
💌 LOVE OF FATE 💌
🍀 HAPPY READING 🍀
.
.
...Aku paham, kau selalu ingin menjauh, karena aku merasa jenuh. Namun kau lupa satu hal, perasaan lahir bukan untuk dibunuh....
🔸🔸🔸🔸🔸
Matahari menyapa di pagi hari dari balik gunung di sebelah timur. Sinarnya terpancar menyinari jembatan di seberang desa hingga ke sawah-sawah yang ada pun terwarnai oleh kuningnya sinar matahari, angin berhembus sejuk, dedaunan pun ikut bergoyang terkena hembusan angin. Burung-burung berkicau sangat merdu membangunkan semangat bekerja para penduduk desa yang mayoritas berprofesi menjadi petani. Tak heran jika Alvin suka berjalan-jalan di pagi hari, meningkatkan hormon endorfinnya. Dekat dengan alam salah satu meningkatkan hormon kebahagiaan. Alvin berjalan melalui jalan pintas.
Dinginnya udara tak meruntuhkan niat lelaki tampan itu. Jalan pagi adalah kebiasaan yang dilakukannya sebelum melakukan aktivitas. Mungkin ini cara terbaik untuk memulihkan ingatannya. Alvin tersenyum saat orang-orang bertegur sapa dengannya, Alvin berjalan dengan tempo lambat. Karena kakinya belum kuat untuk berlari. Udara begitu sejuk. Di kiri berjajar pohon. Ada beberapa orang yang juga berjalan kaki dan mendayung sepeda yang jarak kebunnya lumayan jauh.
Alvin tersenyum sesaat, lalu kembali melanjutkan aktivitas berjalannya. Suhu dingin membuat napas Alvin mengepul, mungkin karena ia berada di daerah pegunungan. Musim dingin masih saja menyisakan percikan-percikan angin yang benar-benar terasa menguliti kulitnya yang sudah mulai kering. Alvin masih menyimpan harapan supaya ia bisa mengembalikan potong-potongan kenangan yang masih tersisa.
DEG!
Tiba-tiba jantung Alvin berpacu cepat, darahnya berdesir dan oksigen seolah harus menerobos berbagai rintangan agar bisa mencapai paru-parunya. Entah mengapa setiap melihat Ele, darahnya berdesir dan detak jantungnya berdebar tidak teratur.
Alvin menghentikan langkahnya, dan segera membalikkan badannya. Di dalam mobil pickup ada Ele yang sekedar membunyikan klakson untuk menyapanya.
"Ele?" Teriak Alvin. Napasnya mengepul keluar dari mulutnya yang terbuka.
Ele, tak perduli. Ia terus melajukan mobilnya hingga debu dan dedaunan berterbangan ke sana-sini.
Alvin terdiam di tempatnya, ia tak bersemangat untuk melanjutkan jalannya. Alvin duduk di kursi di dekat pohon yang ada di sana. Ia menghela napas lagi, seolah-olah dengan begitu, ia bisa mengalirkan sebagian rasa kesal ke udara bebas, membaginya dengan dunia. Namun dengan setiap helaan napas, kesal yang ia rasakan justru makin menjadi. Tenggorokannya terasa tercekat. Ia segera menelan ludah, meski mulutnya terasa kering. Alvin tersenyum sendu mengingat perkataan Ele satu minggu setelah ia pulang dari rumah sakit.
Ingatan itu begitu jelas, saat Ele mengatakan bahwa mereka tidak ada hubungan keluarga apabila hubungan darah.
"Kau hanya menumpang hidup di rumah ini. jadi ingat, jika ingatanmu kembali kau harus mengganti semua biaya hidupmu selama kau tinggal bersamaku. Jangan berharap untuk hidup tenang Selama tinggal di sini. Kau harus bekerja. Setidaknya bantu aku untuk mengembalikan kebunku yang telah rusak kau buat." tampang gaharnya terlihat jelas di setiap lekuk wajahnya.
