LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
MEMBERI PELAJARAN.


__ADS_3

💌 LOVE OF FATE 💌


 


🍀 HAPPY READING 🍀


.


.


...Dendam bukan lah cara yang baik untuk membalasnya. Suatu hari kamu akan melihat dan meminta maaf atas apa yang telah kamu lakukan....


🔸🔸🔸🔸🔸


Ele dengan cepat berjalan keluar dari rumahnya, tak perlu lama-lama membersihkan tubuhnya. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan pria perusak kebunnya itu.


"Heuh? kamu sudah selesai?" tanya Amira saat melihat Ele keluar dan menutup pintu dan mengunci rumahnya.


"Sekarang kita pergi," Ele menjawab tanpa memandang Amira.


Amira tertegun dan seketika mengerjap menyadari Ele sudah melangkah meninggalkannya. "Tapi kamu belum makan Ele." Ia melangkah mengikuti Eleanor.


"Ck .." Ele berdecak dan spontan berhenti, posisinya masih memunggungi Amira.


BRUKKK!


Amira menyambar punggung Ele. "Aaawwww...." Jerit Amira mengusap dahinya.


Ele membalikkan badannya dan tersenyum sinis, seolah tak perduli dengan benturan tadi.


"Jangan membuatku kesal Amira, aku tak ada waktu, apalagi memikirkan makan. Kau tahu, yang ada di otakku hanya ingin menghabisi pria itu saja. Tidak ada yang lain. Jadi jangan membahas soal makan lagi, Oke! Mohon kerja samanya."


Glek!


Amira menelan salivanya dengan susah, ia mengangguk cepat dan membuat gestur oke tanpa bersuara.


Ele segera membalikkan badannya dan langsung masuk ke dalam mobil pickup miliknya, yang di ikuti Amira. Wajah Ele datar dan sangat dingin. Tatapannya tajam ke depan. Ia memundurkan mobilnya. Matanya fokus memandang spion dan membanting setir. Ia langsung menancapkan mobilnya dan pergi meninggalkan rumahnya.


Jantung Amira terpukul kencang. Saat ini ia sangat ketakutan karena melihat aura wajah Ele yang begitu menakutkan. Tangannya berpegangan pada bagian atas mobil. Ia membuang napasnya, bersikap tetap tenang agar emosi Ele tidak tersulut. Dia tahu siapa Ele. Dan dia tahu bagaimana perasaan Ele saat ini. Hati Ele hancur berkeping-keping saat mengetahui hasil kebunnya tak bisa dihasilkan lagi.


Ele mengusap wajahnya dengan tangan yang satu. Ia bahkan terlihat gusar dan duduk gelisah di sana. Ia berusaha mengatur napasnya. Jantungnya bergemuruh di dalam dadanya. Ia sampai mencengkram setir mobil karena tidak bisa melampiaskan amarahnya. Rasanya benar-benar frustasi. Kecepatan mobilnya sudah melebihi batas. Ia tidak perduli. Saat ini yang dia pikirkan, bagaimana caranya agak ia cepat sampai di rumah sakit.


"Ele, jangan ngebut-ngebut dong, kurangi kecepatannya, kita bisa celaka." pinta Amira sesekali memejamkan matanya karena kecepatan mobil mereka sudah melebihi batas normal.


"Aku bisa mengendalikannya." ucapnya menatap lurus tanpa melihat ke arah Amira.


"Lagian buat apa kita terburu-buru, toh pria itu tidak bisa melarikan diri juga, kan?!"


"Kalau dia berani melarikan diri, aku akan mengejarnya sekalipun itu keujung dunia. Aku tidak ikhlas, Amira." Eleanor kembali menginjak pedal gas, melaju dengan kecepatan tinggi.


Amira menarik napasnya dan mencoba sabar menghadapi Ele yang keras kepala. "Iya aku tahu perasaanmu sekarang, tapi kurangi kecepatannya, hmm..."


"Aku sudah bilang bisa mengendalikannya, kau duduk tenang dan pejamkan matamu, kita akan sampai sebentar lagi."


Amira menutup matanya erat-erat. "Aku bisa mati cepat Ele. Kau teman tak punya perasaan." Amira mendengkus kesal. Ia semakin mencengkram kuat pegangan atas yang ada disisi kursi tempatnya duduk.


Ia hanya tersenyum samar, saat mendengar itu. Ele kembali fokus menatap jalanan. Kecepatan mobilnya berkurang. Amira perlahan-lahan membuka matanya.


