LOVE OF FATE

LOVE OF FATE
TETAPLAH TERSENYUM


__ADS_3

๐Ÿ’Œ LOVE OF FATE ๐Ÿ’Œ


ย 


๐Ÿ€ HAPPY READING ๐Ÿ€


.


.


...Dalam hatiku, kamu memiliki tempat spesial yaitu betapa menakjubkannya dirimu. Jadi, tetaplah tersenyum dan buat hidupku makin indah dengan senyuman manis itu....


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Eleanor Gea memutuskan menginap di hotel di desa Mulia yang terletak di daerah Puncak Jaya. Mereka akan menghabiskan waktu berdua di tempat ini. Setelah melalui banyak hal bersama, perasaan haru diakhiri dengan perasaan lega membuat mereka menikmati momen ini sebaik mungkin.


Malam semakin larut, Alvin langsung menghubungi bagian resepsionis untuk menyiapkan kamar eksklusif kepada Ele. Alvin pun mengantarnya ke kamar.


"Sampai di sini saja, janji sampai di depan kamar hotel."


Alvin tersenyum, lalu menarik tangan Ele. Dengan cepat ia memegang tengkuk Ele lalu memiringkan kepalanya.


CUP!


Alvin mlumat singkat bibir yang terasa manis itu.


"Selamat malam, sayang. Mimpi yang indah." bisik Alvin tepat di depan wajah Ele.


Ele membuka matanya pelan, tersenyum dan mengangguk.


Alvin membuang napasnya lagi. Lalu mengusap lembut rambut Ele. "Aku ingin kita menikah secepatnya, Ele. Rasanya tidak sanggup berpisah hanya satu menit saja."


Mendengar itu Ele tertawa awkward. Tatapannya begitu manis, melihat ekspresi serius dari Alvin. "Aku juga berharap seperti itu. Semoga Tuhan mengabulkan rencana baik kita."


"Aku akan membawamu bertemu orang tuaku secepatnya."


Ele hanya tersenyum samar dan tidak menjawab.


Alvin memundurkan langkahnya. Tangannya mengulur dan akhirnya terlepas. Alvin memasukkan kembali tangannya ke dalam kantong celana. Ia melihat Ele yang sedang membuka pintu kamarnya. Saat pintu terbuka Ele memandang kebelakang, melihat Alvin yang masih berdiri di belakangnya.


Alvin tersenyum simpul dan mengarahkan tangannya ke mulut. Tak di sangka Alvin memberikan sebuah kiss bye pada Ele.


Ele menunduk sambil terkekeh. Ia pun membalas kiss bye Alvin beserta satu kedipan mata centil. Alvin ikut tertawa sambil mengangkat wajah ke atas. Mereka bersama-sama menertawakan sikap kekanak-kanakan namun membahagiakan itu.


Alvin lalu memberikan gestur mengusir agar Ele segera masuk. Ele tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Ia pun melangkah masuk dan menutup pintu kamarnya.


Di dalam kamar, Ele menempelkan telinganya ke pintu hotel sambil tersenyum menggigit bibirnya. Ia merasakan kepergian Alvin yang melangkah meninggalkan kamarnya. Ele kembali tersenyum. Ia menyandarkan punggungnya di pintu. Tangan Ele menyentuh bagian dadanya yang terpompa lebih kencang karena detak jantungnya yang semakin bergemuruh di dalam dadanya. Membayangkan momen yang sangat menggetarkan bersama Alvin. Ia melepaskan tawanya sendiri.


Ele kembali berkhayal. Kepalanya mendongak ke atas. Terus membayangkan apa yang diterimanya hari ini. Lalu memegang lembut bibirnya. Lmatan itu masih membekas di sana. Masih terbayang nyata. Sebelum Ele pergi, Alvin menangkap tangan Ele dengan kekuatan penuh. Tubuh Ele tertarik sampai membuat badannya memutar terjatuh dan mendarat di dada Alvin. Ele tersentak, mata mereka saling menatap penuh cinta.


"Kamu cantik sekali, Ele."


Ele membuang napasnya dengan d*sahan saat Alvin menyentuh pipi Ele dengan lembut. Tangannya kini berpindah ke leher Ele, memasukkan jari jarinya ke rambutnya. Mendekatkan wajahnya agar semakin dekat. Pelan-pelan namun pasti. Alvin menyentuh bibir Ele kembali. Memberikan Lmatan-Lmatan yang membuat mereka akan selalu mengingatnya.


Alvin benar-benar memberikan sensasi yang luar biasa kepada wanita yang ia cintai. Ele merasakan tubuhnya bergetar hebat. Deru napas mereka semakin memburu. Ele reflek membuka mulutnya dan membalas ciuman Alvin. Ia menggerakkan bibir bawahnya untuk turun. Agar lelaki pujaan hatinya leluasa menjelajahi bagian dalam mulutnya.


