
π LOVE OF FATE π
Β
π HAPPY READING π
.
.
...Tersenyumlah dan berhentilah menangis, karena air mata yang engkau teteskan hanya akan membuat kakinya sulit untuk melangkah....
πΈπΈπΈπΈπΈ
Alvin melangkah dengan sejuta rasa sakit di dada. Ia berusaha menguasai perasaannya. Rasa sesak di dalam dadanya tidak bisa ia gambarkan dengan jelas.
Aaaaahhhhhhhh
Alvin mencoba untuk bernapas dan mencoba untuk memahami. Tapi ini terlalu nyata. Rahangnya mengencang saat mengingat sosok wanita yang selalu membuatnya tersenyum bahagia itu.
Napas Alvin keluar terbata-bata. Seakan karbon dioksida tertahan di dalam dada. Ini terlalu menyakitkan. Bagaimana takdir ini begitu kejam. Hanya ada memori-memori yang membuatnya pilu dan terluka.
Saat melihat kedatangan Alvin, Marvel dengan cepat membungkukkan badannya. Beberapa anak buahnya menarik tanda tutup dan memberikan jalan untuk Alvin. Alvin tidak perduli, ia hanya menatap datar tanpa ekspresi.
Langkah kaki mereka menggema serentak mengikuti langkah Alvin, tidak cepat dan tidak lambat. Sementara anak buah yang menunggu diluar dengan cepat menundukkan kepala seraya memberi hormat. Mereka tidak berani mengangkat wajahnya, sebelum Alvin masuk ke dalam mobil. Alvin semakin mengepalkan tangannya begitu kuat. Ia tidak suka diperlakukan seperti ini.
"Mari, tuan. Silakan." Marvel mempersilakan Alvin mendekat ke arah mobil dan membukakan pintu mobil bagian belakang, ia tersenyum samar. Kebiasaan yang dulu ia lakukan, kini ia melakukannya kembali.
Alvin diam tak kunjung masuk. Rahangnya mengencang saat mengingat wajah Ele tersenyum lembut kepadanya. Alvin membuang napas sambil menutup matanya. Ia berusaha menerima kenyataan pahit ini.
Alvin nampak seperti orang kebingungan. Ia masih seakan mencerna semuanya. Masih mencoba mengerti. Masih mencoba memahami. Hatinya semakin perih saat ini. Terutama saat mengetahui lebih jelas, bahwa Ele memang sengaja membawanya ke kota ini, agar ia kembali kepada keluarganya. Alvin tidak menyangka akan berakhir secepat ini.
Marvel mengerutkan keningnya saat melihat Alvin tak kunjung masuk. "Tuan, silakan masuk! Tuan dan nyonya sudah menunggu kepulangan anda." ucap Marvel sedikit membungkukkan badannya.
Alvin menarik napasnya yang semakin sesak. Ia tak bisa meninggalkan Ele seperti ini, Alvin sangat mencintai wanita itu. Tanpa pikir panjang. Alvin dengan cepat membalikkan tubuhnya dan berlari kembali ke restoran itu.
Marvel terkejut. "Tuan!!!!" teriaknya mencoba menghentikan Alvin.
Namun Alvin tak perduli, ia hanya terus berlari masuk ke dalam mall itu. Jantungnya memukul kencang, sangat kencang. Napasnya naik turun karena kecepatan berlarinya.
Heeehhh.....Heeehhhh...
Alvin terus berlari, tak tahan dengan segala gejolak yang timbul di dadanya. Ia berdoa semoga Ele masih ada di sana. Napasnya tersengal karena kecepatan berlarinya.
Namun, langkahnya melambat saat menyadari Ele sudah tidak ada di sana. Alvin mengedarkan pandangannya.
"Eleeee??!!" teriak Alvin.
Saat mendengar suara teriakan, seorang pelayan mendekat ke arah Alvin.
"Ada yang bisa saya bantu tuan?" Tanya pria berseragam putih itu dengan sopan.
"Apa anda melihat seorang wanita yang duduk di sana?" Alvin menunjuk sebuah meja kosong yang ada di sebelah kanan.
__ADS_1
Pelayan itu mengikuti arah tangan Alvin. Ia nampak berpikir sejenak, lalu tak beberapa lama, ia menggeleng. "Maaf tuan, saya tidak melihatnya."
"Anda tidak melihatnya? rambut panjang, matanya indah dan dia menggunakan baju kaos putih seperti saya." Alvin mencoba menjelaskan ciri-ciri wanita itu.
"Maaf tuan, saya tidak melihatnya." Jawab pria itu dengan yakin.
