
Setelah pesawat yang ditumpangi keluarganya take off, Leoni memesan taxi online dengan membawah semua barangnya. “Kunci mes guru masih ada di saya, sebaiknya saya ke sana saja sekarang, kalaupun di usir, baru aku cari kosan atau kontrakan.” Kata Leoni dalam hatinya kemudian menyebutkan alamat tujuannya pada sang supir seperti alamat yang dia masukkan pada aplikasi pemesanan taxi online.
“Semoga saja aman di sini sementara waktu.” Leoni turun dari mobil kemudian melangkahkan kakinya ke depan pintu mes guru yang sebelumnya diberikan pihak yayasan sebagai tempat tinggalnya sebelum pindah ke vila Glen.
Dia mencoba menghubungi Paula untuk sekedar bertanya kondisi di rumah Glen, namun no Hp Paula tidak lagi aktif. “Ahh pasti dia dalam kendali Glen, kenapa aku harus menghubunginya lagi?!” kata Leoni dalam hati.
Besoknya Leoni kembali ke sekolah untuk bekerja, keadaan di sekolah aman-aman saja seperti tidak terjadi apa-apa pada dirinya dan Glen. Semua sangat menghormatinya seperti biasa, bahkan pak Lukas dan pak George pun demikian, mereka berlaku seperti biasa saja. “Apa Glen tidak memberi tahu mereka kejadian kemarin?” tanya Leoni dalam hati, dia sendiri yang menjadi bingung. Leoni terus bertanya-tanya dalam hati namun disisi lain dia bersyukur kalau mereka masih memperlakukannya dengan baik. “Ah lebih baik aku kerja saja, lihat saja sebentar, mungkin Glen belum memecatku atau bagaimanalah.” Dalam benak Leoni harusnya saat ini Glen sudah melayangkan surat pemecatan pada dirinya karena ekspresi kemarin sepertinya Glen marah besar dan bahkan mungkin tidak mau melihat wajahnya lagi, apalagi dekat-dekat dengannya walaupun dia sendiri tidak tahu apa penyebabnya. Jadi untuk apa mempertahankannya bekerja di yayasannya? Yang kemungkinan besar dapat sering bertemu kalau dia datang.
“Kok sejak tadi aku tidak melihat Melati dan Wiliam yah?” tiba-tiba Leoni teringat dengan dua orang yang selalu berpapasan dengannya di sekolahan. “Kenapa mereka tidak masuk? Mungkinkah mereka ijin?” katanya lagi. Sejak pagi sampai jam sore mereka berdua tidak ada.
Sesampainya di mes guru setelah menyelesaikan pekerjaannya, Leoni menyempatkan diri melirik ke mes yang menjadi tempat tinggal Wiliam namun tidak nampak siapapun di sana, bahkan sepertinya mes itu tidak berpenghuni lagi.
“Selamat pagi pak George.” Sapah Leoni pagi itu kebetulan berpapasan di ruang personalia saat Leoni melaporkan kehadirannya.
“Pagi juga.” Sapah pak George singkat.
“Sejak kemarin aku tidak melihat Wiliam dan Melati.” Leoni basa basi.
“Hehehe… Melati ijin, katanya capek mengurus acara yang kemaren itu jadi hari ini dia tidak masuk.” Pak George tertawa. “Sedangkan Wiliam tidak bekerja di sini lagi. Dia mutasi.” Jelas Pak George singkat.
“Mutasi? Kenapa?” tanya Leoni penasaran.
“Saya juga tidak tahu alasannya, yah di yayasan ini selalu begitu ada yang tiba-tiba mutasi ada juga yang tiba-tiba naik pangkat dan sebagainya.” Pak George masih melayangkan senyuman manisnya.
__ADS_1
“Oh begitu yah pak? Oke aku kerja dulu.” Leoni berlalu dari hadapan pak George. “Jangan-jangan karena aku sampai Wiliam di pecat?” Leoni bertanya-tanya dalam hatinya.