Setelah mengatakan itu, Ele langsung pergi dan tidak kembali selama dua hari. Ia memilih tinggal bersama Amira. Dan saat itu juga, mereka tak pernah berbicara lagi. Lebih tepatnya tercipta rasa canggung dan bingung sampai ke detik ini. Entah bagaimana menghilangkan dua kata tesebut agar membuka pembicaraan dengan Ele. Disatu sisi, ia ingin mendekati dan yakin tetapi dua kata tersebut seakan menjadi hambatan untuk memulai semuanya. Setidaknya Alvin ingin menanyakan apa dia baik baik saja. Ia tidak pandai berkata-kata, apakah sebelumnya, Alvin juga seperti itu?
Alvin ingin sekali berbicara serius dengannya dan mengatakan niat baik untuk membantu Ele. Alvin tidak peduli apa Ele menerima atau tidak, yang pasti Ia sangat berharap hubungannya dengan Ele baik seperti keluarga yang tinggal satu rumah. Jika Ele memintanya pergi, Alvin tidak bisa melakukannya. Hatinya sudah menyatu di sini. Tidak mudah untuk hidup seperti ini. Dibalik semua keindahannya dan ketenangan yang ditawarkan, membuatnya merasa terikat. Iya, Alvin merasa seperti ada ruang untuk kita tumbuh dan belajar. Dan itulah salah satu alasannya ia begitu ingin tetap berada disini. Sangat membahagiakan dan menenangkan.
__ADS_1
🔸🔸🔸🔸🔸
Cahaya matahari mulai terasa hangat dan Alvin memutuskan kembali ke rumah. Seperti biasanya Ele tidak pergi ke kebun jika hari minggu. Ele memilih pergi ke kapel bersama Amira. Dan untuk hari ini, Alvin ingin ikut. Berhubung kakinya sudah tidak sakit lagi. Perjalanan pulang, Ia melewati sawah-sawah yang hijau dan indah, air sungai yang jernih hingga Alvin dapat bercermin di atasnya. Langit yang begitu cerah membuat hatinya senang dan bergembira untuk menjalani hari-hari yang penuh keindahan alam sekitar. Matanya dibuat nyaman ketika melihat bunga-bunga yang mekar di sepanjang jalan.
Tak terasa waktu terus berjalan, Alvin pun sudah sampai di rumah. Keadaan pintu terbuka.
Ele sedang duduk menatap makanan yang ada di depannya. Pikirannya kacau. Bagaimana tidak kacau, Amira mengatakan kakaknya akan datang ke sini. Dia pasti ingin membicarakan soal perjodohan itu lagi. Ditambah tuan lebah telah membatalkan kerjasama, setelah kejadian kerusakan kebunnya.
Ahhhhh.... Ele frustasi. Ia menarik napas singkat. Bingung harus melakukan apa. Ia diam membeku di dapur dengan pandangan kosong. Kegiatan makannya masih berlanjut, tatapannya lurus sambil mengunyah makanan yang sedikit demi sedikit masuk ke dalam mulutnya.
“Ele, itu makanan gosong. Siapa yang menyuruhmu untuk memakan makanan itu?” Ucap Alvin melangkah mendekat ke arah Ele. Laki-laki yang menurut Ele selalu saja ingin tahu. Menyebalkan.
“Tidak ada.” Jawab Ele ketus, tanpa memandang Alvin.
Jawaban yang sangat tidak memuaskan, jauh dari yang diharapkan. Alvin menarik napas, ia sudah berjanji dalam hati, agar bisa berdamai dengan Ele.
“Tidak ada orang yang mau memakan makanan gosong apalagi ini tidak layak.” ucap Alvin melembut.
Ele kesal, tetap mempertahankan raut wajah yang datar. "Apa dia pikir aku juga mau makan ini? cari uang itu susah, Jadi terpaksa aku memakannya. Walau butuh perjuangan dan rasanya ingin menangis."
“Ada. Aku orangnya.” kata Ele akhirnya.
“Ele, makanan gosong seperti ini tidak baik untuk kesehatanmu." Alvin mencoba memberi nasehat.
"Tentu saja aku perduli Ele, aku tidak mungkin mengabaikanmu karena kita tinggal satu rumah. Aku sudah menganggapmu seperti adikku."
“Dari mana jalannya kau kakakku? Kau hanya lelaki amnesia yang menumpang hidup di sini.” Suara Ele meninggi dan langsung meninggalkan ruang makan dengan tampang kesal.