Alvin mengembuskan napas panjang. Ia mengendarakan pandangannya mencoba mencari Ele.
"Kemana kamu sayang?" Alvin mengusap wajahnya dengan kedua tangannya dan kemudian duduk di kursi panjang yang ada di sana.
Tiba-tiba kepalanya terasa sakit. Alvin memegang kepalanya dengan erat. Ia menyandarkan punggungnya kesandaran kursi sambil memejamkan matanya.
"Jangan seperti ini Ele, dimana kamu?" Alvin seperti kehilangan arah. "Apa yang harus aku lakukan tanpamu?"
Marvel yang melihat Alvin langsung memperlambat langkahnya. Ia melangkah pelan dan berdiri tidak jauh dari Alvin.
"Tuan," Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Alvin diam tidak menjawabnya. Ia hanya menunjukkan wajah datar dan dingin. Seolah-olah tidak ada Marvel di sana.
"Kita harus pulang tuan. Keluarga sudah menunggu anda." ucap Marvel sedikit takut saat melihat reaksi Alvin.
Heeeehhh... Alvin membuang napas sambil menutup matanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, kedua siku tangannya bertumpu ke pahanya. Lagi-lagi Alvin mencengkram kepalanya sambil menunduk.
"Istri anda juga sudah menunggu kepulangan anda." Kata Marvel seperti memberitahu.
Hening. Alvin tidak menjawab. Tak juga berekspresi apa-apa. Ia diam bagaikan mayat hidup. Hanya diam dan tak kunjung memandang Marvel sama sekali. Alvin hanya merasa sesak dan tak berdaya. Rasa sakit, perih, pedih bagai disayat-sayat sembilu semakin membuat luka di hatinya menganga.
Marvel juga tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu. Ia tahu bagaimana perasaan tuannya saat ini. Mungkin dengan membiarkannya seperti ini, membuat Alvin merasakan jauh lebih baik.
Sementara Ele berjalan menyusuri jalanan sambil sesekali menyeka air matanya. Dia tidak tau sudah sejauh apa dia berjalan. Dia hanya ingin sendiri. Hari sudah malam, Dia bahkan tidak tahu sudah berada dimana. Udara dingin yang menusuk tubuhnya tidak dirasakan lagi. Rambutnya basah karena tiba-tiba gerimis turun membahasi bumi, bajunya ikut berantakan. Kakinya sudah mulai sakit.
Hati Ele sangat kacau saat ini. Matanya berkaca-kaca, penuh dengan air bening yang sudah mengkristal di kelopak matanya.
Ele menunduk dan kembali berjalan hingga ia berhenti di sebuah taman. Ele membungkuk dan memegang lutut berusaha menstabilkan napasnya yang naik turun semakin cepat. Ia menarik napasnya berulang kali. Matanya menatap lurus ke arah langit. Biasanya jika menatap bintang-bintang di atas, hatinya akan membaik. Namun yang dirasakannya saat ini, sama sekali tidak membantu. Hatinya semakin sesak, bahkan ia semakin sulit untuk bernapas.
"Ibu..." Tangisan pilu itu semakin terdengar menyayat hati bagi siapa pun yang mendengarnya. Ia menumpahkan kesedihannya pada langit malam. Tangisannya semakin pecah di sana.
"Kenapa hidupku seperti ini? apa yang salah? apakah aku tidak pantas hidup bahagia?"Ucapnya dengan lirih.
"Apa aku harus menyalahkan ibu yang menikah dengan pria brengsek itu? atau aku harus menyalahkan kedua saudaraku yang begitu membenciku?" Tangisan Ele semakin terdengar di sana.
"Apa yang harus aku lakukan ibu. Aku sangat mencintainya. Tapi aku harus melepaskannya." Wajah Ele mengerut dan mencoba memahami semuanya.
"Aku benci semuanya, aku benci Allura, aku benci Harry. Mereka selalu memanfaatkan hidupku." Teriak Ele. Semua rasa sesak di dada ia keluarkan di sana.
Ele menengadah ke atas. Mengambil oksigen sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-parunya. Mulutnya terbuka dan sulit untuk mengatakan segala yang ada di dalam hatinya.
"Hatiku sakit...hatiku juga sakit Alvin. Apa kau tahu itu? aku juga berat melalui ini. Aku...aku..." Ele tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Ia hanya mengeluarkan d*sahan-d*sahan kecil saat mengucapkan setiap kalimat yang keluar dari mulutnya karena menahan tangis.
Perlahan-lahan Ele berjongkok, menutup wajahnya dengan tangan. "Aku juga tidak sanggup melalui hari-hari tanpamu. Sejujurnya aku takut kau berhenti mencintaiku, Alvin. Aku tidak bisa...." Ele terus menangis di sana.
