
Luo Feng dan yang lainnya memejamkan mata, tapi mereka tidak tidur. Mereka sedang berpura-pura tertidur sambil menunggu kedatangan orang-orang yang sejak tadi bersembunyi di tempat persembunyian.
Tak lama memejamkan mata di tengah dinginnya malam, mereka mulai mendengar suara langkah kaki yang begitu pelan mendekati gubuk, yang mereka tempati. Langkah kaki itu bukanlah milik satu orang, melainkan milik beberapa orang, yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang.
Tak lama setelah mendengar langkah kaki mendekat, samar-samar mereka juga mendengar suara bisik-bisik dari arah luar gubuk. Suara itu sangat pelan, tapi masih dapat mereka dengar.
“Sepertinya mereka sudah tertidur, jadi kita bisa membunuh mereka, dan mengambil semua barang berharga milik mereka.” Suara pelan terdengar dari luar gubuk.
Orang biasa tentu tidak akan dapat mendengar suara itu, tapi bagi Luo Feng dan kelima muridnya yang memiliki kepekaan tinggi terhadap suara di sekitarnya sekalipun suara itu sangat lirih, mereka dapat mendengar suara pelan dari luar gubuk, meski suara itu terdengar sedikit kurang jelas. Sekalii kurang jelas, setidaknya mereka telah mengetahui rencana orang-orang di luar gubuk.
Dua orang mengendap-endap masuk ke dalam gubuk yang mampu menampung belasan orang. Keduanya masuk lebih dulu untuk memastikan keadaan orang-orang di dalam gubuk. Setelah memastikan semua orang di dalam gubuk sudah terlelap, mereka keluar dengan hati-hati, dan menceritakan keadaan di dalam gubuk pada teman-teman mereka yang berada di luar gubuk.
Mendengar cerita dua orang yang telah memastikan kalau orang-orang di dalam gubuk telah terlelap, dengan di pimpin pria yang menutupi sebagian wajah menggunakan topeng, enam orang masuk ke dalam gubuk dengan masing-masing memegang belati.
Keadaan di dalam gubuk sangatlah hening. Hanya terdengar suara napas halus dari enam orang yang sedang memejamkan mata. Namun, tak lama terdengar suara langkah kaki bersama dengan terdengarnya suara napas yang sedikit kasar.
Pria bertopeng dan lima orang lainnya telah berada di dalam gubuk, dan menggunakan belati di tangan masing-masing, mereka ingin membunuh enam orang yang masih saja memejamkan mata, seolah tak sadar jika kematian semakin mendekati mereka.
Akan tetapi, sebelum belati milik pria bertopeng dan lima orang lainnya melukai enam sosok yang memejamkan mata, aura kuat yang sangat mendominasi dikeluarkan enam sosok yang masih memejamkan mata, membuat pria bertopeng dan lima orang lainnya terpental mundur menghantam dinding gubuk sampai roboh.
Waktu terasa berhenti bagi pria bertopeng dan lima orang yang terhempas keluar gubuk setelah terpental, dan menghancurkan dinding gubuk. Mereka tidak menyangka jika enam sosok di dalam gubuk memiliki aura sekuat itu.
Kini mereka tahu jika telah salah mencari mangsa, dan berusaha secepatnya pergi melarikan diri. Akan tetapi semua sudah terlambat. Saat mereka ingin melarikan diri, enam sosok yang sebelumnya berada di dalam gubuk, kini mereka telah muncul tepat di hadapan pria bertopeng.
Orang-orang lainnya mulai bermunculan, dan sekarang di belakang pria bertopeng terdapat puluhan orang yang belum tahu sekuat apa enam sosok di hadapan mereka.
Mereka sebelumnya pergi menjauh dari gubuk, dan baru mendekat saat terdengar suara gaduh dari arah gubuk. Sebelumnya mereka mengira ada perlawanan di dalam gubuk yang tentu dapat dimenangkan pria bertopeng dan teman-teman mereka, tapi sepertinya kemenangan itu belum berhasil didapatkan, dikarenakan enam sosok yang menjadi target pembunuhan dan perampokan, terlihat mereka masih berada dalam keadaan baik-baik saja.
Justru yang terlihat tidak baik-baik saja adalah pria bertopeng dan lima orang yang sebelumnya ikut masuk kedalam gubuk.
Terlihat mereka mengalami luka ringan, dan saat orang-orang melirik dinding yang roboh, mereka bisa menebak kalau suara keributan barusan berasal dari robohnya dinding salah satu gubuk.
Mengalihkan perhatian dari dinding yang roboh, mereka yang tak tahu kejadian di dalam gubuk, seketika mereka merasakan keanehan saat melihat ekspresi pria bertopeng dan lima orang di dekatnya. Ekspresi itu menunjukkan kalau mereka sedang mengalami ketakutan.
Belum juga keanehan mereka mereka, satu-persatu dari mereka tiba-tiba saja tumbang, setelah aura kuat menekan mereka. Aura itu tak sekedar kuat, tapi sangat kuat.
