
Kediaman utama Klan Luo telah selesai di bangun, dan semua orang sudah kembali melakukan aktivitas masing-masing seperti hari-hari biasanya, termasuk Luo Feng dan Luo Xue. Namun, keduanya tidak bisa terlalu lama menikmati kediaman utama Klan Luo yang baru dua hari ini bisa dihuni.
Luo Feng dan Luo Xue akan pergi ke Alam Surgawi, bukan hanya mereka tapi Luo Long, Luo Nui, Shen Huang dan empat orang lainnya juga akan pergi ke Alam Surgawi.
Mereka berencana mencari sisa-sisa keluarga Penguasa Alam Surgawi yang masih hidup, dan melenyapkan jika bertemu dengannya.
“Gege, kapan kita berangkat ke Alam Surgawi?” tanya Luo Xue, saat dia sedang berduaan dengan Luo Feng di kamar mewah merka.
Keduanya baru saja menyelesaikan permainan panas, tapi mereka masih sama-sama malas berurusan dengan air, jadi mereka masih berada di atas ranjang yang basah karena sesuatu yang dikeluarkan bagian bawah Luo Xue.
“Secepatnya kita akan berangkat ke tempat itu, dikarenakan aku belum yakin jika seluruh anggota keluarga Penguasa Alam Surgawi seluruhnya telah mati!” ucap Luo Feng.
Luo Xue mengangguk mendengar itu karena dia juga sangat ingin memusnahkan seluruh anggota keluarga Penguasa Alam Surgawi, yang telah berbuat semena-mena pada Klan Luo.
“Gege, sebaiknya sekarang kita segera membersihkan diri karena aku sudah mulai tidak nyaman!” ucap Luo Xue.
“Aku juga sudah merasa tidak nyaman!” ungkap Luo Feng, lalu dia segera menggendong mesra Luo Xue menuju kolam pemandian.
Sesampainya ke kolam pemandian, mereka segera membersihkan tubuh. Tidak ada permainan panas selama berada di kolam pemandian, dikarenakan mereka sudah merasa cukup dengan apa yang dilakukan sejak sore sampai tengah malam.
Berkali-kali Luo Xue menyemburkan sesuatu yang hangat dari bagian bawahnya, saat melakukan penyatuan dengan Luo Feng.
Sedangkan Luo Feng, dia berharap apa yang dilakukannya semalam dapat segera membuahkan hasil. Tentu hasil yang dia inginkan adalah kehamilan Luo Xue.
Dia dan Luo Xue samasa sudah siap menjadi orangtua, jadi mereka sama sekali tidak menunda rencana memiliki momongan.
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Luo Feng dan Luo Xue keluar dari kamar mereka, dan baru juga keluar mereka sudah disambut Luo Long dan Luo Nui.
“Selamat pagi Tuan dan Nyonya!” ucap keduanya bersamaan, begitu mereka melihat keberadaan Luo Feng dan Luo Xue.
Luo Feng mengangguk mendengar sapaan mereka, sedangkan Luo Xue memberi balasan, “Selamat pagi juga untuk kalian!” ucapnya.
Sebelum memulai aktivitas nya hari ini, Luo Feng dan Luo Xue terlebih dahulu makan bersama.
Para pelayan segera menyajikan makanan untuk mereka, begitu mereka sampai di ruang makan. Dalam waktu singkat seluruh makanan telah tersaji, dan mereka segera mulai makan pagi bersama.
Luo Long dan Luo Nui ikut makan pagi bersama atas perintah Luo Feng, sedangkan para pelayan dan pengawal di kediaman Luo Feng, mereka makan secara bergantian, dan mereka bisa mulai makan di waktu yang telah ditentukan.
Sadar jika dirinya dan Luo Xue tidak mungkin selalu datang tepat waktu untuk makan bersama, akhirnya Luo Feng memutuskan membuat jam makan untuk pelayan dan penjaga kediamannya.
Jadi mereka bisa makan tanpa harus menunggu dirinya memulai makan.
Kebiasaan lama pelayan dan penjaga baru mulai makan setelah Tuan mereka mulai makan. Kebiasaan itu telah dihapuskan, dan diganti dengan kebiasaan baru.
