
Merasa cukup membiarkan Patriak Yuan Yuji berlutut di hadapannya, Luo Feng membuat Patriak bangkit berdiri dengan mengunci pergerakan pria itu menggunakan aura kekuatannya.
Patriak Yuan Yuji akhirnya bangkit berdiri meski dari wajahnya ia terlihat enggan berdiri. Namun, ia tahu jika pemuda yang dihormatinya tidak lagi ingin ada yang berlutut di hadapannya, dan ia tidak mungkin membantah keinginannya.
Luo Feng sendiri meski tahu Patriak Yuan Yuji masih ingin berlutut di hadapannya, ia tidak lagi terpikir memberi kesempatan padanya kembali berlutut, seakan kesempatan barusan adalah kesempatan terakhir berlutut di hadapannya.
“Patriak, aku sangat tidak suka saat ada orang berlutut di hadapanku apalagi itu dilakukan oleh sosok yang jauh lebih tua dariku. Jadi, meskipun ingin, mulai saat ini jangan lagi pernah berlutut di hadapanku, dan itu perintah wajib dariku!” ucap Luo Feng tegas yang dapat di dengar oleh semua orang, termasuk Patriak Yuan Yuji yang cepat menganggukkan kepalanya.
Sekarang ia tidak akan berani lagi berlutut di hadapan Luo Feng karena itu bukan sekedar larangan yang bisa ia langgar, melainkan itu perintah yang jika tidak dilakukan, sama artinya dirinya telah menjadi seorang pengkhianat, dan tentu ia tidak ingin dianggap sebagai pengkhianat.
Setelah sambutan Patriak Yuan Yuji pada mereka yang baru datang selesai dilakukan, Patriak Yuan Yuji sendiri yang pergi mengantarkan Luo Feng, Luo Xue, serta lima orang lainnya ke kediaman khusus yang telah dipersiapkan jika sewaktu-waktu ada anggota Klan Luo berkunjung ke kediaman Klan Yuan.
Kediaman itu tidak terlalu jauh dari kediaman milik Patriak Yuan Yuji, tapi semua bisa melihat jika kediaman khusus itu sedikit lebih besar dibandingkan kediaman milik Patriak Klan, yang mana biasanya kediaman Patriak Klan adalah kediaman paling besar dan paling megah yang ada di kediaman Klan. Namun, dengan status Klan pelayan Klan Luo, Patriak Yuan Yuji tidak ingin kediaman khusus untuk tamu dari Klan Luo lebih kecil dari kediamannya.
Oleh karena itu, dibangunlah kediaman khusus untuk tamu dari Klan Luo, dan kediaman itu lebih besar dan lebih megah dibandingkan kediaman Patriak Klan. Bahkan pelayan di tempat itu lebih banyak dibandingkan pelayan di kediaman Patriak Klan.
“Tuan Muda, kediaman ini memang hamba persiapkan khusus untuk tamu dari Klan Luo, dan hanya tamu dari Klan Luo yang berhak untuk menempati kediaman ini selama berada di kediaman Klan Yuan,” tutur Patriak Yuan Yuji.
“Patriak, bukannya tempat ini terlalu besar untuk dijadikan kediaman tamu? Aku lihat bahkan kediaman ini lebih besar dari kediaman utama.” Luo Feng membandingkan kediaman yang akan ia tempati dengan kediaman utama, yang merupakan tempat tinggal Patriak Klan.
Patriak Yuan Yuji yang mendengarnya, ia hanya tertawa pelan, lalu berkata, “Tuan Muda, hamba memang sengaja membuat kediaman ini lebih baik dibandingkan kediaman kediaman utama, karena bagaimanapun juga status Klan Yuan adalah Klan pelayan untuk Klan Luo, jadi tidak pantas rasanya jika tamu dari Klan Luo menempati tempat yang tidak sebanding dengan kediaman utama di kediaman Klan Yuan.”
Luo Feng bisa merasa tidak akan ada yang bisa membantah apa yang baru dikatakan Patriak Yuan Yuji, dan akhirnya ia bersedia menempati kediaman khusus, yang seharusnya bisa menjadi kediaman utama yang ada di kediaman Klan Yuan.