"Kenapa Ele?"


Eleanor menarik napas panjang, "Ada perbaikan jalan."

__ADS_1


Amira mengelus dadanya, itu artinya Ele tidak bisa ngebut-ngebut lagi. "Aku dengar jalan di sini rusak parah. Lubang-lubang yang memang sudah tidak bisa ditoleransi lagi. Rusak di sana sini. Karena kita tahu jalur ini adalah jalur utama yang sibuk tiap pagi dan sore. Dan biasanya pengecoran dilakukan secara bertahap. Satu lajur per satu lajur. Pada saat satu lajur sedang dicor, lajur itu akan ditutup. Sehingga kapasitas dua lajur pun berkurang setengahnya."


"Sok pintar kamu."


"Cih... itu kenyataan Ele."


Ele berdecak di sana. Penyempitan jalan dan kemacetan tak bisa dihindari. Ia tetap bertahan di lajur kanan yang dibuka dengan harapan akan lebih cepat karena tidak perlu memotong dari lajur kiri ke lajur kanan pada bagian jalan yang ditutup. 


Eleanor cukup tetap di lajurnya, lurus melewati lajur tanpa penutupan. Semenit dua menit, Ele mulai merasa aneh. Ternyata lajur kiri yang ada penutupan jalan di depannya berjalan lebih cepat! Lebih cepat dari lajur yang tidak ada penutupan jalan.


"Aneh," pikirnya. Ia tidak terima.


"Apa mereka menerobos palang ya?" ucap Ele lagi.


"Kenapa?" tanya Amira.


"Kenapa lajur kiri yang ada penutupan jalan bisa lebih cepat dari lajur kanan yang tidak ada penutupan jalan. Dan bedanya sangat kentara."


"Itu perasaanmu saja, karena kamu sudah tidak sabar ingin sampai ke rumah sakit."


Ele mulai tidak sabaran. Muncul pertanyaan-pertanyaan yang gak penting di otaknya.


"Kok bisa ya? Ini benar-benar aneh. Seharusnya tidak begitu. Ada apa ini? dan Logikanya?"


Amira tak menggubris, ia melemparkan tatapannya menatap ke arah lain.


Melewati beberapa menit perenungan yang tidak penting. Kemacetan pun berlalu. Ele kembali menancap mobilnya. Dan lagi-lagi Amira hanya bisa menutup matanya dengan erat.


Tak beberapa lama kemudian. Mobil mereka tiba di rumah sakit. Rumah sakit yang tidak terlalu besar dan tidak kecil juga. Dengan cepat Ele keluar dari mobilnya yang diikuti Amira. Setengah berlari, kakinya melangkah terburu-buru di koridor menuju resepsionis.


"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang perawat berjaga di depan mejanya.


Ele menarik napas singkat, mengatur kalimat yang mudah dipahami wanita paruh baya itu.


"Betul sekali. Apa kalian salah satu anggota keluarganya?"


Ele melihat sekilas ke arah Amira. "Ya, kami adalah saudaranya. Dimana kamar mereka?"


"Siapa namanya?"


"Heuh, maksudnya?" tanya Ele.


Wanita itu menatap bingung. Dahinya mengernyit. "Jika kalian tidak memberitahu namanya, saya tidak bisa mengecek dimana kamar pasiennya."


"Kalau bisa saya tahu, korbannya ada berapa?"


Perawat menatap malas, "Kalian ini mau mengintrogasi atau mau mencari keluarga sih? Saya gak ada waktu melayani kalian." Perawat itu menatap Ele dan Amira dari atas kepala sampai ke ujung kaki.


"Maaf, kami bukan bermaksud untuk mengganggu pekerjaanmu. Kami benar-benar lupa siapa namanya. Tapi yang plat nomor kendaraan 41Vin ada di ruangan berapa?" Amira membuka suara.


"Astaga, baru ini saya menemukan orang, mencari kamar pasien dengan plat nomor kendaraan. Kamu waras ya?"


"Ya kami waras lah, apa kamu pikir kami gila?" Ele tampak kesal saat dikatai tidak waras.


"Maaf. Saya tidak ada waktu untuk berbicara dengan kalian, saya banyak kerja. Kalian bisa cari sendiri. Kamarnya ada di sebelah kanan paling ujung." Perawat itu langsung meninggalkan Ele dan Amira.