Selesai makan pagi bersama dan sejenak beristirahat, Luo Feng dan Luo Xue pergi meninggalkan kediamannya. Rencananya mereka akan pergi melihat keadaan Kota Luo yang dalam proses pembangunan.
Usai membangun kediaman utama yang telah dihancurkan musuh, Luo Feng menginginkan bangunan kota yang mengelilingi kediaman utama Klan Luo, dan muncullah nama Kota Luo, untuk menamai kota yang saat ini dalam proses pembangunan, dan pembangunan sudah setengah berjalan.
Kemungkinan dalam kurun waktu tiga sampai empat hari ke depan, Kota Luo bakal selesai dibangun, dan nantinya hanya orang-orang pilihan yang diperbolehkan menetap dan tinggal di Kota Luo.
Sampai di gerbang masuk Kota Luo yang masih dalam proses pembangunan, Luo Feng mengerutkan keningnya, saat dia melihat sedang terjadi keributan di depan gerbang Kota Luo.
Terlihat beberapa orang memaksa masuk ke Kota Luo yang masih dalam proses pembangunan, tapi jelas mereka dilarang masuk oleh penjaga, dikarenakan orang asing dilarang memasuki Kota Luo, yang masih dalam proses pembangunan.
Berjalan mendekat, Luo Feng ingin mendengar apa sebenarnya yang sedang terjadi.
Saat berada di jarak yang cukup dekat tapi keberadaannya tertutupi material bangunan yang belum dipasang, Luo Feng jelas mendengar apa yang sedang terjadi.
“Kami semua datang untuk menjadi penduduk kota ini!” terdengar suara pria, yang mana suara itu terdengar begitu arogan.
“Untuk saat ini semua orang asing dilarang memasuki kota, dikarenakan Kota Luo masih dalam pembangunan! Sebaiknya kalian pergi, dan ini adalah peringatan terakhir untuk kalian!” kali ini terdengar suara, yang Luo Feng yakin jika pemilik suara adalah prajurit Klan Luo.
“Kalau seperti itu, kami bisa membantu pembangunan, sekalian kami bisa menyiapkan rumah, yang nantinya bakal menjadi rumah kami!” ucap wanita, yang terdengar begitu serakah.
__ADS_1
“Silahkan pergi, dan jangan membuat kekacauan di tempat ini!” ucap tegas prajurit Klan Luo, dan dia sama sekali tidak peduli dengan ucapan orang-orang yang memaksa masuk kawasan Kota Luo.
Luo Feng sudah menekankan jika tidak boleh ada orang asing yang memasuki Kota Luo selama proses pembangunan, dan mereka prajurit Klan Luo sangat menuruti apa yang menjadi keingin Patriak Klan mereka.
“Kami sudah datang jauh-jauh, jadi jangan paksa kami pergi!” kembali terdengar suara pria, dan karena tidak tahan dengan mereka yang terlalu memaksakan keinginan, Luo Feng memutuskan menemui mereka.
“Xue’er, kamu ikut denganku, dan kalian tolong awasi pembangunan Kota Luo di sisi lain!” ucap Luo Feng.
Luo Long dan Luo Nui segera pergi ke sisi lain Kota Luo, untuk mengawasi pembangunan di tempat itu.
Sedangkan Luo Feng dan Luo Xue, mereka pergi ke gerbang Kota Luo, melihat orang-orang yang terus saja memaksakan kehendaknya.
Melihat kedatangan Luo Feng dan Luo Xue, prajurit Klan Luo yang berjaga di gerbang kota, mereka segera menundukkan kepala, memberi hotman pada Luo Feng dan Luo Xue.
“Apa yang terjadi?” tanya Luo Feng begitu dia menerima penghormatan prajurit Klan Luo, penjaga gerbang Kota Luo.
“Tuanku Patriak, orang-orang ini memaksa masuk ke Kota Luo, padahal kami sudah melarang mereka, dan menyarankan mereka untuk segera pergi! Akan tetapi mereka menolak pergi, dan tetap memaksa masuk Kota Luo!” jawab salah satu prajurit.
Mendengar jawaban prajurit, Luo Feng berbicara tegas, “Jika mereka tidak mau pergi secara baik-baik, kalian boleh menggunakan kekerasan untuk mengusir mereka!”
Usai mengatakan itu Luo Feng mengarahkan pandangan pada belasan orang yang memaksa memasuki Kota Luo.
