


“Besok?” Nampak Leoni sedang berpikir akan melakukan apa besok. “Kayaknya sehabis gereja aku di rumah saja. Pingin istirahat saja.” Lanjut Leoni.


“Heemmmm… padahal aku sama Wiliam mau ngajak mba jalan-jalan.” Kata Melati.


Leoni berpikir sejenak, dia sempat terpikir dengan perkataan Glen yang melarangnya untuk dekat dengan Wiliam sehingga membuat dia agak bimbang antara mau ikut atau tidak. “Lagian kan ada Melati dan Paula kan?!” kata Leoni dalam hati. “Emangnya mau jalan-jalan ke mana?” tanya Leoni.


“Rencananya hanya cari-cari jajanan di Pantai Pasir Panjang saja, terus dinner, setelah itu pulang deh.” Jawab Melati. “Mba belum pernah ke sana kan?” Tanya Melati lagi.


“Belum sih. Aku kan baru di sini.” Jawab Leoni.


“Yah sudah, ikut saja! Yah?!” Melati membujuk Leoni untuk ikut dengan mereka.


“Baik.” Jawab Leoni singkat. “Sampai jumpa besok.” Leoni meninggalkan Melati di ruangan itu.


Seperti rencana Leoni weekend hari minggu itu di pagi harinya dia menyempatkan mengiktui kebaktian di gereja, setelah itu seharian dia di rumah saja. Namun dia tidak lupa dengan janjinya pada Melati untuk ikut jalan-jalan.


Tepat jam 5 sore Leoni dan Paula menuju ke tempat yang sudah mereka rencanakan untuk bertemu Melati dan Wiliam. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk menelusuri pesisir pantai sambil menikmati jajanan yang di jual di sepanjang pinggiran pantai.


“Sudah jam 8 malam?” Bisik Paula yang melirik ke arah jam tangannya yang melingkar indah di pergelangan tangannya.


“Tidak terasa yah.” Kata Melati dengan polos. “Kita makan malam dulu baru pulang yah!” Lanjut Melati. “Wil gimana?” Tanya Melati.


“Baik. Mau makan di mana?” kata Wiliam seolah meminta pendapat yang lainnya.


“Aku sih ngikut saja.” Jawab Leoni.


“Oke, kalau gitu kita ke 777 resto saja.” Lanjut Wiliam.


Mereka menuju ke mobil masing-masing, Melati menumpang dengan Wiliam, sedangkan Leoni dengan Paula. Mobil yang dikemudikan oleh Paula mengikuti mobil Wiliam dari belakang.


“Selamat datang.” Pelayan restoran menyambut kedatangan mereka sambil membukakan pintu bagi tamunya itu.

__ADS_1


“Reservasi Wiliam.” Kata Wiliam pada pelayan tersebut.


“Ayo lewat sini pak, bu!” pelayan tersebut menuntun mereka menuju ke ruangan makan VIP yang sudah dipesan Wiliam saat dalam perjalaan menuju ke tempat itu.


“Suguhkan makanan dan terbaik kalian!” perintah Wiliam pada pelayan itu.


“Baik tuan. Mohon di tunggu beberapa menit untuk kami menyiapkan makanannya.” Kata pelayan itu sebelum kembali menuju ke dapur.


Beberapa menit kemudian pelayan kembali masuk ke ruangan mereka untuk menyajikan makanan bagi mereka.


“Selamat menikmati.” Kata kepala pelayan setelah mereka selesai menyiapkan makanan di atas meja makan.


Empat orang menikmati makanan dengan tenang, semua sibuk dengan pilihan makanan di atas piring masing-masing.


“Huk… huk… huk…” tiba-tiba Leoni tersedak dengan makanan yang ada di mulutnya.


“Mba??!” Paula yang duduk di samping Leoni mengelus pundaknya. “Mba kenapa?” tanya Paula lagi.


“Pelan-pelan makannya.” Dengan sigap Wiliam yang duduk di depan Leoni mengambil selembar tisu dan membersihkan sisa makanan yang menempel di pinggir bibir Leoni kemudian memberikan segelas air putih yang ada di depannya.