Setelah mengantarkan Luo Feng dan yang lainnya masuk ke kediaman khusus, Patriak Yuan Yuji izin meninggalkan mereka karena masih ada beberapa hal yang harus ia lakukan, dan itu berhubungan dengan para pengkhianat, serta orang-orang yang terpaksa berkhianat karena ancaman.
__ADS_1
Setelah kepergian Patriak Yuan Yuji, Luo Feng memutuskan pergi ke kamar utama untuk membersihkan diri dan berganti pakaian yang bersih. Hal yang sama juga dilakukan Luo Xue dan lima orang lainnya, yang sama-sama sudah risih dengan kotoran di tubuh masing-masing.
Dengan air dan wewangian yang telah disiapkan para pelayan, Luo Feng mulai membersihkan tubuhnya. Awalnya tiga pelayan ingin membantu membersihkan tubuhnya, tapi ia segera menolaknya.
Ia tolak bukan karena mereka jelek, tapi ia sengaja menolak karena ketiga pelayan itu memiliki penampilan sangat sempurna untuk ukuran seorang wanita, meski mereka masih kalah jauh dibandingkan Luo Xue.
Dikarenakan kesempurnaan itulah Luo Feng menolak mereka, untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkannya. Bisa saja nantinya ia lepas kebdali saat tubuhnya disentuh tiga wanita, dengan pakaian basah karena menemaninya berendam di kolam pemandian.
Pada akhirnya ia mandi seorang diri, dan begitu selesai mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian baru yang sudah disiapkan para pelayan. Ia memutuskan keluar dari kamar, dan berencana mengajak Luo Xue jalan-jalan melihat seperti apa keadaan kediaman khusus, yang selama berada di kediaman Klan Yuan, kediaman inilah rumah mereka.
Baru juga keluar dari kamar utama, ia melihat Luo Xue yang juga baru keluar dari kamar, yang tepat berada di sebelah kamarnya. Kalau saja tidak ada dinding pembatas, mereka bisa jadi berada dalam satu kamar.
Menghampiri Luo Xue yang baru keluar dari kamarnya, ia mengutarakan niatnya, dan niatnya disambut baik oleh Luo Xue. Akhirnya mereka jalan-jalan bersama berkeliling kediaman khusus, sedangkan Shen Huang dan empat orang lainnya, setelah mandi dan berganti pakaian, mereka kembali berlatih untuk meningkatkan kekuatan.
Mereka ingin lebih kuat dari saat ini, dan saat melihat tempat berlatih di kediaman khusus yang mereka tempati, langsung saja mereka menggunakan seluruh fasilitas yang ada di tempat itu untuk berlatih, berusaha meningkatkan kekuatan mereka.
Setelah lama pingsan, akhirnya mereka membuka mata, dan begitu membuka mata mereka dibuat terkejut dengan keberadaan orang-orang, yang tidak mereka harapkan keberadaannya begitu membuka mata.
Namun, meski sudah membuka mata, mereka sama sekali tidak bisa bergerak karena tubuh mereka terikat rantai, dan mereka tidak bisa bicara karena lidah mereka sudah dipotong langsung oleh Patriak Yuan Yuji.
“Aku tidak akan banyak bicara pada kalian! Aku hanya ingin mengatakan pada kalian kalau sebentar lagi kalian bertiga akan dihukum mati, di hadapan seluruh anggota Klan Yuan yang tidak ikut berkhianat bersama kalian!” ucap Patriak Yuan Yuji, lalu ia menyuruh Tetua Yuan Dan serta dua Tetua lainnya untuk menyeret tiga orang, yang akan dijatuhin hukuman mati.
Ketiganya langsung saja diseret menuju altar tempat mereka akan menjalani hukuman mati. Altar tempat hukuman mati bukanlah sembarangan altar, melainkan altar khusus yang mampu menghancurkan jiwa siapapun yang mati di atas altar.
Dengan hancurnya jiwa milik mereka, bisa dipastikan mereka tidak lagi bisa bereinkarnasi dikarenakan syarat reinkarnasi adalah kesempurnaan jiwa. Sedikit saja memiliki kecacatan jiwa, seseorang yang sudah mati, mustahil baginya dapat bereinkarnasi.
