Legenda Sang Dewa

Legenda Sang Dewa
Musnah Dalam Sekali Serang


__ADS_3

Berkali-kali Jin Guki mencoba mengukur kekuatan yang dimiliki Luo Feng tapi hasilnya sama saja, dia sama sekali tidak bisa mengukur kekuatan Luo Feng. Dia hanya melihat lubang tanpa dasar, tiap kali mencoba mengukur kekuatan Luo Feng. ‘Sial! Apa kekuatannya saat ini masih jauh lebih kuat dari kekuatanku?’ batinnya bertanya-tanya.


Jin Guki akhirnya berhenti mengukur kekuatan yang dimiliki oleh Luo Feng, dan dia bersiap menyerang musuh yang belum dia ketahui identitasnya. Meski belum mengetahui identitas sosok yang sekarang dianggapnya sebagai musuh, dikarenakan sosok itu telah begitu banyak membunuh orang-orangnya, tidak ada yang salah jika Jin Guki menganggap sosok itu sebagai musuh.


Serangan Luo Feng yang melihat jika lawan bersiap melakukan serangan ke arahnya, dia masih saja terlihat tenang, dan tidak melakukan persiapan apapun untuk menyambut setangan lawannya.


Tidak lama kemudian, Jin Guki bergerak cepat bagaikan kilatan cahaya, dan hanya dalam sekejap mata sosoknya yang sebelumnya berada di kejauhan, tiba-tiba saja sosoknya muncul tepat di hadapan Luo Feng.


Meski gerakan Jin Guki sangat cepat, tapi di mata Luo Feng gerakan cepat itu masih terlihat brgitu lambat, dan dengan mudah dia menghindari serangan tinju dan tendangan yang dilakukan oleh Jin Guki. “Sangat lambat!” cibir Luo Feng.


“Kalau kau menganggap ini lambat, aku akan menunjukkan padamu apa itu yang namanya kecepatan!” Jin Guki meningkatkan kecepatannya, membuat dia bergerak dua kali lebih cepat dari sebelumnya, tapi tetap saja dia terlihat lambat di pandangan kedua mata Luo Feng.


Luo Feng tanpa kesulitan berhasil menghindari seluruh serangan yang dilakukan Jin Guki, membuat serangan Jin Guki senantiasa mengenai udara, dan itu membuatnya marah karena senantiasa gagal mengenai lawannya.


Jin Guki tidak pantang menyerah dan dia terus saja menyerang Luo Feng. Sedangkan Luo Feng, dia tidak membalas serangan dan terus saja menghindar. “Jika kau berniat bertarung denganku, jangan terus menghindar! Balas seranganku, dan kita buktikan siapa diantara kita yang lebih kuat!” ucap Jin Guki dengan suara lantang.


Luo Feng menatap Jin Guki setelah mendengar semua itu, lalu dia tertawa pelan, “Hehehe...apa kau yakin ingin aku membalas seranganmu? Kalau kah benar-benar yakin, dengan senang hati aku akan membalas semua seranganmu!” ucap Luo Feng.


“Tentu saja aku sangat yakin ingin kau membalas seranganku! Jangan sungkan sungkan, gunakan seluruh kekuatan yang kamu miliki untuk membalas seranganku!” ucap Jin Guki percaya diri, tanpa tahu sekuat apa sosok yang menjadi lawannya.


Luo Feng tersenyum dan mengangguk pelan setelah mendengar semua itu, lalu berkata, “Apa kau ada kata-kata terakhir sebelum aku menggunakan seluruh kekuatanku untuk membalas seranganmu?” tanyanya.


Jin Guki sejenak terdiam setelah mendengar apa yang baru dikatakan Luo Feng, dan tidak lama kemudian dia tertawa terbahak-bahak, lalu setelahnya dia berkata, “Jelas aku tidak memiliki kata-kata terakhir karena pada akhirnya serangan balasan yang kau lakukan, bagiku itu hanya akan terasa seperti angin yang berlalu!” Dia sangat meremehkan kekuatan Luo Feng, meski jelas dirinya tidak bisa mengukur seberapa besar kekuatan Luo Feng. Dia meyakini jika Luo Feng menggunakan sebuah artefak, dan artefak itulah yang membuatnya tidak bisa melihat seberapa besar kekuatan Luo Feng.


