
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Sebuah harapan dan usaha selalu datang bagi seseorang yang senantiasa berdoa serta berjuang maksimal, tanpa mengenal kata menyerah....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Pagi hari matahari mulai bersinar terang, Sebagian cahaya hangatnya masuk melewati celah jendela yang tertutup gorden.
Pikirannya sudah terbangun dari tidur lelapnya, tapi tidak dengan tubuhnya. Tadi malam Alvin tertidur sudah pukul dua pagi. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya.
Alvin masih begitu malas membuka matanya. Bunyi alarm yang menggema di dalam ruangan itu, membuat mata Alvin mulai terbuka perlahan, serasa tidur panjang dan lelap namun kenyataannya rasa kantuk masih menguasainya.
Alvin memang sengaja mengaktifkan jam alarm di handphonenya. Karena pagi ini, ia akan meninjau lokasi di desa Mulia yang terletak di daerah Puncak Jaya. Alvin mengambil handphonenya yang ada di atas nakas. Mematikan bunyi alarm yang sedari tadi berbunyi itu. Alvin masih bergulung diri di dalam selimut. Ia memicingkan matanya, menatap handphonenya untuk melihat jam. Namun rasa malas yang masih menguasainya membuat Alvin kembali membenamkan wajahnya di antara bantal.
Satu tahun telah berlalu setelah kejadian kejar-kejaran di jalan raya bersama Arlo. Bagaimana perjuangannya lolos dari maut. Saat Alvin terjebur ke dalam sungai yang arusnya begitu deras. Alvin berpikir hidupnya akan berakhir saat itu juga.
FLAS BACK ON
"Byurrrr..byurrrrrrrr....,"
Suara air yang terpercik saat Alvin tercebur. Merasa jiwanya akan tenggelam terseret arus sungai. Mata Alvin menutup rapat. Jiwanya berselimut kepasrahan. Derasnya aliran membuat sungai sudah siap melahap tubuhnya.
"Tolong!!!!" Teriak Alvin. Ia seperti mengambang. Suaranya tertahan di tengah tenggorakan. Ingin berteriak lagi, tapi seperti ada sesuatu yang menahannya. Alvin mencoba melawan arus, tapi sepertinya ia tidak sanggup untuk melakukan itu.
"Haaaaaaaah...." Napasnya terpenggal kerena ia rasakan dadanya sesak bukan main. Merasa jiwanya akan tenggelam terseret arus sehingga tubuhnya dibawa paksa lari oleh air.
Arus sungai semakin deras dan beberapa kali tubuh Alvin yang sudah lemas harus menubruk batu. Beberapa kali badannya menabrak ranting-ranting yang ikut hanyut bersamanya.
"Tolong...." Teriak Alvin lagi.
Badannya terombang-ambing. Ia berusaha menyelamatkan diri dari derasnya arus. Alvin serasa sia-sia menggerakkan badannya. Malah arus semakin menggulungnya. Badannya semakin terpental dan Alvin hanya berteman kegelapan.
Kepalanya timbul tenggelam. Alvin berusaha mengadahkan kepalanya agar berada di atas air. Kakinya terus bergerak. Berusaha sekuat tenaga yang tersisa untuk menendang air yang terus menyeretnya tiada ampun.
Semakin Alvin bergerak, arus sungai semakin menyeretnya ke dalam belenggu kehanyutan. Dadanya semakin sesak dan dapat dipastikan air sudah banyak masuk ke dalam organ tubuhnya.
Tangannya terangkat melambai-lambai memberi tanda bagi siapapun yang melihatnya agar segera membantunya.
"Toooolonggggg!!!!!"
Berbicara di tengah derasnya arus sungai dengan meminta tolong adalah kesia-siaan. Setidaknya Alvin berusaha. Ucapan doa yang ia ucapkan beribu kali dalam hati. Berharap ada orang yang menolongnya.
"Siapapun tolong aku!" ucap Alvin terbata-bata dan tubuhnya kembali terseret.
Dalam hati, ia terus menyebut nama Ele, Ele dan Ele.
__ADS_1
"Ele .. mungkin ini adalah akhir dari hidupku. Aku harap di kehidupan berikutnya kita bisa di pertemukan kembali. Maaf, karena telah meninggalmu. Seharusnya dari awal kita tetap bersama. Namun takdir sepertinya tak berpihak kepada kita."
