LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
ALVIN HARUS DITEMUKAN.


__ADS_3

πŸ’Œ LOVE OF FATE πŸ’Œ


Β 


πŸ€ HAPPY READING πŸ€


.


.


ELEANOR GEA.



...Janganlah pernah menyerah ketika kita masih mampu berusaha lagi. Tidak ada kata berakhir....


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


Eleanor menghentikan mobil pickup yang dikendarainya tepat di depan rumah sakit st Maria. Ia menarik rem tangan dan memilih tidak langsung turun dari mobilnya. Ele tersenyum sendu saat melihat Amira tengah duduk di kursi panjang sambil menundukkan kepala.


Ele menarik napasnya dalam-dalam sambil membenamkan wajahnya di setir mobil, setelah berpikir cukup lama, akhirnya Ele memutuskan untuk minta ganti rugi atas kerusakan kebunnya. Rasa sakit itu datang kembali, tapi bagaimana lagi. Nasi sudah jadi bubur. Kerusakan kebunnya tidak bisa di kembalikan seperti dulu lagi. Setidaknya Ele bisa memanfaatkan tenaga pria itu.


Ele menyandarkan punggungnya ke kursi, lalu mengusap wajahnya dengan pelan, menutup wajahnya sebentar untuk menenangkan perasaan getir dalam hatinya. Kemudian Ele melepaskan napas panjang. Akhirnya ia memilih turun dari mobil. Ia melangkah mendekat ke arah Amira yang tengah duduk seorang diri di sana.


"Kau seperti wanita putus cinta." Ele berdiri di depan amira sambil bersedekap.


Mengenal suara itu, Amira langsung mengangkat wajahnya. "Kau kembali Ele?"


"Cih...Kau pikir aku setega itu?" Ele tersenyum malas.


Amira mengerucutkan wajahnya, ia terharu saat melihat Ele kembali lagi. "Terima kasih sayangku," Amira berhambur memeluk sahabatnya itu.


"Aku bukan sayangmu. Lepaskan aku, nanti kita dikira pasangan lesbi."


"Biarkan aja, yang penting bukan seperti itu kan, sayangku?"


"Aku bukan sayangmu," Ele mencoba melepaskan tangan Amira.


"Tidak, kau tetap sayang-sayangku." Amira memeluk erat tubuh Ele.


"Aku lapar, sekarang kita sarapan dulu." ucap Ele akhirnya.


"Sama, aku juga lapar. Kita mau makan dimana?" Reflek Amira melepaskan pelukannya.


Ele tak menjawab, ia berjalan lebih dulu meninggalkan Amira.


"Ele tunggu, kita mau makan dimana?"


"Ikut saja, jangan banyak tanya."


Amira tersenyum, Ia berjalan mengikuti langkah Ele. Tiba-tiba Amira menghentikan langkahnya. Dahinya mengerut dan terus memperhatikan mobil yang terparkir tepat di depan rumah sakit. Ia seperti mengenal mobil itu.


"Tapi mobil siapa?" Mata Amira memicing, Ia sedikit memiringkan kepalanya. Amira begitu penasaran dan berusaha mengingat lagi.


"Hei... kenapa melamun, ayo masuk." Ucap Ele menghentikan langkahnya. Mendapati Amira diam seperti orang bingung.


"Ahhh, maaf." Ucap Amira tersenyum memilih mengabaikan mobil itu.


Eleanor dan Amira masuk ke dalam rumah makan yang tak jauh dari rumah sakit. Amira langsung menarik tangan Ele.


"Tempat ini sepertinya mahal Ele, apa kau tidak salah memilih tempat ini?"


"Astaga, kalau hanya untuk sarapan saja, tidak sampai menguras kantong juga. Tenang saja. Kita pilih menu yang murah meriah. Oke!" Ele mengedipkan salah satu matanya.


Amira terkekeh dan mengangguk. Seorang pelayan berpakaian rapi langsung menyambut mereka.


"Silakan masuk nona," Ucap pelayan dengan ramah.


"Terima kasih." ucap mereka bersamaan dengan memberikan senyuman terbaiknya.


"Mau makan apa?" Tanya pelayan itu membawakan menu di tangannya.

