Legenda Sang Dewa

Legenda Sang Dewa
Perang Sudah Berada Di Depan Mata


__ADS_3

Lebih dari tiga puluh juta prajurit telah dipersiapkan oleh penguasa Pulau Besar Jin Dao, untuk memusnahkan keberadaan Klan Luo dan seluruh Klan yang memiliki hubungan dengan Klan Luo. Penguasa Pulau Besar Jin Dao ingin Klan Luo dan semua yang berhubungan dengan Klan Luo musnah. Oleh karena itu dia akan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki oleh Pulau Besar Jin Dao.


Hari ini mereka akan berangkat menuju Pulau Besar Luo Dao, yang merupakan tempat keberadaan seluruh kekuatan, milik Klan Luo. Jika semua berjalan lancar, dalam tiga hari mereka akan sampai di tempat itu. Meski sudah sampai, mereka tidak langsung bisa berperang, dikarenakan mereka lebih dulu harus beristirahat selama satu sampai dua hari.


Jika langsung melakukan penyerangan, mereka akan menyerang dalam keadaan lelah, dan tentunya itu tidak baik untuk jalannya peperangan, sekalipun mereka yakin jika musuh jauh lebih lemah, dibandingkan kekuatan yang mereka miliki.


Penguasa Pulau Besar Jin Dao akan memimpin penyerangan kali ini, dan dia akan membawa dua puluh pilar kekuatan Pulau Besar Jin Dao, yang mana mereka juga merupakan orang-orang kepercayaannya, dengan kekuatan berada di ranah Immortal God tingkat 25 sampai tingkat 35. Selain dua puluh sosok pilar kekuatan Pulau Besar Jin Dao, ada juga seratus Jenderal pasukan Pulau Besar Jin Dao, yang mana kekuatan mereka berada di ranah Immortal God tingkat 15 sampai tingkat 20.


Mereka semua adalah seluruh kekuatan yang dimiliki oleh Pulau Besar Jin Dao, dan mereka dikerahkan penguasa Pulau Besar Jin Dao untuk memusnahkan Klan Luo dan semua yang berhubungan dengan Klan Luo. Dengan kekuatan yang mereka miliki, penguasa Pulau Besar Jin Dao yakin jika dirinya tidak perlu turun tangan secara langsung, saat kekuatan Pulau Besar Jin Dao berhadapan dengan kekuatan yang dimiliki Klan Luo.


Sementara itu, di Pulau Besar Luo Dao, persiapan yang dilakukan oleh Klan Luo hampir terselesaikan. Prajurit Klan Luo dari Klan sekutu juga sudah berdatangan, dan diperkirakan jumlah mereka akan setara dengan jumlah musuh, yang datang untuk melenyapkan keberadaan Klan Luo, serta seluruh Klan yang memiliki hubungan dengan Klan Luo.


Luo Feng sendiri saat ini sedang berada di aula kediaman utama Klan Luo, dan di hadapannya terdapat kedua orangtuanya, Tetua Agung Luo Ang, para Tetua Klan Luo, dan tidak ketinggalan keberadaan para Patriak Klan, yang merupakan sekutu Klan Luo.


Sengaja Luo Feng mengumpulkan mereka semua di aula kediaman utama Klan Luo, dikarenakan dia ingin memastikan kekuatan mereka, sebelum turun ke medan perang. Melihat secara langsung kekuatan mereka, Luo Feng sangat puas dengan peningkatan kekuatan mereka, yang mana mereka semua saat ini telah memiliki kekuatan di ranah Immortal God, dan yang terlemah diantara mereka berada di tingkat 15 ranah Immortal God.


Terdapat tiga sosok terkuat diantara mereka, yang mana tiga sosok itu adalah kedua orangtua Luo Feng, dan Tetua Agung Luo Ang. Ketiganya memiliki kekuatan di ranah Immortal God tingkat 35, membuat mereka lebih kuat dibandingkan yang lainnya.


“Yang Mulia Patriak, apa musuh sudah dalam perjalanan menuju tempat kita?” tanya salah satu Patriak Klan sekutu.


Mendengarnya Luo Feng menganggukkan pelan kepalanya, lalu dia berkata, “Mereka sudah bergerak, dan kurang dari empat hari kemungkinan mereka akan sampai di tempat ini!”

__ADS_1


“Yang Mulia Patriak, apa kekuatan kita saat ini cukup untuk melawan mereka? Jika belum cukup, kami berencana mengerahkan seluruh kekuatan yang ada, termasuk kekuatan cadangan!” ujar Patriak lainnya.


“Kalau aku boleh jujur, dari informasi terakhir yang aku dapat, kekuatan kita saat ini sangat cukup untuk berhadapan dengan mereka, bahkan kita sedikit memiliki keunggulan dalam kekuatan,” ucap Luo Feng jujur apa adanya.


Semua orang yang mendengar semua itu tentu saja senang, dikarenakan kekuatan yang mereka miliki sudah lebih dari cukup untuk mengimbangi kekuatan musuh. Dengan begini, mereka semakin yakin dapat mengalahkan musuh yang datang menyerang.