Walau sesungguhnya ia menyadari kebodohannya. Seharusnya ia tidak mengatakan itu. Bukankah ia sudah mengikhlaskan kepergian Alvin. Seperti janjinya kepada wanita paruh baya yang menangis kepadanya.
__ADS_1
Flash back on.
Saat kepergian Allura, Marvel datang lagi menjemput Ele. Dia mengatakan tujuannya bahwa ibu Alvin ingin bertemu dengannya. Ele melangkah memasuki rumah makan tempat ia bertemu dengan Allura tadi.
Saat melihat kedatangan wanita cantik bersama Marvel, Maria yakin bahwa dia adalah wanita yang menyelamatkan anaknya itu. Maria bangun dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Ele. Ia menyambutnya dengan senyuman lembut.
Ele bernapas gugup saat melihat wanita itu datang mendekat dengan dress polos kombinasi floral, yang tetap membuatnya elegan sekaligus keibuan.
"Kamu Eleanor, kan?"
Ele menganggukkan kepalanya. "Selamat siang aunty." Sapa Ele dengan senyuman tipis.
"Selamat siang Ele. Kamu cantik." Puji Maria. "Silakan duduk sayang," Maria membawa tangan Ele duduk bersamanya.
"Terima kasih aunty."
"Seharusnya saya yang berterima kasih kepadamu, kamu sudah menyelamatkan anakku Alvin." Maria menghela napas singkat, menatap Ele dengan lembut. "Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu, Ele."
Ele tersenyum canggung sambil meremas tangannya. "Jangan bicara seperti itu aunty. Aku bersyukur dipertemukan dengan Alvin. Dia lelaki baik dan bertanggung jawab."
Maria mengambil tangan Ele dan memberikan tepukan lembut di sana. "Kamu tahu? Keluarga sempat putus asa mencari Alvin kemana-mana. Ternyata Alvin mengalami kecelakaan dan membuatnya hilang ingatan. Tapi aunty bersyukur, ternyata Alvin dirawat seorang gadis cantik dan baik sepertimu."
Lagi-lagi Ele tidak nyaman saat diberikan pujian seperti itu. Ia hanya tersenyum sambil melihat ke arah tangannya yang digenggam lembut oleh wanita itu.
"Tapi aunty sedih, Alvin tidak mau kembali sayang. Alvin bahkan menolak untuk bertemu dengan aunty." Mata wanita paruh baya itu tiba-tiba berkaca-kaca.
Saat melihat itu, hati Ele seperti dicengkeram kuat oleh sebuah tangan. Ia pernah melihat wajah sendu ibunya, memohon dan meminta agar Ele tidak ditangkap. Kenangan buruk itu seperti kembali lagi.
Ele dengan cepat melepaskan napasnya dengan mulut terbuka. Ia terdiam kaku, mematung di sana. Napasnya cepat berganti, menarik dan mengembus dengan pola yang tidak normal.
"Tolong bujuk Alvin untuk kembali Ele, dia adalah penerus keluarga Smith. Alvin sudah memiliki keluarga dan istrinya sedang mengandung. Kau mengerti maksud aunty kan, sayang?" ucap Maria dengan tatapan memohon.
Ele tidak juga bicara. Maria melepaskan tangannya dari tangan Ele. Ia mengambil sesuatu dari tasnya.
"Ini ada cek untukmu. Kau bisa melanjutkan sekolahmu diluar negeri dan memulai hidup baru di sana. Kau tidak perlu mengolah kebunmu lagi. Aku rasa ini cukup untuk biaya hidupmu selama sepuluh tahun ke depan. Anggap saja ini ucapan terima kasihku, kau sudah merawat Alvin dengan baik."
Kata-kata itu seperti tamparan keras untuknya. Bibirnya keluh. Sakit, sangat sakit. Ele berusaha bernapas dengan baik. Matanya seketika berkaca-kaca. Hidungnya merah. Menahan air matanya agar tidak keluar.
"Tolong bantu aunty sayang. Aunty berharap banyak kepadamu." Setelah mengatakan itu, Maria meninggalkan tempat itu.
Dan saat itu juga, air mata yang tidak diundang jatuh bebas membasahi pipinya. Ele diam menatap cek yang ada di depannya.
Flash back off.
Ele berusaha tenang sambil menengadah ke atas. Ia menarik napasnya dalam-dalam lalu mengembuskannya dari mulut. Ia kembali menguatkan hatinya. Ele pasti bisa melewati ini. Ia sudah pernah mengalami hal-hal tersulit dalam hidupnya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku π
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
__ADS_1
^_^