__ADS_1


"Kami bisa lihat daftar menunya?"


"Tentu saja." Pelayan memberikan buku menu ke meja mereka.


Setelah cukup lama membolak-balikkan buku menu. Akhirnya mereka memilih menu french toast yang dikombinasikan dengan selai kacang dan pisang. Tak lupa mereka menambahkan teh hangat untuk menemani french toast.


"Apakah kau mau menambah menu pesanan lain, Amira?" Tanya Ele setengah berbisik.


"Ah sudah cukup." Amira tersenyum manis.


"Oke, kami pesan ini saja." kata Ele mengembalikan menu di tangannya. Pelayan itu mengambil buku menu itu kembali.


"Baik nona, jika butuh sesuatu. Bisa panggil kami dan menu pesanan akan datang secepatnya. Terima kasih." Pelayan itu pamit.


Sesaat mereka terdiam, menikmati suasana restoran yang sangat tenang. Rumah makan ini sangat terkenal di desa ini. Tidak besar dan tidak terlalu kecil juga. Pada bagian luar ada pemandangan kolam dan air mancur yang menambah kesan kesegaran. Gemericik air terdengar samar-samar di dalam restoran. Membuat pengunjung ingin tetap berlama-lama di tempat ini. Ele melayangkan pandangannya ke sekeliling dan tersenyum singkat.


"Tadi dokter bilang, biaya pengobatan lelaki itu sudah dibayar lunas."


"Heuh, sudah dibayar?" tanya Ele.


"Hmm." Amira mengangguk antusias. "Menurutmu aneh gak?" Kedua alis Amira terangkat karena begitu antusias. Kemudian ia memukul meja sampai membuat Ele terkejut.


"Jika itu keluarganya, kenapa pria itu tidak langsung dibawa dari sini?"


Ele semakin mengernyitkan keningnya. "Apa kamu yakin yang membayar semua pengobatannya adalah keluarganya?"


"Astaga, di Zaman susah sekarang, apa ada orang mau melunasi biaya pengobatan rumah sakit jika itu tidak keluarga kita sendiri? yang menjadi pertanyaannya. Kenapa keluarganya tega membiarkan pria itu di sini dalam keadaan amnesia?"


"Dokter tahu siapa nama yang membayar biaya pengobatannya?"


Lagi-lagi Amira menggebrak meja.


"Astaga kau membuatku kaget Amira."


Amira tidak perduli, Ia mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Ele yang belum bisa menutupi terkejutnya. "Itu yang membuat aku lebih bingung lagi. Namanya dirahasiakan."


"Apa?" Kata Ele dengan mata melotot.


"Sok tahu kamu,"


"Aku serius Ele. Aku yakin Alvin adalah orang kaya. Kita bisa lihat dari mobil dan pakaiannya, semuanya bermerek."


"Aiiiisss, sudah jangan membicarakan dia lagi. Sekarang aku hanya memikirkan cara bagaimana caranya minta ganti rugi dari dia."


"Kau hanya bisa memakai tenaganya untuk saat ini." Amira memberikan pendapat.


"Ya. Hanya itu salah satu caranya. Aku akan membuatnya menderita Amira." Sudut bibir Ele langsung melengkung ke atas.


"Kamu serius?"


"Apa aku pernah bermain-main dengan ucapanku? lihat saja nanti." Ele tersenyum jahat sambil menyeruput teh hangat yang ada di mejanya.


Mereka terdiam saat pelayan datang membawa makanan.


"Permisi nona, saya akan menyajikan makanan ini."


Amira kembali ke posisi duduknya. "Silakan," ucap Ele tersenyum lembut.


Makanan pun sudah tersaji. "Silakan menikmatinya.


"Oke, terima kasih." kata Ele mengangguk. Mereka membiarkan pelayan itu meninggal meja.


"Sekarang kita makan. Aku lapar." Kata Ele meraih menu yang ia pesan tadi.


Amira hanya mengangguk dan tersenyum kepada Ele. Mereka menikmati makanannya dengan baik. Setelah ini, mereka akan kembali ke rumah sakit. Setidaknya Ele ingin membuat perjanjian kepada lelaki yang bernama Alvin itu.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”Έ


SEMENTARA DI SISI LAIN.