Luo Feng yang tahu jika semua orang masih membutuhkan banyak waktu untuk mengistirahatkan tubuh mereka, terutama kedua orangtuanya dan juga Tetua Agung Luo Ang, yang baru beberapa saat yang lalu menyelesaikan kultivasi tertutup, dia mengakhiri pertemuan, dan membiarkan semua orang beristirahat.


Semua orang yang benar-benar membutuhkan waktu untuk istirahat, satu-persatu mereka mulai meninggalkan aula kediaman utama Klan Luo. Kedua orangtua Luo Feng dan Tetua Agung Luo Ang menjadi yang terakhir keluar dari aula, dan meninggalkan Luo Feng seorang diri di dalam aula Klan.


Namun, hanya sesaat Luo Feng sendirian, dikarenakan tidak lama kemudian sosok Luo Xue datang bersama Luo Long dan Luo Niu. Selain mereka datang juga Shen Huang dan empat orang lainnya. Luo Xue duduk di sebelah Luo Feng, sedangkan yang lainnya duduk di tempat, yang sebelumnya ditempati para Tetua Klan Luo.


“Gege, kami telah selesai memastikan kesiapan tempat yang akan menjadi medan peperangan,” ucap Luo Xue.


“Tinggal beberapa hari lagi kita akan menghadapi musuh yang jauh lebih kuat dari Klan Qing dan para pengkhianat Klan Luo, tapi entah kenapa aku merasa di masa depan nanti kita masih akan dihadapkan pada kekuatan yang lebih kuat, setelah berhasil memenangkan peperangan di depan mata!” ucap Luo Feng, dan dia yakin firasatnya akan menjadi kenyataan di masa depan nanti.


“Gege, baik dalam peperangan di depan mata ataupun peperangan di masa yang akan datang, selama kita semua semakin kuat, aku yakin kita dapat mengalahkan siapapun musuh yang datang menyerang Klan Luo! Kita sekarang memang sudah kuat, tapi aku yakin kita masih bisa jauh lebih kuat dari keadaan saat ini!” ucap Luo Xue penuh keyakinan.


Luo Feng tersenyum saat melihat keyakinan yang dimiliki Luo Xue. Bukan hanya Luo Xue yang yakin jika musuh dapat dikalahkan, dengan mereka tumbuh semakin kuat, tapi Luo Feng juga memiliki keyakinan yang sama. Sekuat apapun musuh yang datang, selama mereka bertambah kuat, makan tidak akan ada musuh yang dapat mengalahkan mereka.


......................

__ADS_1


Di Alam Surgawi, keberadaan yang terpisah dari Alam Semesta.


Pria berjubah putih yang selama ini menjadi penguasa Alam Surgawi, dia sedang melakukan pembicaraan dengan wanita berambut merah yang merupakan satu dari setatus wanita, yang merupakan istrinya.


“Suamiku, apa kamu masih terus mengawasi sosok pria yang merupakan Patriak Klan Luo? Aku benar-benar tidak melihat ada sesuatu yang istimewa dari sosok itu, tapi kenapa kamu terus memperhatikannya selama beberapa waktu terakhir?” tanya wanita berambut merah.


“Dilihat sekilas memang tidak ada yang istimewa dari sosok pria itu, tapi aku bisa merasa jika dia jauh lebih kuat dari apa yang terlihat. Ada kemungkinan jika dia memiliki kekuatan setara denganku, atau bahkan lebih kuat dariku!” ucap penguasa Alam Surgawi.


“Mustahil dia memiliki kekuatan setara denganmu, atau bahkan lebih kuat darimu! Di Alam Surgawi ataupun Alam Semesta, kamu adalah sosok terkuat, dan tidak mungkin ada sosok yang lebih kuat darimu!” ungkap wanita berambut merah.


Penguasa Alam Surgawi yang mendengar itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu dia berkata, “Jujur saja, aku tidak bisa melihat seberapa besar kekuatan pria itu, dan itu alasan utamaku menganggap dia lebih kuat dariku, meski aku tidak tahu sejauh apa perbedaan kekuatan kami!”


“Aku rasa dia tidak lebih kuat darimu, melainkan dia memiliki sebuah artefak, yang mampu menyembunyikan kekuatannya. Sepertinya kita harus menghancurkan artefak itu untuk melihat seberapa besar kekuatan yang dimilikinya!” ucap wanita berambut merah.


“Sebaiknya kita tidak mencari masalah dengannya, atau kita yang akan menyesal karena telah berurusan dengan sosok, yang tidak seharusnya kita singgung!”


“Suamiku, dia bukan orang kuat, dan untuk apa kita takut bersinggungan dengannya? Kalau kamu tidak ingin bersinggungan dengannya, biar aku sendiri yang turun tangan untuk menghancurkan artefak miliknya, dan aku akan membuktikan jika dia tidak jauh lebih kuat darimu!” Setelah mengucapkan semua itu, wanita berambut merah pergi begitu saja meninggalkan suaminya.


Sedangkan penguasa Alam Surgawi yang melihat kepergian istrinya, dia hanya menghela napas panjang. ‘Semoga saja dia memang tidak lebih kuat dariku,’ batinnya berharap.


......................

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2