Legenda Sang Dewa

Legenda Sang Dewa
Pulau Di Tengah Samudra


__ADS_3

Luo Feng, Shen Huang, serta yang lainnya, mereka yang sedang melayang di langit, tak satupun dari mereka menyangka jika langit di atas samudra ternyata juga bukan tempat yang aman untuk dilewati.


Ratusan binatang buas dengan kemampuan terbang langsung saja menyambut mereka setelah setengah hari melayang di atas birunya samudra. Di awal mereka hanya dihadapkan pada binatang buas dengan kemampuan terbang yang kekuatannya setara kultivator ranah Nirvana, tapi semakin bergerak maju, semakin kuat binatang buas yang muncul dan menyerang mereka.


Tentu saja Luo Feng, Shen Huang, serta yang lainnya, untuk saat ini mereka masih mampu menghadapi serangan binatang buas yang terus berdatangan. Namun, tak satupun dari mereka bisa menebak apa yang akan terjadi di depan sana.


Hanya saja, firasat Luo Feng mengatakan kalau perjalanan di atas air lebih aman dibandingkan perjalanan dengan terbang di ketinggian.


Luo Feng dengan sorot mata tajam menatap lurus kedepan mencari sesuatu yang mungkin dapat membahayakan kelima muridnya. Tak lama mencari, dia melihat sekawanan binatang buas berukuran besar sedang bergerak ke arahnya.


“Mereka bukan sekawanan burung, melainkan mereka adalah sekawanan naga yang berjumlah puluhan!” gumam Luo Feng.


Selain mengetahui keberadaan kawanan naga di depan sana, Luo Feng juga mengetahui sekuat apa kawanan naga yang semakin mendekat. Rata-rata kekuatan naga yang datang setara dengan kekuatan kultivator ranah Martial King, dan itu bukanlah kekuatan yang membuat Luo Feng ketakutan.


Namun, kekuatan kawanan naga tentu dapat membahayakan keberadaan Shen Huang dan yang lainnya karena bagaimanapun juga, kekuatan mereka setara.


Luo Feng segera memberitahu kelima muridnya tentang keberadaan kawanan naga di depan sana, dan tak lupa dia menjelaskan kekuatan kawanan naga yang tak lama lagi akan terlihat.


Secara jumlah dan kekuatan, kawanan naga lebih unggul dari Shen Huang dan keempat saudaranya, tapi dengan adanya Luo Feng, mereka yakin dapat menghadapi kawanan naga yang segera datang. Namun, meski ada sosok Luo Feng, tak satupun dari mereka ingin mengendurkan kewaspadaan, ataupun tak bersungguh-sungguh menghadapi kawanan naga.


“Mereka akhirnya datang!” ucap Luo Feng dan dikejauhan terlihat kawanan naga perlahan mendekat.


Mendengar Luo Feng dan melihat kawanan naga di kejauhan, Shen Huang dan keempat saudaranya segera mengeluarkan senjata dari cincin ruang masing-masing, dan bersiap menghadapi kawanan naga.


“Tetap waspada meski kita belum tahu apa mereka datang sebagai musuh, atau datang hanya sekedar lewat!” ucap Luo Feng dengan pandangan fokus menatap ke arah depan.


Meski kawanan naga sudah terlihat, tapi Luo Feng sekalipun dia tak tahu apa kawanan naga itu datang sebagai musuh, atau datang hanya sekedar lewat.


Jika datang sebagai musuh, tentu mereka akan melawan untuk keselamatan, tapi jika datang hanya sekedar lewat, mereka tak akan mengganggu perjalanan kawanan naga.


Luo Feng masih saja tenang di tempatnya saat kawanan naga semakin mendekat, dan terlihat beberapa naga di kejauhan mulai membuka mulut pertanda mereka tak bersahabat.


Bola-bola api keluar dari mulut beberapa naga, dan melesat ke arah Luo Feng dan kelima muridnya. Melihat serangan naga yang tertuju ke arahnya, tak banyak melakukan pergerakan, Luo Feng hanya melambaikan tangantangan, mengirim kekuatan angin untuk menghancurkan bola-bola api yang tertuju ke arahnya.