“Pergi baik-baik, atau aku akan membunuh kalian semua? Meskipun kalian menyamar, aku tidak akan tertipu oleh penyamar kelompok bandit lemah seperti kalian!” ucap Luo Feng, yang sedari awal dia tahu jika belasan orang dihadapannya adalah kelompok bandit yang sedang menyamar.
Mengetahui penyamaran mereka telah diketahui, mereka semua segera pergi melarikan diri, dan saat mereka pergi melarikan diri, Luo Feng bisa melihat jika mereka semua adalah pria tulen, termasuk sosok yang terlihat selayaknya wanita.
“Kenapa Gege membiarkan mereka pergi? Bukannya kita harus membersihkan bandit di sekitar tempat ini?” ujar Luo Xue yang bingung dengan keputusan Luo Feng.
Boomm... Boomm... Boomm...
Belum juga Luo Feng memberi balasan, tiba-tiba terdengar suara ledakan di arah, yang sebelumnya di tuju para bandit saat pergi melarikan diri.
Suara ledakan diiringi suara teriakan kesakitan, tapi itu tidak berlangsung lama sebelum keadaan kembali menjadi hening.
Luo Xue yang mendengarnya, akhirnya dia mengerti jika Luo Feng tidak pernah membiarkan para bandit pergi.
Tidak lama kemudian dari kejauhan terlihat Shen Huang dan empat orang lainnya. Meraka baru saja berburu, dan mereka kembali dalam keadaan tubuh bermandikan darah.
“Tidak perlu memberi penghormatan! Sebaiknya kalian segera pergi membersihkan diri, dan siang nanti aku tunggu kedatangan kalian di aula kediaman utama!” ucap Luo Feng saat Shen Huang dan yang lainnya ingin menundukkan kepala di hadapannya.
“Baik Patriak!” balas Shen Huang dan empat orang lainnya, dan segera saja mereka semua pergi ke kediaman masing-masing untuk membersihkan diri.
Setelah kelimanya pergi, Luo Feng berbicara pada prajurit penjaga gerbang Kota Luo, “Jangan izinkan orang asing masuk ke Kota Luo! Jika diusir secara baik-baik mereka tidak pergi, kalian bisa menggunakan kekerasan, tapi sebisa mungkin jangan membunuh jika memang tidak diperlukan! Sampaikan apa yang aku katakan pada penjaga yang nantinya akan bertukar waktu berjaga dengan kalian!”
“Baik Patriak, kami akan melakukan sesuai arahan Tuanku Patriak,” ucap seluruh prajurit Klan Luo, yang bertugas menjaga gerbang Kota Luo.
Setelahnya Luo Feng dan Luo Xue pergi mencari keberadaan Luo Long dan Luo Nui.
Tidak lama mencari mereka berhasil menemukan Luo Long dan Luo Nui yang sedang melihat sekaligus mengawasi pembangunan Kota Luo di sisi timur.
Setelahnya mereka bersama-sama melihat-lihat pembangunan, sekaligus mengawasi jalannya pembangunan. Ada puluhan ribu pekerja yang mengerjakan pembangunan Kota Luo.
Pembangunan dilakukan siang maupun malam, dan ada tiga kelompok kerja yang mengerjakan pembangunan Kota Luo.
Siang hari akhirnya Luo Feng memutuskan kembali ke kediamannya, tentunya dia masih bersama Luo Xue dan dua orang lainnya.
Setelah menikmati makan siang bersama, Luo Feng yang hanya ditemani Luo Long, keduanya pergi ke aula kediaman utama.
Siang ini akan diadakan pertemuan, membahas kepergian Luo Feng dan beberapa orang yang akan pergi ke Alam Surgawi.
Luo Xue dan Luo Nui sengaja tidak ikut ke aula, dikarenakan pertemuan kali ini hanya akan dihadiri para pria. Keduanya memilih pergi ke kediaman Luo Yuxuan untuk menemui Hua Mayleen.
Di aula kediaman utama Klan Luo, ternyata semua orang sidah berkumpul. Luo Feng dan Luo Long menjadi yang terakhir sampai. Namun tidak ada yang marah dengan keterlambatan mereka, dikarenakan semua orang tahu mereka terlambat karena sebelumnya pergi mengawasi pembangunan Kota Luo.