"Dia perawat atau apa sih? Kok judes banget, aku laporin, tahu rasa kamu." umpat Amira kesal.


"Gak usah dipikirin. Mungkin dia butuh refreshing. Ayoo!" kata Ele berjalan lebih dulu meninggalkan Amira.


Dengan cepat Amira mengikuti langkah Ele mencari kamar tempat korban kecelakaan yang mendapatkan perawatan selanjutnya.

__ADS_1


🔸🔸🔸🔸🔸


SEMENTARA ITU.


"Hmmmpppp....Hhhhmmppp...." Suara Alvin pelan dan parau. Samar-samar hampir tidak terdengar. Namun perawat yang sedang mengecek infusnya bisa mendengar. Ia melangkah cepat mendekati ranjang rumah sakit.


"Pak?" perawat berucap pelan.


Namun Alvin masih terpejam. Mungkin kesadarannya belum kembali akibat cara kerja obat bius yang memengaruhi otak dan organ-organ tubuhnya.


"Hmmm.... hmmmm..." Alvin mengigau dan mengerutkan keningnya. Ia merasakan sesuatu yang perih dipunggung tangannya saat ia menggerakkan tangannya.


perawat berusaha membangunkannya lagi. "Pak, anda sudah sadar?"


Perlahan-lahan mata Alvin terbuka. Ia masih beradaptasi dengan cahaya ruangan. Akhirnya ia berhasil membuka matanya dengan sempurna. Ia melihat sekelilingnya di dominasi warna putih. Aroma obat-obatan tercium di hidungnya. Alvin meringis saat tubuhnya di gerakkan. Badannya remuk seperti bekas pukulan terasa begitu sakit pada bagian punggungnya. Wajahnya mengerut dan semua terasa perih.


"Hiksss..." Alvin menahan sakit pada bagian kepalanya.


"Pak..." panggil perawat lagi.


"Kenapa aku berada di sini?" Gumam Alvin seperti orang linglung. Ia berusaha mengingat. Mencoba membongkar kotak-kotak memori yang kosong, mengais-ngais sisa-sisa ingatannya yang mungkin masih tertinggal. Sampai pikirannya terasa kelu. Kepalanya sakit. Alvin mencengkram kepalanya. Memori-memori yang tersimpan dalam ingatannya mulai bangkit ke permukaan. Pecahan-pecahan adegan dan gambar bergulir cepat dan kasar di dalam kepalanya yang kosong, yang kini mencicip nyeri seperti mau pecah. Tapi tidak tahu siapa namanya.


"Syukurlah anda sudah sadar pak. Bagaimana perasaan anda?" Tanya perawat mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah pria itu.


“Kamu siapa?” Tanya Alvin bingung. Perawat itu langsung terdiam.


"Saya perawat yang bekerja di sini."


"Kenapa aku di sini dan siapa aku?" lirih Alvin menatap ke arah perawat itu.


"Anda tidak ingat Pak?"


"Aaarghhhhh....." Alvin mencengkram kepalanya lagi. Rasa sakit luar biasa tak bisa ditahan.


"Pak....! Anda tidak apa-apa?"


Tiba-tiba pintu dibuka dengan kasar. Eleanor dan Amira langsung masuk.


"Akhirnya aku menemukanmu, kamu Alvin, kan?" Tanya Ele melangkah panjang menatap tajam ke arah pria yang berbaring lemah itu.


Alvin mengerutkan keningnya. "Kau mengenalku?"


"Anda keluarga dari pasien ini?" Tanya perawat menatap ke arah Ele.


"Kau harus ..." Tiba-tiba kalimatnya menggantung saat tangannya ditarik kuat.


Alvin terpaksa melakukan itu, karena begitu terharu. "Terima kasih sudah datang." ucap Alvin memeluk tangan Ele dengan erat.


Mata Ele terbelalak kaget. Begitu juga dengan Amira yang tidak menduga saat melihat reaksi pria itu.


"Jangan tinggalkan aku." Alvin berucap dengan mata berkaca-kaca.


DEG!


Jantung Ele terpukul kencang, Matanya terbelalak dengan mulut terbuka. Ia menatap Amira dan perawat itu secara bergantian. Niat awal, hanya ingin memberi pelajaran dan meminta ganti rugi. Tiba-tiba dipeluk seperti ini, tentu saja membuat Ele sangat terkejut.


BERSAMBUNG.....


^_^


Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍

__ADS_1


Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2