__ADS_1


Suara ledakan keras terdengar saat kekuatan angin Luo Feng berbenturan dengan bola-bola api yang dikeluarkan kawanan naga.


Tanpa banyak bicara, Luo Feng dan kelima muridnya melesat maju menyerang kawanan naga, yang telah dipastikan kalau kedatangan mereka adalah sebagai musuh.


“Serang mereka dan jangan sesekali bermain-main saat berhadapan dengan mereka! Saat bermain-main dengan mereka, artinya kalian sama saja dengan mencari kematian!” ucap Luo Feng dengan suara keras.


“Baik Guru!” balas Shen Huang serta yang lainnya, dan mereka berlima segera mengerahkan seluruh kekuatan, tanpa ada niatan bermain-main menghadapi musuh yang sama kuatnya dengan mereka.


Suara pertarungan segera terdengar saat kedua kubu saling berhadap-hadapan. Luo Feng yang langsung menempatkan diri menghadapi belasan sosok naga, sedangkan kelima muridnya, masing-masing dari mereka berhadapan dengan dua ekor naga.


Sementara itu di bawah tempat pertarungan, tepatnya di atas permukaan air samudra, terlihat puluhan binatang buas yang tinggal di samudra mulai bermunculan, menanti jatuhnya makanan dari langit.


“Ternyata mereka menanti jatuhnya makanan dari langit,” ucap Luo Feng sekilas melirik apa yang berada di atas permukaan air laut.


Tak ingin diganggu musuh dari arah bawah, Luo Feng mengeluarkan aura kekuatan yang sangat mendominasi, dan seluruhnya dia arahkan ke arah bawah, membuat binatang buas di bawah sana buru-buru pergi menjauh.


Mereka tak ingin mati konyol di tangan sosok yang jelas bukan lawan sepadan untuk mereka hadapi. Daripada mati konyol, mereka memilih pergi sejauh mungkin dari tempat pertarungan yang terus berlanjut.


“Sekarang aku bisa lebih tenang bersenang-senang melawan kawanan naga!” ucap Luo Feng lebih fokus menghadapi musuh hanya dengan kekuatan fisiknya, tanpa menggunakan kekuatan spiritual.


Belasan naga membuka mulut, dan tak lama mereka menembakkan bola-bola api dari mulut, yang seluruhnya ditujukan ke arah Luo Feng. Sedangkan Shen Huang dan keempat saudaranya, mereka sedang melakukan pertarungan jarak dekat dengan dua naga, yang menjadi lawan mereka.


Belasan bola api meluncur ke arah Luo Feng, membuat suhu di sekitar Luo Feng meningkat, tapi peningkatan suhu tak berpengaruh pada kondisi Luo Feng yang masih saja berdiri tenang di tempatnya.


“Butuh latihan lebih keras jika kalian ingin melukaiku, tapi sayangnya kalian tak lagi memiliki kesempatan berlatih setelah bertemu denganku!” ucap Luo Feng dan begitu saja dia melesat maju memukul tiap bola api yang tertuju padanya.


Boom... Boom... Boom...


Hanya dengan kekuatan fisik dan tangan kosong, dia memukul satu-persatu bola-bola api dan menghancurkannya tanpa sisa.


Luo Feng merasa sudah cukup bertahan sambil mempelajari pola serangan lawan, dan sekarang giliran dia yang menyerang. Tak segan, dia langsung melesat dan memukul satu-persatu kepala naga yang menjadi lawannya.


Tiap-tiap pukulan yang dilakukannya, dia membuat setengah bagian kepala naga hancur, dan hancurnya sebagian kepala membuat para naga jatuh bertumbangan.

__ADS_1


“Aku kira kalian bisa sedikit membuatku serius, tapi kalian terlalu lemah hanya sekedar untuk membuatku sedikit menggunakan kekuatan spiritual!” ucap Luo Feng dengan tatapan remeh tertuju pada kawanan naga yang menjadi lawannya.


