
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Tidak ada yang suka diabaikan, karena semua orang menginginkan perhatian dari orang yang dicintainya....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alvin memutuskan membuka hatinya dan menerima Allura. Ia tidak bisa mengabaikan wanita yang saat ini mengandung anaknya. Walau Ini adalah perjalanan yang terberat yang pernah dilakukannya, tetapi membuka hati menjadi sebuah permulaan dari proses penyembuhan. Β
CEKLEK!
Alvin masuk dengan baki di tangan berisi buah-buahan yang ia siapkan sendiri. Ia melangkah mendekati kasur saat melihat Allura menahan sakit. Ya, akhir-akhir ini Allura mengalami sakit kepala.
"Bagaimana perasaanmu?" Tanya Alvin memberikan perhatiannya, ia duduk di sisi ranjang.
Allura meringis sambil merubah ke posisi duduk, lalu mendorong tubuhnya ke belakang sampai terhenti pada sandaran kasur. Ia memijit pelipisnya. Matanya memicing karena pusing yang tidak mau hilang. Rasanya seperti lilitan ketat di sekitar bagian kepalanya. Allura bahkan sangat peka terhadap cahaya dan suara. Ia lebih suka ketenangan.
Alvin langsung meletakkan baki di atas nakas. "Apa kau sering mengalami seperti ini?" Alisnya mengerut karena cemas, melihat Allura hanya tidur di kamar dan tidak mau makan.
Allura tersenyum tipis, ia terus memandang wajah Alvin dari dekat. Suami yang kini memberikan perhatian saat ia merasakan kesakitan yang kadang tak tertahankan.
"Hmm, apalagi saat kau tidak ada sisiku, semua yang aku lalui terasa berat. Tapi sekarang tidak lagi. Aku bahkan bersyukur mendapatkan perhatian darimu, sayang."
Alvin tidak menjawab. Ia hanya mendekatkan wajahnya untuk melihat keadaan Allura. Allura tersenyum memperhatikan setiap garis wajah suami yang didambakannya itu.
"Sekarang apa yang kau rasakan? apa kepalamu masih sakit?" Tanya Alvin mengulurkan tangannya untuk memijit bagian kepala Allura.
Bukannya menjawab Allura menanyakan hal yang lain "Sudah berapa lama aku tertidur?"
"Sudah ada lima jam." Ujar Alvin tersenyum, Ia menghentikan tangannya dari pijitannya.
Allura mengangguk pelan. "Kamu tidak kerja?" Ia mendongak ke atas dengan posisi memejam. Kepalanya bersandar pada bagian kasur dan tangannya berpaut di depan perut.
"Ehmm, bagaimana aku bisa bekerja. Sampai di kantor kau menghubungiku lagi dan menyuruhku pulang."
Allura terkekeh, matanya masih terpejam. "Maaf. Ini bukan permintaanku. Tapi anak ini yang menginginkannya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa."
"Aku membawa buah untukmu." Alvin mengambil buah yang ia letakkan di atas nakas.
Allura langsung mengibaskan tangannya. "Aku tidak mau buah. Jauhkan dariku, Alvin."
Alvin segera menjauhkan buah itu dari Allura. Ia menatap wanita yang sekarang menjadi istrinya itu. Ia sama sekali tidak mengingat Allura. Tapi sebisa mungkin Alvin tidak ingin menyakiti perasaannya.
"Apa yang kau rasakan? Kenapa kamu bisa pingsan saat datang ke kantor Smith."
"Tiba-tiba gelap saja."
"Apa kita ke dokter lagi? Kita bisa cek kesehatanmu secara menyeluruh." Alvin lagi-lagi menunjukkan rasa perhatiannya, membuat Allura terharu.
"Kita sudah dengar sendiri bagaimana penjelasan dokter. Ini biasa dialami ibu hamil." Allura menarik napasnya dengan d*sahan panjang. "Aku tidak tahu menjelaskan bagaimana sakitnya. Sakitnya aneh, menyiksa dan membuatku tidak bertenaga."
"Tapi usia kandunganmu sudah tujuh bulan, setidaknya sakitnya sudah berkurang."
"Aku juga tidak tahu. Kehamilan setiap wanita berbeda-beda. Ada juga sampai sembilan bulan mengalami mual terus."
"Benarkah?"
"Hmm. Jadi kamu harus lebih sayang lagi kepada istrimu."
Alvin menarik napasnya dalam-dalam. Ia mengambil tangan Allura dengan lembut. Memberikan tepukan di sana. "Terima kasih, karena melalui semua ini. Walau aku tahu itu pasti berat untukmu."
