
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Berterus terang dalam menyampaikan segala permasalahan walaupun sekecil manapun masalah itu. Jangan memandang mudah sesuatu masalah itu jika itu memang memerlukan penyelesaian....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Saat mendapatkan telepon dari Marvel, Allura langsung mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Alvin. Ada rasa bahagia yang tak bisa ia sembunyikan. Akhirnya Alvin memutuskan untuk menemuinya.
Disisi lain, Alvin baru selesai membersihkan tubuhnya. Ia memang sengaja membiarkan Allura menunggunya. Alvin ingin berdamai dengan masa lalunya. Selama ini ia berharap, agar tak kembali ke masa lalunya itu. Rasa sesak itu datang kembali. Sudah waktunya Allura tahu bahwa ingatannya sudah kembali. Tak mau membuang waktu, Alvin menarik napas panjang, lalu ia mengambil kunci mobilnya. Ia keluar dan turun melalui pintu lift menuju basement. Ia berjalan menuju mobilnya, tanpa menunggu lagi, Alvin langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju restoran yang sudah di reservasi Marvel.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sementara Allura menarik rem tangan mobilnya tepat di depan restoran ternama di kota A.
Fiiuuuuhhhh... Napas hangat keluar dari mulutnya. Beberapa hari menangis karena Alvin mengabaikannya. Allura sangat frustasi dan tak bisa tidur. Sampai detik ini, Allura tidak tahu kenapa Alvin melakukan itu kepadanya. Kini semua doanya terjawab, Alvin akhirnya memutuskan untuk menemuinya.
Allura tersenyum sendu sambil merapikan rambutnya. Ia melihat ke arah spion kaca yang ada di tengah mobil untuk melihat kembali penampilannya. Sejenak ia berpikir sambil menatap lurus ke arah restoran mewah yang ada di depannya.
"Tapi kenapa Alvin memilih bertemu di sini? kenapa tidak di rumah saja." Allura bermonolog sendiri. "Apakah dia mau memberikanku kejutan lagi?"
"Cih..!" Allura tersenyum menyeringai. "Aku yakin pasti kamu menyesal telah menyakiti hatiku," Ia menahan napas sejenak untuk mempersiapkan diri. Ada debaran-debaran samar yang membuatnya nervous. Ada rasa takut yang tak bisa di definisikan.
"Jangan pikirkan apa-apa, Allura. Sekarang kamu fokus untuk kebahagiaanmu."
"Atau kamu bisa menagih janjinya. Berlian bermata biru itu belum Alvin berikan kepadamu." Seketika pikiran kotor menggerogoti otaknya.
"Bagaimana pun caranya aku harus mendapatkannya. Aku bisa menggunakan anak ini, demi berlian itu." kata Allura dengan senyum penuh arti.
"Oke... Waktunya kita bertemu dengan daddy, sayang." Allura membelai lembut bagian perutnya.
Dengan hembusan napas panjang akhirnya Allura memilih turun dari mobilnya. Ia melangkah memasuki sebuah restoran ternama di kota A. Sebuah restoran mewah yang menyejukkan mata.
Restoran itu benar-benar megah, berhias lampu-lampu mahal yang berkilauan. Tamannya terawat tanpa ada satu pun rumput liar. Air mancurnya-pun terlihat sangat mewah. Allura berdiri di tengah-tengahnya. Dengan senyum menghiasi wajahnya, ia mendongak ke atas, melihat betapa tidak kontrasnya bintang-bintang di langit dengan lampu-lampu taman yang redup tetapi memberikan kesan elegan.
Kini Allura sangat yakin jika Alvin benar-benar merasa bersalah telah mengabaikannya beberapa hari ini. Ia membelai lembut perutnya yang semakin membesar. Kemudian terus berjalan dengan elegan menuju pintu yang bertuliskan open itu.
Seorang pelayan berpakaian rapi menyambut kedatangan Allura. Suasana mewah terbaik dan pelayanan berkelas. Pelayan yang akan menyajikan makanan untuk mereka nantinya, lengkap dengan seragam yang rapi. Allura bisa membayangkannya bagaimana malam ini menjadi malam yang istimewa untuknya.
"Silakan masuk, nona." kata seorang pelayan membuka pintu untuk Allura.