“Sebaiknya kalian segera mati danenjadi makanan mereka yang sudah menunggu jatuhnya makanan dari langit! Lagipula aku ingin segera melanjutkan perjalanan, jadi kalian memang harus segera mati!” ucap Luo Feng dan dengan gerakan gesit dia mulai membunuh satu-persatu naga yang menjadi lawannya, dan semua itu berlangsung tak lebih dari lima kali tarikan napas.


Sebenarnya Luo Feng bisa membunuh mereka semua sejak dimulainya pertarungan, tapi dia terlebih dahulu ingin memastikan kelima muridnya mampu menghadapi lawan mereka.


Begitu kelima muridnya mampu mendominasi jalannya pertarungan, Luo Feng memutuskan segera mengakhiri pertarungan, dan diwaktu yang sama kelima muridnya juga telah berhasil mengalahkan lawan mereka.


Baru juga pertarungan mereka berakhir dan bersama-sama melanjutkan perjalanan, Luo Feng kembali melihat kawanan binatang buas tak jauh di depan. “Sepertinya jalur udara memang lebih berbahaya!” gumamnya.


Dikarenakan yang datang kali ini adalah kawanan binatang yang jauh lebih lemah dibandingkan kawanan naga, meski jumlah mereka penuh banyak, Luo Feng dan kelima muridnya dapat menyelesaikan pertarungan lebih cepat dari sebelumnya, dan kembali melanjutkan perjalanan di saat hari sudah menjelang sore.


Saat sore datang, Luo Feng dan kelima muridnya dapat melihat keberadaan salah pulau di tengah samudra, dan mereka memutuskan untuk sejenak singgah di pulau itu meski saat ini mereka tak sedang mengalami kelelahan.


Menapakkan kaki di pulau yang sepertinya tak dihuni secara permanen oleh manusi, mereka dapat melihat keberadaan gubuk tempat peristirahatan yang di bangun di tengah-tengah pulau. Terdapat belasan gubuk, dan semua dalam keadaan kosong.


Luo Feng menoleh ke kanan dan ke kiri, melihat sekeliling dan memastikan tak ada orang lain di pulau selain dirinya, dan kelima muridnya.


“Melihat dengan mata biasa kita memang tidak akan dapat menemukan orang lain di tempat ini, tapi dengan kekuatan jiwa tak sulit bagiku menemukan orang-orang yang sedang bersembunyi!” ucapnya yang dapat didengar Shen Huang dan keempat saudaranya.


“Tetap terlihat seperti biasa seolah kalian belum tahu keberadaan mereka, tapi jangan mengendurkan kewaspadaan kalian!” ucap Luo Feng kepala Shen Huang dan empat orang lainnya.


Mereka yang mendengarnya mengangguk mengerti, lalu segera mengikuti Luo Feng pergi ke salah satu gubuk untuk beristirahat, setelah melakukan perjalanan sekaligus melakukan pertarungan dengan banyak binatang buas.


Di sisi lain, puluhan orang tersenyum melihat Luo Feng dan kelima muridnya pergi beristirahat di salah satu gubuk tak jauh dari tempat persembunyian mereka.


“Kita tunggu mereka terlelap, baru setelahnya kita ambil apa saja barang milik mereka!” ucap pria dengan separuh wajahnya tertutup topeng, sedangkan yang lainnya hanya menganggukkan kepala.


Mereka adalah kawanan perompak yang hidup di luasnya samudra, tapi tiap beberapa bulan sekali mereka akan menetap di salah satu pulau yang berada di tengah samudra, sambil berharap ada mangsa yang tak sengaja singgah di pulau yang sama dengan mereka.


“Mereka datang melalui jalur udara, dan selamat sampai tempat ini. Sepertinya mereka adalah orang-orang kuat, tapi orang kuat tetap akan melemah saat terlelap!” ucap pria yang sama, yang disambut tawa lirih orang-orang di dekatnya.


...----------------...

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2