***
Tiga bulan cepat sekali berlalu, Leoni menjalankan tugasnya dengan sangat baik, selama itu dia fokus melatih 10 orang siswa yang menjadi utusan sekolah dalam mengikuti sport tourism dan selama itu dia tidak pernah mendengar kabar dari Glen, bak menghilang ditelan bumi Glen pun tidak pernah mengunjungi Kupang, beberapa kali Leoni mencoba untuk menelpon Glen namun selalu saja nomornya tidak aktif.
Hasil sangat memuaskan dicapai Leoni dan tim, mereka membawah pulang piala umum dan beberapa penghargaan lainnya, intinya nama harum yayasan berhasil dicetak di tingkat internasional.
“Pak Lukas, tugasku di sini sudah selesai, untuk itu aku pamit untuk kembali ke keluargaku.” Kata Leoni setelah kembali ke sekolah bersama tim nya dalam acara serah terima penghargaan yang mereka peroleh ke pihak yayasan.
“Terima kasih untuk semua dedikasimu bagi yayasan ini, mungkin apa yang kami berikan padamu selama inu tidak sebanding dengan apa yang sudah kalian peroleh.” Pak Lukas menanggapi perkataan Leoni. “Untuk itu kami pihak yayasan akan mengadakan acara perpisahan khusus untukmu minggu depan, kami harap kamu mau menunggu sampai hari itu.” Pintah Pak Lukas.
“Baiklah, saya menghargai niat baik kalian.” Leoni menerimah tawaran pak Lukas untuk melaksanakan acara perpisahan dengannya secara khusus.
***
“Glen.” Panggil papanya pagi itu sewaktu dia baru saja pulang dalam keadaan yang sangat memprihatinkan. “Besok kita ke Kupang.” Lanjut papanya.
“Untuk apa ke sana? aku tidak akan pernah ke sana lagi.” Kata Glen dengan sangat menyedihkan.
“Sekarang kamu mandi, papa tunggu di sini. Kita perlu bicara.” Perintah papanya, Glen langsung menuju ke kamarnya untuk mandi.
Walaupun dalam keadaan kurang baik, tapi kalau papanya bicara dia selalu menuruti, 30 menit kemudian Glen sudah agak fresh dan sudah bisa berdiskusi, dia menghampiri papa di ruang tengah.
__ADS_1
“Apa yang mau papa bicarakan?” Tanya Glen setelah duduk tepat didepan papanya, disitupun sudah ada mamanya.
Papa menjelaskan maksud mengajak Glen bicara saat itu sekaligus menyampaikan laporan yang baru saja pak Lukas kirimkan.
“Baiklah, besok kita ke Kupang.” Glen menanggapi dengan singkat. “Papa atur semuanya, aku tidur dulu.” Glen langsung berdiri meninggalkan papa dan mamanya yang masih ingin bicara.
“Ma, sungguh kasihan sekali anak kita itu.” Kata Papa Glen.
“Iya pa, tapi kita harus gimana?” Mama balik bertanya.
“Semoga besok dia dan Leoni bisa menyelesaikan permasalahan di antara mereka.” Jawab papa.
“Iya pa semoga, mama sedih sekali melihat Glen begini selama tiga bulan ini.” Kata Mama lagi.
Besok harinya mereka sudah siap berangkat ke Kupang, Glen dan kedua orang tuanya menuju ke bandara bersamaan.
“Glen.” Teriak seorang wanita yang mungkin sudah menunggu sejak tadi. “Aku di sini.” Wanita itu sengaja melambaikan tangan supaya Glen melihatnya. “Ayo!” wanita itu menggandeng tangan Glen setelah telah berada di dekatnya, nampak dia juga menenteng kopernya, mungkin dia juga akan melakukan penerbangan.
Orang tua Glen diam saja menyaksikan perlakuan wanita itu pada Glen saat itu.
“Pa, ada apa ini? Dia juga ikut dengan kita?” Tanya mama saat wanita yang tadi itu mengikuti mereka ke arah tempat pesawat pribadi mereka berada.
“Papa juga tidak tahu ma.” Jawab papa polos.
__ADS_1