Lukas duduk di kursi berkaki roda empat itu. Ia menyadarkan punggungnya, menengadah ke atas sambil memejamkan matanya. Ia begitu frustasi karena Alvin saat ini belum bisa ditemukan. Lukas tak bisa tidur karena memikirkan hal itu. Semua anak buahnya sudah digerakkan untuk mencari Alvin. Namun hasilnya masih tetap sama.

__ADS_1


Tok... tok...tok....


Tanpa di suruh masuk, Marvel sudah membuka kenop pintu dan masuk ke dalam ruang kerja, tempat dimana Lukas menghabiskan waktunya.


"Permisi tuan."


"Hmmm." Lukas belum mengubah posisi duduknya. Ia masih diam dengan pikiran berkecamuk.


"Saya mendapat informasi jika anak buah kita pergi ke sebuah pedesaan. Tapi saya tidak tahu apa tujuan mereka pergi ke sana, tuan."


Mata Lukas langsung terbuka. Mengubah posisi duduknya menjadi tegak dan memandangi Marvel dengan tajam. "Kapan itu?"


"Kemarin tuan."


Lukas mengeraskan rahangnya. Tangannya mengepal kuat. Apakah yang selama ini ia takutkan terjadi? Tapi belum ada bukti menguatkan dugaannya. "Sekarang aku tidak mau tahu, cari tahu dan panggil orang itu." ucap Lukas tegas.


"Baik tuan." Marvel mundur beberapa langkah sambil membungkukkan badannya. Setelah itu, ia keluar dan menghubungi Davis.


Tak menunggu lama, Davis sudah tiba di kediaman Smith. Ia mengetuk pintu dengan pelan, lalu membuka kenop pintu dan mendorong daun pintu ke dalam. Ia melangkah masuk dan berdiri tidak jauh dari tuan Lukas.


SEPULUH MENIT TELAH BERLALU.


Lukas masih diam di posisinya. Suasana seperti ini membuat Davis tidak nyaman. Ia hanya berdiri tepat di belakang tuannya.


"Sekarang katakan, siapa yang ada di belakangmu?" tanya Lukas memulai pembicaraan tanpa memandang Davis.


"Sa-saya tidak mengerti maksud anda tuan." Jawab Davis cepat dan dengan cepat menundukkan kepalanya.


"Kau tahu apa akibatnya jika seorang berani mengkhianati keluarga Smith?"


"Saya tahu tuan."


Lukas membalikkan badannya dan mengarahkan pistolnya ke arah Davis. Davis menegang kaku saat melihat pistol sudah di depan wajahnya. Ia hanya diam dan tidak bisa melakukan apa-apa.


"Apa hukuman bagi orang yang berani mengkhianati keluarga Smith?" Lukas menaikkan alisnya dan menatap dingin. Tangannya masih standby jika sewaktu-waktu siap menarik pelatuknya.


"Siap mati hari itu juga, tuan."


"Apa kau siap mati?"


"Tapi saya ingin tahu apa alasannya tuan?"


"Kau sudah tahu jawabannya."


"Saya tidak tahu, tuan."


"Siapa yang mengarahkanmu ke desa A dan apa tujuanmu ke sana?"


Davis menunduk dengan tangan gemetar. "Saya hanya ingin bertemu keluarga saya tuan."


"Benarkah?" Tanya Lukas dengan tatapan penghakiman. Tajam dan mendominasi.


"Sungguh tuan, saya hanya bertemu keluarga di sana."


Lukas kembali menarik napasnya dan berkata. "Jika kau berani mengkhianatiku, semua keluargamu akan mati di tanganku. Kau mengerti?"


"Saya mengerti tuan."


"Kau bisa keluar." kata Lukas menurunkan pistolnya.


Davis tak menjawabnya, ia hanya membungkukkan badannya dan keluar dari ruangan itu. Sementara Lukas membuang napasnya dengan kasar. Ia berbalik dan menatap keluar. Bagaimana pun ia harus menemukan Alvin. Lukas begitu menyayanginya lebih dari apa pun yang ada di dunia ini.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^

__ADS_1


__ADS_2