__ADS_1
Setelah Luo Feng duduk di tempatnya dan Luo Long berdiri tepat di sebelahnya, pembicaraan dimulai, dan pembicaraan langsung tertuju pada rencana kepergian Luo Feng dan beberapa orang lainnya ke Alam Surgawi, untuk menuntaskan apa yang mungkin saja belum dituntaskan.
Tidak ada yang keberatan dengan kepergian Luo Feng dan yang lainnya, tapi mereka berharap kepergian Luo Feng dan yang lainnya tidak berlangsung lama.
Luo Feng sendiri sudah menjanjikan pada mereka jika dia tidak akan pergi lama, paling lama adalah satu bulan, dan setelahnya dia akan langsung kembali ke kediaman utama Klan Luo.
Sementara untuk waktu keberangkatan, Luo Feng dan orang-orang yang akan ikut dengannya, mereka akan berangkat setelah selesainya pembangunan Kota Luo.
Kota Luo adalah ide Luo Feng, jadi sebelum pergi, terlebih dahulu dia harus meresmikan berdirinya Kota Luo.
Setelah semua selesai dibahas dalam waktu yang lumayan singkat, sekarang mereka membahas pembangunan Kota Luo, dan siapa nantinya orang-orang yang diperbolehkan tinggal di Kota Luo.
Pembahasan pembangunan Kota Luo hanyalah pembahasan tentang kemajuan pembangunan kota, sedangkan untuk siapa nantinya yang diperbolehkan tinggal di Kota Luo, Luo Feng segera saja mengeluarkan lima bole kristal dari cincin ruang miliknya.
Setelahnya dia mulai menjelaskan fungsi dari bola kristal yang dikeluarkannya dari cincin ruang miliknya. “Bola kristal ini berfungsi mendeteksi sifat yang dimiliki seseorang! Jika bola kristal memancarkan warna merah, ungu, hitam, atau coklat, artinya orang itu tidak layak menjadi penduduk Kota Luo. Akan tetapi jika bola kristal memancarkan cahaya putih, hijau, kuning, emas, ataupun biru, artinya dia layak menjadi penduduk Kota Luo!”
Luo Feng menyerahkan kelima bole kristal pada ayahnya, yang mana ayahnya akan menjadi Patriak Klan sementara, selama dirinya pergi ke Alam Surgawi.
Kini semua telah selesai dibahas, dan banyak orang yang mulai meninggalkan aula kediaman utama Klan Luo.
Mereka yang sudah lebih dulu pergi adalah para Tetua Klan, yang memiliki banyak pekerjaan. Meski banyak pekerjaan, mereka sangat menyukai pekerjaan itu, lagipula tidak ada pekerjaan yang sulit dikerjakan.
Sekarang yang tersisa di aula kediaman utama Klan Luo hanya ada Luo Feng, Luo Yuxuan, Luo Long, Tetua Agung Luo Ang, Shen Huang, Shen Xiang, Shen Jili, Shen Lusi dan Shen Zizu.
Mereka yang masih berada di aula kediaman utama Klan Luo, mereka melakukan pembicaraan santai, cenderung lebih banyak tertawa dari bicara.
Saat hari sudah sore mereka semua memutuskan kembali ke kediaman masing-masing. Mereka harus segera pulang dan membersihkan diri, dikarenakan tidak lama lagi akan tiba waktunya makan malam bersama.
Saat kembali ke kediamannya, Luo Feng hanya seorang diri karena dia menyuruh Luo Long untuk langsung kembali ke kediamannya.
Berjalan pulang ke kediamannya, tidak sengaja Luo Feng berpapasan dengan Luo Xue, yang baru saja kembali dari kediaman mertuanya. Jadilah keduanya berjalan berdampingan pulang menuju kediaman mereka.
......................
Hari ini adalah hari dimana Luo Feng, Luo Xue, Luo Long dan Luo Nui akan pergi ke Alam Surgawi. Sementara itu untuk Shen Huang, Shen Xiang, Shen Jili, Shen Lusi dan Shen Zizu, mereka tidak dapat ikut pergi karena baru saja mendapatkan terobosan, dan buruh waktu sepuluh hari untuk mereka menyelesaikan peningkatan pondasi kekuatan.