Alvin menghisapnya dengan pelan namun berhasil membuat Ele melepaskan d*sahan singkat. Ia mengalungkan tangannya ke leher Alvin. Ciuman berdurasi lama ini membuat mereka terlena. Hidung mereka saling bersentuhan, membiarkan hidung mereka menarik oksigen sebanyak-banyaknya.


Alvin memajukan tubuhnya semakin rapat. Mengeratkan pelukannya. Ia mencium Ele begitu lembut dan nyaman, mata mereka terus terpejam. Ciuman itu kini saling terbalaskan.


Aaahhhhhhhhh....Ele melepaskan khayalannya. Ia berjalan menuju tempat tidurnya. Ele tersenyum dan membuang tubuhnya dengan gerakan bebas ke atas kasur. Ele membiarkan dirinya tersipu malu mengingat kejadian tadi.


Selama mereka tinggal di desa bersama, Ele tak pernah merasakan ciuman selama itu. Ciuman yang didapatnya hanya ciuman apa adanya. Karena Amira selalu mengacaukan kencan mereka. Kini cinta ini begitu indah. Dunia serasa milik mereka berdua. Ele menutup mulutnya. Tersenyum sambil menatap langit-langit kamar. Ia menggigit ujung jari telunjuknya. Senyumnya tidak bisa diajak diam, terus melengkung dengan perasaan hati yang bahagia.


Sebelum tidur, Ele melakukan aktivitas perawatan malam di wajahnya. Setelah selesai mengganti pakaian, Ele mengistirahatkan tubuhnya.

__ADS_1


๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ๐Ÿ”ธ


Mentari pagi menampakkan cahayanya. Cicit burung pipit mulai bernyanyi di pagi indah di desa Mulia. Suasana sejuk di pagi hari menjadi hal yang paling menyenangkan bagi Ele. Karena ini moment untuknya bisa merelaksasikan tubuh. Udara segar yang Ia hirup serasa membuat seluruh tubuhnya di Charge ulang.


Sejauh mata memandang Ia disuguhkan oleh hijaunya perbukitan yang membentang dari timur sampai ke barat. Hijaunya sawah-sawah petani juga tak berujung. Seakan semuanya ini adalah persembahan alam untuk orang-orang yang begitu bersahaja di desa ini.


TOK TOK TOK!


Terdengar ketukan pintu dari arah kamarnya.


"Alvin?" Ele membalikkan badannya dan berlari meninggalkan balkon kamarnya. Ia mendekat ke arah pintu itu.


Alvin kembali mengetuk pintu kamar Hotel itu.


"Ele? sayang?" Panggil Alvin dari luar.


"Sebentar Alvin, saya akan segera keluar." Ele setengah berteriak. Ia terus memeriksa penampilannya dan terus memandangi pantulan dirinya di cermin. "Oke, kamu sudah rapi, Ele."


Ele tersenyum sambil menepuk-nepuk bedak ke wajahnya, agar membuat wajahnya terlihat lebih bersih dan segar.


"Sudah oke." Ele puas dengan penampilannya hari ini.


CEKLEK


Ele membuka pintu dan melihat penampilan Alvin, ingatan itu kembali semasa mereka masih tinggal bersama dulu.


DEG ! DEG !


DEG ! DEG !


Mata Ele mengedip pelan menatap lelaki yang berdiri dihadapannya. "Astaga, Alvin tampan sekali hari ini. Tatapannya? Wajah tegasnya? Ah dia hanya memilikku."


Ele menatap Alvin dari atas sampai ke bawah. Ia mengunakan kemeja biru dengan logo berbentuk buaya untuk hari ini. Kemeja motif kotak-kotak itu Ia padukan dengan celana jeans berwarna netral merek Earnest Sewn. Alvin menggunakan sepatu kets Swarovski FilaFX2. Sepatu mewah dengan warna putih dan bergaris merah dan biru benar benar membuat penampilan Alvin terlihat sempurna. Kadar cintanya semakin bertambah. Seketika kupu-kupu berterbangan indah keluar dari dalam hatinya.


"Sempurna..." puji Ele dari dalam hatinya. Ia menjepit bibirnya dan menatap Alvin dengan lekat.


"Heuh...?" Ele tersentak dari lamunannya.


Alvin terkekeh melihat ekspresi lucu dari Ele. "Apa ada yang salah dengan penampilanku?" tanya Alvin lagi.


"Tidak ada. Kamu tampan sekali. Ah..maksudku..." Ele menggeleng cepat menyadari ia terlalu jujur dengan ucapannya.