"Heuh, tidak ada orang?"
"Tempat ini sudah di reservasi untuk dua orang saja." Jawab pelayan itu dengan lembut.
"Apa? untuk tamu dua orang?" Allura kaget
"Benar, nona. Hanya untuk dua orang saja." Kata pelayan itu tersenyum sambil melangkah memberikan jalan.
__ADS_1
Allura hanya mengangguk dan mengikuti langkah pelayan itu. Ia tak bisa menutupi rasa terkejutnya saat pelayan membawanya naik ke atas.
"Kita naik ke atas?" tanya Allura.
"Iya nona, silakan ikut saya." ucap pelayan itu tersenyum tipis.
Allura lagi-lagi hanya mengangguk. Sepanjang jalan menuju tangga tersebut berderet lilin yang memagar di sisi kanan dan sisi kiri menyala lembut dengan cahaya kuning yang melambai, membawa Allura melangkah terus untuk naik ke atas. Semua pelayan berjejer rapi menyambut kedatangannya.
Allura tersenyum menahan malu, bagaimana Alvin bisa seromantis ini. Selama mereka berpacaran, Alvin tak pernah memberikannya kejutan seperti ini. Alvin hanya memberikannya uang dan membiarkannya memilih hadiah yang dia sukai. Kini Alvin benar-benar berbeda semenjak ia hilang ingatan.
Namun saat sudah berada di atas, dahi Allura mengernyit bingung. Di sana tidak ada meja. Kosong dan tidak ada apa-apa.
"Ini tidak salah, kan?" tanya Allura kepada pelayan yang berdiri di belakangnya.
"Benar nona, tempat ini sudah di reservasi selama tiga jam. Tempat ini bisa dipakai dimana saja. Dan kami diperintahkan untuk mengarahkan anda ke sini."
"Ahhhhhh....." Allura mengangguk paham. "Apakah akan ada kembang api, seperti drama Korea yang sering ditontonnya?"
Allura menahan senyum, membayangkan kejutan yang akan diterimanya hari ini. Langit-langit yang bertaburan bintang menambah keindahan malam ini.
"Aku terharu kamu khusus mempersiapkan semua ini untukku, Alvin." Ucap Allura dalam hati. Ia tak bisa menutupi rasa bahagianya.
Sembari menunggu Alvin, ia berjalan melihat sekelilingnya. Ia dimanjakan oleh kecantikan malam kota A. Desain rooftop juga terbagi menjadi dua yaitu konsep dining dan bar. Alunan musik langsung terdengar dari arah bawah.
di taman belakang, ada konsep pinggir kolam yang dibuat dengan sangat cantik. Beberapa kursi santai mengisi area ini dengan penerangan yang begitu elegan. Perpaduan warna putih, cokelat dan ornamen tanaman rambat akan sukses mengantarkan suasana yang nyaman dan romantis. Beberapa pohon bunga kamboja jadi ornamen cantik terdapat di setiap sudut rooftop.
"Aku sudah tidak sabar bertemu denganmu, Alvin." ucap Allura dengan suara terendahnya. Ia menarik napas singkat sambil menatap lurus ke arah jalanan.
πΈπΈπΈπΈπΈ
Sebelum Alvin masuk, ia melakukan ritualnya. Menghembuskan napas untuk menenangkan hatinya. Tangannya terasa dingin. Seakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya dan membuatnya cemas. Ia tahu seperti apa Allura. Alvin mencoba menenangkan dirinya.
Dengan tarikan napas panjangnya seakan tak mampu untuk melewati hidung, ia membuka mulutnya. Menyerap udara sebanyak-banyaknya untuk membuatnya sadar. Berharap dirinya bisa menguasai emosi. Dengan mantap Alvin melangkah masuk.
"Selamat malam tuan, apa anda tamu yang melakukan reservasi dua jam yang lalu?" Tanya seorang pelayan yang berjaga di bagian pintu masuk.
Alvin tersenyum mengangguk. "Hmm, saya sendiri." Jawabnya singkat.
"Oh, silakan lewat sini tuan," Pelayan menunjuk jalan.
"Apa tamu atas nama Allura sudah datang?" tanya Alvin mengikuti langkah pelayan itu.