Tak kuasa menahan terjangan air, Alvin sudah mulai pasrah. Ia membiarkan tubuhnya terombang-ambing hanyut dalam air sungai.
Kepasrahannya sepertinya menjadikan doa yang tanpa disadari mendatangkan malaikat penolong. Disaat Alvin tidak memiliki tenaga lagi, dua orang pria berteriak di sana untuk segera memberikan pertolongan. Alvin masih bisa mendengar suara itu. Ia masih bisa merasakan seseorang melompat.
Byuuuuuuurrrrr.
Dua orang pria menyelam menyelamatkannya. Lengannya ditarik kuat. Mereka berusaha keras untuk menghalau derasnya arus sungai. Alvin masih bisa merasakan, perlahan-lahan tubuhnya tertarik ke samping. Mereka membawa tubuh Alvin ke tepian sungai dengan hati-hati. Salah satu pria itu berenang dengan sigap agar tidak terseret dengan arus air. Ia terus menjaga keseimbangan tubuhnya saat menarik tubuh Alvin yang lemah, agar mendekat dengannya.
Alvin sudah tidak bisa menahan rasa letihnya, tenaganya terkuras habis sedari tadi kewalahan menyelamatkan diri yang tak ada hasilnya. Padahal Alvin bisa renang. Tapi nyatanya ia tidak bisa melawan derasnya arus sungai.
Tubuh Alvin sudah sampai ditepi sungai. Alvin membuka matanya secara perlahan-lahan. Sekilas memandang wajah dua orang yang telah menyelamatkannya dan kemudian matanya terpejam lagi.
Tiba-tiba dadanya sesak, seakan berhenti tidak dapat bernapas dengan benar. Badan Alvin terbujur lemas dan kaku. Badan Alvin membiru. Mulutnya terbuka lebar seraya merasakan tenggoraknya tersedak air.
"Hei... sadarlah anak muda!" ucap salah satu pria yang menepuk-nepuk pipinya.
Sadar akan kondisi Alvin yang semakin memburuk. Tangan pria itu dengan cepat dan penuh perhitungan menekan dada Alvin yang sudah sesak. Alvin sudah merasakan dadanya sesak tak tertahankan. Dada Alvin semakin di tekan kuat.
"Uhukkkkk..... uhukkkkk.... uhukkkkk...."
Alvin terbatuk-batuk sembari menyembuhkan air yang masuk ke dalam tubuhnya. Sedikit demi sedikit mengeluarkan air dari hidung dan mulutnya. Pria itu kembali menekan bagian dada Alvin lagi.
Napas Alvin tersengal dan berucap dengan terbata-bata. "Te-terima ka-kasih."
"Syukurlah kamu selamat," Pria itu berkata dengan raut wajah khawatir, seraya menatap wajah Alvin yang lemah.
"Hei...Jangan tidur, kamu harus tetap bangun. Dimana rumahmu? atau kami menghubungi ambulance?"
Alvin membalasnya dengan sedikit tenaga menganggukkan kepala. Memandang nanar wajahnya yang berusaha menyadarkan Alvin agar tidak tertidur.
Tak beberapa lama mobil ambulance sudah tiba di tempat kejadian. Tubuh Alvin diangkat.
"Ikutlah bersamaku," Ucap Alvin dengan suara lemah.
Kedua pria itu saling berpandangan dan beberapa detik kemudian mereka menganggukkan kepalanya. Mobil ambulance melaju dengan cepat meninggalkan lokasi. Suara ambulance terdengar sepanjang jalan. Memberikan kode gawat pada pengguna jalan lain. Membelah jalan untuk mengejar waktu agar cepat tiba di rumah sakit. Tenaga medis melakukan pertolongan pertama. Memasang jarum infus ke tangan Alvin. Cairan yang berfungsi sebagai asupan tambahan bagi tubuh Alvin yang lemah. Karena memang tubuh Alvin menggigil kedinginan.
Marvel sudah menghubungi tim SAR untuk melakukan pencarian. Tapi sebelum tim SAR datang, Marvel sudah mendapatkan kabar bahwa Alvin sudah dibawa dengan menggunakan mobil ambulance. Dengan cepat Marvel langsung menuju rumah sakit.
Suara sirene terus terdengar begitu nyaring membelah jalan. Terus menyusuri jalan perkotaan. Hingga akhirnya mobil ambulance tiba di depan unit gawat darurat, rumah sakit terbesar di kota A. Para tenaga medis sudah menunggu kedatangan pasien.