“Kalau seperti itu, semoga kau masih bisa bertahan dari seranganku, dan aku akan menggunakan seluruh kekuatanku, dalam serangan yang segera aku lakukan!” Tidak hanya sekedar kata-kata, nyatanya Luo Feng benar-benar akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menyerang Jin Guki. Aura kekuatan Luo Feng terus saja meningkat, dan dia berencana melakukan satu serangan dengan menggunakan seluruh kekuatannya.


Luo Feng kembuat kuda-kuda kokoh, dan bersiap melakukan serangan. Dia tidak menggunakan senjata apapun, melainkan dia akan menyerang menggunakan tinju tangannya. “Ini kali pertama aku menggunakan seluruh kekuatan dalam satu kali serangan, aku mau lihat seberapa kuat seluruh kekuatanku!” gumamnya.


“Teknik serangan ini akan aku beri nama, jurus tinju kekuatan penuh,” ucap Luo Feng, dan dia terkekeh karena metasa lucu dengan nama jurus ciptaannya sendiri.


Di sisi lain, Jin Guki mencoba merasakan kekuatan Luo Feng, dan tidak lama dia tersenyum lebar. “Aku sama sekali tidak merasakan ancaman dirinya, sepertinya dia memang sosok lemah, yang hanya menggunakan artefak untuk menyembunyikan seberapa besar kekuatan yang dimilikinya,” gumamnya.


“Jangan terlalu lama melakukan persiapan, dikarenakan apapun yang kau persiapkan semua itu tidak akan berguna padaku, yang jelas-jelas jauh lebih kuat dirimu!” ucap Jin Guki yang masih saja meremehkan kekuatan Luo Feng, dengan mengatakan jika kekuatannya jauh lebih lemah darinya.


Luo Feng yang mendengarnya sama sekali tidak marah, atau berusaha membantah apa yang diucapkan Jin Guki. Dia masih tetap tenang, dan tersenyum begitu tipis, bahkan Jin Guki tidak sadar jika Luo Feng baru saja tersenyum.

__ADS_1


“Bersiaplah, aku akan menggunakan seluruh kekuatanku untuk membalas seluruh seranganmu!” ucap Luo Feng, dan sosoknya tiba-tiba menghilang.


Jin Guki yang melihat lawannya menghilang, dia mencoba mencari keberadaan lawannya, tapi bukannya berhasil menemukan keberadaan lawannya, dia justru merasakan bahaya dari arah belakang, dan saat dia menoleh, dia melihat sebuah tinju mengarah tepat ke tubuhnya.


“Apa ini akan menjadi akhir dari hidupku?” tanya Jin Guki entah pada siapa, dan tidak lama kemudian tinju yang sama sekali tidak bisa dihindari menghantam tubuhnya dengan telak.


Baang... Booomm...


Suara dentuman yang diiringi suara ledakan keras terdengar, saat tinju yang dilakukan Luo Feng menghantam tubuh Jin Guki.


Tinju yang benar-benar kuat, bahkan sosok Jin Guki tidak lagi terlihat setelah terkena tinju Luo Feng. Bukan karena terpental terlalu jauh, tapi sosok Jin Guki musnah tidak bersisa, begitu juga dengan tenda-tenda dan semua orang yang berada di jalur tinju Luo Feng. Semua musnah tidak bersisa, dan terlihat retakan besar di tanah, yang bermula dari tempat berdirinya Luo Feng dan berakhir di jarak sejauh puluhan kilometer.


Luo Feng membuka lebar kedua matanya, mencoba melihat ujung dari efek serangannya. Bohong jika dia menggunakan seluruh kekuatannya, yang ada dia hanya menggunakan tidak lebih dari 25 persen kekuatannya. Jika menggunakan seluruh kekuatannya, Luo Feng yakin dia bisa menghancurkan Pulau Besar Luo Dao.


“Beruntung aku sebelumnya sempat menyuruh mereka semua pergi menjauh, jadi tidak ada dari mereka yang menjadi korban dahsyatnya seranganku!” gumam Luo Feng, yang mana dia sebelumnya menyuruh Tetua Agung Luo Ang dan semua prajurit yang bersamanya pergi menjauh, dikarenakan keberadaan mereka berada di jalur serangannya.