"Sudah tuan, beliau sudah menunggu anda tiga puluh menit yang lalu."
Alvin kembali menarik napasnya. Ia terus melangkah dengan punggung tegak dan langkah yang tegas.
TUK TUK TUK
Entah mengapa, semakin mendekat ke atas rooftop itu, detak jantungnya semakin terpukul kencang. Ia mengepalkan tangannya yang terasa dingin. Pertemuan ini membuat Alvin benar-benar nervous. Setelah ingatannya kembali, Alvin semakin membenci Allura.
Alvin terus berjalan menyusuri koridor restoran. Langkah kakinya seirama dengan detak jantungnya saat ini. Perasaan berkecamuk memenuhi dadanya, kembang kempis sampai ingin keluar dari rongga dadanya. Ia mengembuskan napasnya lewat mulut. Berusaha menenangkan debaran-debaran yang tercipta di dalam hatinya.
Tap...tap...tap...!
Tap...tap...!
__ADS_1
Tap...!
Alvin memelankan langkah kakinya saat menaiki tangga. Ia kembali membuang napas dari mulutnya dan melihat sekilas jam yang ada dipergelangan tangannya. Alvin tersenyum sambil mengangguk kepalanya ke arah pelayan. Meminta pelayan itu membukakan pintu untuknya.
CEKLEK!
Daun pintu langsung di dorong pelayan restoran agar terbuka lebih lebar. Ia menahannya dan segera mempersilakan Alvin masuk.
"Silakan masuk, tuan!" kata pelayan dengan sopan saat pintu sudah terbuka lebar. Tangannya mengulur agar Alvin masuk ke atas rooftop itu.
Alvin mengangguk sambil tersenyum kepada pelayan itu ."Terima kasih."
"Kalau begitu, saya permisi tuan." Kata pelayan membungkuk dan menutup pintu itu kembali.
Melihat kedatangan suaminya, Allura tersenyum bahagia. "Sayang, kamu sudah datang?" ucap allura melangkah mendekat ke arah Alvin.
Melihat Allura, tangannya mengepal kuat. Alvin menarik napasnya. Ia membiarkan Allura mendekap lehernya dengan erat. Kemudian Allura melepaskan pelukannya. Wajahnya langsung berubah mengerut karena menahan tangisannya.
Allura memukul dada Alvin dengan pelan. "Kamu tahu, hatiku sangat sakit saat kau tidak pernah pulang ke rumah."
Wajah Alvin datar, sama sekali tak ada senyuman. "Kau tidak tahu, hatiku lebih sakit karena kebohonganmu." umpat Alvin geram.
"Kau bahkan tidak mengabariku, Alvin. Kau tahu aku sangat menderita." Allura kembali memukul dada Alvin, namun kali ini begitu kuat.
"Dan mengenai cincin yang aku minta, bukankah kau mengatakan cincin itu sudah kau pesan? tapi kenyataannya cincin itu hanyalah cincin berlian biasa. Aku tak mau..."
Alvin tersenyum dingin. Benar dugaannya, Allura hanyalah wanita yang tak pernah berubah. Dia gila harta dan selalu memaksakan kehendaknya. Alvin lagi-lagi hanya diam tak merespon.
"Kenapa kau diam saja sayang, lihat aku! kau tidak merindukanku?" Wajah Allura dibuat sesendu mungkin.
Alvin tersenyum smrik, tatapannya tidak mau lepas dari Allura
"Kau tidak merindukanku? harusnya kau memberikanku ciuman hangat. Anak ini juga butuh belaian kasih sayangmu." rengek Allura dengan manja.
Saat mendengar itu, Alvin mulai gerah. Ia melepaskan tangan Allura yang memeluk pinggangnya. Alvin berusaha mengendalikan rasa amarahnya. Ia melangkah menjauh dari wanita itu. Ia memasukkan tangan ke kantong celananya dengan posisi memunggungi Allura.
"Jangan bicara seperti itu Allura, aku muak!"
Allura mengerutkan keningnya. "Apa maksudmu sayang?" Ia nampak bingung melihat sikap Alvin.
Alvin tersenyum sinis. "Jangan merengek, seolah-olah kau adalah istriku."
DEG
DEG
DEG
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^