__ADS_1
Sebenarnya bisa saja mereka kembali bereinkarnasi, tapi semua itu membutuhkan waktu yang lama. Jiwa yang hancur dapat kembali berbentuk sempurna setelah melewati waktu selama satu triliun tahun, dan jelas itu bukan waktu yang sebentar.
Di tempat lain, Luo Feng dan Luo yang sebelumnya sedang jalan-jalan santai, setelah mendengar kabar segera dilangsungkannya hukuman mati untuk para pengkhianat, mereka segera pergi ke tempat berlangsungnya hukuman mati. Mereka tidak berjalan kaki atau hadir langsung di dekat altar tempat berlangsungnya hukuman kati. Keduanya memilih melayang di ketinggian, dan melihat jalannya hukuman mati dari ketinggian. Shen Huang dan empat orang lainnya tidak ikut karena mereka masih saja begitu giat berlatih seolah tidak ada hari esok untuk mereka.
Hukuman mati yang akan diberikan pada tiga sosok pengkhianat Klan bukanlah hukuman penggal, atau hukuman gantung. Melainkan mereka akan menjalani cara hukuman mati paling keji di Klan Yuan, yaitu dilempar batu sampai mati oleh siapapun yang ingin melemparkan batu pada mereka. Sudah banyak orang yang siap melemparkan batu di tangan mersia, dan itu bukanlah batu krikil, melainkan batu seukuran genggaman tangan orang dewasa.
Mersia semua yang siap melemparkan batu adalah anggota Klan Yuan, yang anggota keluarganya mati di tangan para pengkhianat, bahkan anak-anak kecil yang meraka miliki tidak luput dari pembunuhan para pengkhianat, saat pertama kali mereka melakukan pemberontakan besar-besaran.
Begitu ketiga pengkhianat terikat di tiang yang akan menjadi saksi penderitaan dan kematian mereka, Patriak Yuan Yuji mengizinkan semua orang melemparkan batu ke arah ketiganya, dan langsung saja ratusn batu berhamburan, menghantam ketiganya secara bertubi-tubi.
Saat ada anggota Klan Yuan yang telah puas melemparkan batu di tangannya, posisinya akan digantikan anggota yang lain, membuat batu-batu terus menghantam ketiganya tanpa henti.
Ketiganya yang sebelumnya baru saja tersadar setelah lama pingsan akibat luka di sekujur tubuh mereka, ketiganya sudah di ambang batas kesadaran setelah tubuh mereka menerima hantaman ratusan batu, dan tidak lama kemudian mereka kembali kehilangan kesadaran.
Meraka memang kehilangan kesadaran, tapi mereka bukannya mati. Jadi, batu-batu terus dilemparkan pada mereka, sampai Patriak Yuan Yuji memastikan dua orang telah mati, dan hanya menyisakan Yuan Chu, mantan Tetua Agung Klan Yuan yang saat ini kondisinya sangat kritis.
Semua orang kini mengarahkan lemparan hanya ke arah Yuan Chu, dan tidak lama kemudia ia dipastikan mati, dan mayat mereka tidak akan dimakamkan di tempat pemakaman khusus anggota Klan Yuan. Bukan hanya tidak dimakamkan di pemakaman khusus anggota Klan Yuan, tapi mayat mereka tidak akan pernah dimakamkan.
Mayat ketiganya akan dibakar, dan tidak ada acara penghormatan saat prosesi pembakaran mayat.
Mereka adalah para pengkhianat, dan penghormatan sangatlah tidak layak diberikan pada pengkhianat, sekalipun di masa lalu mereka memiliki jasa pada Klan Yuan.
Kayu untuk membakar mayat mereka telah dipersiapkan sejak beberapa waktu yang lalu, dan begitu sudah dipastikan mati, mayat ketiga pengkhianat langsung saja dibakar di tumpukan kayu yang sama. Sengaja mereka tidak dibakar menggunakan kekuatan elemen api, untuk menghormati darah Klan Yuan yang mengalir di tubuh mereka.
...----------------...
__ADS_1
Bersambung.