Sepuluh menit tidak ada tanda-tanda dia mengikutinya hingga ke depan rumah. Ele duduk di kursi depan teras rumahnya. Angin pagi ini benar-benar sejuk. Ele memejamkan mata untuk menikmati semilir angin yang menyapa kulit wajahnya.
“Ele, maafkan aku jika membebanimu.” ucap Alvin dengan suara terendahnya. "Sekarang jawab aku, kenapa kau begitu membenciku?"
Suara itu lagi. Benar-benar mengganggu. Ele membuka matanya dan Ia lihat Alvin sudah duduk tepat di sampingnya.
“Aku tidak punya kewajiban menjawab pertanyaanmu.” Ele bisa melihat tatapan Alvin melembut. Dengan santai, Ele melipat kedua tangannya di depan dada. Mengabaikan Alvin. Biarkan saja, Ele tidak peduli.
“Pertanyaan ada dan untuk dijawab.” Kata Alvin lagi. Mencoba mencairkan hati Ele yang beku.
Ele membuang napas dengan kasar. “Aku tidak akan berdosa jika tidak menjawab pertanyaanmu.” Ele masa bodoh.
__ADS_1
Hening dalam hitungan menit. Ele bersyukur dia tidak berisik lagi. Ia bisa menikmati paginya dengan tenang.
"Ele, seperti yang kamu katakan sebelumnya. Jika ingatanku kembali, aku akan mengganti kerugian kebunmu. Untuk saat ini, jangan usir aku dari rumah ini. Aku tidak tahu harus pergi kemana lagi, Ele. Aku berjanji akan membantumu untuk mengolah kebun strawberry. Aku mohon, Ele." Wajah Alvin memelas sendi. Ele dapat melihat itu.
"Cih.. Sepertinya dia sedang curhat." Umpat Ele tak perduli.
"Ele," Panggil Alvin lagi.
"Iya, aku dengar. Jangan ulang dan ulang lagi kalimat itu. Aku bosan. Telingaku panas." ucap Ele protes. Setiap hari kata-kata itu seperti jurus jitu untuk meluluhkan hatinya.
Alvin tersenyum samar. " Tapi jangan makan itu lagi ya. Makanan gosong tidak enak Ele. Jika aku ada uang, aku akan membawamu ke kota untuk makan yang enak. Aku berjanji"
"Apa? Astaga dia terlalu bermimpi. Dia aja numpang hidup. Dari mana coba, dapat uang banyak? Lelaki aneh."
“Tidak ada makanan gosong yang enak. Tapi, akan jauh lebih tidak enak jika makanan itu terbuang. Puas?! Dan aku tidak akan mati jika memakannya. Jika aku membuangnya, berarti aku tidak menghargai usahaku sendiri.” Ele tidak mengerti kenapa matanya terasa panas dan basah.
"Heuh...Aku menangis? Buat apa aku menangis di depan lelaki ini? Menggelikan." Ele merutuki kebodohannya.
“Tapi itu gosong ele dan tidak layak di makan!” Alvin bertahan dengan pendiriannya, bahwa yang dikatakannya adalah benar.
“Tanpa kamu beritahu pun aku sudah tahu itu gosong.” Ele mengusap pipinya yang mulai basah karena air matanya yang dengan senang hati sudah terjun bebas.
Alvin diam membeku saat melihat Ele mengusap air matanya. "Kamu menangis?"
Ele berdiri dan berjalan beberapa langkah memunggungi Alvin. Ia tidak ingin Alvin melihatnya. “Aku mau pergi.”
"Heuh? kemana Ele? Bukankah setengah jam lagi kamu ke kapel?" Alvin ikut berdiri.
Ele menarik napas berat, "Aku ingin bertemu seseorang. Tidak usah menungguku. Jika kamu mau ke kapel, pergilah bersama Amira." ucap Ele melangkah menuju mobilnya.
"Tapi Ele?"
Eleanor tak perduli, ia segera membawa mobilnya meninggalkan rumah. Sejujurnya Ele ingin menghindari Alvin, lelaki cerewet yang suka mengurusi hidupnya.
BERSAMBUNG.....
^_^
Tolong dukung ya my readers tersayang. Ini Novel ketujuh aku 😍
__ADS_1
Salam sehat selalu, dari author yang cantik buat my readers yang paling cantik.
^_^