
Hati Glen rasa tercabik-cabik, sungguh nyata pemandangan dihadapannya saat ini, tidak seperti kejadian waktu itu yang dia lihat dalam remang-remang dan wajah Leoni tidak terlihat, tapi kali ini sungguh sangat jelas siapa yang ada di hadapannya, Romi tengah memanjakan Leoni yang sedang menangis sambil merangkul tubuh Leoni dengan sangat hati-hati. Sungguh nampak romantis.
Bukan hanya Glen, semua orang yang ikut ke rumah Airin saat itu pun kaget melihat apa yang sedang dilakukan oleh Romi dan Leoni. Romi yang mereka kenal cool dan tidak pernah menaruh perhatian pada seorang wanita, nampak saat ini menunjukkan sisi romantisnya, bapa desa pun sangat berharap Leoni dan Romi akan terus bersama, dia tidak peduli dengan Glen yang mengaku calon suami Leoni, namun sebagai pimpinan di desa ini maka dia pun berlaku bijaksana.
Mereka semua bingung bagaimana caranya menghampiri Leoni dan Romi, semua orang terpaku di luar teras tanpa ada satu orang pun yang bergerak bahkan sekedar bunyi nafaspun takut mereka keluarkan melihat keromantisan diantara kedua orang tersebut dan nampak juga bersama mereka Glen yang terlihat tengah menumbuhkan bara api yang sangat panas dalam dirinya, wajahnya memerah menahan emosi, kedua tangan terkepal dengan sangat erat, urat-urat di tangannya bermunculan. Paula sendiripun takut menegur tuannya karena dia tahu bagaimana emosionalnya tuannya tersebut.
“Ny… ini kah pilihanmu? Aku tahu terlalu sakit hatimu atas perbuatanku, aku tahu ini semua salahku, aku sendirilah yang membuat diriku hancur sampai saat ini menyaksikan betul-betul dirimu bersama laki-laki lain, ini bukan sekedar tuduhanku namun jelas dihadapanku dengan mata kepalaku sendiri, Ny sakit banget rasanya.” Tangis
Glen dalam hati, dia berhasil meloloskan bulir-bulir bening dari pelupuk matanya yang tanpa diperintahpun langsung keluar dengan sendirinya. “Walaupun aku tahu kamu sudah menentukan pilihanmu pada pria itu namun aku harus tetap meminta maaf padamu, agar aku bisa tenang walaupun hati ini sakit.” Kata Glen lagi dalam hati.
“Aku ambil air dulu, kamu tunggu di sini! Jangan nangis lagi.” Kata Romi dengan penuh perhatian. “Bapa?” Romi kaget, sekembalinya dari dapur mengambil air untuk Leoni, dihadapannya sudah banyak orang dibawah pimpinan papa nya.
“Hah?” Leoni berbalik melihat ke arah pintu, benar saja banyak orang diluar, termasuk Glen dan Paula beserta beberapa pengawal yang dibawah oleh Glen. Dia tahu saat ini tidak memungkinkan untuk lari dan bersembunyi dari mereka. “Mungkin sudah waktunya untuku bertemu dengannya.” Kata Leoni dalam hati, dia menghapus bulir air mata yang masih membekas dipelupuk matanya.
“Minum dulu!” Romi masih berlaku romantis dan perhatian pada Leoni walaupun dia tahu ada Glen di situ. Romi menyuapkan air ke mulut Leoni.
__ADS_1
“Makasi.” Leoni meminum air yang diberikan oleh Romi.
Hati Glen semakin panas melihat apa yang Romi lakukan pada Leoni. Sungguh sederhana namun bisa menguggah hati.
“Kita bicarakan baik-baik yah?” Bisik Romi ke telinga Leoni yang dijawab Leoni dengan anggukan. “Kamu serahkan padaku.” Kata Romi lagi di telinga Leoni yang lagi-lagi dibalas dengan anggukan.
“Bapa, ada apa?” Romi bertanya pada papa nya dengan santai, seperti tidak ada apa-apa.