Mereka yang memiliki kekuatan di bawah tanah Martial King, seketika mereka tumbang tak sadarkan diri, sedangkan mereka yang lebih kuat, mereka tidak tumbang, tapi mereka mengalami kesulitan saat ingin bergerak, bahkan banyak dari mereka yang tak lagi sanggup bergerak.
__ADS_1
Selama menjadi perompak, baru kali ini mereka merasakan tekanan aura sekuat, yang mereka rasakan saat ini, dan mereka tahu aura ini berasal dari salah satu sosok yang berada di depan sana.
Sedangkan pria bertopeng dan lima orang lainnya yang sebelumnya ingin secepatnya pergi melarikan diri, mereka tak lagi memiliki kesempatan pergi melarikan diri, dan ikut terjebak dalam tekanan aura kekuatan yang membuat mereka tak memiliki kemampuan bergerak.
Di sisi lain, enam sosok yang tenang berdiri di tempatnya, mereka adalah Luo Feng serta kelima muridnya, dan mereka tentu tidak akan memberi ampun pada orang-orang, yang telah memiliki niat burik pada mereka.
Kali ini Shen Huang dan empat orang lainnya tak ikut campur atas perintah Luo Feng, dan keberadaan orang-orang di depan mereka akan diatasi secara langsung oleh Luo Feng dengan tangannya sendiri.
“Kalian seharusnya terus bersembunyi di tempat persembunyian, tapi karena kalian berani muncul di hadapanku, artinya tak akan ada diantara kalian yang dapat meninggal tempat ini dalam keadaan hidup-hidup!” ucap Luo Feng sambil menyeringai lebar.
Tak ada yang membalas ucapan Luo Feng karena mulut pria bertopeng dan yang lainnya seolah terkunci, dan sedikitpun diantara mereka tak ada yang bisa membuka mulutnya.
Perbedaan kekuatan mereka dan Luo Feng terlampau jauh, dan sejak mereka menargetkan Luo Feng menjadi mangsa, sejak saat itu juga meski mereka sampai saat ini masih hidup, sebenarnya mereka sudah dianggap mati oleh semesta, dan sekarang mereka sepertinya benar-benar akan mengalami kematian.
Luo Feng yang masih ingin beristirahat sedikit lebih lama, tak berlama-lama dia langsung saja membunuh pria bertopeng dan semua orang yang berdiri di belakangnya.
Kilatan kekuatan petir berwarna hitam keemasan muncul di telapak tangan Luo Feng, dan dia langsung saja mengarahkan kekuatan petir di telapak tangannya ke arah puluhan pria yang berada tak jauh di depannya.
Luo Feng benar-benar tak memberi ampun pada mereka, dan saat kekuatan kilatan petir menyambar orang-orang itu, mereka seketika itu juga mati dan tubuh mereka berubah menjadi abu. Tak ada yang selamat dari serangan Luo Feng, semua mati, dan seketika keadaan malam kembali tenang seperti sebelumnya.
Shen Huang dan keempat saudaranya yang melihat bagaimana mudahnya Luo Feng membunuh orang-orang yang kekuatannya sama dengan mereka bahkan ada yang lebih kuat dari mereka, mereka semakin dibuat kagum dengan kekuatan milik Luo Feng.
Shen Huang dan empat orang lainnya juga pergi ke gubuk yang masih utuh setelah mendengar ucapan Luo Feng, tapi kali ini mereka berada di gubuk yang berbeda, tak seperti sebelumnya yang mana mereka tinggal di dalam satu gubuk.
...----------------...
Sebelum terbitnya matahari pagi, Luo Feng dan kelima muridnya telah bangun dan saat ini mereka kembali melanjutkan perjalanan panjang menuju daratan tengah. Mengira sudah berapa jauh mereka meninggalkan daratan timur, Luo Feng memperkirakan dia dan kelima muridnya akan sampai di daratan tengah kurang dari sehari semalam, atau bahkan lebih cepat dari itu jika semuanya lancar.
Namun, dengan banyaknya binatang buas yang muncul di jalur perjalanan rute udara, bisa dipastikan perjalanan mereka akan sedikit lebih lama dari perkiraan, dan bisa jadi mereka baru akan sampai di daratan tengah dalam kurun waktu beberapa hari ke depan.
Sementara itu, jauh dari tempat Luo Feng dan kelima muridnya, pagi ini di kediaman agung Klan Qing, Tetua Kesembilan dan Tetua Kedelapan yang sebelumnya melakukan kultivasi tertutup, hari ini di waktu bersamaan mereka telah selesai melakukan latihan tertutup.
Akan tetapi, baru juga sampai di aula kediaman agung Klan Qing, mereka sudah mendengar kabar tidak baik dari pria tua, penjaga aula giok jiwa di kediaman agung Klan Qing.
Pria tua mengatakan pada mereka perihal apa yang terjadi pada Tetua Kesepuluh dan dua ratus muridnya. Semuanya mati secara misterius di salah satu tempat, yang berada di Pulau Kecil Yue Dao. Kematian mereka sangatlah misterius karena tak ada rekaman siapa yang telah membunuh mereka.
