Legenda Sang Dewa

Legenda Sang Dewa
Pergi Ke Tanah Makam Para Dewa


__ADS_3

Luo Feng sebagai Patriak Klan Luo terus berusaha meningkatkan kekuatan Klan nya. Ia sendiri tidak mencoba meningkatkan kekuatannya, dikarenakan saat melakukan itu, ia sama sekali tidak merasakan ada peningkatan dari kekuatannya.


Sementara itu, jauh dari kediaman Klan Luo bahkan sangat jauh dari Pulau Besar Luo Dao, tepatnya di Pulau Besar Jin Dao, jutaan prajurit berkumpul di tanah lapang yang sangat luas, membentuk barisan rapi sesuai ranah kekuatan yang mereka miliki.


“Kekuatan yang kita miliki sudah sangat besar, tapi aku merasa semua ini belum cukup untuk menguasai Alam Semesta, terutama karena masih adanya keberadaan Klan Luo, dan pemuda yang telah menjadi Patriak baru Klan Luo!” ucap pria bertudung merah, yang mana ia sedang bicara dengan dua orang kepercayaannya.


“Tuanku, saya merasa kekuatan milik kita saat ini lebih dari cukup jika lawan kita hanya Klan Luo! Saya melihat sendiri selemah apa prajurit Klan Luo, dan saya seorang diri lebih dari cukup untuk memusnahkan keberadaan Klan Luo di Alam Semesta ini!” ucap Jin Wen, salah satu orang kepercayaan pria bertudung merah, dan satu orang lagi adalah Jin Dou.


“Kalian jangan terlalu meremehkan kekuatan yang dimiliki oleh musuh, dikarenakan itu hanya akan membuat kalian lengah, dan pada akhirnya musuh dengan mudah mengalahkan kalian!” ucap pria bertudung merah.


Jin Wen merasa bersalah karena telah meremehkan kekuatan musuh, dan ia segera saja meminta maaf dan pengampun pada tuannya, yang selama ini senantiasa menggunakan tudung merah untuk menutupi sebagian wajahnya.


“Kekuatan kita saat ini memang lebih kuat dan lebih besar dari kekuatan Klan Luo, tapi jika di Klan Luo ada satu sosok yang lebih kuat dariku, semua yang kita miliki tidak akan berguna saat berhadapan dengan sosok yang lebih kuat dariku. Sekalipun aku dan kalian turun tangan melawan sosok itu, dengan kekuatan yang lebih besar dariku, bukannya kemenang yang kita dapat, melainkan kita akan musnah di tangan sosok itu!” kata pria bertudung merah yang masih penasaran dengan kekuatan asli Luo Feng, meski beberapa waktu yang lalu ia mencoba menebak seberapa besar kekuatan yang dimiliki Luo Feng.


“Tuan, lalu apa sebaiknya sekarang yang kita lakukan? Apa perlu kita kembali melakukan latihan keras sepanjang hari untuk meningkatkan kekuatan?” tanya Jin Dou.


“Untuk saat ini kalian tidak perlu kembali melakukan latihan keras setiap harinya, tapi aku ingin kalian pergi ke Pulau Besar Luo Dao, dan kumpulkan seluruh Indonesia yang berhubungan dengan Klan Luo! Kalau bisa, cari tahu seberapa kuat Patriak Klan Luo! Jika kalian bisa mengetahui seberapa besar kekuatan Patriak Klan Luo, aku akan memberi kalian sebuah sumberdaya, yang dapat membuat kalian menerobos sebanyak satu tingkatan!” ucap pria bertudung merah.


Jin Dou dan Jin Wen sangat bersemangat menjalankan perintah Tuan mereka, begitu mendengar hadiah yang akan mereka dapat, begitu berhasil menyelesaikan perintah. “Kalau begitu kami pamit undur diri, dan kami pasti mendapatkan informasi yang Tuan butuhkan!” ucap Jin Wen mewakili Jin Dou, lalu keduanya pergi meninggalkan ruangan pria bertudung merah.


Tidak ada yang tahu identitas sebenarnya dari pria bertudung merah. Yang orang-orang, pria bertudung merah sudah ada di Pulau Besar Jin Dao, saat orang-orang menemukan keberadaan Pulau Besar Jin Dao. Oleh karena itu, pria bertudung merah dianggap sebagai sosok paling berpengaruh dan paling dihormati keberadaannya di Pulau Besar Jin Dao.

__ADS_1


Pria bertudung merah bangkit dari tempat duduknya, lalu ia melihat pemandangan di luar melalui jendela yang terbuka lebar, membawa angin sejuk masuk ke dalam ruangannya.


“Pemuda yang sangat menarik, dan jika tubuhnya jauh lebih istimewa dari tubuh yang saat ini aku miliki, selain mengambil kekuatannya aku juga akan merebut tubuhnya! Dan setelahnya aku akan kembali mencoba melawan Sang Pencipta!” gumamnya, lalu ia menyeringai lebar, yang membuat siapapun pasti ketakutan saat melihatnya.