“Bapa perlu bicara denganmu dan Nona Ibu.” Jawab Bapa Desa dengan singkat. “Tuan dan yang lainnya tunggu di sini. Aku bicara dulu dengan mereka berdua. Setelah itu baru bisa diputuskan apakah tuan bisa bicara dengan nona ibu atau tidak. Saya harap semua menghargai keputusannya. Saya akan berusaha membujuknya.” Kata Bapa Desa kemudian mengajak Romi masuk menemui Leoni.
Romi dan Leoni nampak berpandang-pandangan, mereka mengerti maksud pernyataan yang baru saja disampaikan oleh Bapa Desa, mereka sadar dengan apa yang baru saja mereka lakukan, memang hanya sekedar pelukan biasa karena Romi mau menenangkan Loeni namun dari pandangan orang pasti maksudnya lain. Walaupun sebenarnya Romi melakukan itu karena dia mulai memiliki perasaan terhadap Leoni. Disisi lain Leoni takut berbicara karena tidak mau menyakiti hati Romi dan kalau dia bicara memberi tahu kalau mereka tidak ada hubungan apa-apa, di luar ada Glen, mungkin saja Glen akan berpikiran bahwa Leoni melakukan itu karena dirinya, Romi pun sebaliknya dia tidak tahu perasaan Leoni padanya seperti apa, dia takut jika dia salah mengungkapkan perasaan dan malah ditolak oleh Leoni maka dirinyalah yang akan sakit.
“Nona ibu, di luar ada tuan Glen.” Bapa desa memecah keheningan diantara mereka berdua. “Bapa mohon dengarkan perkataan bapa dulu.” Kata Bapa Desa karena melihat tingkah Leoni seperti akan menolak Glen. “Bapa sudah tahu hubungan kalian sebelumnya seperti apa, tuan Glen sudah menyampaikan pada Bapa. Dan tujuannya datang ke sini hanyalah untuk datang menjelaskan masalah diantara kalian berdua dan meminta maaf padamu, selebihnya keputusan ada di tanganmu.” Jelas bapa desa.
“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi bapa, sudah sangat jelas dia memintaku pergi dan bahkan mengusirku bersama keluargaku waktu itu dan juga sudah sangat jelas dia akan menikah dengan sahabatku sendiri. Apa lagi yang perlu dijelaskan bapa?” Leoni menangis dan dengan sigap Romi mengambil alih tubuhnya, mengusap lembut kepalanya dengan bisikan-bisikan jangan menangis, bicarakan semua dengan baik-baik. “Maaf bapa, aku masih menolak untuk bertemu dengannya untuk saat ini, aku belum siap bicara dengannya. Tolong suruh dia pergi.” Leoni masih menangis.
__ADS_1
Bapa desa menghargai keputusan Leoni, dia menyampaikan pesan yang disampaikan Leoni, dia pun menghadang Glen untuk masuk ke dalam rumah.
“Ini kah rasanya sakit Leoni? Mungkin apa yang aku rasakan saat ini sama seperti perasaanmu waktu itu, waktu aku menolak untuk berbicara denganmu.” Glen menyadari kesalahannya dan memahami rasa sakitnya.
“Bapa tolong bantu aku.” Glen memohon pada bapa desa, tak tanggung-tanggung dia pun berlutut di hadapan bapa desa, sama seperti dulu Leoni berlutut dihadapannya meminta penjelasan.
“Tuan…” Paula menarik Glen untuk berdiri namun dia tetap bersih keras berlutut di hadapan bapa desa.
“Tuan jangan seperti ini! Aku bukan siapa-siapa yang pantas diperlakukan seperti ini. Tuan tidak pantas berlutut dihadapanku seperti itu.” Kata bapa desa sungkan.
“Tuan, ayo berdiri! Kita bicarakan sambil duduk.” Kata papa Airin sambil mempersilahkan Glen duduk.
“Benar tuan, sebaiknya tuan duduk.” Kata semua orang yang ada di situ.
“Mari tuan!” Paula membantu Glen berdiri kemudian duduk di tempat yang ada di teras rumah tersebut
__ADS_1