"Hahahaha." Alvin tertawa renyah.


Ele menjepit bibirnya semakin dalam. Reflek ia memiringkan kepalanya menikmati tawa dari Alvin.


"Alvin benar-benar tampan. Oh my God, bisakah engkau menghentikan waktu ini. Hanya lima menit saja. Please...! " pinta Ele dalam hati. Ia masih ingin menikmati ketampanan Alvin.


"Kita sudah bisa pergi sayang?"


Ele mengangguk cepat. Alvin tersenyum dengan menekuk tangan kirinya seraya mempersilahkan Ele untuk menggandeng tangannya. Ele tersenyum menyambut tangan Alvin. Mereka berjalan di koridor hotel.


"Mau makan dimana?"


"Ehmm????" Ele menunjukkan gestur berpikirnya. Sambil berjalan beriringan mengikuti langkah Alvin.


"Terserah kamu saja. Aku ngikut saja, Alvin."


Alvin menghentikan langkahnya dan melirik ke arah Ele.


Ele mengerutkan keningnya. "Apa ada yang tinggal, Alvin?"


"Lagi?"


"Lagi apa?" Ele bertambah bingung.

__ADS_1


Alvin membuang napasnya dengan lesu. "Sayang, jangan panggil kamu atau Alvin lagi ya. Kau cukup memanggilku sayang."


"Sayang?" Ele terbelalak.


"Hmmm." Alvin mengangguk. "Panggilan kamu atau Alvin, aku tidak suka. Karena kita bukan teman."


Wajah Ele mengerucut, ia hanya mengangguk tersenyum pasrah.


Alvin tersenyum mencium puncak kepala Ele dengan lembut. "Sekarang kita bisa pergi. Habis ini aku ingin membawamu ke suatu tempat."


"Ke suatu tempat?" Ele berbisik pada dirinya sendiri.


Sesampai di parkiran mobil. Alvin membuka pintu mobil untuk Ele. "Silahkan masuk sayang." Ia sengaja menekan kalimat sayang agar Ele mengingatnya.


"Terima kasih, Ss-sayang." ucap Ele dengan gugup. Alvin tersenyum. Lalu menutup pintu. Ele langsung mengambil Seat belt untuk dipasang.


Alvin sedikit berlari mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi.


"Sudah siap sayang?"


"Iya, sayang. Saya sudah siap." bibir Ele tidak keluh lagi. Ia harus lebih terbiasa mengucapkan kata-kata itu. Ele melirik Alvin sambil tersenyum tipis.


Alvin mulai menginjak pedal gas, dan membawa mobil tersebut menuju restoran. dan setelah itu Alvin ingin membawa Ele ke suatu tempat.


"Bagaimana kabar ayah Lukas dan ibu Maria?" tanya Ele membuka pembicaraan.


Alvin tersenyum meraih tangan Ele memasukkan jari tangannya ke jari-jari tangan Ele. Mengecup punggung tangan itu dengan lembut.


"Mereka baik, nanti aku akan membawamu menemui mereka." Alvin sekilas melirik ke arah Ele dan kembali fokus membawa mobilnya.


"Apakah mereka akan merestui kita?"


"Tentu saja sayang." Jawab Alvin tersenyum. Menarik tangan Ele dan menempelkan di pipinya.


Ele sendiri hanya tersenyum samar, hatinya tidak tenang. Karena yang ia tahu ibu Maria sangat menyayangi Allura. Beliau jelas-jelas mengatakan itu saat terakhir kali mereka bertemu, sebelum Ele benar-benar memantapkan dirinya berangkat ke London.


Dddrrrttt..dddrrrttt.. dddrrrttt..!


Tiba-tiba ponsel Alvin berdering. Ia melihat nama panggilan masuk di handphonenya 'Ibu tercinta' Alvin meletakkan handphonenya di car holder yang ada di mobilnya.


"Panjang umur. Panggilan ini dari ibu."


"Angkat saja!"


Alvin tersenyum dan menggeser tanda terima. Tak lupa Alvin menekan tanda speaker di sana.


"Halo bu." Sapa Alvin tersenyum.


"Dimana sayang?"


"Aku masih meninjau lokasi proyek bu."


"Belum kelar juga ya?" Tanya Maria dari seberang.


"Hmm. Kemungkinan besok bisa pulang. Ada apa bu?"


"Allura sayang, sudah tiga hari gak mau makan. Kau bisa langsung melihatnya, kan?"


DEG!


BERSAMBUNG


^_^


๐Ÿ”ธTolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku ๐Ÿ˜

__ADS_1


๐Ÿ”ธSalam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.


^_^


__ADS_2