“Hah, entah dia yang telalu lemah atau aku yang terlalu kuat, satu pukulanku nyatanya lebih dari cukup memusnahkannya, dan tiga seperempat jumlah orang yang datang bersamanya ikut musnah bersama dengannya!” Luo Feng dengan mudah memusnahkan Jin Guki hanya dengan satu serangan.


Bukan hanya Jin Guki yang musnah dalam satu kali serangan, tapi lebih dari tiga seperempat orang yang datang ke Pulau Besar Luo Dao bersama Jin Guki, mereka juga ikut musnah, dan hanya menyisakan seperempat dari mereka, yang telah memutuskan menyerah di bawah kekutan yang dimiliki Luo Feng.


“Menyerah adalah pilihan yang tepat untuk kalian, tapi aku bukan orang baik yang begitu saja memberi pengampunan pada kalian!” ucap Luo Feng sambil membuka topengnya.


Saat ini semua orang bisa bergerak, setelah Luo Feng menarik aura kekuatannya. Meski begitu tidak ada satupun dari mereka yang bergerak termasuk Jin Dou dan Jin Wen. Keduanya hanya berani melirik kearah Luo Feng, dan setelah topeng Luo Feng terbuka, keduanya membuka lebar-lebar kedua mata mereka, setelah melihat wajah yang tidak asing bagi mereka.


Mereka pernah melihat rupa Patriak Klan Luo, dan wajah yang saat ini mereka lihat adalah wajah Patriak Klan Luo. Artinya penguasa Pulau Besar Jin Dao mati di tangan Patriak Klan Luo. Melihat kenyataan yang ada, Jin Dou hanya bisa menghela napas panjang, dikarenakan apa yang diyakininya ternyata benar adanya.


Swush... Swush... Swush... Swush...


Orang-orang dari Klan Luo mulai berdatangan, dan saat melihat keberadaan mereka serta kekuatan mereka, Jin Dou dan Jin Wen, mereka merasa begitu bodoh karena telah meremehkan kekuatan Klan Luo, yang pada kenyataannya dari sisi manapun mereka jauh lebih lemah dibandingkan Klan Luo.


“Apa ini kekuatan Klan Luo yang sesungguhnya?” tanya Jin Wen pada Jin Dou yang tepat berada di sebelahnya.


“Hah, inilah kekuatan Klan Luo yang senantiasa diremehkan oleh rekan-rekan kita, dan mereka juga yang senantiasa tidak mendengarkan kata-kata kita, yang selalu meminta mereka waspada akan kekuatan tersembunyi Klan Luo!” ucap Jin Dou dengan rasa kecewanya, bahkan dia kecewa pada Jin Guki yang selama ini turut tidak mempercayai ucapannya, padahal biasanya dia sangat percaya padanya.


Keduanya saat ini hanya bisa menundukkan kepala penuh penyesalan. Bukan menyesal karena kalah sebelum berperang, tapi mereka menyesal karena tidak memaksa orang-orang dari Pulau Besar Jin Dao, untuk mempercayai ucapan mereka tentang Klan Luo.

__ADS_1


Jika mereka berhasil membuat semua orang percaya termasuk Jin Guki, ada kemungkinan hari ini tidak berakhir seperti saat ini. Bukan hanya kalah sebelum perang, tapi mereka kehilangan banyak kekuatan termasuk kehilangan sosok Jin Guki. Sedangkan musuh, hanya satu musuh yang maju menyerang, tapi itu lebih dari cukup untuk memberi kekalahan pada orang-orang, yang berasal dari Pulau Besar Jin Dao.


Untuk pergi melarikan diri tentu saja tidak bisa dilakukan oleh keduanya, dikarenakan mereka bisa merasakan kekuatan prajurit Klan Luo yang mengawasi keberadaan mereka dari kejauhan. Sekarang yang bisa mereka lakukan adalah menuruti apa yang menjadi keinginan Patriak Klan Luo.


Jika Patriak Klan Luo menginginkan kematian mereka semua, saat ini juga bisa dipastikan akan menjadi saat-saat terkahir mereka menghirup udara segarsegar, sebelum kematian mendatangi mereka.