__ADS_1
Allura menggelengkan pelan. "Tidak sayang, bagiku tidak masalah. Aku yang harusnya berterima kasih. Tuhan memberikanku untuk melalui semua ini. Aku minta maaf seharusnya kau mendapat perhatian dariku."
"Tidak masalah, selagi anak ini sehat. Aku tidak apa-apa."
"Dibalik semua ini, aku harus lebih bersyukur lagi." kata Allura menatap haru ke arah Alvin.
"Bersyukur?" Alvin mengerutkan keningnya.
"Iya bersyukur. Akhirnya suamiku kembali lagi. Walau awalnya berat saat mengetahui kamu menghilang. Banyak air mata dan kesedihan. Tapi aku harus bisa melalui semua ini. Aku harus kuat demi anak kita."
Alvin tersenyum tipis, "Istirahatlah, aku akan siapkan bubur kepiting seperti yang kau minta." ucap Alvin mengatur selimut Allura.
Allura menggeleng lemah. "Aku tidak mau bubur kepiting lagi. Sekarang aku mau bubur jagung manis."
"Hah? kok seperti itu?" Ucap Alvin dengan kerutan dahi.
"Hmmm. Aku mau jagungnya dipipil, dan pakai labu kuning juga. Aku tidak mau pakai bawang goreng dan satu lagi jangan lupa aku mau buburnya pakai kaldu ayam. Ingat, yang masak harus kamu." ucap Allura dengan tatapan berbinar. Saat ini ekspresi wajahnya seperti anak kecil yang mau dibelikan sesuatu.
"Benar mau yang itu?" Tanya Alvin menyakinkan Allura. Ia tidak ingin selera Allura berubah dalam hitungan kesepuluh.
"Ya aku mau yang itu. Jangan lupa tambahkan bumbu cintanya. Biar rasanya semakin enak."
"Oke! Tunggu tiga puluh menit lagi. Aku akan menyiapkan untukmu."
"Kau mau pergi?"
"Heuh..?" Alvin merasa heran dengan pertanyaan Allura. "Kenapa?"
"Jangan pergi!" ucapnya lagi.
"Bukankah kau ingin bubur buatanku?"
"Biarkan Elia saja yang membuatnya."
"Apa?"
Alvin masih tampak bingung. Ia menyakinkan pendengarannya sendiri. "Bukankah kamu tidak suka masakan ibu Elia? Kemarin saja kau tidak menyentuh masakannya." Ucap Alvin.
Allura menggeleng lagi. "Serahkan sama Elia saja. Kau tetap di sini. Temani aku, hmmm." wajah Allura memelas ingin dimengerti.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Aku sampaikan kepada ibu Elia dulu. Nanti aku ke sini lagi." kata Alvin akhirnya.
"Tidak, kau tinggal hubungi Elia saja. Kau tidak harus capek naik turun tangga hanya untuk menyampaikan itu. Kau juga harus butuh istirahat sayang."
"Heuh?"
"Oke, aku saja yang menghubungi Elia." Kata Allura akhirnya. Setelah melakukan panggilan kepada Elia. Terpaksa Alvin menyusul Allura masuk ke dalam selimut. Allura dengan cepat memeluk Alvin. Menatapnya begitu dalam. Sampai saat ini, Alvin belum juga menyentuhnya. Tentu saja membuat Allura sangat frustasi.
"Ssshhh," Tiba-tiba Allura kesakitan.
"Kenapa Allura?" tanya Alvin dengan cepat saat melihat wajah Allura mengerut menahan sakit.
Allura menatap Alvin dengan pandangan sayu. "Di bagian perutku, tiba-tiba keram. Tapi tidak apa-apa, nanti sakitnya akan hilang sendiri."
"Tidurlah, nanti aku bangunkan lagi saat buburnya sudah datang." Kata Alvin dengan lembut.
"Ssssshhhhh.. ssssshhhhh.." Alvin menepuk pelan pundak Allura, ia seperti menidurkan anak kecil sambil bernyanyi dengan suara pelan.
Semenjak Alvin kembali. Allura sering mengalami pusing dan mudah lelah. Bahkan ia tidak sanggup untuk duduk walau itu hanya sebentar saja. Dokter sudah menjelaskan, Allura mengalami couvade syndrome atau sindrom kehamilan simpatik. Bisa di bilang, ikatan batin Allura dengannya sangat kuat. Hingga kembalinya Alvin membuatnya mengalami seperti itu dan akan menghilang dengan sendirinya setelah bayi lahir.