Mendengar kematian Tetua Kesepuluh saja sudah membuat mereka terkejut, ditambah dengan kematian mereka yang cukup misterius, membuat keterkejutan mereka bertambah.
__ADS_1
Mendengar cara kematian Tetua Kesepuluh, mereka diingatkan dengan sosok Dewa yang selama ini dicari-cari oleh seluruh anggota Klan Qing.
“Apa mungkin dia mati di tangan sosok Dewa?” tanya Tetua Kedelapan pada Tetua Kesembilan karena saat ini mereka tinggal berdua, setelah kepergian pria tua yang telah selesai bercerita.
“Mendengar cerita kematian mereka, aku merasa kematian Tetua Kesepuluh berhubungan dengan sosok Dewa, yang selama ini kita cari,” balas Tetua Kesembilan.
“Kalau benar kematian Tetua Kesepuluh berhubungan dengan sosok Dewa, apa yang menyebabkan pertarungan diantara mereka? Apa mungkin Tetua Kesepuluh menyinggungnya?” kembali Tetua Kedelapan bertanya.
“Kalau benar Tetua Kesepuluh menyinggung sosok itu, selain lemah, dia benar-benar bodoh karena telah menyinggung sosok yang tak seharusnya dia singgung!” ungkap Tetua Kesembilan.
Menyinggung sosok Dewa yang konon merupakan sosok terkuat di seluruh Alam Semesta, jelas Tetua Kesepuluh telah melakukan kesalahan besar, yang dapat membahayakan keberadaan Klan Qing.
“Tetua Kesembilan, apa menurutmu kita harus memberitahu semua ini pada Patriak?”
“Tentu saja kita harus memberitahu Patriak, kalau perlu secepatnya kita harus memberitahunya! Namun, aku tidak memiliki keberanian lebih untuk mengganggu kultivasi tertutup yang sedang dia lakukan!”
Tetua Kedelapan yang mendengarnya mengangguk karena dia sendiri juga tidak memiliki keberanian mengganggu kultivasi tertutup Patriak Klan Qing.
“Namun, aku takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Klan Qing jika kita telat memberitahu kabar sepenting ini padanya! Bisa saja Klan Qing ini sudah lenyap kalau kita menunggu Patriak selesai dengan kultivasi!” ucap Tetua Kedelapan.
“Bagaimana kalau kita pergi ke Pulau Kecil Yue Dao dan mencari keberadaan sosok yang mungkin itu adalah sosok Dewa? Jika dia masih berada di tempat itu, dengan kompas khusus milik leluhur Klan, kita pasti dapat menemukannya!” Tetua Kesembilan sangat percaya diri dengan ucapannya.
“Ah iya, kamu benar. Entah kenapa aku sampai lupa tentang keberadaan kompas itu, dan jika benar sosok Dewa berada di Pulau Kecil Yue Dao, kita bisa bertemu dengannya, dan siapa tahu kita bisa membawanya ke kediaman ini tanpa harus mengungkit kematian Tetua Kesepuluh dan murid-murid nya!”
Tetua Kesembilan mengangguk mendengarnya dan berkata, “Seandainya sosok Dewa bersedia ikut kita ke kediaman ini, bukan hanya kita yang tak peduli dengan kematian Tetua Kesepuluh, tapi Patriak dan semua anggota Klan Qing tak akan ada yang peduli dengan kematian orang itu!”
Tetua Kesepuluh sebenarnya selama ini hanyalah pelengkap, untuk melengkapi kesepuluh Tetua di kediaman agung Klan Qing. Dibandingkan dengan sosok Dewa, jelas keberadaan Tetua Kesepuluh sangatlah tak sebanding dengan keberadaan sosok Dewa.
“Kalau begitu, kapan kita berangkat ke Pulau Kecil Yue Dao? Apa kita lebih dulu menunggu Tetua lainnya menyelesaikan kultivasi nya?” Tetua Kedelapan bertanya pada Tetua Kesembilan.
Tetua Kesembilan menggelengkan kepala dan berkata, “Kita tidak perlu menunggu ada diantara mereka keluar dari pelatihan tertutup! Besok kita berangkat, dan asalkan membawa sosok Dewa itu ke kediaman ini, Patriak pasti senang pada kita, dan kemungkinan kita bisa menggeser posisi Tetua di atas kita!”
“Aku sependapat denganmu. Kalau begitu, segera kita tentukan hari keberangkatan ke Pulau Kecil Yue Dao! Kalau bisa, secepatnya kita pergi ke tempat itu!” ucap Tetua Kedelapan.
Sejenak berpikir menentukan hari kepergian ke Pulau Kecil Yue Dao, tak lama Tetua Kesembilan berkata, “Dua hari lagi kita berangkat!”
Tetua Kedelapan tak protes dengan keberangkatan dua hari lagi, yang menandakan dia setuju dengan usul Tetua Kesembilan. ‘Dua hari lagi aku pasti lebih dulu menemukan keberadaan sosok Dewa!’ ucapnya dalam hati.
__ADS_1
...----------------...
Bersambung.