Mereka semua diikat menggunakan tapi yang dapat menyegel kekuatan. Terlihat adanya perbedaan tali pengikat antara mereka yang memiliki kekuatan di ranah Immortal God, dengan mereka yang kekuatannya berada di bawah ranah Immortal God. Perbedaan itu sudah pasti, dikarenakan kekuatan ranah Immortal God jelas jauh lebih kuat dari mereka yang kekuatannya di bawah ranah Immortal God.


......................


Semua orang dari Pulau Besar Jin Dao yang memutuskan menyerah sudah ditahan di dalam penjara. Penjara dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama untuk mereka yang memiliki kekuatan di ranah Immortal God, sedangkan bagian kedua untuk mereka yang lebih lemah dari kekuatan ranah Immortal God. Saat ini mereka masih mendapatkan perlakuan baik, bahkan mereka mendapat makanan serta minuman sangat layak untuk dimakan.


Luo Feng mengawasi mereka yang berada di dalam penjara dsri kejauhan. Di sebelahnya ada Luo Xue yang turut mengawasi keadaan mereka, yang saat ini berada di dalam penjara, dan penjara itu bergerak perlahan menuju kediaman utama Klan Luo dengan pengawalan ekstra ketat.


“Gege, apa yang akan kita lakukan pada mereka? Apa kita akan langsung membunuh mereka?” tanya Luo Xue, dan dia begitu penasaran dengan hukuman, yang akan diberikan pada mereka yang berani memusuhi Klan Luo.


“Kita tidak akan membunuh mereka, tapi kita akan menjadikan mereka budak Klan Luo, tapi kita tidak akan memberi perlakuan buruk pada mereka. Mereka dijadikan budak supaya tidak ada diantara mereka yang melakukan pengkhianatan. Untuk perlakuan pada mereka, mereka akan melakukan pekerjaan kasar, tapi tetap mendapatkan gaji yang layak serta fasilitas tempat tinggal, makan, dan minum yang cukup,” ucap Luo Feng, yang mana dia telah memiliki rencana memperlakukan musuh yang menyerah dalam perang.


“Memperbudak mereka, tapi tidak memperlakukan mereka selayaknya budak, keputusan Gege memang tidak pernah salah!” ucap Luo Xue yang sangat setuju dengan keputusan Luo Feng.


Luo Feng terseyum mendengar itu, lalu dia dan juga Luo Xue kembali fokus pada pengawasan pergerakan penjara berjalan, yang membawa para tahanan perang. Dengan kecepatan penjara berjalan yang tidak bisa bergerak cepat, kemungkinan butuh dua hari dua malam untuk sampai di kediaman utama Klan Luo.


“Apa setelah ini ancaman untuk Klan Luo benar-benar sudah berakhir, dan kita bisa menikmati hidup dengan tenang?” tanya Luo Xue, dan tentu saja pertanyaan itu dia tujukan pada Luo Feng yang berada di dekatnya.


Luo Feng menghela napas panjang setelah mendengar apa yang ditanyakan Luo Xue, lalu tidak lama kemudian dia memberikan jawaban, “Aku tidak tahu pasti apa ancaman itu masih ada atau sudah tiada! Namun, aku tahu jika kita harus senantiasa bersiap, dikarenakan sewaktu-waktu ancaman bisa mendatangi kita!”


“Semoga saja tidak ada ancaman yang mengancam kedamaian Klan Luo, sehingga kita bisa sangat lama menikmati hidup dalam damai,” ucap Luo Xue. Meski dia menyukai pertarungan dan sedikit kecewa karena hari ini tidak melakukan pertarungan, dia tetaplah wanita yang lebih menyukai hidup damai daripada terus melakukan pertarungan.


“Untuk sementara waktu kita akan menikmati hidup damai, tapi aku tidak tahu selama apa waktu damai yang kita miliki, sebelum kembali datang ancaman, yang mengancam Klan Luo!” ungkap Luo Feng dengan wajah seriusnya.


Lui Xue menganggukkan kepalanya pelan setelah mendengar semua itu, lalu dia memeluk lengan Luo Feng, dan setelahnya dia ikut kemanapun Luo Feng pergi.


......................


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2