Tiga puluh menit kemudian. Yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga.
TOK TOK TOK.
Mendengar suara ketukan pintu, Alvin langsung turun dari tempat tidur dan membuka pintu. Nampak Elia membawakan bubur seperti yang dipesankan tadi.
"Ah, maaf ibu Elia, saya sudah merepoti lagi."
__ADS_1
"Sama sekali tidak kok, tuan." Ucap Elia tersenyum sambil menyerahkan baki ke tangan Alvin.
"Terima kasih bu." Alvin menerima baki itu.
"Apa nona Allura sedang tidur, tuan?" tanya Elia sedikit melihat keadaan di dalam kamar.
"Ehmm, Allura baru saja tidur." ucap Alvin tersenyum. Ia melangkah meletakkan baki itu di atas nakas. Saat membalikkan badannya, ia menyadari bahwa ibu Elia masih di sana.
"Ibu, belum pergi?"
Elia nampak meremas tangannya. Wajahnya terlihat gugup.
"Ada apa, bu?" tanya Alvin menatap Elia dengan serius. Ia memberikan ruang kepada Elia untuk bicara.
Elia tak juga bicara. Sesekali ia melihat ke arah Allura yang sedang tertidur dan memandang Alvin sekilas, lalu melarikan pandangannya lagi.
"Ada apa, bu? Ibu ingin menyampaikan sesuatu?" tanya Alvin mengulang pertanyaan yang sama. Ia masih tetap sabar hingga wanita paruh baya itu bicara.
Elia menarik napas sambil memejamkan matanya. "Bagaimana aku harus mengatakan ini? Tuan Alvin harus mengetahui siapa wanita jahat itu sebenarnya." Ucap Elia dalam hati. Terlihat wajahnya menunjukkan ekspresi bingung dan resah.
Alvin mengernyitkan dahi. "Ada apa bu, katakanlah...apa ibu perlu uang?" Alvin mulai tak sabaran.
Allura berdehem saat mendengar pembicaraan itu, "Sayang, apa buburnya sudah datang?"
"Iya. Ibu Elia baru saja mengantarnya."
"Aku ingin makan sayang." Kata Allura.
"Maaf bu. Nanti kita bicara lagi."
"Baik tuan." Elia membungkukkan badannya, lalu meninggalkan kamar itu.
Alvin menarik napas singkat dan menutup pintu. "Sekarang makan iya," Ia kemudian duduk di pinggir kasur. Memangku baki lalu mengangkat mangkuk bubur. Alvin menyeduk bubur di tangannya lalu menyuapi Allura.
"Di buka mulutnya!"
Seketika hati Allura menghangat, perhatian yang diberikan suaminya suatu bentuk tanda cinta yang luar biasa. Ia menatap sendok, lalu membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dan menelannya dengan baik.
Tidak ada mual. Allura tersenyum bahagia. Sendok berisi bubur terulur ke depan mulut Allura lagi. Ia menelannya dengan baik.
"Makan lagi ya. Sudah habis setengah." Kata Alvin dengan lembut.
Allura membuka mulutnya lagi, suapan dari tangan Alvin masuk menyentuh Indera pengecap. Bubur jagung yang hangat benar-benar membelai rongga di dalam mulutnya. Terasa lezat, gurih dan nikmat.
"Bagaimana? Kau suka?" tanya Alvin. Ada senyum kecil dari bibirnya.
Allura mengangguk antusias seperti anak kecil. "Rasanya berbeda dari sebelumnya. Ini gurih karena kaldu ayamnya."
Ia selesai memberikan suapan terakhir ke mulut Allura dan memberikan gelas berisi air putih.
Allura menyambutnya. Sementara Alvin menyimpan kembali baki ke atas nakas. Allura menyerahkan gelas itu kembali dan mengambil tissue lalu membersihkan sisa makanan di mulutnya.
"Kau menghabiskannya dengan baik. Nanti malam, kau ingin makan sesuatu?"
Allura menggeleng. "Nanti saja. Untuk makanan hari ini cukup sampai di sini. Nanti malam kita bisa pikirkan kembali."
"Oke, baiklah." kata Alvin tersenyum, lalu menyimpan baki itu ke dapur.
Saat pintu tertutup, Allura tersenyum. Ia sengaja melakukan ini untuk mendapatkan perhatian dari Alvin. Dan semua rencananya berhasil. Dengan cara seperti ini, Alvin semakin sayang kepadanya. Rasanya benar-benar membahagiakan. Tak ada yang bisa menggantikan kebahagiannya saat ini.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^