Tidak memiliki banyak waktu menunggu mereka, Luo Feng akhirnya memutuskan meninggalkan mereka, dan hanya pergi bersama Luo Xue, Luo Long dan Luo Nui.
Setelah berpamitan pada semua orang, mereka segera memulai perjalanan. Mereka telah tahu tara cara pergi ke Alam Surgawi, dan siapa sangka jika kedua orangtua Luo Feng di masa lalu pernah ke tempat itu. Untuk pergi ke Alam Surgawi, mereka terlebih dahulu harus pergi ke gerbang Surgawi, yang mana gerbang itu terletak di ujung utara Pulau Besar Luo Dao.
Di setiap Pulau Besar akan terdapat satu gerbang Surgawi, dan gerbang itu adalah penghubung antara Pulau Besar dan Alam Surgawi.
Setelah menempuh perjalanan selama dua hari dua malam tanpa istirahat, akhirnya mereka sampai di gerbang Surgawi. Di tempat itu ternyata sudah ramai, dan mereka adalah orang-orang yang sedang mencoba keberuntungan.
Do tengah-tengah gerbang Surgawi terdapat sebuah altar, dan altar itu baru bisa aktif jika seseorang yang berada di atasnya merupakan orang-orang yang diterima keberadaannya di Alam Surgawi.
Biasanya seseorang diizinkan berdiri di atas altar selama dua tarikan napas. Setelah menghabiskan dua tarikan napas dan belum terjadi apa-apa, biasanya orang itu akan terpental dengan sendirinya. Semua itu senantiasa terjadi, dan Luo Feng beserta tiga orang lainnya, mereka baru saja melihat seseorang yang terpental dari altar di tengah gerbang Surgawi.
Luo Feng terus saja melihat apa yang terjadi, dan benar apa kata ayah dan ibunya jika tidak sembarangan orang bisa pergi ke Alam Surgawi. Hanya mereka yang terpilih, yang bisa ke tempat itu. Tidak peduli orang kuat atau lemah, jika memang terpilih orang itu akan tetap dikirim ke Alam Surgawi. Sekalipun kuat, jika tidak terpilih, orang itu akan terpental, dan mengalami luka yang tidak bisa dianggap luka biasa.
Setelah tidak lagi ada orang yang mencoba berdiri di atas altar di tengah-tengah gerbang Surgawi, Luo Feng membawa Luo Xue dan dua orang lainnya ke tempat itu, dan berharap mereka merupakan orang terpilih, yang bisa pergi ke Alam Surgawi.
Luo Feng sebenarnya tidak terlalu berharap jika dirinya dan tiga orang lainnya merupakan orang terpilih, yang bisa pergi ke Alam Surgawi. Akan tetapi, baru juga mereka menapakkan kaki di atas altar, tiba-tiba altar yang mereka pijak mengeluarkan cahaya, dan perlahan cahaya itu semakin terang, membuat Luo Feng dan tiga orang lainnya terpaksa menutup mata, tapi cepat Luo Feng mengeluarkan rantai Surgawi untuk mengikat semua orang, supaya mereka tidak terpencar-pencar.
Sementara itu di luar altar, seorang pria tua tersenyum melihat altar memancarkan cahaya, “Setelah sekian tahun lamanya, akhirnya ada yang bisa pergi ke Alam Surgawi,” ucapnya pelan, dan dia masih saja tersenyum.
Di dalam altar yang masih memancarkan cahaya terang, Luo Feng dan tiga orang lainnya masih memejamkan kedua mata mereka, dikarenakan pancaran cahaya sangatlah menyakiti mata mereka, jika melihatnya secara terang-terangan. Daripada merasa sakit, mereka lebih memilih memejamkan mata.
Luo Feng mengeratkan rantai yang mengikat mereka berempat. “Kalian tenang saja, dengan adanya rantai Surgawi, kita tidak akan terpencar begitu sampai di Alam Surgawi!” ucap Luo Feng.
Tidak lama setelah Luo Feng menyelesaikan ucapannya, cahaya di sekeliling mereka perlahan meredup, dan tidak lama kemudian cahaya itu benar-benar menghilang, bersamaan dengan angin sepoi-sepoi yang menyapu wajah mereka.
......................
__ADS_1
Bersambung.