“Makasi.” Leoni menerima air minum yang diberikan oleh Wiliam kemudian meminum sedikit sampai dia merasa legah.


“Makasi.” Leoni lanjut memakan makanan yang masih ada di pirngnya.


“Wiliam nih apa-apaan sih? Kok seperhatian itu dengan mba Leoni?” kata Melati dalam hatinya. Dia merasa jengkel melihat Wiliam yang perhatian dengan Leoni.


Setelah itu mereka semua kembali fokus dengan makanan yang ada di piring masing-masing dan menyantap beberapa makanan penutup yang sudah tersedia di atas meja sambil berbincang-bincang.


“Kring… kring…. Kring….” Hp Leoni berdering.


“Saya terima telpon sebentar yah.” Leoni mengayunkan Hp nya kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berjalan sedikit jauh dari tempat mereka makan. “Halo.” Leoni menerima telpon.


“Telpon dari siapa?” Tanya Wiliam setelah Leoni kembali.


“Pasti dari tuan Glen yah?” sambung Melati.


“Iya.” Jawab Leoni jujur.

__ADS_1


“Gimana kabarnya?” lanjut Melati basa-basi.


“Dia baik-baik saja.” Jawab Leoni.


“Enak yah mba Leoni dapat laki-laki kayak tuan Glen, sudah baik, ganteng, perhatian lagi. Walaupun sibuk tetap saja mengabari dan sempat-sempatnya menghubungi mba.” Kata Melati lagi.


“Permisi.” Pelayan yang tadi masuk beberapa saat kemudian, setelah mereka selesai menikmati makan malamnya. “Selamat menikmati beer terbaik dari resto kami.” Pelayan itu meletakkan gelas untuk mereka berempat kemudian menuangkan beer yang dibawahnya. “Ini bonus dari kami untuk tuan dan nona sebagai promosi minuman terbaru dari kamu.” Lanjut pelayan itu.


“Terima kasih.” Wiliam dan Leoni bersamaan.


“Permisi.” Pelayan undur diri.


“Issshhhhh…. Terima kasih saja pakai kompak gitu.” Melati semakin jengkel melihat tingkah Wiliam dan Leoni.


“Saya permisi ke toilet.” Leoni yang tidak pernah minum beer merasa mabuk dan perutnya mulai mules padahal baru dua teguk beer yang diminumnya.


“Mari aku temani.” Paula sontak berdiri hendak menemani Leoni.


“Paula, biar aku saja yang menemani Leoni.” Melati ikut berdiri.


“Iya, biar Melati saja. Kamu tunggu di sini saja, aku hanya mau pipis.” Bisik Leoni pada Paula.


“Baik.” Kata Paula tanpa ada pikiran buruk


“Kok mereka lama sekali sih?” Wiliam mulai gelisah karena Leoni dan Melati sudah hampir 20 menit ke toilet.


“Pak Wiliam omong apa?” Tanya Paula yang tahu Wiliam sempat bicara namun dia tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Wiliam.


“Aku cek mereka ke toilet dulu.” Wiliam hendak berdiri dari duduknya.


“Biar aku saja. Aku kan cewek. Masa Pak Wiliam ke toilet cewek sih?” Paula masih berpikir rasional.


“Ayo cepat! jangan sampai terjadi apa-apa pada mereka.” Lanjut Wiliam. “Masa ke toilet saja sudah hampir 20 menit.” Kata Wiliam panik.


“Hah? 20 menit?” Paula melirik jam tangannya. “Ayo pak kita cek sama-sama!” Paula berdiri dari tempat duduknya menuju ke tempat di mana toilet berada, diikuti oleh Wiliam. “Mereka tidak ada di dalam.” Paula tergesah-gesah keluar dari ruangan toilet wanita setelah memeriksa seluruh ruangan tersebut.


***

__ADS_1


Mohon dukungannya selalu yah para readers.


__ADS_2