Legenda Sang Dewa

Legenda Sang Dewa
Menuju Daratan Tengah


__ADS_3

Qing Ciao mati dengan tubuh berubah menjadi abu, dengan kematiannya, Klan Qing telah kehilangan salah satu sosok Tetua Klan di kediaman agung Klan Qing, meski dia adalah sosok Tetua paling lemah diantara yang lain. Meski merupakan yang terlemah, kehilangannya tetap sebuah kerugian bagi Klan Qing.


Di tambah, tak lama lagi Klan Qing juga harus kehilangan dua ratus murid Qing Ciao, yang mana mereka termasuk dalam kelompok generasi muda terbaik yang dimiliki Klan Qing, dan kehilangan mereka juga merupakan kerugian yang tak sedikit.


Mengibaskan tangannya, Luo Feng membersihkan debu sisa pembakaran tubuh Qing Ciao yang melekat di tangannya, dan setelahnya dia mengarahkan pandangan ke arah dua ratus murid Qing Ciao.


Tenang Luo Feng mengarahkan pandangan ke arah mereka, tapi mereka yang di pandang justru merasa gelisah dan takut. Tentu mereka takut karena saat ini yang memandang adalah sosok, yang telah membunuh guru mereka.


“Mereka satu generasi dengan Shen Huang dan yang lainnya, tapi mereka terlihat lebih kuat karena lahir dan besar di tempat yang tepat. Namun sayang, mereka adalah anggota Klan Qing yang tak mungkin aku biarkan hidup!” gumam pelan Luo Feng.


Dua ratus murid Qing Ciao tidak mendengar apa yang digumamkan Luo Feng, tapi firasat mereka mengatakan kalau sesuatu yang buruk akan segera terjadi, dan sesuatu yang buruk itu rasa-rasanya akan terjadi pada mereka.


Dari cara Luo Feng memandang, mereka bisa menyimpulkan jika pemuda itu sama sekali tidak berkeinginan melepaskan mereka. Setelah mereka melihat semua yang terjadi, termasuk identitas Luo Feng yang merupakan Tuan Muda Klan Luo, sangat wajar jika mereka tak dibiarkan pergi begitu saja.


Meski tahu mereka tak mungkin dapat mengalahkan Luo Feng, mereka berkeinginan tak meti konyol seperti yang dialami Qing Ciao. Setidaknya mereka ingin melakukan sedikit perlawanan meski pada akhirnya mereka tetap akan keluar sebagai pihak yang kalah.


Dua ratus murid Qing Ciao menyebar, bermaksud memecah konsentrasi Luo Feng, dan akan mencoba melakukan serangan dari berbagai arah yang berbeda. Kekalahan itu sudah pasti, tapi mereka berkeinginan bisa melukai Luo Feng dan mati penuh kebanggaan karena berhasil melukai musuh dengan kekuatan setara Patriak Klan Qing.


Namun, baru juga mereka menyebar ke berbagai arah, sosok Luo Feng bergerak cepat menyerang mereka satu-persatu. Serangannya sangat cepat, dan siapapun yang diserang, Luo Feng dengan satu serangan terus membunuh musuh-musuh nya.


Melihat kecepatan dan kekuatan Luo Feng, Shen Huang dan keempat saudaranya semakin mengagumi sosok guru mereka. Meski seperti sebuah kemustahilan, di masa depan mereka ingin sekuat Luo Feng.


Satu-persatu murid Qing Ciao mati di tangan Luo Feng. Hanya dalam waktu sangat singkat, setengah dari mereka telah menjadi mayat dengan keadaan sangat mengenaskan. Sisa setengah, terlihat seratus murid Qing Ciao hanya pasrah menunggu kematian mendatangi mereka. Melawan juga percuma karena mereka benar-benar bukan lawan sepadan untuk Luo Feng.


Sampai akhirnya dua ratus murid Qing Ciao seluruhnya mati, dan semua mati di tangan Luo Feng yang dengan santainya menyerang dan membunuh mereka satu-persatu.


“Tak ada ampun untuk mereka, dan aku bukanlah orang bodoh yang bisa memberi pengampunan pada musuh! Musuh yang diberi ampun, mereka hanya akan kembali dengan kekuatan baru yang lebih kuat, dan tentu itu bukan harapanku!” ucap Luo Feng setelah memastikan kematian seluruh murid Qing Ciao.