Pria itu membuka tudung merah, yang selama ini menyembunyikan sebagian wajahnya, dan bagian kepalanya. Begitu tudung merah dibuka, terlihatlah mata hitam pria itu, dan sesuatu yang mengerikan terlihat di bagian kepalanya. Kepalanya dipenuhi mata, dan seluruh mata itu saat ini sedang terpejam.


...----------------...


Pagi hari di kediaman utama Klan Luo.


Setelah semalaman Luo Feng memadu kasih dengan Luo Xue, keduanya pagi ini sepakat untuk pergi ke tempat paling misterius yang ada di Pulau Besar Luo Dao. Merska akan pergi ke tempat itu, untuk melihat apa sebenarnya yang tersembunyi di tempat itu.


Saat pagi telah berganti siang, mereka segera melakukan perjalanan menuju tempat yang oleh orang-orang diberi nama tanah makam para Dewa. Bukan sebuah nama yang asal diberikan, tapi nama itu diberikan karena sudah banyak sosok kuat yang mati sia-sia di tempat itu.


Sebagai pengawal pribadi Luo Feng dan Luo Cue, Shen Huang dan ke-empat saudaranya juga ikut pergi ke tanah makam para Dewa. Mereka belum lama ini berhasil menerobos ranah Immortal God, jadi Luo Feng tidak keberatan mereka ikut dengannya.


Ia yakin dengan kekuatan mereka yang sudah berhasil menerobos ranah Immortal God, mereka bakalan bisa menjaga diri begitu sampai di tempat yang menjadi tujuan mereka.


Meninggal kediaman utama Klan Luo setelah mendapatkan restu dari semua orang, Luo Feng memimpin kelompoknya pergi ke tanah makam para Dewa, yang berada di sisi selatan Pulau Besar Luo Dao, dan membutuhkan waktu perjalanan selama satu hari satu malam untuk sampai di tempat itu.


Sebenarnya Luo Feng dan Luo Xue bisa sampai lebih cepat, tapi mereka akan meninggalkan Shen Huang dan empat orang lainnya. Oleh karena itu, pada akhirnya keduanya terbang menyesuaikan dengan kecepatan puncak Shen Huang dan empat orang lainnya.

__ADS_1


Meski terbang di ketinggian, Luo Feng dan yang lainnya jelas melihat aktivitas orang-orang di bawah sana. Melihat orang-orang yang beraktivitas dalam damai, membuat Luo Feng dan yang lainnya merasa senang.


“Inilah yang selalu ingin aku lihat, semua orang hidup dalam damai, dan menikmati kehidupannya. Namun, selama masih ada orang yang memiliki niat buruk pada Klan Luo, kedamaian di tempat ini hanyalah kedamaian semua, yang sewaktu-waktu bisa menghilang begitu saja. Oleh karena itu, kita harus semakin kuat untuk melindungi kedamaian di Alam Semesta!” ucap Luo Feng.


Luo Xue yang mendengarnya hanya menganggukkan kepala, begitu juga dengan Shen Huang dan empat orang lainnya. Mereka juga menyukai saat-saat damai seperti ini, tapi untuk bisa merasakan kedamaian seperti saat ini mereka harus tumbuh semakin kuat, dan saat ini mereka sedang berusaha untuk menjadi semakin kuat.


“Xue’er, apa kamu memiliki sedikit saja informasi tentang tanah makam para Dewa?” tanya Luo Feng yang hanya memiliki sedikit informasi tentang tempat itu.


“Kemungkinan informasi yang aku miliki sama dengan informasi yang sudah Gege dapatkan!” balas Luo Xue.


“Hah, sepertinya kita harus melihat langsung ke tempat itu untuk melihat apa sebenarnya, yang membuat tempat itu selama ini dinyatakan sebagai tempat paling berbahaya di Pulau Besar Luo Dao,” ungkap Luo Feng.


...----------------...


Sementara itu, setelah kepergia Luo Feng dan anggota kelompoknya, keadaan di kediaman utama Klan Luo berjalan seperti hari-hari biasa. Semua orang masih berusaha keras meningkatkan kekuatannya, meski mereka harus melakukan usaha sangat keras untuk mendapatkan terobosan.


Sekumpulan prajurit terlihat melakukan pergantian jaga, dan setiap setengah hari berlalu posisi penjaga senantiasa berganti. Selama tidak sedang melakukan penjagaan, prajurit Klan Luo lebih banyak menghabiskan waktunya untuk melakukan latihan keras, dikarenakan mereka juga ingin meningkatkan kekuatan dan tumbuh menjadi sosok yang lebih tangguh.


Tidak ada anggota Klan Luo yang menghabiskan waktu mereka dengan bermalas-malasan. Semua bekerja keras berlatih, dan tujuan mereka adalah tumbuh semakin kuat, sehingga mereka nantinya tidak mempermalukan atau tidak membuat kecewa Luo Feng.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2