Lukas langsung menghubungi direktur utama rumah sakit untuk memberikan pelayanan terbaik untuk anaknya. Para tenaga medis dengan sigap membawa ranjang rumah sakit. Mereka mendorongnya merapat ke pintu mobil ambulance dan tubuh Alvin cepat di pindahkan. Maria dan Marvel sudah menunggu kedatangan ambulance itu sejak tadi. Mereka langsung mengikuti ranjang rumah sakit itu.
Maria ingin menerobos masuk saat perawat membawa tubuh Alvin masuk ke dalam UGD. Namun petugas langsung menghalangi wanita paruh baya itu.
"Maaf bu, anda tidak bisa masuk."
"Tapi saya ingin memastikan keadaan anak saya. Saya mohon biarkan saya masuk."
"Maaf bu, ini sesuai prosedur rumah sakit. Tolong serahkan kepada kami. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menolong pasien." ucap salah satu perawat masih tetap berdiri di depan pintu UGD.
"Saya ingin melihat anak saya." Ucap Maria menangis mencoba membujuk perawat itu agar diizinkan masuk.
__ADS_1
"Maaf bu, kami tidak bisa. Silakan menunggu diluar."
Maria memegang tangan perawat itu dengan lembut. "Tolong lakukan yang terbaik untuk anak saya. Saya mohon!" Kata Maria dengan mata berkaca-kaca sambil menepuk punggung tangan perawat itu.
"Baik bu. Serahkan kepada kami." ucap perawat memberikan senyum terbaiknya.
Tiba-tiba ruangan itu tertutup. Maria mengusap wajahnya dengan kasar. Ia begitu frustasi. Ia berjalan menuju kursi yang ada di dekat pintu itu. Marvel hanya berdiri tidak jauh dari nyonya Smith itu. Mereka sama-sama terdiam dan masih menunggu kabar dari dalam.
Tatapan Maria berubah kosong. Ia tahu anaknya pasti kuat. Setelah kejadian kecelakaan yang membuat anaknya menghilang selama beberapa bulan. Maria tidak bisa mendengar kabar mengejutkan seperti ini lagi. Jantungnya lemah, Ia berulang kali membuang napasnya dari mulutnya. Dadanya bahkan terlihat naik turun, tidak kuasa menahan sesak di dalam dada.
Sementara Lukas berlari menelusuri koridor rumah sakit. Wajahnya nampak khawatir saat mengetahui kejadian ini. Arlo adalah puncak dari masalah ini. Ia melihat ke arah Marvel yang keluar dari ruangan dimana Alvin sudah dipindahkan setelah mendapatkan pertolongan dari UGD.
"Marvel?" panggil Lukas dengan suara parau dan gemetar.
Marvel segera berbalik dan melihat ke arah tuan Smith. "Tuan." ucapnya tersenyum sambil menunduk hormat.
"Dimana Alvin?"
"Tuan Alvin sudah mendapatkan pertolongan dari UGD, tapi beliau belum sadar." Kata Marvel menunggu diluar pintu.
"Apa Alvin baik-baik saja?" tanya Lukas dengan penuh harap.
"Tuan tidak perlu khawatir. Tuan Alvin hanya lemas karena sempat terseret arus sungai. Beliau sudah di tangani dokter."
"Ah, syukurlah," ucap Lukas lega sambil mengusap dadanya. Mengucap syukur dalam hati dan tersenyum bahagia. "Bagaimana orang yang menolong Alvin, apa dia masih di sini."
"Mereka sudah pulang, tuan."
"Aku ingin bertemu dengan orang itu."
"Saya akan mengaturnya, tuan."
"Bagaimana dengan Arlo?" Tanya Lukas lagi.
"Arlo tewas di tempat kejadian."
Rahangnya mengeras menahan amarah. "Dia tewas?"
"Benar tuan. Saat polisi melakukan pengejaran. Arlo melaju kencang hingga tak melihat mobil truk melaju kencang ke arahnya. Arlo tertabrak sangat keras. Tubuhnya jungkir balik dan terhempas cukup jauh. Dan saat itu juga Arlo tewas di tempat kejadian."
Lukas memejamkan matanya sambil menarik napas. Tak ada lagi pembicaraan. Ia masuk meninggalkan Marvel di sana. Sementara Alvin masih tertidur di atas ranjang rumah sakit.
FLASH BACK OFF.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^
__ADS_1