Melihat tak lagi ada orang-orang dari Klan Qing, Luo Feng kembali ke tempat Shen Huang dan yang lain, dan kebetulan di tempat itu ada penguasa kota yang sangat berterimakasih atas bantuan Shen Huang beserta keempat saudaranya.


Penguasa kota terlihat tak peduli dengan pertarungan yang baru terjadi karena bayinya pertarungan dan kematian adalah sesuatu yang wajar terjadi, dan ini bukan kali pertama dia melihatnya.


...----------------...

__ADS_1


Jauh dari kota pesisir tempatyang disinggahi Luo Feng dan kelima muridnya, pria tua yang menjaga aula giok jiwa milik seluruh anggota Klan Qing yang menetap di kediaman agung, dia dikejutkan dengan hancurnya giok jiwa milik Qing Ciao dan dua ratus muridnya.


Dia sangat terkejut dengan apa yang terjadi. Belum lama ini dia bertemu Qing Ciao, bahkan dia yang melepas kepergian Qing Ciao dan dua ratus muridnya, tapi baru saja dia mendapati fakta giok jiwa mereka telah hancur, menandakan pemilik pasangan giok jiwa itu telah mati.


“Kakek, apa yang harus kita lakukan sekarang? Tetua Kesepuluh dan seluruh murid yang ikut bersamanya sudah tiada, dan sampai sekarang Patriak serta para Tetua lain belum ada yang keluar dari pelatihan tertutup. Kakek, apa perlu kita mengganggu latihan salah satu tetua?” Tanya pemuda yang merupakan cucu pria tua penjaga aula giok jiwa.


“Mengganggu mereka yang sedang melakukan pelatihan tertutup, sama saja dengan kita mencari mati! Jadi, sebaiknya kita menunggu salah satu dari mereka selesai berlatih dan melaporkan kejadian yang menimpa Tetua Kesepuluh beserta semua muridnya!” ucap pria tua.


Selama menunggu salah satu Tetua atau bahkan Patriak Klan menyelesaikan latihan tertutup mereka, pria tua, cucunya, serta anggota penjaga aula giok jiwa, mereka semua akan bungkam, menutup rapat apa yang telah terjadi pada Qing Ciao dan dua ratus muridnya.


“Kakek, sebenarnya apa yang terjadi di tempat itu? Kenapa Tetua Kesepuluh dan seluruh muridnya bisa berakhir tragis?”


Pria tua pelan menggelengkan kepala, lalu berkata, “Apa yang terjadi mereka sangatlah aneh. Biasanya pecahan giok jiwa mekaman kejadian sesaat sebelum pemiliknya mati, tapi giok jiwa milik mereka hanya menunjukkan gambaran kabut tebal, sebelum kematian menghampiri mereka.”


Sebagai orang yang telah belasan tahu menjadi penjaga aula giok jiwa menemani kakeknya, ini baru kali pertama dia mendengar adanya peristiwa seperti yang dikatakan kakeknya.


“Kakek, apa kejadian seperti itu baru pertama kali ini terjadi, atau di masa lalu pernah terjadi kejadian yang sama?” tanyanya dengan rasa penasaran yang begitu kentara.


Tak lama terdiam membuat penasaran cucunya, dia akhirnya berkata, “Selama kakek menjadi penjaga aula giok jiwa, apa yang terjadi hari ini adalah sesuatu yang baru pertama kalinya terjadi!”


Cucuk pria tua penjaga aula giok jiwa mengangguk pelan dan berkata, “Sepertinya kita memang harus menunggu Patriak dan para Tetua Klan menyelesaikan latihan tertutup untuk tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Tetua Kesepuluh sebelum Dewa Kematian mendatanginya.” Dia berharap mereka tahu apa sebenarnya yang terjadi sebelum kematian Qing Ciao.


...----------------...


Pagi hari di kota pesisir yang pagi ini terlihat dalam keadaan memprihatinkan dengan lebih dari setengah bagian kota hancur, bahkan sebagian rata dengan tanah.


Semua kerusakan yang terjadi merupakan ulah gurita raksasa yang tiba-tiba saja mengamuk di kota. Beruntung gurita raksasa itu telah mati, bahkan daging gurita yang ternyata sangat lezat, kini menjadi makanan penduduk kota dan siapapun yang menginginkan daging gurita untuk dimakan.


Sementara itu, saat banyak orang sedang mengambil daging gurita untuk diolah menjadi makanan, Shen Huang dan keempat saudaranya sedang menikmati daging gurita bakar yang dimasak langsung oleh guru mereka.


Luo Feng yang belum lama tahu kalau ternyata daging gurita raksasa sangat empuk, dia mulai mengolahnya menjadi gurita bakar dengan bumbu sederhana.


Dengan bumbu sangat sederhana, asalkan diolah dengan benar, semua makanan akan terasa nikmat dan terbukti makanan Luo Feng sangat nikmat, bahkan seluruh olehan makanan yang dimasak Luo Feng ludes sebelum makanan itu dingin.

__ADS_1


“Selesai makan, kalian istirahat sebentar baru setelahnya kita pergi melanjutkan perjalanan menuju daratan tengah!” ucap Luo Feng pada kelima musuhnya, begitu mereka selesai menikmati makan pagi bersama.


Sebenarnya penguasa kota mengundang Luo Feng dan kelima muridnya untuk makan pagi bersama di kediamannya dengan bahan makanan yang sama, tapi dengan cara mengolah berbeda.


Sayangnya undangan itu datang saat mereka sedang menikmati makan pagi bersama, jadi pada akhirnya Luo Feng dengan sopan menolak undangan penguasa kota, dan memilih melanjutkan makan pagi bersama kelima muridnya.


Meninggalkan kelima muridnya yang istirahat sebentar setelah istirahat, Luo Feng pergi ke lantai tertinggi di penginapan tempat dia menginap, tapi karena merasa kurang tinggi, akhirnya dia memilih pergi ke atas atap penginapan, dan saat ini pandangannya tertuju ke lautan lepas.


“Menurut informasi yang aku dapatkan dari penguasa kota, terdapat dua pulau di tengah lautan yang dapat dijadikan tempat beristirahat saat melakukan perjalanan menuju daratan tengah.”


Di masa muda penguasa kota pesisir beberapa kali berkunjung ke daratan tengah, dan dia membagikan pengalaman perjalanannya pada Luo Feng saat semalam mereka menikmati makan malam bersama di kediaman penguasa kota.


“Satu bulan adalah lama perjalanan jika menggunakan artefak terbang yang kemungkinan akan datang lima hari lagi, tapi jika ingin terbang menyebrangi lautan, hanya kultivator ranah Martial King atau yang lebih kuat, yang dapat melakukan perjalanan menyebrangi lautan menuju daratan tengah.”


Dengan kekuatannya, sangat mudah baginya jika ingin menyebrangi lautan menuju daratan tengah, tapi dia tentu tidak melupakan kelima muridnya, tapi beruntungnya kekuatan mereka telah memenuhi persyaratan untuk melakukan perjalanan dengan cara terbang, menyebrangi luasnya lautan.


Merasa cukup memandangi lautan lepas di depan sana, Luo Feng menghampiri kelima muridnya, lalu mereka bersama-sama pergi meninggalkan penginapan tempat mereka menghabiskan malam.


Di luar penginapan, tepatnya di depan pintu keluar masuk penginapan, Luo Feng dan kelima muridnya untuk terakhir kali melihat keadaan kota pesisir setelah serangan gurita raksasa. Kota yang sebelumnya terlihat indah, kini harus memulai pembangunan dari awal.


“Beruntung kota ini dihuni banyak kultivator kuat, jadi mereka dapat membantu mempercepat proses pembangunan kota, dan aku yakin kedepannya kota ini pasti berdiri lebih koko dari sebelumnya!” ucap Luo Feng dan setelahnya langsung saja dia melesat pergi meninggalkan kota pesisir, begitu juga dengan kelima muridnya.


Orang-orang yang sedang melakukan pembangunan di bawah kepemimpinan penguasa kota, mereka dapat melihat kilatan cahaya yang bergerak menuju lautan lepas.


Dengan hanya sekilas melihat, mereka yakin jika kilatan cahaya itu merupakan sosok orang-orang kuat yang di hari sebelumnya telah memberi bantuan pada mereka.


“Semoga mereka cepat menemukan apa yang dicari, dan semoga di masa depan ada kesempatan bertemu kembali dengan mereka!” gumam pelan penguasa kota.


Semalam setelah menghadiri makan malam, Luo Feng telah pamit pada penguasa kota kalau paginya dia dan kelima muridnya akan pergi melanjutkan perjalanan. Oleh karena itu, dia tak terkejut dengan kepergian Luo Feng dan kelima muridnya.


...----------------...


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2